
Sekitar jam 3 sore, Herman pulang dari kantornya. Entah mengapa, nalurinya berkata kalau dia harus pulang. Apalagi Marlin terus menelfonnya dan memintanya jangan pulang larut malam.
Setelah mengganti pakaian kantornya, Herman berniat menemui istrinya yang sedang membantu Bi Ijah memasak untuk makan malam nanti.
Dret ... dret ...!
Ponsel yang tergeletak di atas meja itu bergetar menandakan ada yang menelfon. Baru saja Herman meletakkannya, kini dia harus menghentikan langkahnya dan meraih kembali benda pipih itu.
"Iya?"
'"Papa, bisa ke rumah sakit XX sekarang!" ucap Rifky di seberang telfon.
"Memangnya kenapa, Ky?" Herman merasa heran dengan permintaan menantunya, yang menyuruhnya ke rumah sakit.
"Naira kecelakaan, Pa ...." Terdengar Rifky berbicara dengan nada lemas.
"Apa?! I--iya, Papa ke sana sekarang!" Karena panik, Herman langsung menutup telfonnya dan mengajak Marlin pergi ke rumah sakit. Mereka berangkat dengan perasaan cemas terhadap Naira.
"Naira ... kamu kenapa lagi, sih, Nak?" Marlin terlihat mengelus-ngelus kedua telapak tangannya, menandakan kalau dia sekarang tengah mencemaskan putrinya.
Sesampainya di rumah sakit, terlihat di sana Rifky, Tama, dan Kiara sedang duduk di ruang tunggu. Herman dan Marlin menghampiri mereka dan menanyakan keadaan Naira.
Tak lama datang juga Ustadz Hanan dan Rasya. Saat ini semua merasa panik dan cemas karena dokter tak kunjung keluar dari ruangan UGD.
Terutama Kiara. Gadis itu merasa sangat bersalah, karena dialah yang menabrak Naira. Meskipun semua orang di sana tak ada yang menyalahkannya, tapi tetap saja, ketakutan dan kegelisahan menghantui Kiara.
Bagaimana dengan Tama? Pria itu juga sangat cemas sekarang, rasa bersalah juga menyelimuti hatinya. Dialah penyebab kecelakaan itu, andai dia tak seegois ini, mungkin Naira tak akan celaka!
Argh, mengapa ini harus terjadi?!
Ceklek!
Seorang suster keluar dari ruangan Naira dengan tergopoh-gopoh.
"Suster, bagaima---" Marlin belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Maaf, Ibu. Kondisi pasien dalam keadaan kritis!" ucap suster itu dan segera berlalu.
"Kritis ...?" Suara Marlin melemah dan langsung tak sadarkan diri. Wanita itu syok dengan keadaan putrinya. Marlin langsung dibawa ke ruang perawatan untuk beristirahat di sana. Bagaimana ini? Kepanikan kembali menerpa keluarga itu, semua bergelut dengan fikiran masing-masing.
Sesaat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan Naira dan menghampiri keluarga pasien.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rifky diiringi kecemasan yang teramat sangat.
"Kami harus segera melakukan tindakan operasi, karena terdapat gumpalan darah di kepala pasien. Untuk itu diperlukan persetujuan dari pihak keluarga." Dokter itu berucap.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter!" ujar Rifky mengiyakan.
Setelah mendapat persetujuan, Naira segera dipindahkan ke ruang operasi dan para dokter melaksanakan tugasnya di sana.
Satu jam berlalu. Semua terlihat tegang menantikan kabar dari dokter yang menangani Naira.
__ADS_1
Tak lama pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter dengan wajah datarnya. Terlihat lelah.
"Bagaimana, Dok?" Herman dan Rifky menghampiri dokter tersebut.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar dan pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Namun, saat ini pasien belum tersadar dari koma ...," ujar dokter itu dan pamit undur diri.
Saat ini Naira terbaring di ruangannya dengan masker oksigen yang terpasang.
"Naira ...." Rifky menggenggam erat tangan istrinya dan menangis sesugukan.
Semua yang menyaksikan juga menahan pilu dan air mata yang mulai terbendung.
Ustadz Hanan dan Herman bersamaan memegang pundak Rifky. Sedangkan Rasya menemani Marlin yang masih berada di ruangannya.
Kiara? Gadis itu ikut menangis, bahkan merasakan sesak di dadanya. Selain kasihan, dia juga takut atas perbuatannya yang tak disengaja ini.
