
"Ma! Aku nggak mau pakai baju yang kek ginian, Mama ini ada-ada aja!" teriak seorang gadis berambut pirang itu pada mamanya.
"Naira! Ini sudah menjadi keputusan Mama sama Papa! Jadi, mau nggak mau kamu harus nurut!" tegas mama Naira.
Naira Astika Sari, adalah gadis cantik yang berumur 18 tahun. Dia memiliki mata coklat, alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir tipis serta rambut pirang yang panjangnya melebihi bahu.
Tak hanya itu, dia juga memiliki sifat yang susah diatur, dan sangat pemarah.
"Tapi, Ma, baju gamis yang kek gini tu cocoknya sama ibu-ibu, bukan sama Naira, Ma."
"Ini bukan untuk ibu-ibu aja, untuk kamu juga cocok. Lagian nanti kamu bakal jadi ibu-ibu juga, 'kan?"
"Iya, Ma. Tapi aku masih remaja, masih SMA. Aku nggak mau pakai baju itu pokoknya!" timpal Naira yang tak mau kalah.
"Memangnya kenapa kalau masih remaja?" tanya mama Naira.
"Ck! Mama ini nggak ngerti banget, sih." Naira berdecak sebal menghadapi mamanya yang menginginkan dia memakai baju syar'i. Padahal baju itu sangat tidak bagus sama sekali menurutnya. Itukan baju ibu-ibu, mana mungkin dia mau memakai baju gombrang kayak gitu. Mamanya ini ada-ada saja. Naira masih SMA, Ma. Apa harus berpenampilan kayak ibu-ibu?
"Pokoknya kamu harus pakai baju ini! Mama udah beliin banyak buat kamu!" tekan Mama pada putri satu-satunya itu. Wanita paruh baya ini sangat menginginkan Naira memakai baju muslimah yang di belinya beberapa hari yang lalu. Dia sangat menginginkan putrinya menjadi orang yang lebih baik dan menjadi muslimah yang sseharusnya. Bukan malah bertingkah laku yang buruk seperti ini.
Orang tua Naira sangat menginginkan Naira menjadi anak yang sholeha. Alangkah bahagianya mereka bila mendapati putri yang sholeha dengan memakai baju Syar'i dan dihiasi juga dengan akhak mulia. Sayangnya, ini masih harus tertunda.
"Ma, apa Naira harus pakai baju ini buat main sama teman-teman Naira? Kan, nggak mungkin, Ma," ujar Naira lembut, agar hati Mamanya luluh.
"Mama nggak nyuruh kamu pakai baju ini buat main, tapi buat kamu pergi belajar ngaji di masjid," ucap mama Naira.
"Hah! Ngaji? Di masjid?" Naira kaget dengan penuturan mamanya barusan.
"iya," jawab mama Naira menganggukkan kepala.
"Mama jangan ngada-ngada, Ma. Naira nggak mau!" timpal Naira dengan nada tinggi.
"Apa-apaan kamu, Naira! Jangan kebiasaan membentak orang tua, apalagi Mama kamu!" bentak papa Naira yang baru datang. Tadi pria itu mendengar perdebatan anak dan istrinya di kamar.
"Pa, Naira nggak mau ngaji, Pa. Apa lagi di masjid," ucap Naira pada papanya.
"Ini keputusan Papa, Naira. Papa nggak suka kalau kamu membantah!"
"Tap---"
"Sekarang kamu sudah dewasa, Naira! Tapi pengetahuan agama kamu masih sangat dangkal, mau jadi apa kamu nanti? Dulu Mama kamu selalu manjain kamu, makanya kamu jadi anak yang kurang didikan sekarang. Papa nggak mau tau! Ini sudah sekian kalinya kamu membantah, kali ini Keinginan Papa tak bisa di tolak!" tegas papa Naira dengan marah.
__ADS_1
Ya, Naira memang dari kecil sangat dimanja oleh mamanya, tapi bukan berarti mama dan papanya tidak mendidiknya, melainkan memang anak itu yang susah di atur.
Setiap kali disuruh belajar dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, mengaji misalnya, Naira selalu saja membantah. Akhirnya tak ada cara lain bagi Orang tuanya selain memaksanya untuk mengaji di luar rumah agar dia benar-benar mau belajar.
"Ayo, Ma, tinggalkan saja anak itu!" ajak Herman pada Istrinya-Marlin.
Mereka berdua meninggalkan Naira yang masih terpaku di kamarnya, gadis itu menatap pakaian yang terletak di sisi ranjang miliknya, menyebalkan sekali!
