Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 71


__ADS_3

Sekitar pukul 2 siang, Rifky dan Naira masih di rumah dan tengah bersiap-siap berangkat mengaji. Lelaki dengan sarung hijau itu duduk di sofa menunggu istrinya selesai berdandan. Ditatapnya Naira sedang memasukkan peralatan ke dalam tas, terlihat tali baju gamis yang mungkin belum selesai ia rapikan masih belum terikat. Rifky mendekat, setengah memeluk pinggang Naira untuk membantu.


Naira menoleh dan langsung tersenyum, sudah dia duga kalau Rifky akan memperhatikannya. "Makasih, Mas."


"Iya. Udah selesai? Ayo berangkat!" ajak Rifky tersenyum.


"Udah, yuk!" Naira mengangguk serta menggandeng tas kecilnya. Tangan kirinya bersiap terselip di tangan kanan Rifky agar mereka berjalan bergandengan.


Mereka berpamitan pada Bi Ira sebentar, kemudian menuju garasi mobil untuk segera berangkat.


Sampai di tempat tujuan, hanya ada Ustaz Hanan yang mengarahkan anak-anak, sementara Iyan tidak masuk sebab masih mengurus istrinya di rumah sakit. Seperti biasa, Naira dan Rifky disambut gembira oleh anak muridnya, mereka bergantian menyalami punggung tangan Rifky dan Naira dengan takzim.


"Assalamualaikum, Pa." Rifky tersenyum pada papanya, menunduk hormat sambil meraih punggung tangan Ustaz Hanan.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Ustaz Hanan. Rifky kembali duduk di tempat biasa, memulai tadarusnya sebentar sebelum waktunya anak-anak menghadap.


Beberapa menit surau itu penuh oleh suara bacaan Al-quran dari setiap penghuninya. Bila mana telinga mendengar, maka ketenangan dan ketentraman hatilah yang akan didapat. Lantunan ayat suci itu sangat indah dan merdu.


Naira yang masih tahap belajar, berusaha memfasihkan bacaannya sembari mengajari anak-anak. Tentulah apa yang dia ajarkan sesuai ilmu yang dia dapat dari Rifky---suami sekaligus ustaznya.


"Ayo, anak-anak. Kita mulai ngajinya sekarang, ya?" Ustaz Hanan menitah. Salah satu muridnya menghadap untuk belajar, sesuai urutan siapa yang pertama kali tiba di surau itu.


Rifky juga memulai kegiatan. Dengan sabar lelaki itu menuntun arah bacaan yang belum fasih disebutkan oleh murid-muridnya. Menit ke menit, seluruh anak-anak hampir mendapat giliran. Hingga tiba waktunya salat ashar setelah mereka mendengarkan nasihat singkat dari Ustaz Hanan.


"Ayo, Sayang. Kenapa?" tanya Rifky saat melihat Naira meringis.


"Sebentar, Mas. Kakiku agak keram," jawab Naira pelan. Naira masih duduk bersimpuh sambil memijit kakinya.


Tanpa banyak kata, Rifky berjongkok depan istrinya dan memijit kaki mungil berbalut kaus kaki itu. Naira menikmati, sedikit merasa ringan saat dipijat.


"Nggak papa keram karena baca Al-quran, semoga kelak dimudahkan langkah kita menuju syurga," ucap Rifky tulus. Bibirnya mengembangkan senyum manis untuk Naira.

__ADS_1


Istrinya itu terdiam. Lebih tepatnya terharu mendengar penuturan Rifky padanya. Sungguh, Naira berpikir kalau dia adalah wanita paling beruntung memiliki suami seperti Rifky.


Rifky menatap tepat mata coklat Naira yang tampak berkaca-kaca. Dia kembali tersenyum, sebab tahu bahwa hati yang lembut adalah hati yang mudah tersentuh, dan sekarang dia dapati dari istrinya sendiri.


"Udah, Mas. Ayo salat!" ajak Naira menyudahi. Dengan bantuan dari Rifky, Naira berdiri dan berjalan ke luar surau. Mereka membasuh wajah dan berwudhu kembali sebelum memasuki masjid untuk salat berjamaah.


Tempat itu lengang sejenak. Terkadang hanya terdengar suara takbir dari imam, diikuti oleh jamaahnya yang bersujud serentak. Salat mereka terlaksana.


Tak lama setelah itu, para orang tua membimbing anak-anak mereka pulang ke rumah karena sudah waktunya pulang.


Rifky juga mengajak Naira ke mobil setelah berpamitan pada papanya, jika biasanya Ustaz Hanan bersama Iyan, kali ini lelaki paruh baya itu pulang dan menyetir sendiri mobilnya.


"Mas?" Naira memanggil ringkas, menatap sekilas suaminya yang fokus pada kemudi.


"Iya? Kenapa, Sayang?" sahut Rifky pelan.


"Eum ... Mas Rifky nggak mau beliin aku bakso, gitu?" Naira mengutarakan keinginannya dalam bentuk pertanyaan, membuat Rifky terkekeh menyaksikan bibirnya yang terkatup itu.


"Iyalah. Kalau dibeliin." Naira memanyunkan bibir dengan tangan yang memelintir ujung jilbab. Sesekali menatap Rifky ragu-ragu.


"Iya, boleh. Tapi jangan keseringan, ya? Nggak sehat." Rifky tersenyum menoleh Naira. Lelaki itu mendapati wajah istrinya yang tampak senang serta anggukan beberapa kali.


Rifky membelokan mobil mereka ke arah kanan, tepat di depan warung bakso yang wanginya langsung menyeruak dan menggugah.


"Kamu tunggu sini, ya? Biar Mas yang turun!" Naira mengangguk lagi, rasanya tak tahan ingin segera mencicipi bakso itu.


Sekian menit ia menunggu, akhirnya Rifky kembali dengan bakso yang telah dibungkus plastik.


"Banyak banget, Mas?" Kening Naira mengernyit. Menatap plastik biru yang berisi tiga porsi bakso.


"Buat Bi Ira sama Mas juga," jawab Rifky simple. Deretan giginya sempat terlihat oleh Naira karena Rifky terkekeh.

__ADS_1


Naira hanya mengangguk senang, artinya akan ada bagian lebih untuknya nanti. Naira menyembunyikan senyum saat berpikir demikian, sembari memandang keindahan jalan yang menyambut senja sore ini.


***


Iyan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan parcel buah di tangannya. Beberapa kali berbelok dan terhenti di depan ruangan bernomor 35. Lelaki itu mengetuk pintu, kemudian berjalan masuk setelah mendapat suara izin dari dalam.


Seorang suster tersenyum ramah padanya, berbeda dengan pasien yang dijenguk, hanya mampu tertunduk lemah.


"Bagaimana keadaanmu, Rani?" Iyan duduk di samping brankar tempat Rani dirawat.


Rani mendongak ke arahnya, dugaan buruk yang ia tebak segera tertepis saat mendapati senyum tulus dari laki-laki di sampingnya sekarang.


"Saya permisi sebentar," pamit suster meninggalkan mereka.


"Tidak perlu takut, Rani. Aku ke sini hanya untuk minta maaf," ujar Iyan lembut. Tatapannya tertuju pada tangan pucat Rani yang meremas kuat selimutnya.


"Ma--maaf?" ulang Rani lirih. Sempat terkejut apakah dia salah dengar atau tidak. Bukankah yang seharusnya minta maaf itu adalah dia?


"Iya. Maaf sudah membuatmu begini. Aku tidak pernah dendam ataupun membencimu, bahkan aku berharap kamu mendapat kebaikan. Berubahlah, Rani ...." Iyan berujar pelan. Menatap harap mata Rani yang balik menatapnya.


Wanita itu tampak menyimpan bening embun, bibirnya yang pucat bergetar kecil, sesekali tak sadar kalau isakan pelan terdengar.


"Bukankah aku yang mestinya minta maaf? Kenapa kamu datang ke sini hanya untuk ini ...?" Perkataan Rani tercekat lirih. Dia menunduk, menghapus pelan air mata yang memerihkan hatinya.


"Tidak ada salahnya kita saling memaafkan. Sebab kita hanya manusia yang tak luput dari dosa." Iyan tersenyum, menahan nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Ini untukmu! Dimakan, ya? Semoga lekas sembuh." Iyan berdiri dan menyerahkan parcel buah di atas meja pada Rani. Wanita itu menerima sambil tersenyum ragu, mengucapkan terima kasih lewat netranya yang berair.


"Assalamualaikum." Iyan berbalik menuju pintu.


"Waalaikumussalam ...." Jawaban lirih itu sejenak menghentikan gerakan kaki Riyan, lalu meninggalkan ruangan wanita itu dengan senyungging senyum kecil.

__ADS_1


Iyan menuju ruangan istrinya yang berjarak beberapa kelokan dari ruangan Rani, meninggalkan harap pada Rani agar dia mau berubah. Biarlah kesucian jiwanya yang menyentuh mata hati wanita itu.


__ADS_2