
Hari kembali menyambut pagi, suara azan subuh berkumandang mengusik telinga setiap orang yang tertidur.
Naira yang sudah terbangun sejak tadi melirik jam dinding kamarnya, jarumnya menunjuk tepat ke angka 5. Dengan hembusan nafas pelan, Naira melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu, sedangkan Rifky sudah berangkat ke masjid beberapa menit lalu.
Seperti biasa, sebelum suaminya pulang, Naira akan membantu Bi Ira memasak untuk sarapan mereka. Namun, tiba-tiba penglihatannya sedikit buram, juga rasa pusing dan mual mulai menyerang.
Bi Ira memapah Naira ke kamar mandi, dan di sana Naira mengeluarkan segala isi perutnya.
"Akh ... sakit, Bi." Naira meringis sambil memegangi tenggorokannya.
"Ya Allah, Neng ... kamu pucat sekali. Ayo, duduk sana, Neng!" Bi Ira menatap kasihan. Lalu menuntun Naira dan mendudukannya di sofa tengah.
Wanita itu mengoleskan beberapa tetes minyak kayu putih di bagian tengkuk Naira, memijatnya sedikit dan membelai rambut Naira sayang. Kasih sayangnya pada Naira sama seperti kasih sayangnya pada anak sendiri.
"Makasih, Bi," ucap Naira tersenyum. Matanya yang berkaca-kaca menatap Bi Ira saat wanita itu memberinya segelas air.
"Iya, Neng. Neng duduk aja di sini, ya? Biar Bibi yang terusin masak," balas Bi Ira. Naira mengangguk dan memandang sendu punggung wanita itu.
"Mama ... Naira rindu sama Mama," lirih Naira dengan linangan air mata. Entah mengapa, hatinya berdenyut kembali diselimuti rasa sedih. Apalagi jika dia melihat perutnya yang makin hari makin membesar.
"Assalamualaikum ...." Suara Rifky jelas terdengar. Naira segera berlari menuju pintu utama menyambut kepulangan suaminya.
"Waalaikumussalam. Mas!" Begitu membuka pintu, Naira berhambur memeluk tubuh kekar Rifky sambil menumpahkan air matanya.
"Sayang? Kamu kenapa, hm?" tanya Rifky bingung.
"Mas ... jangan tinggalin aku ...," ungkap Naira dengan bibir melengkung.
Melihat mata istrinya bak kaca bening, Rifky langsung mengerti. Kedua tangannya kembali memeluk Naira dan mengelus lembut pucuk kepalanya.
"Nggak usah nangis, Sayang. Mas nggak ke mana-mana, kok," bisik Rifky tersenyum, lalu mengecup kepala Naira cukup lama. Lelaki itu mengangguk pelan saat menatap Bi Ira yang melihat mereka, Rifky mengerti bahasa isyarat dari wanita itu.
"Ayo, Sayang. Tutup dulu pintunya!" Dengan berat hati Naira melepas pelukan Rifky. Bibirnya sudah mengerucut lagi ketika Rifky menatapnya.
"Mau digendong?"
Naira mengangguk, kemudian merentangkan tangannya agar Rifky menyambut tubuh mungilnya.
"Mas. Aku mau jalan-jalan hari ini. Mas, 'kan libur kerjanya," sungut Naira manja.
"Iya, Sayang. Boleh ...." Jawaban dari suaminya sukses membuat Naira tersenyum lebar. Sebelum tubuhnya diturunkan di sofa, Naira sempat mencium wajah Rifky beberapa kali.
Rifky mengelus kepala Naira. Dia sangat kasihan menatap wajah imut istrinya yang menjadi jejak air mata, menandakan kalau Naira saat ini benar-benar rapuh.
***
Masih jam sembilan pagi, tapi perut Iyan sudah keroncongan pertanda minta diisi. Memang laki-laki itu tidak sarapan karena terus menjaga istrinya yang belum sadarkan diri, mungkin dia akan menunggu tantenya datang membawakan makanan.
__ADS_1
Iyan menghembuskan nafas gusar kala tatapan sayunya tertuju tepat di wajah pucat Ayu. Tangannya menyentuh lembut kepala istrinya yang tertutup hijab biru itu, lalu tersenyum manis seolah Ayu membalas tatapannya.
"Kapan kamu sadar, Sayang? Mas udah rindu sama kamu ...," lirihnya, mencoba melawan rasa sesak yang hendak hinggap di dalam dada.
"Yan!"
Ceklek!
Iyan menoleh saat mendengar namanya dipanggil, terlihat Erna mendekat membawa sarapan dan seulas senyum untuknya.
"Tante?"
"Makan dulu, Yan. Kamu nggak sarapan, 'kan?"
"Iya, Tan. Makasih," ucap Iyan seraya menerima sarapannya.
"Kamu nggak usah sedih terus, Yan. Insyaa Allah istrimu akan baik-baik saja." Erna mengelus pundak keponakannya itu. Dia faham bagaimana hidup tanpa belaian orang tua, dan sekarang dialah yang akan menguatkan Iyan---anak yatim piatu yang diamanahkan padanya.
Ketukan pintu di ruangan itu terdengar lagi, dan muncullah sosok wanita berjas putih dengan stetoskop di lehernya. Dia tersenyum sembari menunduk hormat pada Erna dan Iyan agar mengizinkan memeriksa pasiennya.