Dari pada dia harus mendengar ocehan yang tak jelas dari Papanya itu, mendingan dia sekarang ke luar untuk jalan-jalan.
Hari ini memang hari minggu, jadi Naira tidak sekolah. Dia berniat keluar dari rumah ini untuk menghindari papanya. Ya, dari dulu memang seperti ini kelakuannya. Suatu kebiasaan buruk!
Naira melangkahkan kakinya menuju lemari untuk memilih baju yang akan dia pakai.
"Hah! Baju gue pada ke mana?" Naira mencari baju-bajunya yang dia taruh di lemari, tapi tidak ia temukan. Malahan yang ada berbagai macam baju gamis, celana panjang, baju panjang, kerudung serta pakaian muslimah lainnya.
Kemana baju kemeja dan celana jeansnya yang hampir memenuhi lemari itu? atau baju yang lagi trend masa kini.
Apa mamanya sudah membuangnya?
"Maa!" teriak Naira memanggil mamanya.
"Nggak gitu juga kali, Pa. Siapa tahu Naira butuh sesuatu?" bujuk Marlin pada suaminya.
"Kamu ini, Mah. Dari dulu selalu aja manjain Naira!" Herman kembali membaca korannya.
Marlin hanya menghembuskan nafas kasar melihat suaminya ini. Lalu berjalan menghampiri Naira yang memanggilnya.
"Ada apa, Ra?" tanya Marlin ketika tiba di kamar Naira.
"Ma, baju Naira ke mana, Ma?" tanya Naira dan melihat kearah mamanya yang masih berdiri di pintu.
Marlin mendekat kearah purtinya, "Ini semua baju kamu, Ra," ucap Marlin sembari menunjuk baju yang ada di lemari Naira.
"Bukan yang ini, Ma. Baju-baju Naira yang Naira sering pake?" ujar Naira dengan muka penuh tanya pada mamanya.
"Sudah ada di gudang!" timpal Marlin cuek dan bersedekap dada.
"Apa, Ma?!" Marlin hanya mengangkat kedua alisnya untuk menanggapi pertanyaan Naira.
"Kenapa bisa di gudang?" Naira bertanya lagi.
__ADS_1
"Papa kamu yang nyuruh Mama buat buang semua baju kamu di gudang. Katanya baju kamu itu kurang bahan, ketat dan sama sekali tidak menutup aurat!"
Mendengar nama papanya, Naira langsung menghela nafas kasar. Tak mungkin jika ia harus membantah lagi. Bisa-bisa Papanya tambah marah.
"Terus, Naira pake baju yang mana, Ma?" Naira memelas pada mamanya. "Masa Naira harus pakai baju gamis buat jalan-jalan sama teman Naira ...," sambungnya lagi.
"Di sini kan sudah tersedia baju panjang dan celana panjang, Ra. Kamu bisa pakai itu dan satu lagi ... kamu harus pakai hijab, ya!" ucap Marlin tersenyum yang dibalas dengan muka malas Naira.
"Tapi, Ma. Apa kata teman-teman Naira nanti kalau liat Naira pakai baju kek gitu. Naira nggak biasa, Ma," bantah Naira yang berharap mamanya mengerti keadaannya sekarang.
"Ngapain juga kamu dengar kata orang, Ra?"
"Ahh, Mama!" ketus Naira.
"Ra, kalau kamu nggak nurut sama Papa, mobil kamu bakalan Papa sita, dan uang jajan kamu bakal dikurangin!"
"Apa, Ma?!" ucap Naira tak percaya.
"Ya! Papa kamu nggak pernah main-main, Ra. Kamu ingat itu!" ucap Marlin memperingatkan.
Kemudian berlalu meninggalkan Naira yang masih tercengan.
'Ck! Papa menyebalkan!' umpat Naira dalam hati.
Dia menatap malas baju-bajunya yang ada di lemari itu. Dengan terpaksa dia harus memakai baju itu untuk pakaian sehari-harinya.
"Huh!" Naira memutar bola matanya malas.
Ketika ia memakai baju itu yang terlihat gombrang sekali menurutnya.
Baju lengan panjang dan menutup sebagian pahanya, bisa dikatakan setengah tiang gitu, serta celana panjang yang agak gebor. Ditambah lagi dengan hijab yang harus ia pakai sebagi beban dikepalanya. Ya, hijab hanyalah kain yang membuat sakit kepala bagi Naira
Naira segera keluar dari kamar untuk munuju ruang tamu.
.
.
.
TBC.
__ADS_1