Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 15


__ADS_3

"Hay, pulang bareng, yuk!" ajak Rizal ketika melihat Naira sedang duduk di tempat biasanya dia menunggu.


"Iya, makasih. Tapi gue udah ada yang jemput," jawab Naira.


"Siapa? Kakak lo?" tanya Rizal, tapi sama sekali tidak ditanggapi oleh Naira.


Tatapan Naira tertuju pada mobil berwarna hitam yang mendekat padanya. Dia tahu kendaraan itu milik siapa. Tama!


Naira segera beranjak untuk pergi. Namun, ditahan oleh Rizal.


"Lo mau ke mana?" Rizal mencekal tangan Naira agar gadis itu tidak pergi.


"Lepasin gue!"


"Rizal!" Tama yang baru keluar dari mobil menghampiri mereka.


"Kak, Tama! Kakak ngapain ke sini?" tanya Rizal pada kakaknya itu.


Ya. Rizal Adhi Wardana adalah adik dari Pratama Wijaya, sama-sama menyukai orang yang sama.


"Kamu yang ngapain?" ketus Tama dan melepaskan tangan Naira dari cekalan Rizal.


"Kalian?" Naira tampak bingung.


"Dia adik gue," ungkap Tama.


"Kalian saling kenal?" tanya Rizal memastikan.


"Dia pacar gue, mau apa, lo?" cerocos Tama dengan kengaurannya.


"Hah!"


Plak!


"Bukan! Ngada-ngada, lo!" kesal Naira menampar pipi pria itu.


Rizal yang menyaksikan hanya melongo tak percaya. Bagaimana mungkin dia dan kakaknya menyukai orang yang sama? Memalukan!


Naira segera berlari menghindar, tapi Tama cepat-cepat mengejarnya, begitu juga dengan Rizal. Tentunya langkah pria gagah seperti Tama dapat menandingi langkah kecil Naira dengan mudah.


Grep!


Pria itu berhasil menangkap Naira dan segera membawanya masuk ke mobil.


"Kak, mau diapain?" tanya Rizal sedikit linglung atas tingkah kakaknya.


"Diem aja!" sergah Tama. Rizal hanya menurut dan mengendarai motornya sendiri.


"Lepasin gue brengsek!" pekik Naira.

__ADS_1


"Kamu diam, Sayang. Aku nggak macam-macam, kok," ucap Tama tersenyum devil.


"Lepasin!" Naira berusaha memberontak sambil mengeluarkan air matanya, tapi Tama tetap memaksanya untuk masuk ke mobil pria itu.


"Naira!"


Rifky yang baru datang langsung menghampiri istrinya yang tengah tertekan.


Namun, Tama segera melajukan mobilnya.


Rifky yang merasa geram segera menyusul Tama yang membawa istrinya. Pria itu memang harus diberi pelajaran sekarang.


Mata Rifky terus menatap mobil milik orang yang telah membawa istrinya. Dengan kecepatan tinggi, mobilnya meleset untuk menyamai mobil Tama.


Srettt ...!


Rifky berhasil menghadang mobil Tama, membuat pria itu harus berhenti dan turun.


Bugh!


Bugh!


Rifky langsung melayangkan pukulannya di wajah Tama sehingga sedikit memar. Tama yang tak tinggal diam juga menyerang balik Rifky.


"Mas Rifky!" Naira menangis tersedu sedan saat melihat Rifky dan Tama saling serang. Dia sangat takut jika Rifky sampai terluka.


"Kak Tama!" Rizal yang baru tiba langsung membantu Tama untuk menghajar Rifky. Tentu saja Rifky kesulitan melawan dua pria itu.


Suara itu menghentikan aksi mereka dan menatap ke arah yang memanggil.


"Papa!" Tama dan Rizal kaget saat mengetahui orang itu adalah papanya---Aldytahir.


"Apa-apaan kalian?!" sentak Aldy mendekati Tama dan Rizal.


Sedangkan Naira menghampiri Rifky dan memeluk suaminya itu sambil menangis.


"Papa ngapain ada di sini?" tanya Tama dengan sedikit ragu.


"Kalian yang ngapain berantem di sini?!" bentak Aldy pada kedua putranya.


"Kamu itu harusnya sekarang ada di kantor. Bekerja! Bukan keluyuran tak jelas!" Aldy menatap tajam Tama yang tengah kebingungan.


"Kamu juga Rizal!" Rizal tersentak kaget kala namanya dipanggil dan menatap papanya.


"Iya, Pa," jawabnya menunduk.


"Pulang!"


Tama dan Rizal langsung menurut, tapi sebelum itu tatapan membunuh sempat ia lemparkan pada Rifky. Rifky hanya menanggapinya dengan sinis!

__ADS_1


"Maafkan anak saya," ujar Aldy menepuk pundak Rifky. Walau pria paruh baya itu tak tahu masalahnya apa, meminta maaf adalah hal yang harus dilakukan. Karena semua ini, juga melibatkan anaknya.


"Iya, Pak. Sama-sama," jawab Rifky tersenyum, meskipun sudut bibirnya susah digerakkan akibat pukulan Tama.


Aldy membalas senyuman Rifky dan berlalu dari tempat itu mengikuti kedua anaknya menuju ke rumah.


"Mas ...." Naira menangis dan memeluk Rifky erat.


"Kenapa, Sayang?" Rifky membalas pelukan istrinya dan mengecup singkat kepala Naira.


"Aku minta maaf," lirih Naira melepas pelukannya.


"Kamu nggak salah, Sayang," ucap Rifky tersenyum dan menangkup kedua pipi istrinya.


"Aku nggak mau liat kamu kayak gini, Mas," balas Naira menyentuh sudut bibir Rifky yang berdarah. Hatinya terenyuh kala melihat Rifky terluka.


Cup!


Satu kecupan mendarat di tepi bibir Rifky dan sukses membuat Rifky tersenyum.


Rifky memegang tengkuk Naira dan m*****t pelan bibir gadisnya. Tak peduli di mana mereka sekarang.


"Woy! Jalanan!" salah satu pengendara lewat di jalan itu dan meneriaki mereka.


Rifky melepaskan panggutannya, lalu menatap seseorang yang telah berlalu dari sana.


"Menyebalkan!" umpat Rifky.


Naira tersenyum gemes melihat Rifky yang kesal dan segera mengajak Rifky pulang.


"Sampai rumah aku dapat jatah, ya?" goda Rifky.


"Apaan, sih, Mas." Naira tersenyum malu dan memukul pelan tangan suaminya.


Rifky terkekeh saat melihat pipi Naira bersemu merah bak buah tomat.


"Pipinya kenapa, atuh?" Rifky sengaja menjahili Naira untuk membuatnya malu.


"Mas! Pulang!" bentak Naira menutupi kegugupannya dan segera masuk ke mobil.


Rifky terkekeh kecil dan menyusul Naira masuk ke mobil, sekali lagi pria itu mencium bibir Naira sebelum melajukan mobilnya.


Rasa sakit yang dia rasakan telah hilang entah ke mana saat mendapat kecupan hangat dari Naira.


Naira menatap Rifky yang tengah fokus menyetir, ada rasa iba di hatinya kala melihat Rifky terluka. Apakah Rifky benar-benar mencintainya? Sehingga rela berkorban demi dirinya---gadis pilihan orang tuanya.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2