Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 53


__ADS_3

Di sepertiga malam, tepatnya jam 03.12 WIB, Iyan perlahan membuka matanya dan terbangun dari malam yang indah itu. Iyan melihat Ayu yang terbaring di sampingnya dengan wajah yang masih terlelap. Tampak jelas kelelahan di wajah cantik istrinya itu.


Tangan laki-laki itu mengusap lembut pipi istrinya sembari menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya. Dia tersenyum, kemudian mengecup singkat bibir wanita yang dalam keadaan tidak sadar tersebut.


"Maafkan aku, Sayang." Iyan berucap pelan dan mencium tangan kiri istrinya. Kemudian bangkit dari tidur menuju kamar mandi. Setelah beberapa lama, laki-laki itu keluar dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Memakai pakaian dan melaksanakan sholat tahajud tanpa mengajak Ayu, karena ia tahu kalau istrinya itu mungkin belum bisa sholat bersamanya.


Beberapa jam kemudian, di mana matahari masih malu-malu menampakkan diri. Ayu menggeliatkan tubuhnya dan mulai melihat sekeliling. Ketika mendapati suaminya yang tengah duduk di sisi ranjang, wanita itu memegang selimutnya erat-erat. Dari tatapannya, sepertinya Iyan memang sengaja menunggu dia terbangun.


"Sudah bangun, Sayang?" sapa Iyan tersenyum. Ayu menggeser tubuhnya saat Iyan mendekat, tapi hanya ringisan yang didapat.


"Biarkan aku yang membantu!" Iyan menyibak selimut yang menutupi istrinya dan mengangkat tubuh langsing itu ke kamar mandi. Ayu yang ingin menolaknya tidak bisa, bahkan bicara pun ia terlalu malu.


"Ma--makasih, Mas," ucap Ayu tersenyum kikuk. Setelah itu menunduk.


"Iya. Mandilah sekarang. Handuknya ini." Setelah mengantar istrinya, Iyan berjalan ke luar dan menutup pintu kamar mandinya.


Seulas senyum terbit dari bibir laki-laki itu. Ternyata pilihan tantenya sesuai dengan apa yang dia harapkan selama ini. Dia menyukai istrinya itu meskipun baru satu hari menikah.


****


Pagi ini, Naira sudah terlihat sangat segar dan sudah memakai baju syar'i-nya. Dia begitu bersemangat karena akan ikut Rifky berangkat ke kantor.


Ya, hari ini Naira meminta Rifky untuk mengajaknya ke kantor papanya. Sebab dia ingin tahu bagaimana kerjaan suaminya itu.


Naira tersenyum dan meraih dasi di dalam lemari untuk dipasangkan di leher Rifky. Matanya terkadang menggerling pada Rifky yang membuat Rifky ingin tertawa karena tingkahnya. Sepertinya Naira senang sekali saat Rifky mengajaknya kerja.


"Emang mau ngapain, sih, ikut ke kantor? Mas di sana kerja, bukan jalan-jalan," tanya Rifky. Hal itu sukses membuat bibir Naira mencuit.


"Tadi, 'kan udah janji. Kenapa sekarang berubah lagi?!" ketus Naira kesal.


"Iya, iya ... kan cuma nanya," balas Rifky tersenyum. Lalu mencubit dan mencium sekilas pipi istrinya itu.


Naira tak mau kalah, dia membalas perlakuan Rifky dengan cara mencium pipi suaminya itu bertubi-tubi. Sampai Rifky terkeleh dibuatnya. Kenapa sikap Naira jadi seperti ini? Sangat berbeda dengan dia yang dulu.


"Ayo sarapan!" ajak Naira akhirnya. Mereka menuruni anak tangga untuk menuju meja makan.


Selepas itu, Rifky membuatkan susu dan menyuruh Naira meminumnya. Kemudian mereka berpamitan pada Bi Ira dan berangkat ke kantor.


"Mas! Kamu, tuh kenapa, sih? Kayak nggak senang aja aku ikut!" tuduh Naira. Sebab dari tadi Rifky hanya diam saja.


"Ngomong apa, sih, Sayang ...?" tanya Rifky menatap istrinya.


"Ya kamu? Nggak ada senyum, diam aja, liat ke depan terus! Nggak suka, aku ikut?" papar Naira. Wajahnya yang cemberut ia tampakkan pada Rifky.


"Ya gimana nggak liat ke depan terus? Orang jalanan padat gini, ntar kita tabrakan, lagi," jelas Rifky lembut. Rifky menatap Naira dan tersenyum sekilas padanya.


"Alasan!" Naira bersedekap dada dan memalingkan wajah. Rifky hanya bisa menggeleng dan menghela nafasnya. Mungkin memang begitu kalau bumil.


"Kan? Diam aja!" tuding Naira lagi.


