
Siang yang cerah dengan matahari yang tidak terlalu terik membuat suasananya begitu sejuk. Ditambah semilir angin sepoi-sepoi berlalu menelusuri setiap dahan yang ia lewati, semakin memanjakan mata bagi yang memandangnya.
Tentunya semua orang ingin menikmati suasana yang jarang didapati di kota Jakarta yang amat padat ini. Tak terkecuali Naira. Gadis itu duduk di bawah pohon jambu di taman belakang rumahnya, merasakan setiap sentuhan angin saat menyibak halus rambut pirangnya. Ya, sedari dulu rambut pirang Naira tidak pernah ia potong, melainkan hanya ditutupi hijab.
Selepas salat dzuhur, Naira menunggu Rifky pulang dari masjid, yang mana suaminya itu mengatakan kalau akan mengajaknya jalan-jalan siang ini.
Namun, baginya sudah terlalu lama menunggu kepulangan Rifky. Apakah waktu memang berjalan lambat? Atau dia yang tidak sabar ingin jalan-jalan? Tanpa aba-aba, Naira menghembuskan nafas beratnya.
"Mas Rifky mana, sih? Lama banget pulangnya!" gumam Naira menggerutu.
Naira duduk sembari memangku dagu dengan lututnya, jari-jari kanannya mengorek tanah tanpa menggunakan apa pun, membuat kuku bersih itu tampak hitam.
Bak anak kecil yang dibolehkan ibunya bermain, Naira membulat-bulatkan tanah basah di tangannya dan mengumpulkannya di daun jambu yang kering.
"Lima ... enam ... tuj---"
"Iya ... itu kerjaan kamu? Bagus-bagus!" Naira menghentikan aktivitasnya saat melihat Rifky menghampirinya. Tangannya yang kotor ia sembunyikan di balik punggung dan menatap Rifky dengan senyum takut.
"Astaghfirullah, Naira ... kurang kerjaan banget, sih, sampai main tanah segala!" ucap Rifky sedikit membentak. Laki-laki itu berkacak pinggang dan menggeleng tak habis pikir.
"Berdiri!" perintahnya. Naira langsung menurut, tapi kepalanya tertunduk takut.
"Mana tangannya? Sini!" Rifky menarik kedua tangan istrinya dengan lembut.
"Ngapain main tanah gini, Sayang ...?" ucap Rifky lembut. Naira hanya menatapnya tanpa bersalah. Kemudian menggeleng pelan.
Terdengar hembusan nafas dari Rifky. Ingin marah pun dia tidak sanggup kala melihat wajah polos Naira.
"Ayo! Katanya mau jalan-jalan?" Rifky tersenyum dan melupakan masalah tangan Naira. Dia tahu kalau istrinya itu mungkin tak sengaja melakukannya.
"Ayo!" Naira mengangguk antusias. Giginya yang putih tampak oleh senyumnya yang mengembang.
Kedua pasangan itu melangkah bersama dan bersiap untuk pergi. Rencananya mereka akan makan di luar sambil mengisi hari ahad ini dengan jalan-jalan sebagai penghilang rasa penat.
"Nanti beliin ice cream, ya, Mas!" ucap Naira tersenyum. Rifky mengangguk saja daripada mendengar ocehan bawel dari Naira. Kemudian menyuruh Naira masuk ke mobil setelah mengelus sayang kepala istrinya itu.
"Mau makan di mana?" tanya Rifky.
"Eum ... aku maunya makan di resto pinggir pantai itu, Mas. Pengen ikan bakar ...." Naira merengek manja. Salah Rifky sendiri kenapa bertanya padanya.
"Iya, kita ke sana, ya!" balas Rifky mengangguk. Lalu memelankan laju mobilnya dan menyambut tubuh Naira yang merangkak ke arahnya.
Tak beberapa lama, mobil mereka telah terparkir di pinggir pantai yang dituju, terpaan angin yang cukup kuat menerobos tubuh keduanya kala turun dari mobil. Rifky membenarkan kerudung Naira yang sedikit tersingkap, serta merangkulnya agar mereka tidak terpisah.
"Ramai banget, ya, Mas? Hampir penuh tempatnya," kata Naira sambil menatap ke sana-kemari.
"Iya. Mungkin mereka pada liburan semua. Ini, 'kan memang hari libur," jawab Rifky sekenanya. Setelah tiba, laki-laki itu mempersilahkan istrinya duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
"Tunggu bentar, ya. Biar Mas yang pesan!" ucap Rifky yang dibalas anggukan oleh Naira.
Naira duduk santai dengan mata memandang bebas ke segala penjuru. Ombak yang tidak terlalu besar terlihat menerjang pelan kapal-kapal kecil di atasnya, juga suara kicau burung di udara menambah kesan kesegaran di sana. Bagaimana dia tidak merasa senang?
"Liat apa, Sayang?" tanya Rifky yang kembali dengan dua minuman segar di tangannya.
"Liat ombak. Sejuk banget, ya, Mas!" ungkap Naira senang. Kedua matanya tampak menyipit ke arah Rifky.
"Iya. Tapi lebih sejuk lagi kalau pandangin kamu," ucap Rifky menggombal. Naira memukul pelan tangannya karena merasa malu, mau bagaimanapun gombalan suaminya itu, tetap saja membuat rona di pipinya.
"Silahkan dinikmati, Mas, Mbak!" kata seorang pelayan dengan ramah.
"Terima kasih," balas Rifky dan Naira. Mereka saling lempar senyum sebentar sebelum menikmati makanan tersebut.
"Jangan lupa doa." Rifky terkekeh.
"Iya, Mas. Aduh! Masih panas ternyata." Naira meniup-niup tangannya.
