Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 60


__ADS_3

Rani sedang berdiam diri di kamarnya, mencerna kejadian yang baru menimpanya tadi siang. Sebuah rencana yang ia susun digagalkan, lalu kerja samanya dengan perusahaan Herman batal pula. Wanita itu tersenyum tanpa arti. Tiba-tiba tatapan sendunya berubah menjadi dendam. Benci dan marah, melebur menjadi satu.


"Lihat saja. Aku akan menuntut balas! Kau telah mempermainkanku!" Tangannya menggepal kuat. Gejolak api membara dalam dadanya.


Rani mengusap bulir bening yang tak terasa jatuh begitu saja. Sekian detik tak berkedip, matanya terpejam untuk menghapus rasa yang melelahkan pikirannya.


****


Naira melenguh kecil dan menggeliatkan tubuhnya. Sebuah pelukan erat dari Rifky membuatnya kesusahan bergerak. Mata indahnya menelisir setiap ruangan dan tertuju tepat di jam dinding yang menunjukkan pukul 1 malam.


Naira menoleh ke kanannya, di sana terdapat Rifky yang masih tertidur nyenyak dengan deru nafas halus. Lama Naira memandang wajah Rifky, mengingat tatapannya, senyumnya, serta kekehan lucu dari suaminya itu. Naira menyesal telah mendiamkan Rifky, dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba membuang rasa kesal saat mengingat suara-suara wanita di telepon suaminya kemarin.


Naira tahu, itu bukan salah Rifky. Harusnya dia tidak marah pada suaminya. Namun, rasa cintanya yang begitu besar, membuatnya takut jika Rifky memiliki wanita selain dirinya.


"Akh ... Sayang? Kamu kenapa bangun?" tanya Rifky dengan suara serek. Laki-laki itu mengucek pelan matanya dan menatap Naira yang kini tengah menatapnya.


"Udah nggak marah, 'kan?" tanya Rifky lembut. Kecupan mesra ia daratkan di kening Naira membuat sang istri memejamkan mata sejenak.


Naira menatap Rifky cukup dalam, sudut bibirnya mulai terangkat membentuk senyuman. Perlahan, dia menyambut wajah Rifky yang mendekat pada wajahnya. Tak lama bibir mereka telah bertaut lembut, mengalirkan emosi dalam bentuk rasa cinta. Mereka larut untuk beberapa saat.


"Mas ...?" panggil Naira pelan.


"Kenapa, Sayang?" Rifky mengangkat alisnya saat Naira terus menatapnya.


"Aku nggak mau kamu ketemu lagi sama Mbak Rani. Kamu punyaku, Mas!" Naira memanyunkan bibirnya, sementara tangannya memeluk tubuh Rifky posesif.


"Iya, Sayang. Mas udah batalin kerja sama kami, kok. Mas minta maaf, ya ...?" balas Rifky tersenyum. Sekali lagi dia mencium bibir Naira membuat istrinya itu terkekeh pelan.


"Ya udah. Kita sholat dulu, ya?" ajak Rifky dan bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


Naira masih terbaring, lalu mengulurkan kedua tangannya saat Rifky menatapnya. "Gendong ...," rengeknya manja.


Rifky terkekeh sebentar dan langsung meraih tubuh mungil Naira. Mereka masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud bersama.


Malam ini begitu tenang. Rifky mengadahkan tangannya untuk berdoa, sedangkan Naira meng-aamiinkan do'a mereka.


Naira mencium punggung tangan Rifky, dan entah muncul dari mana, dia juga mencium pipi Rifky kiri dan kanan membuat suaminya itu menertawakan tingkahnya.


Dalam keadaan masih memeluk suaminya, Naira mendongak dengan bibir yang dibentuk semanis mungkin.


"Mas ...." Naira kembali merengek. Dagunya ia gesekkan di dada bidang Rifky saat Rifky mengelus pelan kepalanya.


"Kenapa ...?" tanya Rifky. Suaranya terkesan lembut seperti membujuk anak kecil.


"Pengen nasi goreng ...," ucap Naira meminta. Kedua bibirnya mengatup rapat dan membentuk bulan sabit, membuat Rifky ingin menciumnya kembali.


"Dedeknya, lah!" sungut Naira.


"Ya udah, Mas masak dulu, ya?" Naira tersenyum sumbringah. Kemudian mengikuti Rifky yang berjalan menuju dapur.


Rifky mulai menyiapkan bahan-bahan masaknya untuk membuat nasi goreng, sedangkan Naira menunggunya di meja makan.


"Dikasih sayuran sama tahu, ya, Mas? Yang banyak!" titah Naira. Rifky menoleh dan mengangguk. Dia begitu senang melihat Naira yang bersikap manis kembali, walaupun menginginkan nasi goreng di tengah malam seperti ini.


"Masak apa, malam-malam begini?" tanya Bi Ira yang terbangun akibat suara mereka.


"Nasi goreng, Bi," jawab Rifky tersenyum. Bi Ira yang mengerti langsung mengangguk. Dia juga sangat senang menyaksikan Naira dan Rifky yang sudah baikan.


"Ya udah. Bibi nggak bantu, ya? Neng Naira, 'kan mau buatan Den Rifky?" ucap Bi Ira terkekeh.

__ADS_1


"Iya, Bi. Udah selesai, kok," balas Rifky sembari menyajikan nasi gorengnya di dalam piring.


"He'em. Bibi mau sholat dulu kalau gitu." Bi Ira kembali ke kamarnya meninggalkan Naira dan Rifky.


"Nah ... ini nasi gorengnya!" Rifky tersenyum sumbringah saat menghidangkan masakannya di depan Naira.


"Harum banget! Pasti enak!" puji Naira tersenyum.


"Mau Mas suapin?" tawar Rifky, dan mendapat anggukan antusias dari Naira. Rifky mulai menyuapi Naira yang sedari tadi telah membuka mulut. Naira mengangguk-angguk ketika satu suapan berhasil ia kunyah.


"Enak, Mas! Lagi!" Naira membuka mulut lebar-lebar. "Lama banget, Mas ...," omel Naira saat Rifky mengibas-ngibas nasinya.


"Sabar, dong, Sayang. Masih panas."


"Aaak!" Naira kembali membuka mulutnya.


"Pelan-pelan aja."


Naira tak menghiraukan ucapan Rifky. Dia terus-terusan minta disuapi hingga satu porsi habis olehnya sendiri. Rifky memberi istrinya ity air putih sebagai penutup makan, lalu membereskan bekas piringnya.


"Udah. Jangan tidur dulu kalau sudah makan!" ucap Rifky. Naira yang ada dalam gendongannya hanya mengangguk faham.


Sekian menit Rifky menemani istrinya itu duduk. Terkadang tangannya mencubit pelan hidung Naira karena tingkah manjanya, hingga rasa kantuk sudah tak terasa lagi.


"Besok kita check up dulu, ya? Mau liat perkembangan bayi kita," ucap Rifky sambil menempelkan telinganya di perut Naira.


"Emangnya kedengaran, Mas?" tanya Naira terkekah.


"Iya, dong. Katanya suruh kamu cium Mas!" Rifky mengangkat kepalanya dan memeluk Naira. Keduanya terkekeh bersama untuk beberapa saat, dan terhenti oleh bibir mereka yang kembali bertaut mesra.

__ADS_1


__ADS_2