Rifky mencepatkan laju mobilnya dan berhenti di tempat yang agak sepi. Laki-laki itu melepas seatbeltnya dan mendekat pada Naira.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok marah-marah terus?" Rifky menggenggam tangan Naira sambil menatapnya.


"Aku nggak suka didiemin!" cetus Naira. Dia melepas kasar genggaman Rifky dan menatap kesal suaminya itu.


"Mas nggak diemin kamu, kok. Tadi lagi fokus nyetir aja, makanya diam," jawab Rifky lembut.


"Tapi di kantor nggak ada orang lain, 'kan?" tanya Naira serius.


"Ada!" jawab Rifky dengan tampang polosnya. Seolah tak mengerti maksud pembicaraan Naira.

__ADS_1


"Tu, 'kan! Kamu ngeselin!" Naira memukul-mukul tangan Rifky dan hampir menangis. Namun, Rifky lebih dulu menertawakannya.


"Kamu, 'kan tanya? Di kantor ada orang lain apa enggak? Ya, aku jawab. Banyak orang, kok, di sana! Salahnya di mana?" Rifky menaik-turunkan alisnya menggoda Naira.


Naira memukul kembali tangan Rifky dan mengerucutkan bibirnya. "Cepat jalan!" sergah Naira.


Rifky mengelus kepala Naira sebentar, lalu kembali menjalankan mobilnya.


Kali ini Naira yang diam. Hingga tiba di tempat tujuan, dia tak lagi bicara sepatah kata pun.


"Ayo masuk!" ajak Rifky sambil meraih tangan Naira. Keduanya memasuki ruangan kantor itu dengan bergandengan tangan.


Semua karyawan menyapa mereka dengan ucapan selamat pagi. Mereka sudah tahu kalau Naira anak pemilik perusahaan itu, meskipun Naira jarang ke kantor papanya. Ini baru ke sekian kalinya dia menjejakkan kaki di sana. Dulu dia ke kantor hanya untuk menemui Herman kalau ada hal-hal penting, dan semenjak dia fokus pada sekolahnya, Naira tak pernah lagi ke sana.


"Udah lama nggak ke sini. Banyak juga yang berubah ternyata?" gumam Naira pelan.


Begitu memasuki ruangan Rifky, matanya mulai menjelajahi seluruh yang ada di sana. Sedangkan Rifky sudah duduk di kursinya.


"Kamu duduk di sana saja, Sayang!" Rifky menunjuk sofa di depannya. Naira mengangguk.


Beberapa menit Rifky meneliti semua berkas di mejanya. Tak lama sekretarisnya datang membawa beberapa dokumen.


"Pagi, Bu. Pak?" sapanya pada Naira dan Rifky.


"Iya," balas Naira. Dia duduk di sofa dan melihat-lihat Rifky.


"Maaf, Pak. Ini surat izin asisten Bapak!" Laki-laki bernama Verry itu menyerahkan selembar kertas yang masih terlipat rapi. Rifky sudah menduga, kalau Ayu tak akan masuk kantor hari ini.


"Baiklah. Apa jadwal saya hari ini?" tanya Rifky.


"Hanya meeting bersama Bu Rani. Dan beliau meminta Bapak untuk datang ke restoran XX," jelas Verry.


"Baiklah. Jam berapa?" tanya Rifky lagi.


"Jam sebelas nanti sudah ada di sana," jawab Verry tersenyum. Rifky mengangguk dan berterima kasih sebelum sekretarisnya itu keluar dari ruangannya.


Artinya sekarang dia tak begitu banyak pekerjaan. Hanya memeriksa berkas-berkas kemarin yang belum selesai ditangani.


"Mas! Aku boleh ke ruangan Papa, nggak?" ucap Naira menghampiri Rifky.


"Jangan mengganggu Papa, Sayang. Mungkin Papa lagi sibuk," jawab Rifky menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Sebentar aja, Mas. Aku mau ketemu Papa," balas Naira meminta Rifky untuk mengizinkannya.


"Ya sudah. Boleh," kata Rifky mengizinkan. Lagipula Naira akan kekeuh jika dia tak memberi izin. Istrinya itu, 'kan mau menang terus?


Naira berjalan ke luar untuk menuju ruangan Herman. Sampai di depan pintu, dia mengetuk dan memberi salam.


"Pa ...!" panggil Naira sedikit lembut.


Herman yang ada di dalam mengerutkan keningnya saat mendengar suara Naira. Apa anaknya itu ikut Rifky?


"Pa ...!" Terdengar lagi panggilan dan ketukan pintu.


"Iya, masuk!" sahut Herman. Kemudian nampaklah Naira yang berjalan sembari tersenyum ke arahnya.


"Naira? Kamu kenapa ada di sini, Sayang?" tanya Herman saat Naira mencium punggung tangannya.


"Huh! Naira mau minta tolong sama Papa," ucap Naira kemudian. Dia mendudukan diri di kursi depan meja papanya.