"Kamu yang ini aja. Udah dingin!" Rifky menukar piringnya yang sudah ia dinginkan.
"Makasih, Mas," ucap Naira. Sejenak dia menatap suaminya dan tersenyum lebar.
Mereka menikmati makan siang itu dalam keromantisan. Meski banyak yang melihat, Rifky tetap memanjakaan istrinya itu dengan menyuapinya, mengelap bibirnya, bahkan mengecupnya sangat mesra.
Keduanya menyelesaikan aktivitas makan dalam beberapa menit, lalu berjalan-jalan sebentar setelah melakukan pembayaran. Naira mengajak Rifky untuk lebih dekat dengan air, istrinya itu bertepuk tangan sambil tertawa riang. Sangat menyejukan hati bagi Rifky yang melihatnya.
"Iya, boleh .... Kita naik yang itu aja. Yuk!" Jawaban yang sangat diharapkan oleh Naira.
'Yes!'
"Ayo!" Naira meloncat-loncat girang dan menarik tangan Rifky, sampai Rifky menertawakan tingkah lucunya yang terlihat kekanak-kanakkan itu.
"Hati-hati, Sayang." Rifky memegang erat tangan Naira.
"Mas, nggak bisa. Takut!"
"Ayo! Sini!" Rifky mengulurkan tangan kekarnya, dan dengan senang hati Naira membiarkan Rifky untuk menyambut tubuhnya.
Naira duduk di kursi pinggir sambil berpegangan pada Rifky. Walaupun agak takut, tapi dia ingin sekali melihat keindahan pantai dari kapal yang mereka tumpangi.
***
Cukup puas mereka berkeliling. Kurang dari satu jam lagi memasuki waktu ashar, Rifky mengajak Naira pulang. Naira menurut saja karena keinginannya sudah terpenuhi, dan sebagai rasa terima kasih, dia mencium pipi Rifky beberapa kali.
Senyum ceria selalu terpana di bibir indah Naira, dia begitu menikmati suasana yang dilalui hari ini. Benar-benar menenangkan dan menyenangkan hatinya.
"Mas! Pulangnya lewat pinggir aja. Di sana, 'kan pemandangannya lebih sejuk!" perintah Naira yang dibalut usulan.
__ADS_1
"Iya," jawab Rifky singkat. Dilihatnya istrinya itu tampak kelelahan, sebotol minuman pun telah tandas ia teguk semua.
"Ah ... segar banget ...." Naira membuang botol yang telah kosong itu ke tempat sampah. Lalu bersender di jok sembari meregangkan kedua tangan.
Cit ...!
"Akh! Mas! Ada apa?!" Naira tersentak kaget saat Rifky menginjak rem mendadak. Bahkan terdengar suara decitan dari ban mobil mereka.
"Rani? Itu Mbak Rani, 'kan?" Naira mengikuti arah telunjuk suaminya.
"Iya. Kok lari-la---"
Perkataan Naira terpungkas saat mereka menyaksikan banyak polisi yang berlarian. Masih dalam kebingungan, Rifky dan Naira diam sesaat.
"Kenapa dikejar-kejar?" tanya Naira bingung.
"Mungkin Mbak Rani kabur dari tahanan. Astaghfirullah ... apa lagi yang akan terjadi?" ucap Rifky setengah bergumam.
"Hah?! Kabur? Tahanan? Emangnya---"
"Iya, Sayang. Kita liat aja dulu." Rifky kembali menjalankan mobilnya, mengikuti arah ke mana Rani berlari.
Naira yang semakin dibuat penasaran tak memalingkan matanya, bahkan sedikit celingak-celinguk.
"Astagfirullah! Mas! Liat itu!" Naira membelalakkan mata sambil menunjuk pemandangan yang dia lihat. Rani, wanita itu sudah berada di atas jembatan sambil melentangkan kedua tangannya. Naira menduga kalau wanita itu akan bunuh diri di sana, hingga dia ikut ketakutan.
"Ya Allah! Rani?!"
"Gimana, Mas! Mbak Rani akan mati kalau loncat!" ucap Naira panik.
"Sayang. Kamu jangan liat kalau takut, ya? Mas akan ke sana, kamu diam di sini, ya?" pesan Rifky. Lalu melangkah ke luar setelah mendapat anggukan dari istrinya.
Rifky berlari ke arah kerumunan polisi yang berteriak waswas memanggil Rani. Bukan mereka tak bisa bertindak, tapi takut jika Rani benar-benar meloncat dari jembatan yang di bawahnya terdapat aliran air berbatu itu.
Sebuah raungan panjang terpantul di udara saat Rani memanggil ibunya. Wanita itu terlihat gemetar dan menangis, masih bimbang dengan tindakannya.
Mengumpulkan segenap keberanian, Rifky melangkah perlahan. Semua yang menyaksikan tampak tegang kala Rani menatap Rifky yang mendekat.
"Rani ... tolong jangan lakukan hal bodoh ini. Sayangi diri kamu ...," lirih Rifky meminta.
Rani menggeleng beberapa kali, tak sanggup mengucapkan apa yang hendak dia sampaikan. Wanita itu kembali memandang ke bawah sembari terus menumpahkan air mata.
"Astaghfirullah halazim ...." Suaranya terdengar lirih. Sangat lirih. Rifky sempat menjatuhkan air mata sebelum menarik tubuh Rani yang hendak jatuh.
"Rani ...."
Wanita itu lemah membisu. Menatap dalam mata Rifky seolah meminta perlindungan. Tangannya yang gemetar meremas kuat baju Rifky ketika semua polisi mendekat ke arah mereka. Setelah itu, ambruk tak berdaya.
__ADS_1