Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 30


__ADS_3

Waktu berlalu begitu pantas. Kini, Naira sudah selesai melaksanakan ujian akhir semesternya, tinggal menunggu pengumuman kelulusan lagi dari para guru di sekolah.


Mungkin beberpa hari ini Naira masih tetap sekolah untuk mendengar informasi-informasi penting dari pihak sekolah.


Seperti biasanya, saat pulang sekolah Naira akan menunggu Rifky untuk menjemputnya. Selang beberapa waktu, Rifky telah datang untuk mengajaknya pulang.


"Gimana, ujiannya? Lancar?" tanya Rifky.


"Alhamdulillah. Meskipun sedikit rumit," jawab Naira seraya menampilkan gigi rapihnya.


Ya, memang begitulah! Saat menghadapi ujian mana ada yang terlihat mudah.


Rifky hanya tersenyum menanggapi perkataan istrinya itu dan mengelus pucuk kepala Naira dengan lembut.


"Ya udah. Yuk, pulang!" ajak Rifky merangkul bahu Naira. Naira enggan melangkah dan sedikit menekuk wajahnya.


"Mas," panggil Naira pelan. Bibirnya terlihat mengerucut.


"Kenapa?" tanya Rifky mengernyitkan keningnya.


"Pengen jalan-jalan," pinta Naira menyunggingkan senyum dengan mata yang menatap Rifky penuh harap.


"Jalan-jalan?" Rifky mengulang ucapan Naira.


Laki-laki itu memegang bahu istrinya dan sedikit membungkuk menyamakan tinggi badan mereka.


Naira mengangguk pelan dan menunduk. Tak berani menatap suaminya, karena dia yakin Rifky pasti tidak mengizinkan.


"Ya, udah. Tapi pulang dan ganti baju dulu," tutur Rifky menangkup pipi Naira untuk menatapnya. Naira mengembangkan senyum di bibirnya dan spontan memeluk tubuh kekar Rifky.

__ADS_1


"Makasih, Mas," ucap Naira senang. Setelah diserang rasa penat akibat ujian, akhirnya dapat terobati dengan jalan-jalan. Senang sekali!


Rifky memilih menemani istrinya untuk refres sejenak.


Dia begitu memahami perasaan Naira sekarang. Pasti letih!


Tak apalah hari ini kegitan mengajinya diliburkan, biarkan Papa dan sahabatnya saja yang mengajari anak-anak mengaji, demi menuruti keinginan istri kecilnya yang sangat dia sayangi itu.


Rifky melepas pelukannya dan menarik pelan tangan Naira untuk menuju mobil. Keduanya segera berlalu meninggalkan area sekolah yang memang sudah sangat sepi itu.


***


"Sayang! Udah belum?" Rifky memanggil Naira dari balik pintu kamar. Dari tadi dia menunggu, tapi Naira tak kunjung menampakkan diri.


"Bentar, Mas. Ini kerudung susah banget diatur!" teriak Naira dengan nada kesal.


Rifky menghela nafasnya saat mendapati Naira yang sedang bercermin. Berkali-kali tangan kecil Naira membenarkan hijab dan sesekali menampilkan tampang kesalnya.


Rifky juga membenarkan baju istrinya yang terlihat longgar dan tertutup. Merapikan bagian belakang dengan posisi di hadapan Naira, membuat tangan itu sedikit memeluk tubuh kecil Naira.


"Kamu udah sempurna di mata aku, Sayang," ucap Rifky setelah merapikan pakaian istrinya.


Naira tersenyum dan mengangguk malu, ada rasa berguncang yang memenuhi rongga dadanya kala Rifky memujinya. Dapat dipastikan, pipi itu memerah sekarang.


Satu kecupan lembut mendarat di pipi chubby Naira yang membuatnya termangu. Kedua bola matanya menatap Rifky tanpa berkedip dan berhasil membuat Rifky tersenyum.


"Ayo! Katanya mau jalan-jalan?" Ucapan Rifky membuyarkan lamunan Naira.


Pria ini memang suka menjebak. Sudah membuat Naira malu, malah santai-santai saja.

__ADS_1


Mereka berjalan bergandengan menuruni anak tangga, Bi Ira sampai-sampai berdehem melihat pasangan serasi itu. Rifky dan Naira hanya tersenyum manis menanggapinya dan segera berpamitan.


***


"Kita pergi ke taman, ya, Mas," ucap Naira melirik Rifky yang sedang menyetir. Wajah itu tampak berseri sekarang.


"Iya." Rifky tersenyum kilas pada Naira. Istrinya ini lucu sekali, sama seperti halnya anak kecil yang diajak jalan-jalan. Naira tak lebih dari itu.


Memang ini kebiasaannya dan teman-temannya waktu dulu sebelum dia menikah. Hal inilah yang membuat Papa dan mamanya menjodohkan Naira, mereka takut Naira melangkah ke jalan yang tidak baik. Mumpung hal itu belum terjadi, mencegah akan jauh lebih baik.


Apalagi dulu Naira adalah gadis bandel yang tak mau menuruti orang tua. Beruntunglah gadis itu sekarang bisa berubah.


"Tapi beli ice cream, ya," pinta Naira.


"Ice cream terus, emang nggak puas?" tanya Rifky sambil bergurau.


"Ihh ...!" cibir Naira menggerling ke arah Rifky. Bibirnya sudah berjalan ke mana-mana saat mendengar perkataan suaminya.


"Iya, nanti dibeliin," jawab Rifky terkekeh.


Sesuai keinginan istrinya, Rifky melajukan mobilnya menuju taman setelah membelikan Naira berbagai macam camilan.


Akhirnya hari ini diisi untuk menyenangkan hati Naira. Mereka menikmati setiap momen yang terjadi hari ini. Tak luput dari perkataan orang-orang bahwa mereka memang pasangan yang sangat cocok alias serasi ....


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2