Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 39. Trust me!


__ADS_3

“I Love You!”


Tiga kata itu Noah bisikkan sekali lagi di telinga Sea. Pria itu hanya khawatir jika pernyataan cintanya kalah dengan suara deburan ombak hingga tak didengar oleh sang istri.


Noah tak tahu saja, jika sedetik kemudian Sea merasa jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat. Bulu halus di tengkuknya sontak meremang. Apa aku baru saja terkena serangan jantung? Batin Sea.


“Sea….” Serunya sekali lagi. Pria itu sepertinya tak menyadari jika apa yang dilakukannya berdampak besar bagi Sea.


“Ya,” jawab Sea singkat. Saat ini otaknya tak mampu lagi berpikir jawaban lain.


Noah tersenyum. Meski Sea menjawab tanpa memandang wajahnya, yang penting Sea bisa mendengar suaranya.


Saking senangnya, tanpa aba-aba tangan Noah yang sedingin es refleks menggenggam tangan istrinya. Tak berhenti sampai di situ, Noah juga menautkan jemari mereka membuat tubuh Sea semakin meremang.


Masih di bawah langit jingga, Sea memandang jemari mereka yang saling bertaut. Entah berapa lama ia melakukannya, hingga terdengar helaan napas Noah.


“Ada apa, Mas?” tanyanya.


“Kamu melepas cincin pernikahan kita,” ucapnya lirih seraya mengusap buku-buku jari manis milik Sea.


Sea sebenarnya sudah ingin tertawa, tapi wanita itu mencoba menahannya. “Cincin pernikahan? Aku memang tak pernah memakainya,” ungkap Sea.


Senja sebentar lagi akan berakhir. Gelapnya langit malam hari sudah bersiap menyapa, namun Sea bisa melihat jelas raut wajah kecewa suaminya.


“Memangnya kenapa, Mas?” tanya Sea lagi. “Bukannya cincin itu juga bagian dari sandiwara kita?”


Noah menelan salivanya, tak tahu harus menjawab apa karena semua ucapan Sea benar adanya. Noah masih ingat jika dulu dirinya pernah berkata jika setiap detik yang mereka lalui hanya kepalsuan belaka. Kesalahannya pada Sea sudah terlalu banyak.


Perlahan tautan jari keduanya melemah, hingga akhirnya terlepas. Dari sudut matanya, Sea bisa melihat Noah yang memainkan, memutar-mutar, dan sesekali ia pandangi lama cincin yang melingkar di jari manisnya.


Sea berdiri lebih dulu, “Hari mulai gelap, ayo kembali!” ajaknya.


Yang lainnya mengangguk, lalu mulai membenahi barang bawaan mereka kembali. Tanpa permisi, Owen membawa gulungan tikar dan berjalan lebih dulu. Melihat ada kesempatan untuk mendekati pria misterius yang ia kagumi, Tessa tak mungkin melewatkannya begitu saja.


Segera ia berlari mengejar Owen dengan keranjang buah dipelukannya. Phila yang masih membenahi kotak-kotak bekal ke dalam tas, hanya bisa menunduk menahan sesak di dadanya.


Phila melangkah perlahan, mengamati punggung sahabatnya dan punggung pria yang telah berhasil menarik perhatiannya sejak pertama bertemu.


“Woy… anak perawan melamun aja!” Seru Sandy mengejutkan Phila dan berjalan di sisi wanita itu.


Dari gelagat kedua wanita muda itu, Sandy dengan sok tahunya meramalkan akan terjadi lagi drama cinta segitiga di antara Owen, Phila, dan Tessa. Kadang Sandy berpikir apa hubungannya segitiga dan sahabatnya, mengapa kisah cinta Owen selalu saja berujung dengan cinta segitiga.


Sementara Sea dan Noah adalah yang terakhir meninggalkan pantai. Keduanya harus berjalan cukup jauh karena kebagian tugas untuk membuang sampah lebih dulu.


Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Walaupun berjalan bersisian, namun Sea tak berani memandang pada pria di sampingnya. Lebih banyak Sea akan menunduk.


Noah ingin sekali mengutuk dirinya. Mengapa ia semakin sulit menyembunyikan perasaannya di hadapan Sea. Pria itu tak ingin Sea merasa terbebani dengan pengakuan cintanya yang tiba-tiba.


Bukan perkara mudah untuk membuat Mami Joanna memberi tahu keberadaan istrinya. Sebelum datang menemui Sea, Noah sudah berjanji pada dirinya juga pada kedua orang tuanya untuk bersabar menanti Sea membuka hatinya kembali.


...………………....

__ADS_1


Malam ini, Sea, Noah, dan keempat sahabatnya tak lagi memiliki kegiatan yang ingin dilakukan. Setelah makan malam, kini mereka sudah berada di dalam kamar masing-masing.


Begitu juga dengan pasangan Sea dan Noah. Apa saja yang terjadi di dalam kamar saat ini, tak jauh berbeda dengan yang biasa terjadi dahulu. Hening, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tidur di ranjang yang sama dengan Sea, ada kelegaan di hati Noah. Selama Sea tak memintanya pergi, dirinya masih punya harapan.


“Mas, kamu sudah tidur?” Segera Noah membalik tubuhnya.


Awalnya, Sea dan Noah berbaring saling memunggungi. Namun kini Noah mengubah posisinya menjadi berbaring seraya menatap punggung istrinya.


“Belum. Ada apa?” tanya Noah.


