
Noah diberi kebijaksanaan untuk menunggui istrinya di dalam ruangan pemulihan pasca operasi. Kemarin, operasi pengangkatan janin telah dilakukan. Namun setelah hampir 10 jam berselang, belum ada tanda-tanda Sea hendak kembali membuka matanya.
Dinginnya suhu ruangan tak membuat Noah berniat ingin beranjak barang sedetik pun. Pria itu bahkan tak ingat kapan setetes air mengaliri tenggorokannya.
Rasanya tak ada apa pun yang ingin ia lakukan, kecuali terus berada di sisi istrinya. Memastikan Sea tetap bernapas dengan baik dan jantungnya tetap berdenyut.
“Mhiu sayang, kapan kamu akan membuka mata? Kamu menakutiku jika seperti ini.” Noah berbisik sebelum mendaratkan kecupan di kening istrinya yang masih betah memejamkan matanya.
“Sayang, aku tahu kamu kuat. Aku pun janji akan menguatkanmu. Kita akan sama-sama melalui ini ya, sayang,” gumamnya seraya menggenggam erat tangan istrinya.
Sesekali Noah mengelus lembut punggung tangan istrinya, berharap istrinya akan merasa terganggu dan akhirnya membuka kedua matanya. Sayang, usahanya itu sia-sia. Noah hanya terus mengucapkan kalimat-kalimat cinta di sisi Sea. Pengakuan akan perasaannya pada istrinya yang belum sempat ia utarakan.
Meski sulit, Noah akan mencoba ikhlas. Kembali merelakan calon buah hatinya berpulang lebih dulu ke pangkuan Sang Khalik. Noah Percaya, jika Tuhan telah menakdirkan ini semua. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk keluarganya. Mungkin dirinya, juga Sea masih harus menyiapkan diri lagi untuk menjadi orang tua, pikirnya.
...………....
Berbeda dengan suasana tenang dan damai di dalam ruang pemulihan Sea. Di luar kehebohan terjadi saat Alfio datang dengan tergesa-gesa.
“Sea? Mana Sea?” tanyanya pada siapa pun petugas rumah sakit yang ia temui.
“Maaf, Tuan. Tenangkan diri Anda lebih dulu,” ucap petugas resepsionis dengan lembut. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Alfio berdecak menahan kekesalannya. Ia berbalik menatap Roy yang baru saja menyusulnya masuk ke dalam rumah sakit setelah memarkirkan mobil terlebih dahulu.
Pria kekar itu berlari menghampiri Tuannya. Tanpa berucap sepatah kata, Alfio hanya berkacak pinggang dan menggunakan dagunya menunjuk resepsionis yang berhasil memancing amarahnya.
Padahal matahari saja belum terbit, tapi rasanya sudah sangat panas! Batin Alfio.
Roy yang paham segera menghampiri meja resepsionis. Alfio mengamati gerak-gerik pria kekar itu yang sedang berbicara dan sesekali mengangguk saat wanita di hadapannya bicara.
“Semalam Nona Sea menjalani operasi. Petugas itu tak bisa menjelaskan detailnya,” ungkap Roy. Pria kekar itu menggeleng melihat kepanikan pria yang ia panggil dengan sebutan bos.
“Astaga, apa kondisinya begitu parah hingga harus menjalani operasi?” tanya Alfio seraya mengusap kasar wajahnya.
Roy mengedikkan bahunya. Bukannya sudah ia katakan jika wanita di bagian resepsionis tadi tak menjelaskan dengan detail, pikirnya.
“Sebaiknya kita ke ruangan pemulihan pasca operasi. Nona Sea berada di sana,” usul Roy.
Alfio mengangguk kemudian mulai berbalik arah. Langkahnya begitu cepat, mengikuti ke mana arah papan penanda yang menunjuk arah ruangan yang ia tuju.
“Kita belok ke kanan sekali lagi dan ruangannya ada di sana,” seru Alfio seraya menoleh pada Roy yang berjalan tepat di belakangnya.
__ADS_1
“Bos!” Seru Roy.
“Bisakah Anda lebih tenang?” tanya Roy yang sebenarnya adalah sebuah permintaan.
Alfio menghentikan langkahnya. “Apa maksudmu, hah?”
“Anda terlihat begitu panik,” jawab Roy jujur.
“Ya, aku panik! Aku memang panik!” aku Alfio.
“Bagaimana mungkin kejadian naas ini kembali terulang? Kau dan aku tahu, siapa yang melakukan ini!” gumam Alfio lirih.
Sengaja pria itu memelankan suaranya, seperti sedang berbisik untuk menghindari ada orang lain yang mendengar pembicaraan keduanya. Sementara Roy hanya bungkam, ia tak berani menjawab atau membantah ucapan bosnya. Jika yang diduga oleh Alfio benar, maka dirinya benar-benar telah dibodohi oleh wanita yang selama ini ia awasi.
Melihat Roy yang hanya bergeming, membuat Alfio menjadi geram. Kacau! Pikirannya saa ini memang kacau. Siapa yang harus dia salahkan?
