
Siang ini Naira mengitari taman belakang rumahnya. Hari ini kegiatan mengaji memang diliburkan dulu karena Iyan sedang melangsungkan pernikahannya.
Sembari menikmati angin segar, Naira mencabuti rumput-rumput kecil yang mulai menghijau di sana. Naira tak merasa jijik meskipun tangannya tak mengenakan alas apa pun, malahan dia sangat senang melakukannya.
Sedangkan Rifky yang baru bangun dari tidur siang, mencari-cari keberadaan Naira yang tadinya ikut berbaring di sampingnya. Laki-laki itu mencuci muka dan turun ke bawah untuk mencari istrinya, barangkali Naira sedang membantu Bi Ira bersih-bersih.
Namun, sampai di dapur, Rifky tak menemukan apa pun selain Bi Ira yang sedang mencuci piring. Dari ekspresi wajahnya, wanita itu terlihat belum menemui Naira. Lalu di mana Naira?
"Bi, liat Naira nggak?" tanya Rifky dan menekankan tangan kanannya di meja makan.
"Neng Naira? Bukannya masih di atas? Bibi nggak liat Neng Naira turun," jawab Bi Ira menggeleng.
Rifky spontan menegakkan tubuhnya mendengar jawaban Bi Ira. Raut wajah kebingungan mulai tergambar di wajah tampan laki-laki itu.
Rifky segera menuju pintu utama kalau-kalau Naira ada di luar, tapi tetap tak menemukan istrinya itu.
"Naira?!" panggil Rifky. Namun tak ada yang menyahut.
"Naira!"
"Neng Naira! Kamu di mana, Neng?!" Bi Ira juga ikut mencari saat mendengar Rifky memanggil-manggil Naira.
"Naira!" Kembali Rifky menaiki anak tangga untuk menuju lantai atas. Sementara Bi Ira mengitari ruangan bawah. Mereka memeriksa semua penjuru ruangan, tapi hasilnya tetap nihil.
"Naira!" panggil Rifky panik.
"Nggak ada, Den!" ucap Bi Ira yang ikut khawatir.
"Bibi beneran nggak liat Naira turun?" tanya Rifky menatap Bi Ira. Hanya gelengan yang ia dapat. Rifky juga mendapati wajah Bi Ira terlihat cemas.
"Naira ke mana, sih?" Laki-laki itu menggaruk kepalanya pusing.
"Kalau Neng Naira pergi, dia pasti izin," kata Bi Ira yang ikut bingung.
"Nggak mungkin juga dia pergi sendiri, Bi. Kalau ke mana-mana pasti dia minta sama aku." Rifky mencari dan memanggil-manggil nama istrinya lagi. Namun, panggilannya tetap sia-sia.
Tiba-tiba dia teringat tempat yang belum ia tuju. Taman belakang! Mungkin Naira di sana. Rifky melangkah ke arah pintu belakang yang masih tertutup.
"Kalau ke sana, pintunya pasti terbuka, Den."
"Hm ...? Pintunya nggak dikunci, Bi. Anak itu pasti sengaja menutupnya begini," geram Rifky. Bi Ira menggeleng melihatnya, apalagi mereka sudah berkeliling rumah ini hanya untuk mencari Naira.
Rifky membuka pintu dan menuju taman, tapi tetap tak ada Naira di sana. Ke mana istrinya itu? Rifky mulai panik kembali.
"Naira?!"
Naira yang mendengar suara itu langsung membolakan matanya. Pasalnya sekarang dia sedang berada di atas pohon jambu biji untuk mengambil buah jambu itu, tapi Rifky malah ke sana. Bagaimana ini? Pasti dia akan kena marah.
"Naira!" Naira menggigit bibir bawahnya saat Rifky semakin mendekat. Dua buah jambu biji berhasil ia ambil, bahkan setengahnya sudah habis dilahap, tanpa dicuci ataupun dikupas.
"Naira? Kamu di mana, Sayang ...!" Terlihat Rifky menghela nafasnya.
"Naira!"
"Apa, Mas ...," sahut Naira pelan. Dia tak ingin menjawab, tapi merasa kasihan melihat Rifky.
Rifky mendongak ke arah sumber suara. Bola mata laki-laki itu nyaris kelaur saat mendapati Naira yang sedang berada di atas pohon. Memang tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja dia khawatir pada istrinya itu, apalagi Naira sedang hamil. Kalau jatuh bagaimana? Hal itu tidak hanya membahayakan bayinya saja, tapi juga Naira. Gadis itu memang ada-ada saja.
"Kamu ngapain di sana?! Dari tadi dipanggil-panggil ternyata naik pohon ini! Turun!" titah Rifky dengan nada marah.
"I--iya, Mas. Jangan marah tapi ...?" Naira takut-takut menatap wajah Rifky yang menatapnya tajam. Sepertinya Rifky benar-benar marah.
__ADS_1
"Cepat turun!"
"I--iya, Mas. Tapi gimana ini? Nggak bisa turun ...." Naira menangis sambil memeluk erat dahan jambu. Ketakutannya pada Rifky membuat kakinya lemas untuk berjejak di pohon itu.
