Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 72


__ADS_3

"Sayang?" Ayu menoleh mendengar suara tak asing lagi. Dia yang tadi mengupas buah apel terhenti sejenak saat Iyan menghampirinya.


"Mas? Dari mana?" tanya Ayu tersenyum.


"Nggak dari mana-mana. Mau makan apel? Sini, Mas bukain!" Dengan gembira Ayu menyodorkan apel merah dan pisau kecil pada suaminya. Bibirnya terangkat menatap kulit apel yang perlahan lepas, lantas menadahkan tangan sebelum buah itu selesai dikupas oleh Iyan.


"Ini." Iyan memberikan sebagian.


"Tante mana, Mas?" Ayu bertanya sambil mengunyah. Suaranya yang masih serek nyaris tak terdengar karena mulut terisi.


"Tante lagi di rumah. Mungkin besok dia ke sini, Sayang," jawab Iyan lembut. Tangannya refleks merapikan hijab Ayu yang terlihat agak kusut.


"Aku kapan keluar dari sini, Mas ...?" Ayu merengek manja, menghentikan kunyahan dan membentuk kerucut di bibirnya.


"Sebentar lagi, kok, Sayang. Besok siang mungkin," ujar Iyan tersenyum, kembali memberikan apel yang tersisa pada Ayu.


"Heum ... masih lama!" gumam Ayu sebal. Apelnya menjadi sasaran kejenuhannya.


Keadaan ruangan itu terasa jengah dipandang. Tak ada apa pun yang bisa menyegarkan mata dan pikiran penghuninya. Ayu ingin cepat sembuh dan berjalan bebas di luar, menikmati pemandangan indah serta mendengar kicauan burung di langit. Rasanya akan sejuk sekali.


Iyan terkekeh, mencubit pelan kedua pipi Ayu yang masih tampak pucat. Selepas itu memeluknya mesra.


"Mas udah rindu sama kamu!" ucapnya menghibur. Namun, lebih ke nada tulus.


"Mas nanti tidur di sini, ya? Jangan di sofa!" Ayu menepuk ranjangnya. Merasa kasihan saat kemarin malam suaminya itu tidur di sofa karena menjaganya.


"Tapi badan kamu nggak sakit-sakit lagi, 'kan? Mas nggak mau kamu terganggu." Iyan memastikan.


"Enggak! Aku udah sembuh!" jawab Ayu jelas. Senyum yang tadinya tersembunyi segera terbit di bibir saat Iyan menatapnya.


"Pengen cepat keluar! Makanya bilang gitu!" Iyan tertawa, menarik pelan hidung Ayu yang persis di depan wajahnya.


Ayu kembali merebahkan pipi kirinya di dada Iyan, tak lupa sambil menikmati buah apel yang sejak tadi belum habis. Wanita itu tersenyum tanpa sepengetahuan sang suami, cukup bahagia saat Iyan mengelus lembut punggungnya dan memberi kenyamanan.


***

__ADS_1


Malam ini terasa dingin dari malam-malam sebelumnya, Naira merapikan mukenah dan sajadah setelah selesai dari salat isya. Naira membalut kakinya dengan kaus kaki panjang, kemudian menuruni anak tangga untuk membantu Bi Ira menyiapkan makan malam. Sebentar lagi Rifky akan pulang.


Dengan cekatan Naira menyiapkan alat makan di atas meja, mendinginkan nasi agar lebih gampang dinikmati. Rifky bilang, makanan yang panas tidak boleh ditiup sesuai ajaran Rasulullah. Dari itu Naira menyiapkannya lebih dulu.


Beberapa saat, deruman mobil Rifky telah terdengar. Naira bergegas menuju pintu untuk menyambut kepulangan suaminya itu.


Ceklek!


"Assalamualaikum ...?" salam Rifky tersenyum. Kedua tangannya terbuka lebar ke arah Naira.


"Waalaikumussalam. Mas udah pulang ...." Naira memeluk hangat tubuh Rifky serta menghirup aroma di dadanya. Naira mendongak, menyaksikan wajah Rifky yang tengah terkekeh.


"Ayo! Mau ikut ke atas apa nunggu di dapur?" Rifky melerai pelukannya.


"Ikut!" jawab Naira spontan. Tanpa mempedulikan Rifky yang tertawa, Naira segera menggandeng tangan suaminya itu.


"Kamu harum banget, Mas!" Sembari menapaki tangga, Naira menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rifky. Wangi yang memabukkan itu tetap menjadi favoritnya dari dulu. Namun, tidak separah sekarang. Entahlah, mungkin karena bayinya.


