Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 70


__ADS_3

Matahari kembali menyelimuti pagi, Rifky sudah siap dengan pakaian kantornya dan tengah berdiri di hadapan Naira, istrinya itu sedang membenarkan dasi yang sengaja ia miringkan. Rifky tersenyum, mengacak lembut rambut Naira yang masih agak basah.


"Makasih ...." Rifky berucap seperti anak kecil. Lantas terkekeh sendiri saat Naira merotasikan mata.


"Ayo sarapan! Ntar keburu dingin makanannya," ajak Naira kemudian. Rifky mengangguk pelan, melangkah bersama Naira dengan tangan yang saling bertaut.


Keduanya tiba di meja makan yang penuh dengan menu sarapan. Di sana juga ada Bi Ira yang menyapa ramah mereka.


"Bibi ikut sarapan, ya!" Bi Ira tersenyum mendengar ajakan dari Naira, wanita itu menatap Rifky yang menampilkan senyum banggga atas sikap dari istrinya itu.


"Mas mau sarapan apa?" tanya Naira pada Rifky.


"Apa aja. Asal kasih bumbu," jawab Rifky.


"Bumbu?" Kening Naira mengernyit sesaat, sedikit bingung bumbu apa yang Rifky maksud.


"Bumbu-bumbu cinta, hahaha." Naira hampir saja melayangkan sendok ke arah Rifky. Wajahnya terlihat kesal. Suaminya pagi ini sedikit menjengkelkan karena menggombalinya di depan Bi Ira.


"Ini roti panggangnya!" Tak ingin terlalu meladeni Rifky, Naira segera memberikan roti panggang rasa coklat pada Rifky, juga dibumbui dengan bumbu-bumbu cinta seperti yang Rifky sebutkan tadi. Ah, Naira tersipu sendiri saat mengingatnya.


"Kamu juga sarapan, Neng. Ini susunya." Bi Ira menyerahkan susu rasa vanilla yang akhir-akhir ini disukai Naira.


"Makasih, Bi."


"Ayo, Bi. Ikut sarapan juga!" Rifky kembali mengajak, dan diangguki oleh Bi Ira yang ikut bergabung bersama mereka. Pagi ini ketiganya sarapan bersama dengan gurauan ringan dari Rifky. Laki-laki itu sengaja membuat pipi Naira bersemu merah akibat gombalan recehnya.


"Mas berangkat, ya, Sayang? Baik-baik sama Bi Ira, ya?" pamit Rifky setelah lima belas menit dari sarapan. Seperti biasa, Naira akan tersenyum sambil melambaikan tangannya dan ditinggali kecupan hangat dari Rifky.


Doanya selalu mengiringi, senyum manis dan lambayan lembut itu membuat Rifky cukup bahagia dan tenang saat bekerja.


Naira masuk kembali ke dalam ketika mobil Rifky hilang di kelokan jalan. Dia akan memulai aktivitas harinya dengan membantu Bi Ira membersihkan rumah.


Rifky yang sudah beberapa meter berkendara sedikit memelankan laju mobil, meraih handphonenya di dashboard untuk menghubungi Iyan sahabatnya. Lelaki itu meminta Iyan mengatur pertemuan mereka setelah ia selesai meeting dengan rekan kerjanya pagi ini.


Sekitar 25 menit Rifky tiba di kantor. Karyawan yang sudah datang beranjak menyapanya dengan salam santun, begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


"Bagaimana, Verry?" tanya Rifky pada sekretarisnya.


"Kita langsung berangkat ke tempat pertemuan yang diminta, Pak. Membicarakan pembahasan bulan lalu yang telah kita sepakati," ujar Verry menjelaskan.


"Itu saja?"


"Hanya itu kegiatan di luar, Pak. Setelahnya tidak ada."


"Baiklah. Kamu siapkan semuanya, ya? Kita berangkat lima menit lagi."


"Baik, Pak," jawab Verry sedikit menunduk.


Rifky tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Syukurlah dia hari ini tidak ada kegiatan mendadak, sehingga bisa lebih mudah menemui Iyan setelah pekerjaannya selesai.


Lima menit kemudian, mereka berdua sudah ada di dalam mobil yang siap melaju. Keduanya mengobrol santai dalam perjalanan, wajah segar dan ceria itu tampak berkerat karena senyuman.


Memang sudah kebiasaan Rifky mengajak ramah siapa saja, baik itu teman dekatnya, ataupun teman kerja. Dengan begitu hubungan baik akan selalu terjalin di antara mereka.


Mobil mereka telah terparkir sekian menit kemudian. Verry dan Rifky turun bersamaan, bersiap menemui rekan kerja mereka yang mungkin beberapa menit lagi akan tiba.


"Menurutmu, bagaimana kinerja para karyawan kita selama ini?" tanya Rifky di sela perjalanan mereka.


