Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 35


__ADS_3

"Enak nggak ice creamnya?" Rifky menatap Naira sekilas kemudian fokus lagi menyetir.


"Enaklah," jawab Naira singkat. Dia masih asik menikmati ice creamnya bahkan tanpa melihat Rifky sekalipun.


Rifky hanya menatap Naira datar dan sesekali menghembuskan nafasnya pelan. Entahlah, akhir-akhir ini ada perasaan yang berbeda saat dia bersama Naira. Mungkinkah perasaan cinta yang lebih besar? Ah, entahlah!


Naira menghabiskan ice creamnya dengan sangat cepat. Saking begitu lahapnya, bibir dan pipinya pun ikut belepotan. Sudah seperti anak kecil saja!


Naira segera mengambil tisu dan membersihkan wajahnya yang belepotan akibat makan ice cream.


"Udah sampai, ayo turun!" Rifky mengajak Naira turun dari mobil. Sekarang mereka sudah sampai di tempat tujuan, yaitu Mall.


Rifky mengajak Naira pergi ke sana untuk membeli pakaian dan juga barang-barang lainnya yang diperlukan. Tak lain juga untuk mengajak istrinya itu jalan-jalan. Ya ... tentunya atas usulan dari Naira. Lagian sudah lama juga Naira tidak membeli baju baru.


Mereka berjalan berdampingan dengan tangan yang saling bertautan. Naira tampak senang sekali menikmati suasana hari ini.


"Mau yang ini?" tanya Rifky sambil mengarahkan beberapa hijab pada Naira. Naira mengangguk senang.


Sepatu! Baju! Make up, dan banyak lagi yang lainnya yang Naira beli.


Lama mereka berkeliling dan memilih-milih barang, Rifky sendiri sudah terlihat keletihan, tapi Naira masih mengajaknya ke sana-kemari.


Dirasa sudah selesai, Rifky mengajak Naira pulang. Namun, Naira masih belum puas ingin berkeliling dan terpaksa Rifky harus menurutinya.


"Mas! Aku mau itu!" Naira menunjuk salah satu boneka beruang yang tertata rapi dengan berbagai pilihan warna.


Rifky menghela nafasnya dan mengangguk. Jujur, dia sudah capek dengan keinginan Naira, sejak tadi asal tunjuk. Ini, itu! Ke sana, ke sini!


"Ini?"


"Yang warna orange. Eh, yang putih aja," titah Naira tanpa mempedulikan keadaan Rifky sekarang.

__ADS_1


"Habis ini udah, ya? Kita pulang!" tutur Rifky setelah membayar semuanya.


Naira mencuitkan bibirnya kesal. "Kok pulang, sih? Kan belum sore?"


"Mas udah capek," keluh Rifky berjalan menuju mobil mereka.


"Ih, 'kan belum beliin aku bakso. Mas, 'kan udah janji!" Naira menghentak-hentakkan kakinya, tak ada niat untuk menyusul Rifky yang sudah berjalan mendahuluinya.


Rifky berbalik menatap Naira yang masih mematung. "Iya-iya. Nanti dibeliin," balas Rifky tersenyum.


Barulah Naira mau berjalan ke arah Rifky. Dia tersenyum karena berhasil mengerjai suaminya itu. Sengaja, biar Rifky tidak membuatnya ngambek lagi karena ulah perempuan lain. Mungkin dengan ini Rifky akan lebih berhati-hati.


Huh!


Kini Rifky benar-benar lelah menuruti keinginan Naira. Kalau saja tidak ingin membuat Naira menangis, sudah lama dia mengajak Naira pulang, tapi ... ekhem! Sebagai suami yang baik, Rifky hendaknya mengalah meskipun istrinya hari ini sedikit menjengkelkan.


***


Setibanya di rumah, Naira langsung menuju dapur untuk menikmati bakso hangatnya. Dia sudah tidak memperdulikan Rifky lagi yang menggeleng-gelengkan kepala akibat tingkahnya yang jahil itu.


Naira memakan bakso dengan sangat lahap, sehingga bibir dan matanya memerah akibat kepedasan. Bi Ira mencoba memperingati, tapi Naira tetap kekeuh.


"Hah! hah! Air!"


"Neng, pelan-pelan makannya," ucap Bi Ira dan memberikan minum pada Naira.


Naira langsung meneguk airnya sampai tandas. Terlihat matanya berkaca-kaca karena menahan pedas di lidah. Mana panas lagi.


"Hah, hah, pedas!" Naira membuka hijabnya yang masih terpasang dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Bi Ira hanya menggeleng melihat Naira. Salahnya sendiri!


"Ada apaan?" tanya Rifky yang baru turun dari lantai atas, dia sudah terlihat sangat segar.

__ADS_1


Bi Ira menunjuk ke arah Naira yang menelusupkan wajahnya di kedua tangan yang terlipat di atas meja.


"Kamu kenapa, Naira?" tanya Rifky menduduki kursi di samping Naira.


Naira mengangkat kepalanya dengan keringat yang memenuhi wajahnya. "Pedas, Mas," adu Naira pada Rifky.


"Subahanallah! Naira ... Naira!" Sekali lagi Rifky harus menggeleng atas tingkah Naira. "Ayo! Buruan mandi!"


Dia menarik tangan Naira untuk berdiri menuju kamar mereka. Saat sampai di depan tangga, Naira berhenti dan kembali mengibas-ngibaskan tangannya.


"Gendong, Mas!" rengeknya bertambah manja.


Tanpa pikir panjang lagi, Rifky langsung mengangkat tubuh Naira menaiki anak tangga. Bi Ira hanya terkekeh menyaksikan kedua pasangan itu.


Setelah sampai di kamar, Rifky menurunkan Naira dan menyuruhnya mandi.


"Mandi sekarang! Udah sore!"


"Mandiin ...," ucap Naira tanpa sadar karena matanya sedikit terpejam.


"Beneran mau dimandiin?" Rifky kembali mengangkat Naira untuk masuk ke kamar mandi.


"Eh, eh! Ng--nggak, tadi salah ngomong," tukas Naira memberontak dalam gendongan Rifky. Bagaimana mungkin dia berbicara ngaur begitu?


"Aku bisa sendiri, Mas!" Setelah Rifky menurunkannya, Naira langsung bergegas menuju kamar mandi.


Sementara Rifky berkacak pinggang sambil menatap kepergian istrinya itu.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2