Ck!
Rifky mendekatinya. Namun, Naira semakin naik ke tempat yang lebih tinggi karena takut.
"Ayo turun!" ucap Rifky sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi jangan cubit kakiku?!"
Ck!
Rifky berkacak pinggang menatap istrinya.
Naira-Naira! Siapa pula yang ingin mencubit kakinya, orang Rifky khawatir padanya.
"Ayo cepat! Mas bantu!"
"I--iya!" Naira turun pelan-pelan dan mengulurkan kedua tangannya pada Rifky. Kemudian Rifky menyambut tubuh kecil istrinya itu dan menurunkannya.
Naira hendak pergi. Namun, Rifky mencekal tangannya membuat Naira menunduk takut.
"Ngapain naik di sana?" tanya Rifky dingin. Naira tak berani menatapnya, tapi Rifky meraih dagunya agar Naira mendongak.
Naira menatap mata Rifky yang menurutnya sangat menakutkan itu. "Mas ...?"
"Aku tanya ngapain naik di sana?!" ulang Rifky menekan.
"Ng--ngambil ini ...." Naira memperlihatkan dua buah jambu biji pada suaminya itu. Rifky menghela nafas, dan seketika melotot kembali saat mendapati salah satu buah itu telah dimakan sebagian oleh Naira.
"Kamu ...? Makan ini tanpa dicuci?" Rifky memegang bahu kanan Naira, sementara tangan kanannya memegang jambu yang tinggal sebagian itu.
"Astaghfirullah hal'adzim .... Naira ... Naira ...?" Rifky menggeleng beberapa kali. Dia tetap menatap istrinya yang masih setia menunduk itu. Kasihan ... tapi dia harus memberi hukuman pada istri nakalnya itu.
"Besok aku akan tebang pohonmu itu!" Naira spontan mendongak kala Rifky berkata demikian. Apaan ini? Selama ini dia susah payah merawat pohon yang dulunya hampir mati itu, dan ketika sudah berbuah Rifky ingin menebangnya? Tidak! Tidak akan terjadi. Naira rela menangis seharian agar Rifky tidak menebang pohon jambunya.
"Apa? Mau protes?!" tanya Rifky yang melihat Naira menggeleng-geleng.
"Jangan, Mas ... jangan ditebang. Kan udah banyak buahnya yang kecil-kecil itu ...." Naira menunjuk setiap dahan yang sudah berbuah. Matanya berkaca-kaca menatap Rifky, berharap agar Rifky tidak menebang pohonnya.
"Aku nggak akan naik lagi, Mas. Tapi jangan ditebang, ya? Aku janji ...," rengek Naira. Melihat Rifky yang tak kunjung bicara, Naira memeluk dan mencium suaminya itu bertubi-tubi.
"Hapalkan surah Ar-rahman sebagai gantinya. Dalam dua hari!" ucap Rifky tanpa melihat Naira.
"Hah? Dua hari? Tapi Ar-rahman agak panjang, Mas ... seminggu mungkin bisa," jawab Naira menawar. Namun, Rifky menggeleng dan meninggalkannya pergi.
"Mas! Aku nggak mau pulang!" teriak Naira sembari menghentak-hentakkan kakinya.
Rifky yang sudah berada di ambang pintu berbalik menatap Naira. "Terserah kamu! Aku akan tutup semua pintu kalau kamu nggak pulang sekarang!" ancam Rifky. Naira tak peduli dan tetap diam di tempat.
"Mas ...?" Naira berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya saat Rifky hendak menutup pintu. Kemudian memeluk tubuh suaminya itu sambil menangis pelan.
"Lepas, ah! Bentar lagi mau azan ashar, mandi sana! Siap-siap sholat!" titah Rifky dan melepas pelukan manja dari istrinya.
Naira mengikuti Rifky yang berjalan meninggalkannya. Entah kenapa, dia jadi sedih kalau Rifky marah begitu.
Naira meletakkan buah jambunya di atas meja makan, lalu berlari menyusul Rifky menaiki anak tangga.
"Mas ... aku minta maaf ...?" Dia kembali merengek sembari memeluk Rifky. Namun, Rifky masih mengabaikannya, tak ada niat untuk membalas pelukan istrinya itu.
__ADS_1
"Mas ...." Seketika Naira berjinjit dan mencium bibir Rifky. Laki-laki mana yang tidak terbuai kalau diperlakukan seperti itu? Perlahan, dia juga membalas perlakuan Naira terhadapnya.
Tiga menit kemudian, mereka melepaskan tautan itu dan menatap satu sama lain. Naira menangis, bahkan terdengar isakan dengan bibir yang melengkung.
"Gitu aja marah ...," lirih Naira. Tangannya masih setia melingkar di leher Rifky dengan mata yang tak lepas menatap suaminya itu.
Rifky menghela nafas. Dia menjadi lemah kalau istrinya sudah bersikap begitu padanya. "Udah ... jangan nangis." Jari-jari Rifky menghapus air mata Naira. Seperti kebiasaannya, dia akan mengecup dua kelopak mata Naira dan mencium singkat bibir Naira yang melengkung itu. Dengan begitu, Naira akan tersenyum kembali.