Seminggu sudah ia dibuat hampir gila memikirkan ke mana menghilangnya Tessa. Saat wanita itu kembali, mengapa ia membawa berita mengejutkan seperti saat ini.
“Mengapa?” lirih Roy bertanya pada Alfio.
Kening Alfio mengernyit. “Mengapa? Apanya yang mengapa?”
“Mengapa Anda seperti ini? Ini tujuan awal Anda, tidakkah Anda ingat?” tanya Roy.
“Lalu siapa yang harus berkorban?” tanya Roy hingga Alfio terdiam.
“Apa karena Anda jatuh cinta padanya?”
“Atau karena Anda ingin menebus rasa bersalah Anda pada Nona Sea?”
Alfio berdecak. “Cinta? Rasa bersalah? Tahu apa kau!” Dirinya mulai merasa kesal dengan semua pertanyaan Roy.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu? Wanita yang anda cari seminggu terakhir?”
“Cukup!” Alfio membentak Roy. Tak peduli di mana mereka kini berada. Kekesalannya telah sampai pada puncaknya.
“Maafkan saya, Bos. Saya hanya ingin Anda menenangkan diri,” ucap Roy.
“Di sana, ada suami Nona Sea. Saya yakin dia tak akan suka dengan kehadiran Anda,” sambung Roy memperingati bosnya.
“Juga … di sana ada wanita yang Anda cari-cari. Jangan sampai Anda menyesal seandainya wanita itu salah paham dengan sikap Anda.”
__ADS_1
Alfio menggeleng dan memutar bola matanya. Tessa? Yang dimaksud Roy dengan wanita itu adalah Tessa. Untuk apa aku peduli padanya, batinnya.
“Dia bukan siapa-siapa!” Setelah mengatakan hal itu, Alfio melanjutkan langkahnya. Pria itu tak ingin berlama-lama berdebat dengan Roy.
Alfio terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Pada akhirnya ia setuju dengan ucapan Roy. Jika ingin mengetahui keadaan Sea, dirinya harus bisa mengontrol emosinya. Seandainya ia bersikap gegabah, bisa jadi ia tak dapat menemui Sea. Apalagi Tessa tak mungkin lagi ia mintai bantuan.
Dari kejauhan Alfio bisa melihat ada sepasang paruh baya yang duduk di kursi tunggu seraya saling memeluk dan menguatkan. Tak jauh dari sana, ada Phila yang duduk bersandar di kursi tunggu. Gurat kelelahan jelas terlihat di wajah setiap orang yang berada di sana.
Alfio mendekat, menyapa kedua orang mertua Sea. “Permisi … Tuan, Nyoya,” sapanya.
Ayah Peter dan Mami Joanna mengamati sosok pria tampan di hadapannya. Mereka ingat, pria ini adalah pria yang tak disukai oleh putra mereka. Pria ini adalah pria yang diduga oleh putranya memiliki niat untuk merusak rumah tangganya.
“Ya,” ucap Ayah Peter.
“Saya ikut prihatin atas musibah yang menimpa Sea,” ucap Alfio. “Bolehkah saya tahu, bagaimana keadaan Sea saat ini?”
Belum juga Alfio mendapat jawaban yang diinginkannya, seorang wanita datang dan menyela percakapan mereka.
“Permisi.” Tessa menghampiri kedua orang tua Noah.
Wanita itu tertegun untuk beberapa saat. Mengapa Alfio harus berada di sini? Saat ini? Tanyanya dalam hati.
Kesadarannya kembali saat ia merasa pundaknya dirangkul oleh seseorang. Tessa menoleh dan mendapati Owen berdiri di sisinya dengan senyum yang berhasil menenangkannya.
Elusan lembut di lengannya, membuatnya merasa aman. Ketakutan yang tiba-tiba muncul saat netranya bertemu dengan netra Alfio seketika sirna.
“Om … Tante … pihak kepolisian ingin bertemu dengan kalian,” ujar Owen.
Alfio juga Roy, mundur beberapa langkah. Memberi jarak agar empat orang pria dari kepolisian bisa bertemu dengan keluarga Sea.
“Selamat pagi Pak, Bu.” Salah seorang dari petugas polisi itu menyapa.
“Kami ingin menyampaikan jika pelaku telah tertangkap beberapa saat lalu.” Sontak semua orang yang berada di sana saling memandang. Begitu juga dengan Alfio dan Roy.
“Pelaku juga telah diamankan dan dimintai keterangan di kantor polisi,” imbuhnya. “Dari pengakuan pelaku, ada seseorang yang menjadi dalang dari kejadian ini.”
Suasana saat itu berubah tegang. Semua orang saling melempar pandangan penuh tanda tanya.
“Dan orang itu adalah Anda!” imbuh petugas polisi tersebut.
Kemudian polisi yang sejak tadi menjadi juru bicara, berbalik menatap pada seseorang yang ia maksud. Begitu pun dengan yang lainnya. Kini semua pandangan tertuju ke arah yang sama.
__ADS_1
“Ada apa? Mengapa kalian semua menatapku!”
...----------------...