Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 27


__ADS_3

Denting waktu terus berputar begitu cepat, tak terasa jam dinding telah menunjukkan pukul 21.11 WIB.


"Eumm ... ngantuk banget," keluh Naira sambil menguap dan mengucek matanya berkali-kali.


Dari tadi matanya sudah semakin berat untuk dibuka, tapi tugas sekolahnya juga tak kunjung selesai.


Ceklek!


"Belum tidur?" tanya Rifky yang baru selesai bergelut dengan tugas kantornya.


"Belum ... tugasnya belum selesai," adu Naira dan menatap Rifky dengan ekspresi cemberut.


"Tugas apa?" Rifky mendekati Naira dan melihat tugas sekolah yang dikerjakan istrinya.


"Agama! Aku nggak bisa jawabnya, tolongin, Mas," pinta Naira sambil menyerahkan buku tulisnya yang bertuliskan deretan soal.


"Kamu udah ngantuk banget kayaknya." Rifky mengelus pucuk kepala Naira dan menuntunnya untuk bersender di pundaknya.


"Iya, heum." Naira beberapa kali menguap dan memeluk leher suaminya itu.


"Ya udah, kamu tidur dulu sana, biar Mas yang ngerjain tugasnya." Rifky menyuruh Naira tidur. Kasihan juga melihat istrinya yang menahan kantuk itu.


"Tapi, gimana nulisnya?" tanya Naira menatap mata Rifky.


"Ntar subuh baru kamu pindahin jawabannya, sekarang tidur!" Naira mengangguk dan menidurkan dirinya di ranjang.


Sementara Rifky mengerjakan tugas sekolah istrinya. Tak butuh waktu lama, dia sudah selesai mengerjakannya dan merapikan buku-buku Naira.


Dia, 'kan seorang ustaz, tentunya dapat dengan mudah mengerjakan tugas agama Naira.


Rifky membaringkan tubuhnya di samping Naira yang sudah tertidur pulas, lalu menutupi tubuh kecil Naira dengan selimut.


"Damai banget," gumam Rifky menyibak rambut yang menutupi wajah istrinya.


Rifky menjadikan tangan kekarnya sebagai bantal istrinya, dan tangan kanannya memeluk tubuh Naira. Kemudian bibir itu berhasil menyentuh bibir mungil Naira.


"Maaf, aku sering mencuri ciuman saat kamu tidur," ucap Rifky terkekeh sendiri.


Lama Rifky memandangi wajah damai Naira. Ah, beruntung sekali dia mendapatkan istri secantik ini. Benar kata Iyan, Naira laksana bidadari yang datang menghampirinya tanpa terduga.


Tidak beberapa lama, Rifky juga ikut memejamkan matanya menuju alam bawah sadarnya.


***


Perlahan Naira membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah Rifky---suaminya.


Naira berusaha menyingkirkan tangan kekar Rifky yang menindih perutnya. Namun, terasa berat sekali karena Rifky memeluknya sangat erat.


"Uh, susah amat, sih," gerutu Naira yang berusaha membuka pelukan Rifky.

__ADS_1


"Kayak dipeluk sama gorila!" umpat Naira menatap wajah Rifky yang masih tertidur.


Dia tetap berusaha membebaskan diri dari belenggu tangan Rifky, tapi tangan itu terlalu berat, seperti sengaja dieratkan!


"Mas, bangun ...." Naira akhirnya terpaksa membangunkan suaminya.


"Emm, kenapa?" tanya Rifky membuka matanya.


"Tangannya pindahin, dong ... susah gerak!" pinta Naira sambil memukul pelan tangan suaminya.


"Kamu tahu nggak? Apa hukuman buat istri yang suka ngeledek suaminya?" tanya Rifky tiba-tiba. Tak ada angin tiada hujan, dari mana pertanyaan itu datang?


"Maksudnya?" Naira menautkan kedua alisnya.


"Kenapa nyamain aku sama gorila, hmm?"


Naira yang mengerti arah pembicaraan Rifky langsung memalingkan wajahnya dan memelototkan mata indahnya.


"Kok, diam?" tanya Rifky membalikkan wajah Naira untuk menatapnya.


"Mas, tadi dengar?" Naira bertanya dan menggigit bibir bawahnya.


"Tentu saja! Aku, 'kan sudah bangun," jawab Rifky santai. Sepertinya tingkah jahilnya akan keluar.


"Aku cuma becanda, tadi," ucap Naira dengan senyum yang dibuat-buat.


"I--iya, lepasin, Mas," pinta Naira lirih.


"Ciuman mesra untuk menebus kesalahan kamu," ujar Rifky sembari mempererat pelukannya.


"Hah! Apa itu suatu kesalahan?" tanya Naira.


"Iyalah. Emang boleh bilang suami gorila?" Rifky memasang raut muka datar.


"Tapi, 'kan cuma becanda ...." Naira memelas.


"Pokoknya harus!"


Naira langsung mencium bibir Rifky karena Rifky tak juga melepaskannya, dan tanpa sepengetahuannya Rifky membalas dan me****t bibirnya.


"Manis!" puji Rifky mencecap kembali bibirnya.


"Jahil banget! Kalau udah bangun duluan, ngapain nggak bilang!" gerutu Naira yang membuat Rifky terkekeh.


"Udahlah, Sayang ... ngapain disesalkan? Kan udah terjadi," ujar Rifky tersenyum geli.


"Lepasin!" ketus Naira.


"Nggak usah marah-marah. Apa mau, Mas tambahin hukumannya?"

__ADS_1


"Hufft." Naira menahan dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Bentar lagi subuh, yuk bangun!" ajak Rifky melepaskan Naira dari kekangannya.


"Tugasku udah selesai, Mas?" tanya Naira.


"Udah, tuh."


Naira beranjak dan memeriksa tugasnya. Benar! Dia tinggal menyalinnya lagi.


"Makasih, Mas," ucap Naira tersenyum pada suaminya.


"Hanya itu?" tanya Rifky mendekat.


"Emang apa?" Naira balik bertanya.


"Nggak ada imbalannya gitu?"


"Huh! Aku sudah tahu, sini!" Naira memposisikan tubuhnya tepat di depan Rifky.


"Nunduk!" titahnya.


Saat Rifky menunduk, Naira langsung memegang kepala suaminya dan ....


Cup!


Cup!


Cup!


Pipi kanan, kening dan pipi kiri.


"Udah!" Naira menurunkan tangannya dan menatap Rifky kesal. "Puas, 'kan?" tanya Naira asal.


"Belum," jawab Rifky tertawa geli.


"Ih." Naira menggepalkan tangannya greget dan langsung menuju kamar mandi.


"Kenapa, Neng?" Rifky tertawa saat Naira meninggalkannya. Menggemaskan sekali istrinya itu.


Naira tak menghiraukan ucapan suaminya dan menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2