"Jangan marah ...," pinta Naira.
"Iya, Sayang." Rifky tersenyum dan memeluk tubuh istrinya. Naira yang mendengar itu ikut mengangkat sudut bibirnya, dengan senang dia membalas pelukan Rifky dan bersikap manja lagi pada suaminya itu.
****
Untuk sementara Ayu dan Iyan masih tinggal di rumah Erna. Sore ini Ayu baru selesai mandi dan turun untuk membantu memasak.
"Tante?" Ayu menyapa dan tersenyum. Di sana sudah ada tiga orang wanita yang sedang berkutat dengan alat dapur.
"Iya, Sayang. Kamu ngapain turun, biar Tante sama Bibi aja yang masak," ucap Erna tersenyum.
"Kak Ayu! Kak Iyan mana? Kok nggak diajak ...?" Icha mengedip-ngedipkan matanya menggoda Ayu.
"Icha! Liat wortel kamu itu! Udah jatoh!" sentak Erna pada anaknya. Icha hanya nyengir menatap mamanya itu.
"Sini! Biar Kakak aja yang potong!" Ayu meraih pisau dan mulai memotong wortel. Sedangkan Icha membantu menyiapkan bumbunya sopnya. Ya, rencananya mereka akan membuat sop ayam untuk menu makan malam ini.
"Kak Ayu cantik banget, sih? Beruntung banget Kak Iyan," puji Icha. Ayu tersenyum malu ada gadis berusia 20 tahun itu. Meskipun mereka baru bertemu, tapi Erna senang sekali melihat kedekatan Ayu dan Icha.
Nama lengkap gadis itu Carissa Andini, tapi orang tuanya memberikan nama panggilan Icha untuknya. Gadis 20 tahun itu baru saja pulang dari Kuala Lumpur habis menyelesaikan kuliahnya yang memasuki semester empat. Dia pulang karena pernikahan kakak sepupunya---Iyan.
"Itu diaduk, Icha!" titah Erna.
"Iya, mamaku yang cantik ...!" jawab Icha terkekeh. Dia mencium pipi Erna sekilas dan mengecilkan api masaknya. Selain Rindu, dia memang terbiasa bersikap manja pada orang tuanya, sebab dia satu-satunya anak perempuan dari pasangan itu. Sementara kakak laki-lakinya sudah menikah dan bekerja sebagai dosen di Yogyakarta.
Hingga malam tiba, semua keluarga itu berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Ayu, memanggil memanggil Iyan di kamar mereka dan mengajaknya makan malam. Terlihat laki-laki yang usinya terpaut 2 tahun dengannya itu, tengah melipat sarungnya karena baru pulang dari masjid.
"Mas! Ayo makan malam!" Ajakan itu terdengar begitu lembut. Ayu menunduk malu saat ditatap suaminya, dia tidak terbiasa.
"Iya, Sayang. Ayo!" Iyan merangkul bahu istrinya setelah mengecup singkat keningnya. Andai gemuruh di dada Ayu menimbulkan suara, mungkin akan seperti hujan petir. Ah, betapa dia gugup saat Iyan menciumnya, ditambah lagi dengan panggilan manis untuknya---sayang.
Mereka sampai di meja makan dan segera menduduki kursi. Suasanya begitu tenang dan damai. Sesekali Icha tersipu menatap Iyan dan Ayu. Entahlah. Seperti ada yang lucu dari keduanya.
Selesai makan malam, mereka berkumpul sejenak di ruang keluarga. Ketika jarum jam memasuki angka ke 10, semua mulai diserang kantuk dan akhirnya beralih ke kamar masing-masing.
Ayu takut-takut saat Iyan mengajaknya memasuki kamar, tapi dia tak punya pilihan lain selain mengikuti suaminya itu.
Sampai di sana. Iyan melepaskan bajunya dan berbalik menatap Ayu. Tak dapat dipungkiri lagi, gadis itu sangat gugup dibuatnya.
"M--mas? Mau apa?" tanya Ayu gugup.
"Tidak. Aku hanya ingin cuci muka saja. Kamu tidur saja duluan," jawab Iyan tersenyum. Ayu mengangguk dan mulai membaringkan tubuhnya di ranjang. Sementara Iyan masuk ke kamar mandi.
Belum seberapa lama Ayu memejamkan matanya, tiba-tiba sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Gadis itu membuka mata dan terkejut saat mendapati Iyan yang sudah berada di atasnya.
"M--Mas? Kamu ngapain?" tanya Ayu lirih. Tangannya menahan dada bidang Iyan dan berusaha menyingkirkan tubuh kekar itu. Namun, tak berhasil.
"Kamu sudah ngantuk, Sayang?" bisik Iyan sambil membelai wajah istrinya.
Ayu bungkam. Dia tidak lagi mengantuk, melainkan begitu gugup dan gemetar.
"Mas ... aku---" Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, Iyan lebih dulu menci*m bibirnya. Laki-laki itu tak memberikan kesempatan untuk Ayu berkilah, dan ....
__ADS_1
Yah! Terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi.