Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 44. Ungkapan Dari Hati


__ADS_3

“Kamu lelah? Ingin istirahat dulu?” Sebuah kecupan diberikan oleh Noah pada kening istrinya.


Sea menggeleng perlahan. Wanita itu memang merasa kelelahan setelah mengajak suami dan sahabat-sahabatnya berkeliling pulau. Namun rasa lelahnya seakan terbayar dengan bahagia yang ia rasakan.


Noah yang sekarang sangat berbeda dengan Noah saat keduanya menikah dahulu. Tak ada tatapan benci yang ada hanya tatapan penuh kasih sayang dan cinta yang terpancar dari sorot matanya.


“Mas Noah,” panggilnya lembut.


Sea beranjak dari ranjang, membuka pintu yang menuju teras kecil di samping kamarnya. Noah pun mengikuti langkah Sea. Dua hari berada di rumah milik istrinya, Noah baru tahu rupanya di halaman belakang rumah itu ada kebun sayur-sayuran.


Noah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memastikan jika area kebun itu memang masih milik istrinya. “Yang di sana itu kebun sayur, bukan?” Tanya Noah menatap istrinya yang duduk di atas kursi rotan bertilamkan bantal empuk warna merah muda.


“Iya, Mbok Sum yang menanam dan merawatnya.” Jawab Sea.


Netra Noah memicing, melihat reaksi istrinya yang tak biasa. Sesungguhnya Sea adalah wanita yang sangat periang. Namun, hal itu hanya ia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya.


Jadi, bukan hal yang sulit bagi Noah untuk menebak jika pembicaraan mengenai kebun sayur itu tak menarik perhatian istrinya. “Ada apa? Jangan bilang kamu tak suka sayuran. Sayuran sangat baik untuk kesehatan,” ucap Noah.


“Aku suka sayuran, tapi tidak dengan kebun itu,” jawab Sea.


“Semua orang punya masa lalu, apa sesuatu yang buruk sempat terjadi di sana?” selidik Noah.


Sea memalingkan wajahnya. Wanita itu bungkam cukup lama. Noah mencoba menebak melalui sorot mata istrinya, ada kesedihan dan luka di sana.


Entah Mas Noah sudah mengetahui hal ini atau belum, tapi Sea tak akan pernah ingin kisah itu terucap dari bibirnya, pikir Sea.


Noah mengulurkan tangannya, meminta Sea untuk berdiri. Setelah Sea berdiri, Noah segera menggantikan posisinya sedangkan Sea sengaja ia dudukkan di pangkuannya. Tangannya tentu saja memeluk istrinya dengan erat, menghindari risiko istrinya terjatuh.


“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ingat, banyak pikiran juga tak baik untuk kesehatan.”


Tak ada kecanggungan lagi saat Noah berkali-kali mengecup pundak dan punggung istrinya. Sea meremang kala Noah tanpa sadar mengecup tengkuknya.


Kursi rotan berderit, protes karena dipaksa menahan beban dari dua insan yang dilanda asmara. Sea terkikik, membayangkan jika mereka bisa saja jatuh bersama karena kursi rotan itu menyerah. Selain itu, Sea juga tak kuasa lagi menahan geli akibat perbuatan suaminya yang terus mengecupi tengkuknya.


“Mas… udah, ihh!” Protes Sea. “Geli, tau….” Imbuhnya disusul dengan tawa Sea juga Noah.


“Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Sea mendadak berubah serius. Bahkan wanita itu berpindah dari pangkuan suaminya ke kursi rotan lainnya.


Keduanya kini duduk bersisian, “Tanya apa?” Noah penasaran.


“Apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihmu itu, si Aneesa?” Tanya Sea ragu.


Noah sempat mendengkus. Kenapa juga Sea harus menambahkan embel-embel kekasih saat membahas Aneesa. Noah menggeleng, “Bolehkah kita tak membahasnya?”


“Lebih baik kita membicarakan yang terjadi saat ini. Kapan kita akan pulang?” tanya Noah mencoba mengalihkan perhatian.


“Setelah Mas memberi tahu apa yang ingin kuketahui,” kata Sea.


“Baiklah, aku tak akan membicarakan Aneesa. Tapi, aku akan mengakui jika aku telah bersalah sebab menyalahkanmu tanpa mencari tahu lebih dulu,” ucap Noah.


“Kamu benar, semua yang terjadi pada Aneesa adalah pilihannya. Mungkin saat itu aku kecewa pada diriku sendiri yang gagal menjaga Aneesa.” Noah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Memikirkan Aneesa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri sungguh menyesakkan jiwanya.


“Aku merasa telah gagal,” akunya.


Sea mendekat pada suaminya. Digenggamnya kedua tangan Noah, “Aneesa beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar dari pria baik sepertimu, Mas.” Ada luka yang tak terlihat saat Sea mengatakan hal itu.


Noah menggeleng. “Akankah kamu percaya jika kukatakan tak pernah ada cinta untuk Aneesa?”


Kening Sea mengernyit, sementara Noah merangkul pundaknya. Sea menyandarkan kepala di pundak Noah, dan Noah sekali lagi mengecup puncak kepalanya.


“Aku menyayanginya. Dia wanita malang yang butuh seseorang untuk bersandar. Hidup seorang diri, di mana aku turut ambil andil di dalamnya,” Noah menjeda ucapannya.

__ADS_1


“Aku merasa perlu bertanggung jawab atas kebahagiaannya yang telah kurenggut,” ungkapnya.


“Aku mencintaimu, Sea.” Mendengar pengakuan Noah yang kesekian kalinya, membuat Sea tersenyum lalu mengangguk.


“Aku tahu,” jawabnya singkat.


“Tidak! Kamu tak tahu,” ucap Noah tak setuju.


“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Sejak aku merasakan jika menghabiskan waktu bersamamu adalah hal yang paling menyenangkan. Sayangnya, saat itu aku memiliki Aneesa, itulah sebabnya aku memilih menjauh agar perasaanku tak kian berkembang.” Akhirnya Noah mengakuinya. Meski tak mengakui seluruhnya, tapi ia sudah cukup lega dibuatnya.


“Benarkah?” Sea mendongakkan kepalanya. “Kupikir cintaku telah bertepuk sebelah tangan.” Tanpa sadar Sea menyatakan cinta yang ia pendam selama bertahun-tahun.


Saat menyadari kesalahannya, Sea menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Aku sudah terlanjur mendengarnya dan kamu tak kuizinkan menarik lagi pengakuan cintamu,” ucap Noah.


Sore itu, Sea dan Noah dengan bangga mengungkapkan perasaan masing-masing. Keduanya mengakhiri sesi romantisme sore itu dengan menyalurkannya perasaan cinta melalui ciuman yang membara.


“Sea, aku sangat menginginkan dirimu.” Gumam Noah di sela-sela ciuman keduanya.


...…………....


Malam harinya, Noah tak henti-hentinya membanggakan gaya busananya dan sang istri yang sangat serasi. Malam ini adalah malam terakhir Noah dan sahabat-sahabatnya berada di kampung halaman Sea.


Jika sesuai rencana, Noah dan Sea juga turut serta untuk kembali ke kota. Jika tidak, maka Noah akan memaksa Sea mengizinkannya tetap tinggal di sana. Intinya, Noah tak akan kembali tanpa Sea!


Malam itu pesta barbeque di halaman depan rumah Sea, menjadi pesta penutup liburan mereka. Banyak yang terjadi selama liburan yang singkat ini. Ada hati yang berbunga juga ada hati yang patah.


Hati yang berbunga tentulah dirasakan oleh sepasang suami istri yang tak bisa lagi dikatakan sebagai pasutri baru. Tapi tingkah keduanya melebihi pasutri baru. Noah, dokter yang biasanya bersikap dingin malam ini bersikap hangat dan sedikit konyol.


Pria itu tak henti-hentinya pamer dengan baju couplenya. “Jangan iri…” ejeknya pada Sandy.


“Makanya buruan nikah, Bro…” ucapnya bangga dengan statusnya sebagai seorang suami.


“Mas, lepasin dulu!” Jika tak merajuk seperti ini, Noah akan terus menempel padanya. Ruang gerak Sea menjadi terbatas.


Padahal malam ini Sea berencana menghabiskan malam dengan mengobrol bersama Tessa dan Phila. Banyak kebahagiaan yang ingin dia bagi pada kedua sahabatnya sebelum mereka kembali berjauhan. Sesungguhnya Sea masih belum yakin untuk ikut pulang bersama Noah.


“Udaranya sangat dingin dan aku sedang menghangatkanmu,” kata Noah membela diri.


“Terima kasih, Mas… suamiku yang baik. Tapi aku kesulitan bergerak,” jelas Sea.


Noah terkekeh, Tessa dan yang lainnya pun ikut tergelak dengan perdebatan sepasang suami istri itu.


Sayangnya, semua tawa malam itu seolah tak mampu menghibur seorang pria yang hatinya patah. Di sisi lain, tempatnya cukup jauh dari meja tempat Sea, Noah, dan yang lainnya saling melempar candaan, ada sosok Owen yang menyendiri. Sebenarnya tidak benar- benar menyendiri, sebab Owen kebagian tugas membakar jagung.


“Masih lapar?” Tanya Sea pada Noah.


Hampir saja Noah menggeleng, namun netranya melihat sosok Owen. “Aku ingin jagung bakar,” kata Noah.


“Sepertinya Kak Owen belum selesai membakarnya, sabarlah.”


“Maukah kamu ke sana dan memeriksanya untukku?” Pinta Noah.


“Baiklah.” Lalu Sea mulai melangkah ke arah Owen.


“Kak… butuh bantuan dengan jagung bakarnya?” tanya Sea.


Owen menggeleng. “Apa masih lama?” tanya Sea lagi.


“Mas Noah sepertinya sangat menginginkan jagung bakar itu,” ungkapnya.


Kening Owen mengernyit, sedetik kemudian ia mengalihkan tatapannya. Melirik pada Noah yang mengangguk dan tersenyum padanya.

__ADS_1


“Masih ingin membantuku?” tanya Owen.


“Duduklah di sini, temani aku ngobrol. Aku mulai merasa bosan,” bujuknya.


Usahanya berhasil, Sea menarik satu bangku kayu dan duduk di sana bersama Owen. Wanita itu bahkan membantu Owen mengoles butter pada jagung bakar.


“Bagaimana hubunganmu dengan Noah?” tanya Owen.


“Syukurlah, semuanya menjadi lebih baik sekarang,” jawab Sea.


“Apakah Noah bercerita padamu jika kami sempat adu jotos saat kamu sedang dioperasi?”


Sea menggeleng.


Owen tertawa. “Rupanya dia tak ingin menceritakannya. Sebab saat itu aku yang memukul wajahnya,” Owen bercerita dengan bangga.


“Mengapa? Kalian bersahabat, ada masalah apa?”


“Aku menyalahkan Noah atas apa yang terjadi padamu. Kutuding dia sebagai suami yang tak pantas untukmu,” ungkap Owen.


Raut wajah tak suka jelas terlihat di wajah cantik Sea. Rasanya tak ada wanita yang suka saat suaminya dijelek-jelekkan.


“Tapi saat melihat bagaimana sedihnya Noah, bagaimana hancurnya Noah saat tahu jika kamu hamil dan harus kehilangan bayi kalian, aku menyalahkan diriku,” ucap Owen.


“Ternyata benar, tak ada yang bisa tahu dan bisa mengukur kedalaman hati seseorang. Hanya Noah yang tahu betapa besarnya cinta yang dia punya untuk kamu.”


“Kesalahannya karena dia terlambat menyadari itu,” imbuh Owen.


Sea dan Owen secara bersamaan melirik ke arah Noah. Ternyata sejak tadi Noah juga terus mengawasi keduanya. “Meski terlambat, tapi aku selalu membuka hatiku untuknya,” aku Sea.


Tawa renyah Sea dan Owen membuat Noah ketar-ketir di tempatnya. Cukup, aku sudah terlalu baik pada Owen.


Noah menyusul istrinya, “Sea, ayo… waktunya istirahat.”


“Tapi, jagung bakarnya?”


Noah menggeleng. “Aku tak ingin lagi.”


Noah berhasil membuat Sea bingung dengan sikapnya. Pria itu seperti seorang gadis labil yang sedang dalam periodenya, hingga suasana hatinya mudah berubah-ubah.


Noah membawa Sea ke dalam kamarnya. Mendudukkan istrinya di tepi ranjang sedang dirinya berjongkok di hadapannya.


“Apa yang Owen katakan padamu?” Tanya Sea.


Sementara Sea tak menjawab. Wanita itu hanya mengecup tepat di sudut bibir suaminya.


Kening Noah berkerut. “Sea, aku bertanya padamu.”


Sea masih tak menjawab dan mengecup sekali lagi di tempat yang sama.


“Sea…” Noah tak bisa lagi melanjutkan protesnya saat bibirnya kini telah menempel dengan bibir sang istri.


Sea memejamkan matanya, begitupun Noah. Keduanya kembali meleburkan diri dalam ciuman yang penuh cinta.


Saat darah keduanya mulai berdesir, ciuman yang semula lembut penuh penghayatan kini semakin menuntut.


“Sea, aku benar-benar menginginkanmu,” aku Noah. Napasnya terasa berat karena menahan hasrat.


Sea menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan. “Lakukanlah, Mas. Aku milikmu.”


...————————————...

__ADS_1


__ADS_2