"Bagaimana, Dok?" Iyan bahkan mengurungkan suapannya demi untuk menanyakan keadaan istrinya.
"Alhamdulillah ... semuanya sudah normal kembali. Kita tinggal menunggu kesadarannya saja," ucap dokter setelah memeriksa Ayu.
"Alhamdulillah ... semoga istriku cepat sadar, Dok!" Ucapan Iyan membuat Erna dan dokter tersipu. Namun, bahagia melihat mata lelaki itu berbinar.
"Iya, Dokter. Terima kasih," balas Erna ramah. Erna menatap keponakannya saat dokter tak lagi terlihat.
"Yan! Kamu mencintai Ayu, 'kan?" tanya Erna tiba-tiba.
Iyan mengangkat kepalanya. "Kenapa Tante nanya gitu?"
"Ya ... kan kamu sama Ayu Tante jodohin." Erna menjawab lucu.
"Iya." Singkat. Itulah jawaban dari Riyan.
"Iya apa?" tanya Erna jahil. Kemudian tertawa saat Iyan menatapnya sebal.
"Emps ... Mas ...." Suara lirih itu begitu indah saat berlalu di telinga Iyan.
"Ayu?!"
"Sayang?! Kamu sadar?"
Keduanya berhambur ke arah Ayu, untung saja Iyan tidak kebablasan memeluk istrinya itu.
"Sayang ...."
__ADS_1
"Mas ... aku di mana?" lirih Ayu sembari memegangi kepalanya.
"Kamu di rumah sakit, Sayang. Sebentar, ya!" Iyan berlari ke luar memanggil dokter kembali. Sementara Ayu masih menetralkan penglihatannya.
"Yu ... kamu sadar, Sayang. Tante seneng banget kamu udah sadar." Erna tersenyum haru sambil mengelus kepala menantunya.
"Tante, Ayu kenapa?" tanya Ayu bingung. Dia sama sekali tak ingat kejadian yang menimpanya.
"Jangan berpikir berlebihan dulu, Sayang. Kamu harus diperiksa dulu." Erna mempersilahkan dokter untuk mengecek kondisi menantunya.
Dokter itu melepaskan balutan impus di tangan Ayu, memeriksa denyut nadi serta jantungnya dengan hati-hati.
"Alhamdulillah, Pak. Istri Bapak benar-benar sudah sehat!" ujar dokter senang.
"Alhamdulillah ...." Iyan dan Erna berucap bersamaan.
"Apa dia tidak perlu diimpus lagi, Dok?" tanya Iyan.
"Tidak, Pak. Sudah cukup. Yang penting pasien sekarang tidak dianjurkan untuk bergerak terlalu bebas, juga perutnya yang kosong harus diisi." Dokter menjelaskan.
"Iya, Dok. Terima kasih banyak."
Iyan mengecup kening istrinya dengan perasaan senang. Sedangkan Erna dan dokter berjalan ke luar mengambilkan bubur.
"Kamu minum dulu, Sayang." Iyan mendudukan Ayu perlahan dan memberinya air putih.
"Kok pahit, Mas?" tanya Ayu memejamkan matanya.
"Kamu baru siuman, Sayang. Makanya pahit ...." Dengan sabar Iyan mengelap keringat di wajah Ayu. Lalu memeluk mesra tubuh kecilnya kala istrinya itu sudah dapat tersenyum.
Erna yang datang dengan semangkuk bubur, merasa senang melihat mereka. Wanita itu menghapus air mata bahagianya sembari mengucapkan rasa syukur atas kesembuhan menantunya.
***
Sementara itu, Rani menjalani masa-masa hukumannya dengan berat hati. Bagaimana tidak? Baru sehari semalam hidup di jeruji besi, dia sudah bisa merasakan betapa menyedihkannya. Pagi-pagi sekali sudah diperintahkan untuk menyapu dan membersihkan toilet, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Wanita itu termenung, memandang ke sembarang arah dengan pikiran menerawang ke mana-mana. Air matanya luluh mengenai tangannya yang sedang memegang sapu lidi, diiringi isakan kecil yang terdengar.
"Ayah ... Ibu .... Andai kalian tidak begitu cepat meninggalkanku, mungkin aku sudah bahagia bersama kalian. Hidup dalam bimbingan kasih kalian. Tapi itu semua hampa, sekarang anakmu ini sudah terlalu jauh menenggelamkan diri di lumpur dosa. Aku rindu kalian, Yah ... Bu ...." Rani makin terisak pilu. Bahkan nafasnya tersengal-sengal saking terasa sesak. Tubuhnya bergetar, hingga sapu yang ada di genggamannya jatuh tak terasa diikuti oleh tubuhnya yang mulai melemah.
Bruk!
"Mbak! Mbak Rani! Hey, Mbak!" Temannya yang melihat langsung mengguncang-guncang tubuh Rani. Namun, wanita yang tak sadarkan diri itu membisu.
"Ada apa ribut--ya ampun! Kenapa ini?!" Seorang polisi perempuan menghampiri mereka dengan ekspresi terkejut. Mereka meminta bantuan kepada yang lain dan sama-sama mengangkat tubuh Rani ke ruangan.
Rani ditidurkan di brankar untuk dirawat, tampak sekali raut kelelahan di wajah yang kian memucat itu. Inikah awal penyesalannya? Setelah beberapa lama tergelincir di dalam dosa?
__ADS_1