Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 38. Di bawah langit senja


__ADS_3

“Ma-Mas Noah?” Sea menelan salivanya saat nama suaminya terucap dari bibirnya yang tampak bergetar.


Wanita itu berusaha menahan isak tangisnya. Antara senang karena akhirnya ia bisa lagi menatap wajah tampan Noah, namun ia turut sedih karena hatinya sebenarnya belum pulih benar dari rasa sakitnya. Ia ragu apakah dirinya sudah siap bertemu Noah kembali atau belum.


Rasa rindu yang begitu besar sepertinya mampu mengubah Sea menjadi gila dan berhambur ke pelukan Noah. Namun sebelum berhasil melakukan aksinya itu Noah lebih dulu buka suara.


“Sea, akhirnya kita bisa bertemu lagi,” ucap Noah, juga dengan suara yang bergetar. Kelegaan jelas sekali terpancar dari kedua sorot mata pria itu.


Sontak ucapan Noah mengembalikan kewarasan Sea dan segera mencegah wanita itu melakukan hal gila yang baru saja ia pikirkan. Seketika Sea merasa enggan untuk menatap Noah. Wanita itu malu, dirinya seperti istri durhaka yang pergi tanpa pamit dan izin dari suaminya.


Melihat wanita yang masih berstatus istrinya itu menunduk, Noah berasumsi jika Sea tak senang dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


Jangan sampai Sea mengusirnya, pikirnya. Noah segera memutar otak untuk mencari alasan agar kekhawatirannya tidak terjadi.


“Sea, apa kamu punya makanan? Aku lapar.”


Noah merutuki ucapannya barusan. Noah… kamu mengacau! batinnya. Kuakui aku memang sangat lapar. Tapi… jika sudah seperti ini, bukankah aku terdengar seperti seorang pria malang yang kelaparan dari pada pria malang yang sangat merindu.


“Makanan? Tentu saja aku punya, Mas.” Sea masih tak percaya, jika di pertemuan pertamanya setelah 10 hari tak bertemu Noah malah membahas perutnya yang kelaparan. Memikirkan hal itu, Sea jadi berdiri mematung di tempatnya.


“Ekhem….” Noah berdeham. “Jadi, kapan kita akan makan?” tanyanya. Sudah terlanjur juga pikir Noah. Biarkan dia melanjutkan dramanya yang berjudul pria kelaparan.


“Eh… iya, Mas. Silakan masuk, kebetulan sekali aku baru saja akan makan siang,” ungkap Sea.


Sea membuka lebih lebar pintu rumahnya, kemudian berbalik badan untuk memimpin jalan. Setelah tiga langkah Sea menoleh ke belakang namun tak ia temukan Noah di sana.


“Mas?” seru Sea saat mendapati Noah masih tetap berdiri di depan pintu rumahnya.


“Mas sedang bercanda, ya?” tanyanya dengan alis yang mengerut.


“Ehm… Sea, apa kamu punya lebih banyak makanan?” tanya Noah ragu.


Sea terlihat mendengkus. Apa sih, yang sebenarnya diinginkan Mas Noah?


“Ada apa denganmu, Mas?”


“Kamu baik-baik saja, kan?” Kesal dan khawatir, begitulah perasaan Sea saat ini.


Noah hanya menggeleng dan Sea merespon dengan menghela napasnya.


“Aku punya banyak makanan, Mas!” ucap Sea dengan sedikit ketus.


“Jadi, ayo masuk dan kita makan sebelum Mas Noah semakin bertingkah aneh,” ucapnya.


Saat Sea hendak kembali berbalik, suara seorang wanita menghentikan langkahnya.


“Apa kami juga boleh ikut makan? Perjalanan ke mari membuat kami sangat lapar.” Suara nyaring wanita itu bahkan berhasil membuat kedua netra Sea berkaca-kaca.


“Phila?” Pekik Sea.


Sea berhambur memeluk sahabatnya yang berdiri di samping suaminya. Karena sangat bersemangat, Sea tak memerhatikan keadaan sekelilingnya.


“Cewek tega!” Sahut seorang wanita lain yang kini sudah berdiri di belakang suaminya.


Sea melerai pelukannya dengan Phila. “Tessa!”


“Kau juga di sini!” Isak tangisnya tak dapat ia tahan lagi.


Sea menangis karena terharu dengan kejutan yang diberikan oleh Noah. Bolehkah aku berpikir jika semua kejutan ini disiapkan oleh Mas Noah? Batin Sea seraya menatap sosok suaminya yang tersenyum padanya.


