
Di bawah matahari yang sangat terik, terlihat seorang gadis sedang berjalan kaki menuju rumahnya, gadis itu tak lain adalah Naira.
Hari ini Naira harus jalan kaki lagi untuk pulang. Rifky tak bisa menjemputnya karena tugasnya di kantor memang sangat menumpuk.
Padahal Rifky tidak menyuruh Naira jalan kaki, melainkan dia telah memberikan sejumlah uang untuk Naira naik taxi, tapi kendaraan itu jarang sekali melintas akhir-akhir ini. Mungkin sedikit lebih jauh Naira akan menemukannya.
"Uhh, haus banget, nih." Naira mengibas-ngibaskan jarinya di depan wajah.
Saat tiba di warung terdekat, Naira mampir sejenak untuk membeli minuman, hanya sekedar mengganjal kerongkongannya agar tidak terasa kering.
Naira keluar dari warung itu dengan kantong plastik di tangannya yang tak lain adalah minuman yang ia beli. Dia mendudukan bobot tubuhnya di kursi panjang depan warung itu dan segera menyeruput minumannya.
"Aahh ...." Naira merasa lebih segar kala seteguk air lewat di tenggorokannya, gadis itu sesekali menidurkan kepalanya di atas meja yang tersedia di sana.
"Naira?" monolog seseorang yang melihat Naira tertidur di depan warung.
Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri orang yang ia kira adalah Naira.
"Naira," sapa orang itu sambil memegang pundak Naira.
Seketika Naira terkejut dan mengangkat kepalanya, dia mendapati seorang pria yang tengah berdiri di sampingnya seraya tersenyum.
"Tama!" Ya, siapa lagi kalau bukan si Pratama Wijaya. Laki-laki yang selama ini menyukai Naira dan kini mereka dipertemukan lagi.
"Ternyata beneran kamu," ucap Tama tersenyum. Terlihat sekali raut kesenangan di wajah pria itu.
'Sial!' umpat Naira dalam hati.
"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Naira menatap pria di hadapannya.
"Emang sengaja," jawab Tama. Naira mengernyitkan keningnya heran, apanya yang disengaja?
"Tadi aku nyariin kamu di sekolah, tapi udah nggak ada dan taunya ada di sini," ujar Tama menjelaskan mengapa dia di sini sekarang. Pria tampan itu seolah tahu pemikiran Naira.
"Hah! Ngapain lo nyariin gue? Emang gue Emak lo, apa?!" ketus Naira yang kesal terhadap Tama.
"Gue pen ketemu elo, Ra." ucap Tama sambil menggenggam erat tangan Naira.
"Apaan, sih, loh!" Naira menepis kasar tangan pria itu dan beranjak pergi,
tapi Tama secepat kilat meraih tangan Naira dan membawa gadis itu ke pelukannya.
"Lepasin, gue!" bentak Naira yang berusaha memberontak. Namun, usahanya hanyalah sia-sia, karena tenaga lelaki itu jauh lebih kuat dibanding dirinya.
"Lo perlu tau, Ra! Gue suka sama, lo," ujar Tama yang masih memeluk Naira erat.
"Lo gila apa, hah?! Gue nggak suka sama lo!" Naira mencabik-cabik jaket yang dikenakan Tama agar pria itu melepaskannya.
"Terserah apa lo bilang. Tapi gue nggak akan biarin lo pergi!"
"Gue udah punya Suami, Bego!" kesal Naira saat Tama tak kunjung melepaskan pelukannya. Dia terpaksa mengatakan hal itu agar dia bisa terlepas.
"Apa? Apa lo bilang? Suami?" Tama melepaskan pelukannya dan menatap Naira intens.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" tanya Naira dengan Nafas ngos-ngosan akibat ulah pria itu.
"Gue nggak percaya!" Tama memegang erat tangan Naira. "Lo itu masih sekolah, mana mungkin udah nikah. Ngarang aja, lo. Kalau mau nikah sama gue aja," ucap Tama terkekeh.
Naira yang kesal pun berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki itu agar dia bisa kabur darinya.
"Lepasain!" teriak Naira memukul tangan Tama dengan tangan kirinya.
"Gue anterin lo pulang!" Tama menarik tangan Naira untuk menuju mobilnya.
"Gue nggak mau!" Naira masih terus memberontak agar Tama melepaskannya, tapi cekalan laki-laki itu terlalu kuat bagi Naira.
Pria itu masih terus memaksa Naira untuk masuk ke mobilnya.
"Lepaskan dia!"
Suara bariton itu membuat langkah mereka terhenti dan menoleh ke belakang.
"Mas, Rifky! Tolongin aku, Mas," panggil Naira panik.