"Minta tolong apa ...?" tanya Herman bergurau. Biasanya hanya hal-hal konyol yang akan dia terima dari putri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Tolong pecat Mbak Ayu dari kantor ini!" kata Naira yang membuat Herman terkejut.


"Loh? Kenapa emang? Dia nggak punya salah sama kamu, 'kan? Lagian kerjanya selama ini baik, kok?" Herman menyilangkan sebelah kakinya di atas paha. Tangannya terbuka lebar dengan bahu sedikit terangkat. Alis pria itu saling bertaut menatap anaknya yang merengut.


"Nggak mau pokoknya. Papa harus pecat dia biar nggak bisa dekat lagi sama Mas Rifky ...." Naira memberengut.


"Hahaha ... Naira ... Naira! Kamu ini jadi istri cemburuan sekali. Rifky tidak akan macam-macam, Sayang. Lagian, 'kan Ayu sudah menikah dengan Kak Iyan ...? Mana mungkin mereka ada hubungan selain dari manajer dan asisten?" jelas Herman.


"Papa ... please, Pa ...," rengek Naira memohon.


"Nggak! Papa sudah kenal lama pada Ayu. Dan Papa senang dengan caranya yang gesit dalam bekerja." Herman menolak.


"Papa, 'kan bisa angkat Kak Iyan untuk kerja sama Mas Rifky ...? Ayolah, Pa ...." Naira mengatupkan kedua telapak tangannya.


Herman terdiam sejenak. Benar juga usulan dari anaknya itu. Biar Iyan yang menggantikan posisi Ayu di kantornya ini.


"Pa ...?"


"Nanti Papa pikirkan lagi," kata Herman.


"Tapi beneran, ya?" Naira memastikan. Lalu tersenyum saat mendapat anggukan dari papanya itu.


"Ya udah. Naira ke luar dulu." Naira berdiri dari duduknya.


"Jadi, kamu ikut Rifky hanya untuk ini? Naira ... Naira. Papa nggak habis pikir sama kamu," oceh Herman dan menggeleng. Sedangkan Naira hanya nyengir menanggapinya.


Saat dia melewati sofa di ruangan itu, Naira melihat roti rasa stroberi dan beberapa makanan serta minuman lainnya. Sepertinya masih baru.


"Ini punya siapa, Pa?" tanya Naira mengangkat bungkusan itu.


"Bukan punya siapa-siapa! Tadi Papa beli buat Papa sendiri," jawab Herman.


"Papa masih suka aja makanan yang beginian. Mendingan buat Naira aja!" ucap Naira sambil memasukkan semuanya ke kantong plastik.


"Hah! Kamu ambil saja. Tapi sisakan minuman kopinya satu!"


"Iya, Pa," jawab Naira nyengir. Lalu keluar ruangan papanya dengan berlari kecil.


"Ah, anak itu. Apa Rifky tidak pusing dengan tingkahnya?" Herman bermonolog. Kemudian kembali pada pekerjaannya.


"Mas Rifky ...." Naira tersenyum saat memasuki ruangan Rifky.


"Dapat dari mana itu? Katanya ke ruangan Papa? Atau jangan-jangan kamu ke luar?!" Rifky melotot pada istrinya.


"Ish ... apaan, sih? Orang dari ruangan Papa ...." Naira memanyunkan bibirnya. Dia duduk di sofa dan mulai membuka makanan yang baru ia dapat. Tak peduli pada Rifky yang masih menatapnya.


"Mas mau?" tawar Naira sembari mengarahkan roti yang dimakannya pada Rifky.


"Nggak. Mas masih kenyang. Nggak kayak kamu yang banyak makan!" ejek Rifky.


"Kenapa ...? Nggak ada salahnya?" Naira tetap melanjutkan makannya. Ketika hendak membuka minuman, dia kesusahan memutar tutup botolnya. Akhirnya berjalan ke arah Rifky dan minta dibukakan.


"Ternyata banyak juga, ya, Mas, kerjaan kamu? Kamu pasti capek," ucap Naira setelah beberapa teguk air berhasil ia telan.


Rifky tersenyum. Lalu menarik tangan Naira agar duduk di pangkuannya. "Iya, Sayang ... tapi lelahku tersembuhkan saat melihat senyuman kamu ...." Rifky menyentuh hidung mancung milik istrinya.


"Hem ... masa, sih?" Naira tersipu malu.


"Iya, makanya jangan cemberut kalau aku pulang kerja." Rifky melingkarkan tangannya di pinggang Naira hingga Naira terkunci dalam pelukannya.


"Ini udah senyum. Nih!" Naira menampakkan deretan giginya pada Rifky, dan hal itu berhasil membuat Rifky gemas padanya. Lama-lama, pandangan mereka menjadi tatapan cinta, dan berakhir ciuman mesra di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2