“Kamu benar, kami semua di sini atas permintaan suamimu,” ungkap Tessa seolah bisa membaca apa yang Sea pikirkan.

__ADS_1


“Kami?” kening Sea mengernyit.


Entah sejak kapan mereka berada di sana, bahkan Owen dan Sandy juga datang bersama Noah. Sea tersenyum menyambut kedua sahabat suaminya.


“Jadi, kapan kita akan makan?” Celetuk Phila.


Sea terkekeh, karena terkejut dirinya lupa mengajak semua tamunya masuk ke dalam rumah.


“Maaf, aku terlalu senang hingga melupakan rasa laparku.”


“Ayo masuk, kebetulan sekali Mbok Sum memasak banyak makanan hari ini.” Sea memimpin jalan menuju ruang makan di rumahnya dengan merangkul lengan Tessa di sisi kanan dan Phila di sisi kiri.


Betapa bahagia Sea hari ini mendapatkan kejutan dari suaminya. Nanti aku akan berterima kasih padanya, batin Sea.


...…………….....


“Mbok Sum, kenalin ini Noah, suami aku.” Mbok Sum tersenyum saat menerima uluran tangan Noah. Mbok Sum cukup terkejut saat Noah mencium punggung tangannya.


“Kata Non Sea, suaminya dokter. Kok, yang ini malah mirip artis, ya….” Komentar Mbok Sum membuat Noah malu. Dipuji seperti itu di depan istrinya membuat Noah hampir saja salah tingkah.


“Mbok bisa aja, tapi saya ingin ucapin terima kasih yang banyak karena sudah menjaga istri saya selama berada di sini,” balas Noah.


“Tidak perlu berterima kasih, sudah tugas Mbok adalah menjaga dan merawat Non Sea.”


“Meski begitu, aku tetap berterima kasih ya, Mbok.” Dan dijawab dengan tepukan di lengan atas ya oleh Si Mbok.


Sea turut mengenalkan tamunya yang lain pada Mbok Sum. Dua gadis cantik yang menjadi sahabatnya dan dua pria tampan yang merupakan sahabat suaminya.


Kini mereka semua juga Mbok Sum sudah berkumpul kembali di meja makan. Senyum terus terukir di wajah tampan Noah. Bahagianya bukan hanya karena akhirnya ia dapat bertemu lagi dengan istrinya. Tapi, juga karena dirinya bisa melihat dan mendengar tawa istrinya.


Semoga aku juga memiliki kesempatan untuk menjadi alasan senyum dan tawamu, batin Noah berharap.


Tessa, Phila, Sandy, dan Owen begitu bersemangat memindahkan berbagai macam menu makanan ke piringnya. Berbeda dengan Noah yang hanya duduk dengan tenang di sisi istrinya.


Tak hanya Sandy, kini Sea dan lainnya jadi menatap ke arah Noah dan piring di hadapannya yang masih kosong.


“Gue nunggu istri gue nyiapin makanan untuk gue,” jawab Noah.


Meski pertanyaan tadi datangnya dari Sandy, namun saat menjawab tatapan Noah malah tertuju pada Sea.


Sea memutar bola matanya saat mendengar jawaban Noah. Dulu saja selalu kusiapkan, tapi tak pernah dia sentuh! Batin Sea.


Walaupun akhirnya Noah mendapat sorakan dari sahabat-sahabatnya, kecuali Owen… tapi pria itu seperti tak peduli. Yang Noah pedulikan hanya hatinya yang berbunga-bunga saat Sea dengan lincahnya menyiapkan makanan untuknya.


“Silakan dimakan, Mas,” ucap Sea datar setelah meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk di hadapan Noah.


“Terima kasih, istriku,” balas Noah yang segera disoraki lagi oleh dua gadis cantik di hadapannya.


Ketika sedang menikmati makan siangnya, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Entah karena mereka paham aturan mengenai tak baik berbicara saat makan, atau mereka sangat lapar.


“Syukurlah jika kalian menyukai makanannya,” ucap Sea. “Mbok Sum memang tak pernah mengecewakan jika soal masakan,” imbuhnya.


Jika biasanya Mbok Sum membiarkan Sea membantunya mencuci piring bekas makannya, kali ini Mbok Sum bersikeras menolak.


“Serahkan semua tugas ini sama Mbok, Nona muda lebih baik menemani Mas tampan beristirahat.” Mendengar itu Noah mengedipkan sebelah matanya pada Si Mbok.


