Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 43


__ADS_3

Naira sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Menatap keindahan kota Jakarta dengan kerlap lampu-lampu kendaraan dan lampu jalanan lainnya. Suasana malam ini begitu indah, langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang begitu bersahabat dengan cuaca cerah malam ini.


Cocok untuk sekedar memanjakaan mata.


Brum!


Naira mengalihkan pandangannya saat mendengar suara deruman mobil Rifky yang baru pulang dari masjid. Dia tersenyum manis dan segera berlari ke bawah untuk menghampiri suaminya.


"Assalamualaikum," salam Rifky setelah membuka pintu rumah.


"Wa'alaikumussalam. Mas Rifky ...." Naira berlari berhambur memeluk suaminya. Bahkan tingkahnya mengagetkan Rifky. Namun, Rifky tetap membalas pelukan istrinya itu.


"Cium dulu!" Naira mendongakkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya pada Rifky. Kedua tangannya masih setia melingkar di pinggang Rifky.


Meskipun tak habis fikir dengan sikap Naira. Dengan senang hati Rifky melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya. Mamang itu maunya! Mengapa Naira tidak seperti ini dari dulu?


Ah, tapi tak apalah. Keterlambatan yang patut disyukuri!


Mereka berdua menapaki anak tangga untuk menuju kamar, Naira menemani Rifky mengganti bajunya, lalu mengajak Rifky makan malam.


"Ayo, silahkan makan!" ucap Bi Ira setelah menyiapkan makan malam untuk majikannya.


"Iya, Bi," jawab Rifky. Sedangkan Naira hanya tersenyum sembari menatap suaminya itu. Dari tadi Naira selalu ingin dekat dengan Rifky, sampai berjalan pun masih menggandeng tangan Rifky.


Bi Ira bahkan senyum-senyum sendiri melihat Rifky yang kesusahan atas tingkah Naira terhadapanya. Tak ingin mengganggu kemesraan suami istri itu, Bi Ira memilih masuk ke kamarnya.


Setelah duduk berdampingan dengan Naira, Rifky meraih dua piring sekaligus untuknya dan Naira. Namun, Naira mengembalikan piring yang diberikan Rifky ke tempatnya.


"Loh, kamu nggak mau makan?" tanya Rifky sambil menatap istrinya.


"Sepiring berdua!" jawab Naira tersenyum. Dia semakin menarik kursinya untuk lebih dekat dengan Rifky.


Cup!


"Tumben banget." Setelah mencium Naira sekilas, Rifky mulai meletakkan nasi serta lauknya di dalam piring mereka.


"Ayo makan!" ajak Rifky sambil mendekatkan piring mereka pada Naira.


"Nggak mau ayam ...." Naira menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Tatapannya begitu manja pada Rifky.


"Ya udah, mau apa?" Rifky mengembalikan sepotong ayam goreng pada tempatnya. Lalu menatap Naira yang terlihat memilih-milih lauknya.


"Em ... kangkung, tahu goreng, sama ikan goreng." Naira menunjuk piring berisi makanan yang dia sebutkan.


Rifky mengangguk. Kemudian mengambil semua yang Naira minta.


"Ayo makan!"


"Suapin ...." Naira mengerjab-ngerjabkan matanya sambil mengulum senyum. Entah apa sebenarnya yang merasuki Naira, mengapa mendadak manja begini?


Rifky menatap Naira dengan senyumnya, kalau bukan suasananya sedang makan, ingin sekali Rifky menggigit pipi Naira yang sangat menggemaskan sekarang.


Mereka menikmati makan malam bersama dalam satu piring, dengan Rifky yang menyuapi Naira.


"Enak! Sering-sering aja kayak gini," ucap Naira setelah menelan suapan terakhirnya.


"Iya, tapi ada imbalannya, loh ...." Rifky melirik Naira sambil tersenyum.