Rifky menghampiri keduanya dan menarik Naira dari cekalan Tama.
"Siapa kamu?" Tama menatap Rifky dengan tatapan tajam.
"Kamu yang siapa?" timpal Rifky dingin dan menyeramkan. Baru kali ini dia berbicara seperti itu.
"Gue pacarnya," jawab Tama melirik Naira yang ada di samping Rifky.
"Naira, gu---"
"Saya suaminya!" tangkas Rifky, "dan kamu jangan pernah ganggu istri saya!" ucap Rifky menekan kata-kata dan menunjuk pria di hadapannya itu.
Rifky membawa Naira ke mobilnya dan mengajak pulang istrinya itu.
Sementara Tama hanya bisa menatap kepergian Naira dan Rifky.
"Gue cinta sama lo, Naira!" Tama berteriak keras dan menendang keras aspal.
Semua orang yang ada di sana menyaksikannya dengan tatapan heran.
"Akhh!" Tama menjambak rambutnya frustasi. Pria itu masuk ke mobilnya dan berlalu pergi dari tempat itu, saat ini yang dirasakannya adalah hancur! Ketika orang yang ia cintai ternyata telah dimiliki orang lain.
"Gue nggak akan mundur!" ujarnya dengan tangan yang menggepal kuat di setir mobil.
****
"Mas." Naira memanggil Rifky yang sejak tadi hanya diam dan fokus menyetir.
"Hmm," jawabnya dingin.
"Mas, jangan marah, ya. Aku sama sekali nggak ada hubungan apa pun dengan Tama," ujar Naira pelan.
"Sudah berapa lama kamu kenal sampai kamu begitu tahu namanya?" Rifky bertanya dan sama sekali tak menatap Naira, pria itu masih fokus menatap ke depan.
__ADS_1
"Aku tahu dia semenjak kita belum nikah, Mas. Tapi aku jujur, aku sama sekali nggak ada hubungan dengan Tama," ucap Naira menjelaskan.
Rifky tak menggubris itu, dia masih saja menatap lurus dan tangannya sesekali menggepal kuat setir mobil.
"Mas, nggak marah, 'kan?" tanya Naira dengan mata yang mulai berembun. Dia takut, takut kalau hal ini akan membuat Rifky salah faham padanya.
Sementara yang ditanya masih membisu dan enggan untuk menjawab.
"Mas!" Tangis Naira pecah sekarang, karena merasa Rifky mengacuhkannya dan mungkin tak akan percaya padanya.
Naira menangis sesugukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sakit! Itulah yang dirasakan Naira sekarang, terlebih jika Rifky mendiamkannya.
Rifky yang melihat istrinya menangis merasa kasihan, tapi dia tengah emosi sekarang. Apa salah jika dia merasa cemburu? Tidak, 'kan?
Rifky menghentikan mobil di jalanan yang sepi dan meminggirkan mobilnya.
Dia menatap Naira yang tengah menangis, kemudian menggenggam tangan istrinya itu.
"Naira ...," panggilnya lembut. Naira tak menjawab dan masih terus menangis sesugukan.
Rifky spontan menarik Naira untuk duduk di pangkuannya.
"Udah, Sayang. Mas nggak marah sama kamu," ucap Rifky dan menghapus air mata Naira.
"Ta--tapi, kenapa a--aku didiemin?" Naira terus menangis di pelukan suaminya. Bahkan dadanya tersasa sangat sesak saat ini.
"Maafin, Mas, Sayang. Mas nggak bermaksud diemin kamu." Rifky mengelus punggung Naira dengan lembut. "Mas nggak marah sama kamu, Sayang," sambungnya. Kemudian mengecup singkat kepala Naira.
"Beneran?" Naira mendongakkan kepalanya untuk menatap Rifky.
"Iya." Rifky tersenyum dan mengecup kening Naira mesra.
Naira segera memeluk leher suaminya itu dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Rifky membalas pelukan istrinya, lalu mengelus kepala Naira dengan hijabnya yang sudah kusut.
"Jangan nangis lagi, ya," ucap Rifky kembali mengecup kepala Naira.
Tak ada jawaban dari Naira, dia masih setia memeluk leher Rifky.
"Naira," panggil Rifky lagi. Namun, tak mendapat jawaban dari sang istri.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari Naira, gadis itu telah tertidur sekarang. Mungkin dia kelelahan.
Rifky tersenyum melihat Naira yang tertidur dan segera melajukan mobilnya tanpa menurunkan Naira dari pangkuannya. Untungnya, Rifky mempunyai kaki dan tangan yang panjang, sehingga dapat menjalankan mobilnya meskipun sedikit susah.
.
.
.
TBC.
__ADS_1