Air mata juga tak dapat ditahan oleh Tama, hatinya ikut remuk saat melihat Naira terluka dan terbaring lemah tak berdaya. Ini salahnya! Dia menyadari itu.
"Bangun, Sayang! Bangun ...." Rifky berucap dengan suara yang mulai menipis, karena kepiluan yang dirasakannya. Bahkan, tenggorokannya pun ikut tercekat.
Kenyataan ini ... bagai ribuan belati yang menghantam dadanya, memaksa raga yang lemah menjadi kuat akan tajamnya. Dia tak sanggup jika harus kehilangan Naira---orang yang sangat ia sayangi.
"Bersabarlah, Nak. Tenanglah!" ucap Herman mengelus punggung Rifky.
"Istighfar, Rifky. Ini semua ujian dari Allah.
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?
"Maka terimalah ini dengan lapang dadamu.
Berdoalah! Semoga Naira baik-baik saja," ujar Ustadz Hanan---papa Rifky.
Rifky terdiam mendengar penuturan papanya. Saat ini dia memang butuh seseorang untuk menguatkannya, saat semuanya menimpa dirinya, dia tak sanggup menguatkan dirinya sendiri. Dia juga manusia yang punya hati rapuh.
Ruangan itu terasa hampa, semua terdiam dan berusaha menguatkan hati masing-masing.
"Naira ...!" Marlin yang baru sadar dari pingsannya langsung berhambur memeluk tubuh Naira yang terkapar.
"Bangun, Nak," isaknya.
"Mama, Mama tenang!" Herman meraih pundak istrinya dan memeluknya.
"Gimana Mama bisa tenang, Pa? Putri kita, Pa, putri kita ...." Marlin menagis sejadi-jadinya dalam pelukan Herman.
Wajar jika wanita itu rapuh. Putri semata wayangnya sekarang sedang berjuang mempertahankan nyawa!
"Naira, semoga kau cepat sadar." Bibir Tama berucap pelan, dan tanpa di duga, bening embun itu kembali jatuh dari pelupuk matanya.
Rasya mendekati anaknya dan mengelus pundak Rifky sayang, dia berusaha tersenyum meskipun air matanya sudah tak mampu dibendung.
__ADS_1
Marlin memegang tangan Naira yang terasa dingin, beberapa kali wanita itu mengecup wajah pucat putrinya.
"Bangunlah, Nak," lirihnya sendu.
"Maafkan aku, Ma. Aku gagal menjaga Naira," ucap Rifky dengan nada sedih.
"Ini salahku! Akulah yang berhak untuk disalahkan." Semua menatap ke arah Tama yang berusaha menahan isaknya agar tak memenuhi ruangan itu.
"Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini ujian buat kita semua," balas Rasya dan tersenyum pada Tama.
"Maafkan aku ...," lirih Tama.
Semua hanya bisa terdiam, menatap gadis yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi itu.
***
Menjelang malam hari, Tama dan Kiara pulang ke rumah mereka. Kini hanya keluarga Rifky dan Naira saja yang bermalam di rumah sakit.
Selesai sholat isya, Rifky kembali duduk di samping brankar Naira. Matanya yang sudah sembab itu menatap Naira sendu, dia mengecup kening istrinya berkali-kali serta mencium tangan mungilnya.
Hemps!
Hemps!
Deru nafas Naira terdengar begitu sesak. Melihat hal itu, Rifky cepat-cepat memanggil dokter untuk memeriksa Naira.
Terlihat dokter dan beberapa suster menangani Naira yang semakin melemah.
Tit! Tit!
Beberpa kali dokter melihat ke arah pasien monitor yang berbunyi itu, menandakan kondisi Naira saat ini benar-benar kritis.
Hingga akhirnya ....
Tit, tit, tit ....
Rifky merasakan sesak di dadanya, kala garis hijau itu melurus sempurna.
Dokter hanya menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Innalillahi wainnailaihi roji'un."
"Naira ...!" Pria itu berteriak histeris saat mengetahui nyawa istrinya sudah tak ada di raga.
Para suster berusaha menenangkannya, tapi Rifky memberontak dan mengguncang-guncang tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu.
"Naira, bangun! Jangan tinggalin aku, Naira! Naira, bangun ... Naira ...!" Rifky berteriak sekeras-kerasnya membangunkan istrinya yang tak akan bisa mendengar suaranya lagi.
Dia telah pergi ... pergi meninggalkannya, dan menyisakan pilu di dadanya.
.
.
__ADS_1
.
TBC.