Rifky terkekeh, lalu menatap kaki istrinya. "Tumben malam-malam pake kaus kaki? Kedinginan?"


"Ayo, Mas! Udah lapar!" Naira menatap Rifky sembari memegang perutnya.


"Kalau Mas lama pulangnya, kamu sama Bi Ira makan duluan, Sayang. Jangan sampai kelaparan, ya? Kasihan dedeknya ...," ujar Rifky berjongkok. Lalu mengecup lembut perut Naira yang terasa agak terganjal.


"Nggak kelaparan, sih, Mas! Tapi udah lapar," balas Naira terkekeh. Rifky mencubit pelan hidung Naira dan mengajaknya turun, hingga berakhir di depan meja makan.


"Bibi, ayo makan!" panggil Naira.


"Iya, Neng. Bentar, ya?" Bi Ira menyahut tanpa menoleh, wanita itu masih membasuh sesuatu di dalam wastafel.


Naira duduk di samping Rifky dan mulai menyiapkan makanan untuk suami gantengnya itu. Tak lupa bayarannya satu kecupan singkat, membuat Rifky ingin tertawa pecah atas syarat itu.


"Nah ... ini timunnya, untuk lalap!" Bi Ira menyerahkan piring berisi timun dan teman-temannya pada Rifky.


"Makasih, Bi. Ayo makan!" Bi Ira tersenyum, menduduki kursinya dan menikmati makan malam bersama.

__ADS_1


Hidangan di meja mereka terlihat sederhana, dipenuhi oleh sayuran, tahu-tempe, dan beberapa ikan goreng. Hal itu tak lain menuruti Naira yang tidak suka makan daging semenjak kehamilannya.


Rifky menyudahi makannya duluan, perutnya masih kenyang karena diganjal bakso tadi sore. Namun, laki-laki itu tidak beranjak dari duduknya karena menemani Naira. Lagi pula tak ada pekerjaan setelah itu.


"Alhamdulillah ... udah, Mas! Aku makan banyak banget, ya?" tanya Naira pada Rifky.


"Nggak papa, Neng. Biar sehat!" timpal Bi Ira terkekeh.


"Iya, nggak papa selama tidak berlebihan, Sayang. Lagian itu memang porsi kamu, kok. Nggak ada banyak-banyaknya," ujar Rifky.


Naira hanya mengerucutkan bibir, menghisap rasa pedas yang menempel. Lantas menata piring kotor dan membersihkan meja makan bersama Bi Ira.


Selepas itu, Naira berjalan menyusul Rifky ke ruang tamu, menghabiskan waktu istirahat dengan menonton acara televisi. Lima belas menit kemudian, Bi Ira datang menyuguhkan minuman hangat, membiarkan majikannya itu menikmati waktu mereka berdua.


"Kamu udah hapal surah Ar-rahman, 'kan?" tanya Rifky tiba-tiba.


"Udah. Kenapa?" jawab Naira yang masih fokus ke layar TV.


"Coba? Mas mau denger!" Rifky meraih remote dari tangan Naira, mengecilkan volume televisi dan menatap intens istrinya itu.


"Ih! Ganggu aja, sih!" Naira menggerutu. Kemudian menarik nafas sebelum murojaah bersama Rifky.


Rifky menyimak bacaan istrinya itu, ada beberapa bacaan yang terkecoh. Namun, segera diperbaiki oleh Naira. Dia hapal, tapi jika berhadapan dengan Rifky mendadak jadi gugup.


Bermenit-menit Naira melapazkan surah 78 ayat itu, hingga di akhir bacaan nafasnya agak memburu.


"Udah!" Naira terengah, dan langsung meneguk minumannya sebelum Rifky berkomentar.


"Jangan cepat-cepat bacanya, pelan-pelan aja biar nggak susah nafas." Rifky terkekeh. Mengelus sayang kepala Naira sebagai bentuk rasa bangganya.


Ternyata Naira melaksanakan perintahnya waktu lalu, di mana hapalan surah itu adalah hukuman bagi Naira yang naik ke pohon jambu.


"Kalau nggak cepat nggak selesai-selesai!" jawab Naira singkat. Secepat kilat dia merebut remote TV dan menonton ulang film-nya.


"Biar nggak lupa sering-sering dibaca, ya, Sayang? Boleh juga waktu kamu salat, atau selesainya," ujar Rifky tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Mas. Insyaa Allah nggak lupa, kok. Rugi kalau lupa." Naira mendongak, membalas senyuman Rifky dengan tulus. Suaminya itu tersenyum dan mengecup lama keningnya, ikut menyaksikan film yang diputar Naira tanpa melepas rengkuhannya.


__ADS_2