Sea mengangguk lalu menyusul kedua sahabatnya dan sahabat suaminya yang berkumpul di ruang tamu.


“Sea, aku ingin melihat matahari terbenam,” pinta Phila bersemangat. “Pasti sangat indah dan romantis,” imbuhnya seraya menatap lurus pada Owen yang sibuk bermain game di ponselnya.


“Tentu, kita bisa melihatnya nanti sore. Lebih baik sekarang istirahat dulu. Kalian pasti lelah,” ucap Sea.

__ADS_1


“Aku, Tessa, dan Phila, akan tidur di kamarku.” Telunjuknya menujuk ke arah sebuah pintu yang tertutup rapat.


“Mas Noah, Kak Owen, dan Kak Sandy, bisa menggunakan kamar tamu yang ada di sana.” Sea lalu mengarahkan telunjuknya ke pintu lain lain.


Noah yang sejak tadi hanya menyimak segera melayangkan protesnya. “Mana boleh seperti itu?” ucapnya tak setuju.


“Bagaimana mungkin kita berdua tidur terpisah?!”


“Terserah mereka mau tidur di mana, yang pasti kita berdua tetap sekamar!” Keputusannya bulat, tak bisa diubah lagi.


“Tapi kamar di rumah ini yang bisa ditempati hanya dua saja, Mas.”


Niat Noah untuk menolak usulan Sea semakin dipermudah saat Mbok Sum turut ikut serta dalam obrolan mereka.


“Benar kata Mas Tampan, Non,” sahut Mbok Sum.


“Suami istri jika sedang berdekatan, sebaiknya tidur bersama, Non.”


“Nanti Mbok siapkan satu kamar lagi untuk kedua Mas-mas tampan ini,” imbuhnya.


Dan masalah pembagian kamar pun kembali dimenangkan oleh Noah. Akhirnya, Sea mengalah dan mengajak Noah ke kamarnya.


Di dalam kamar, Noah sempatkan berkeliling untuk melihat isi kamar istrinya. Jika perkiraannya tepat, kamar ini adalah kamar Sea semasa remaja.


Noah berdiri di depan sebuah bingkai foto berukuran cukup besar yang menempel di dinding.


“Apa ini dirimu?” tanyanya menunjuk foto bayi lucu yang sedang menangis.


“Hemm….” Jawab Sea.


Aku yakin… seandainya calon bayi kami masih hidup, pasti dia nanti akan selucu dan semenggemaskan ibunya, batin Noah.


“Sea, bisakah kita bicara?” Pinta Noah.


“Bicara saja, aku akan mendengarkan.” Balas Sea.


Noah berpindah tempat mendekati Sea yang duduk di tepi tempat tidur. Pria itu berjongkok tepat di hadapan Sea. Kedua tangan Sea ia bawa dalam genggamannya. “Sea, maafkan aku…”


Sea hanya diam dan tak bergeming.


“Aku ingin mengakui sesuatu. Sebenarnya ….”


Belum selesai ucapan Noah, bunyi adzan berkumandang. Sea sontak berdiri, disusul oleh Noah.


“Kita bicaranya nanti saja, Mas,” ucap Sea. “Aku ingin membersihkan tubuhku dulu sebelum Shalat Ashar.”


“Setelah aku, sebaiknya Mas juga bersiap.” Sea lalu berlari menuju kamar mandi meninggalkan noah yang hanya bisa menghela napasnya.


...…………………...


Sea menepati janjinya pada Phila. Sore harinya, rombongan Sea dan yang lainnya pergi menuju pantai untuk melihat matahari terbenam.


Menggelar tikar dan menghidangkan cemilan yang sengaja disiapkan oleh Mbok Sum sebagai bekal, mereka lakukan bersama-sama.


Banyak hal menjadi topik obrolan mereka yang seakan tak pernah habis. Hingga saat warna langit mulai berubah, Sea, Noah dan yang lainnya akhirnya bungkam.


Mereka semua diam terpaku, terpesona oleh ciptaan Tuhan yang begitu indah. Langit berwarna jingga keemasan begitu memanjakan mereka.


Suasana cukup hening, hanya suara deru ombak yang terdengar. Noah menatap wajah cantik istrinya dari samping.


Tanpa ragu Noah mendekatkan wajahnya ke arah Sea. “I Love You,” bisiknya tepat ditelinga istrinya.

__ADS_1


...——————————...


__ADS_2