
Malam ini Noah sudah tak sabar untuk pulang ke rumah dan menemui istri cantiknya. Bagaimana tidak, sejak terakhir kali mereka bertemu dengan Izzan, Sea tak henti-hentinya meminta untuk bertemu kembali dengan anak itu.
“Aku telah mengetahui nama dan alamat panti asuhan tempat Izzan tinggal,” ucap Noah saat dirinya baru saja pulang bekerja.
“Benarkah?” Sea seakan tak percaya.
Namun saat menerima secarik kertas bertuliskan informasi yang dia inginkan, sontak Sea berhambur memberikan pelukan erat untuk suami yang sangat ia sayangi.
“Terima kasih ya, Mas.” Sea mengecup pipi kanan dan kiri Noah secara bergantian.
“Besok aku akan mengunjungi Izzan,” celetuk Sea begitu bersemangat.
Noah yang hendak masuk ke kamar mandi menghentikan langkahnya. “Besok? Tunggu hingga hari minggu saja,” usulnya. “Kita bisa ke sana bersama.”
“Tapi ….” Hanya satu kata yang Sea ucapkan. Namun tatapan puppy eyes itu sudah menjelaskan apa yang dimaksud oleh wanita itu.
Noah mengangkat kedua tangannya ke udara tanda ia menyerah. “Oke … oke, Sayang. Ingat, kamu harus tetap berhati-hati.”
“Lebih bagus lagi, jika kamu mengajak seseorang menemanimu,” lanjut Noah berteriak dari dalam kamar mandi.
“Bagus juga ide Mas Noah. Sayang, Phila pasti sedang sibuk KKN, dan Tesaa …. Akh! aku jadi merindukan mereka berdua.”
...………...
Senyum secerah mentari terlihat menghiasi wajah cantik Sea. Setelah dua hari menanti kabar gembira dari suaminya, akhirnya semalam ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sebelum berangkat menuju panti asuhan tempat Izzan tinggal, Sea menyempatkan dirinya untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Di sana dirinya membeli banyak bahan makanan, makanan ringan, susu, serta banyak kebutuhan pangan lainnya.
Semua itu sengaja ia bawa untuk diberikan kepada anak-anak panti asuhan. Dan khusus untuk Izzan, Sea membelikan beberapa pasang pakaian yang sesuai dengan pilihannya.
“Hem, ternyata sangat menyenangkan memilih pakaian untuk anak.” Gumam Sea ketika merasa dirinya begitu bersemangat memadu padankan baju dan celana untuk Izzan.
Saat tanpa sengaja melewati rak dan tumpukan pakaian untuk anak perempuan, Sea kembali memekik dengan heboh. “Ah … lucunya. Untung saja Izzan anak laki-laki. Jika perempuan, aku pasti akan sangat bingung harus memilih yang mana,” monolognya.
Setelah menghabiskan waktu dua jam di pusat perbelanjaan, Sea bergegas melajukan mobilnya menuju panti asuhan dengan bantuan aplikasi penunjuk arah.
Lokasi panti asuhan yang berada di pusat kota, membuat panti asuhan itu mudah ditemukan oleh siapa saja. Setelah beberapa menit, mobilnya berhenti tepat di depan bangunan yang cukup besar dan luas, dengan pagar bercat hitam yang sangat tinggi.
__ADS_1
Dibantu oleh petugas pengamanan panti asuhan, Sea menurunkan semua barang bawaannya. Ia disambut ramah oleh semua pengurus panti. Ibu Asa, sebagai pimpinan di Panti Asuhan Kasih Ibu, mengajak Sea berkeliling setelah mengetahui niat Tessa yang ingin bertemu seorang anak.
Bu Asa mengajak Tessa melihat kegiatan belajar mengajar di suatu ruangan dari luar. Senyum Sea mengembang saat melihat Izzan ada di sana. Duduk di barisan kursi paling depan. Sangat bersemangat dan begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Nyonya, kelasnya akan selesai 30 menit lagi. Anda bisa menunggu di ruangan saya,” tawar Bu Asa.
Sea menggeleng, “Terima kasih, Bu. Tapi jika diizinkan, aku ingin menunggu di sini saja. Aku sangat suka melihat wajah berbinar mereka saat belajar,” tolak Sea dengan sopan.
“Baiklah, Anda boleh menunggu di mana saja selama Anda merasa nyaman. Saya permisi, Nyonya Sea.” Bu Asa pun pergi meninggalkan Sea setelah pamit undur diri.
Tessa mendekat ke arah pintu bersamaan dengan Izzan yang menoleh ke arah luar. Betapa terkejutnya anak itu ketika mendapati sosok Sea berdiri di sana. Sosok wanita yang beberapa hari ini terus ia pikirkan. Sosok yang membuatnya merasa sangat tenang dan aman dalam pelukannya.