Naira menatap Rifky sejenak, lalu membereskan piring-piring kotor bekas mereka makan.

__ADS_1


Setelah itu mereka duduk di sofa tengah, sekedar untuk beristirahat sejenak sambil menonton acara televisi.


Beberapa menit kemudian, Rifky mengajak Naira ke atas dan menyuruh Naira tidur duluan. Sedangkan dia sendiri harus berkutat dengan tugas kantornya terlebih dahulu.


Naira memainkan ponselnya sembari menunggu Rifky. Dia membuka grup WA-nya yang beranggotakan empat orang saja. Tak lain grup Naira dan para sahabatnya. Jarak bukanlah penghalang bagi mereka untuk berkomunikasi. Hanya saja, kadang-kadang mereka disibukkan oleh kegiatan masing-masing.


@Naira


[Assalamualaikum.]


@Sindy


[Wa'alaikumussalam!]


@Naira


[Sepi amat, Woy. Lagi pada ngapain?]


@Sindy


[Baru selesai bantu Mama, bikin gorengan.]


@Naira


[Enak, dong. Bagi-bagi napa?] Naira mengirim pesan disertai stiker senyum pepsodent.


@Kinta


[Wa'alaikumussalam. Gue baru selesai mandi!]


@Sindy


@Naira


[Makanya jangan pacaran mulu, Oy. Sampe lupa ama diri sendiri!]


@Kinta


[Apaan kalian ini? Suka-suka gue, dong!]


Naira dan Sindy sudah bisa menebak bagaimana ekspresi sahabat mereka itu.


@Kiki


[Ngobrolin apaan, Oy?]


@Naira


[Gue kangen sama kalian semua!]


@Sindy


[Kita juga kangen ....]


@Kinta


[Aku juga!]


@Kiki

__ADS_1


[Kapan bisa ketemu, ya?]


@Kinta


[Naira, 'kan udah punya suami, pasti nggak boleh main terus kayak dulu lagi. Apalagi suaminya ganteng, pengennya nempel mulu. Hahaha ....]


@Kiki


[Lo nikah aja, dah. Daripada lo gila, wk wk.]


@Sindy


[Benar banget, hahaha.]


Naira hanya menanggapi percakapan mereka dengan emot tawa. Benar-benar sahabat konyol.


@Kinta


[Tidur aja, dah. Udah malem!] balas Kinta yang tak mau ambil pusing.


@Sindy


[Kapan-kapan kita ketemuan, Oy. Udah kangen!]


@Naira


[Insyaa Allah, ok!]


@Kiki


[He'em!]


Mereka mengakhiri percakapan karena malam semakin larut. Naira meletakkan handphone-nya di atas nakas dan menatap langit-langit kamarnya. Matanya tidak bisa terpejam walaupun sudah waktunya tidur. Perasaan Naira selalu ingin dekat dengan suaminya.


Naira membolak-balik posisi tidurnya, sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ah, ada apa dengannya?


Ceklek!


Naira langsung mendudukkan dirinya saat mendengar pintu yang dibuka oleh Rifky.


Rifky tersenyum dan mendekati Naira yang juga menatapnya dengan senyuman.


"Belum tidur?" tanya Rifky pada istrinya.


"Belum ngantuk!" jawab Naira dan mengubah posisinya menghadap Rifky. Tangannya segera ia lingkarkan di tubuh Rifky sambil mendongak untuk menatap suaminya itu.


"Beneran belum ngantuk?" Rifky menatap Naira dan tersenyum sekilas. Lalu membelai rambut indah istrinya itu dengan lembut.


"Iya."


"Kalau gitu ...." Rifky membaringkan tubuh Naira perlahan, dan mengecup singkat bibir istrinya. Malam ini dia menginginkan istrinya lagi.


Seakan mengerti dengan apa yang dimaksudkan Rifky, Naira memilih pasrah dan membiarkan Rifky melangsungkan niatnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2