“Mengapa kamu kemari?”


“Menjemputmu.” Jawabnya singkat. “Bagaimana, kamu mau ‘kan?”


“Bagaimana, ya?” tanya Sea kembali. “Apa aku punya pilihan?” Sea masih tetap dengan posisinya. Berbaring memunggungi Noah.


Sementara Noah, tatapannya lekat memandang punggung Istrinya. “Tentu. Selalu ada pilihan untukmu.” Jawabnya.


“Katakan padaku, apa pilihannya? Akan aku coba pikirkan.”


“Pilihan pertamamu, bersiaplah. Dua hari lagi kita akan kembali ke kota. Kamu dan aku akan sama-sama belajar membangun rumah tangga kita, membangun suatu keluarga tanpa ada lagi drama,” jelas Noah panjang lebar.


Sea menggeleng. “Aku masih merindukan tempat ini,” ucap Sea.


“Tak masalah, kamu bisa memilih pilihan yang kedua,” tawar Noah.


“Tapi setelah kupikir-pikir tak jadi masalah di mana pun tempatnya, asal bisa bersama dirimu,” imbuhnya.


“Cih…” Sea berdecih. “Kamu sedang menulis naskah drama, Mas?”


“Sea… tak masalah jika sekarang belum, tapi kumohon cobalah untuk percaya padaku. Lihatlah kesungguhanku. Tak ada lagi sandiwara,” pinta Noah.


Meski dalam posisi berbaring, Noah bisa melihat Sea mengedikkan bahunya.


“Lalu bagaimana dengan perasaan kita, Mas? Menurutmu, apa yang paling penting untuk membangun sebuah keluarga, Mas?” Sea terdiam beberapa saat.


“Jika kukatakan jawaban yang kuinginkan adalah cinta… bagaimana menurutmu, Mas?”


“Cinta? Hal itu bukan masalah, Sea,” ucap Noah yakin.


“Haruskah aku mengulang pernyataan cintaku?”


“Aku mencintaimu, Sea!”


“Aku mencintaimu, Sea!”


Noah mengulang pernyataan cintanya beberapa kali untuk lebih meyakinkan Sea.


“Tapi cinta tak sekedar kata, Mas.” Balas Sea.

__ADS_1


“Aku tahu, aku memahami itu semua darimu.”


Mendengar pernyataan Noah yang membuatnya bingung, Sea turut mengubah posisi berbaringnya hingga kini keduanya saling berhadapan.


“Aku? Apa yang sudah kulakukan?” tanya Sea penasaran.


Kedua netra pasangan ini saling beradu. “Banyak, salah satunya adalah menerimaku.”


“Kamu tetap saja menerimaku, meski sudah kukatakan aku menolakmu,” ujar Noah.


“Kamu tetap saja menerimaku, meski hatimu telah kusakiti berkali-kali.” Sambungnya.


Sea tersenyum saat ia menatap ke dalam manik mata suaminya. Tak ada kebohongan di sana.


“Maukah kamu melakukannya sekali lagi? Menerima cinta yang terlambat kusadari? Menerimaku sekali lagi untuk hidup berdampingan bersama?”


Noah tak peduli jika dirinya dianggap pria lemah atau dihina sebagai pria bodoh yang mengemis cinta pada wanita, dia akan terima. Ini pertama kalinya dia menyadari bagaimana luar biasanya perasaan cinta itu.


“Akan kucoba, tapi aku tak bisa berjanji. Aku tak ingin mengecewakan siapa pun, ” jawab Sea.


“Aku akan menunggu. Aku sangat yakin tak akan kecewa. Aku yakin cinta itu masih ada untukku,” ucap Noah tanpa ragu.


“Percaya diri sekali kamu, Mas.” Sea terkekeh. Tak pernah ia bayangkan bisa kembali melihat sosok Noah yang begitu hangat seperti di awal-awal perkenalan mereka.


“Tidurlah, kamu pasti lelah,” imbuhnya dan Noah hanya mengangguk.


Lama keduanya saling pandang tanpa bicara. “Soal cincin pernikahan itu…” Sea menjeda ucapannya.


“Sudah, tak perlu dipikirkan. Bukan masalah besar, memakainya atau tidak… kamu tetap istriku,” ujar Noah.


“Benarkah?”


Noah mengangguk.


“Syukurlah karena aku memang tak pernah memakai cincin pernikahan itu.” Sea kembali menunjukkan jemarinya. Tak ada apa pun di sana.


“Karena sejak dulu, aku memakainya di jari manis pada tangan kananku…” ungkap Sea seraya menunjukkan jemari tangan kanannya.


Senyum Noah mengembang, di jari manis Sea melingkar cincin yang sama dengan miliknya.


Noah tergelak, “Astaga, aku merasa sangat bodoh.”


Malam itu mereka berdua bisa kembali tertawa bersama, setelah bertahun-tahun lamanya.


Noah menarik tangan kanan Sea, berniat melihat cincin itu lebih dekat. Rupanya dewi fortuna sedang memihak padanya. Tubuh Sea juga ikut bergeser, hingga jarak keduanya semakin dekat.


Tatapan keduanya berusaha saling menyelami perasaan masing-masing. Dengan berani, Noah mengecup kening Sea.


Secara naluriah, Noah menarik tubuh Sea agar semakin mendekat padanya.


“Aku mencintaimu, Sea.”

__ADS_1


...—————...


__ADS_2