Sea melambai ke arah Izzan membuat anak itu tersenyum sumringah. Betapa bahagia hatinya, sebab Sea menepati janji untuk menemuinya lebih cepat dari yang ia pikirkan.
Jika sebelumnya Izzan tak ingin kelas pembelajaran ini selesai, maka saat ini yang diinginkannya hanyalah agar kelas ini segera berakhir. Izzan sudah tak sabar ingin bertemu Sea.
Dua puluh menit berlalu, waktu yang dinantikan Izzan maupun Sea akhirnya tiba. Kelas belajar yang diikuti Izzan akhirnya selesai. Anak itu dengan semangat berlari ke luar kelas untuk menemui Sea.
“Bibi Sea!” serunya bahkan dari jarak yang masih cukup jauh.
Sea kembali merentangkan tangannya, menyambut Izzan yang berhambur dalam pelukannya. Didekapnya Izzan begitu erat. Dalam hatinya Sea bertanya-tanya, mengapa ia bisa begitu merindukan anak ini.
“Bibi sangat merindukanmu,” imbuhnya.
“Aku baik-baik saja, Bi,” jawabnya. “Apa Bibi datang sendiri? Kemana Paman Noah?”
“Paman Noah di rumah sakit, dia menitipkan salam untukmu.”
“Apa? Rumah sakit? Paman, sakit apa?” Sea menahan tawanya saat melihat wajah cemas Izzan yang menggemaskan menurutnya.
“Paman Noah di rumah sakit, bukan karena dia sakit. Tapi karena dia harus memeriksa orang sakit, memberinya obat agar mereka cepat sembuh.” Jelas Sea.
Izzan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ehm … aku mengerti. Jadi Paman Noah seorang dokter,” gumamnya.
“Paman Noah sungguh hebat. Apa aku juga bisa sepertinya nanti?”
“Tentu saja! Izzan anak yang pandai. Asal belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh, Izzan nantinya bisa menjadi orang yang lebih hebat dari Paman,” ujar Sea.
__ADS_1
Binar yang terpancar dari kedua netra Izzan membuat Sea jatuh hati pada anak laki-laki dihadapannya. Dari sana Sea bisa melihat ketegaran yang luar biasa. Juga semangat dan kebesaran hati anak ini dalam menjalani hidupnya. Namun di balik itu semua, Sea juga melihat kesedihan yang dipendam Izzan.
Mungkin karena dirinya juga adalah seorang yatim piatu. Ia bisa merasakan bagaimana Izzan yang pasti sangat merindukan kehadiran dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
“Sekarang ikut Bibi. Ada kejutan untukmu,” ungkap Sea.
“Kejutan? Untukku?” Anggukan Sea membuat Izzan bersorak gembira.
Sea mengajak Izzan ke salah satu ruang serba guna tempat ia menyimpan barang yang dibawanya tadi. Kening Izzan mengernyit saat melihat ada banyak papper bag di atas meja.
Sea begitu bersemangat, mengeluarkan satu per satu isi dari papper bag tersebut. Beberapa lembar pakaian, perlatan tulis-menulis, hingga buku bacaan, semuanya ada di sana.
“Izzan, ayo kemari!” Suruh Sea dengan bersemangat. Ia sudah tak sabar melihat senyum di wajah Izzan ketika melihat hadiah untuknya.
Sea terkejut ketika melihat Izzan bergeming di tempatnya dengan tetesan air mata di pipinya. Tangannya menggenggam erat selembar baju di depan dadanya.
“Hei … hei … ada apa, Nak?” tanya Sea menghampiri Izzan.
“Mengapa kamu menangis?”
“Apa kamu tak menyukainya?”
Izzan menggeleng. “A-aku sangat suka. A-aku sangat bersyukur bertemu dengan Paman dan Bibi.”
“Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Sea dengan lembut.
Izzan menunduk. “Aku tak ingat kapan terakhir kali memiliki baju baru,” lirih anak itu berucap.
Sea tertegun mendengar pengakuan Izzan. Betapa ia harus bersyukur dengan hidupnya. Anak sekecil Izzan, menjalani hidup yang cukup berat.
“Biasanya, saat ada kegiatan promosi-promosi di jalan, aku dan beberapa temanku akan diberikan kaos. Namun lebih dulu, kami harus membantu membagikan brosur-brosur pada pejalan kaki. Barulah kami akan mendapatkan kaos baru.” Izzan bercerita dengan begitu semangat.
Benar katanya, ia menangis bukan karena sedih. Dari sorot matanya, anak itu sangat bangga dengan apa yang telah ia lakukan. Bagaimana ia berusaha untuk tetap bertahan seorang diri di luar sana.
Sea sungguh dibuat terharu. Kembali ia mendekap Izzan. “Izzan anak yang luar biasa. Izzan anak yang hebat,” puji Sea.
“Bagaimana jika Bibi meminta Izzan ikut dengan Bibi?”
__ADS_1
“Apa Izzan mau?”
...————————...