"Baik-baik saja, Pak. Semua karyawan benar-benar memanfaatkan waktu mereka dan profesional dalam bekerja. Sejauh ini alhamdulillah tidak ada masalah," ujar Verry tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Saya akhir-akhir ini tidak terlalu memperhatikan semua kegiatan kantor. Sudah bekerja setengah hari, malah banyak kegiatan menyimpang. Saya percaya sama kamu, Verry," ungkap Rifky bangga. Verry mengangguk kecil seraya tersenyum, suatu hal yang sangat mahal mendapat kepercayaan penuh dari atasannya.


"Bapak kerja apa jika pulang dari kantor?" Verry bertanya agak ragu.


"Mengajar ngaji. Itu kegiatan saya semenjak beberapa tahun lalu," jawab Rifky. Sekilas bayang anak-anak muridnya terlintas di benak yang membuatnya tersenyum.


"Alhamdulillah .... Orang seperti Bapak memang the best! Wajar saja banyak yang memperbincangkan." Verry bergurau.


"Ah, bisa saja kamu, Ver," balas Rifky terkekeh.


"Ya, semua karyawati di kantor kita hampir memperbincangkan Bapak. Sayangnya Bapak sudah beristri. Mungkin mereka sedikit mengeluh, hahaha." Verry menatap Rifky sekilas diiringi tawa candanya.

__ADS_1


"Lalu, kamu kapan punya istri?" Rifky membalas, ikut tertawa saat Verry bingung menjawab.


"Sudah sampai, Pak. Mari!"


Terhentinya mobil mereka di depan kantor sungguh pas dengan keadaan, di mana Verry tak perlu menjawab pertanyaan dari Rifky yang dia belum tahu apa jawabannya.


"Iya." Rifky membuka pintu mobil. Berjalan duluan ke dalam meninggalkan Verry yang memarkirkan roda empat tersebut.


Sekarang Rifky memilih berkeliling dari meja ke meja karyawan kantor, mengamati setiap tindakan mereka dengan teliti. Terkadang ada satu-dua di antara mereka yang mencuri pandangan. Namun, tak ada yang berani terang-terangan karena wajah datar yang Rifky tampilkan. Lelaki itu tampak serius, selalu profesional, tapi tidak meninggalkan sikap pedulinya kepada sesama.


Begitu tiba waktu dzuhur, Rifky dan teman kantornya salat berjamaah di mushola. Dilanjutkan dengan makan siang bersama Iyan sesuai perjanjian mereka tadi malam.


Keduanya bertemu di sebuah rumah makan, Iyan meminta maaf sudah terlambat beberapa menit karena sibuk mengurus istrinya. Rifky memahami, dan menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan uluran tangan.


"Ada apa, Ky? Kayak penting amat?" tanya Iyan bergurau. Menyeruput minumannya dalam keadaan menahan senyum.


Rifky membuang nafas sejenak. "Begini, Yan. Kemarin aku ketemu sama Rani yang berhasil kabur dari tahanan."


"Apa?!" Iyan terkejut, langsung melepas gelasnya dan menatap Rifky bingung. Wanita itu, bagaimana bisa lolos?


"Iya. Dan kamu tau apa yang paling mengejutkan dari itu?" Rifky mendekatkan kepalanya. "Rani mencoba bunuh diri!"


"Hah?! Bunuh diri?! Astaghfirullah ...." Iyan meraup wajahnya.


"Iya. Aku melihatnya sendiri saat dia ingin loncat di jembatan. Satu teriakan pilu darinya, Rani memanggil nama orang tuanya. Apa kamu tidak penasaran siapa Ayah dan ibunya, Yan?" Rifky memasang wajah kasihan. Helaan nafas yang keluar mampu membuat Iyan mencerna lebih dalam tentang pembicaraan mereka.


"Maksudmu ... aku harus mencabut hukumannya?" Iyan menebak.


"Baiklah. Aku juga akan memaafkannya." Anggukan pelan dari Rifky membuat Iyan cepat menyimpulkan. Hingga jawaban lirihnya itu berhasil mengangkat sudut bibir Rifky.


"Dia ada di rumah sakit, Yan. Tidak ada yang menjaganya." Rifky memberi tahu.


"Hah! Kasihan sekali perempuan itu, semoga dengan ini dia bisa berubah ...." Dengan hembusan nafas, Iyan bergumam. Lantas menatap Rifky dan sama-sama tersenyum.


Sekeras apa pun dia, hatinya tetap tidak bisa menyakiti orang lain. Terlebih jika itu seorang wanita. Biarlah memaafkan menjadi jalan penengah, yang berharap akan membawa kebaikan bagi Rani yang salah langkah. Sekali lagi, memaafkan adalah hal terbaik.

__ADS_1


__ADS_2