
Hari minggu. Bertepatan pada jam 6.35 pagi, Naira sudah berperang dengan alat dapur membantu Bi Ira untuk menyiapkan sarapan pagi. Terlihat sekali Naira sangat letih habis berkutat dengan alat-alat masak. Apalagi dia belum terlalu lincah dalam hal ini.
Sedangkan Rifky sejak tadi belum terlihat batang hidungnya untuk turun ke bawah. Biasanya laki-laki itu sudah bersantai di sofa tengah sambil menikmati teh manis buatan istri tercintanya, tapi kenapa sekarang belum turun? Apa masih tidur?
Ceklek!
Naira membuka pintu kamar dan menampakkan Rifky yang masih terlelap di balik selimut. Setelah bangun subuh dan membaca Al-qur'an, dia memilih tidur kembali karena matanya sedang tidak bersahabat. Ditambah lagi suasana dingin yang menyebabkan tubuh semakin nyaman untuk dibalut agar merasakan kehangatan.
"Hmm ... bener-bener," gumam Naira menggeleng.
Lalu mendekati Rifky yang terbaring di ranjang itu dan sedikit menyibak selimut yang menutupi suaminya.
"Mas, bangun!" panggil Naira dengan nada pelan. Dia menggoyangkan tubuh kekar Rifky dan menepuk pelan pipi dengan mata terpejam itu.
"Hmm, apaan, sih? Bentar lagi," jawab Rifky dan menarik kembali selimut yang disibak Naira.
Mumpung hari libur dan tak ada kerjaan. Sedikit kesiangan juga tidak apa-apa.
"Massss ... udah pagi!" Naira meninggikan sedikit oktafnya dan duduk di bibir ranjang sambil menatap wajah Rifky.
"Nanti, Sayang. Mas masih kedinginan," ujar Rifky yang membuka sedikit matanya.
"Kedinginan? Biasanya nggak pernah!" gumam Naira. Dia menyentuh kening Rifky menggunakan punggung tangannya dan ... tidak merasakan dingin sedikitpun. Normal-normal saja!
'Hemm, ada cara jitu!' batin Naira, dan menganguk-angguk sembari tersenyum jahil.
Dia beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu di dalam meja riasnya. Mengendap-ngendap mendekati Rifky lalu menyingkap perlahan selimut yang menutupi setengah wajah suaminya itu.
Naira membuka tutup liptint yang dipegangnya dan mengoles pelan bibir Rifky tanpa Rifky sadari.
"Huwaa merah ...." Naira sedikit berteriak geli.
"Kenapa, sih?" tanya Rifky yang melihat Naira tertawa sendiri. Ada rasa aneh saat dia tak sengaja menjilat bibirnya. Perpaduan rasa antara manis dan pahit-pahit sedikit.
"Nggak ada," jawab Naira menggeleng dan menyembunyikan liptint di balik punggungnya.
"Jangan bohong!" Rifky melotot saat melihat Naira mengulum senyum.
Kemudian mengusap bibirnya dan timbul tanda merah yang menempel di tangannya. Matanya membola sempurna saat mengetahui itu. Ternyata Naira memberinya pemerah bibir. Huh! Istri nakal!
Naira segera berlari ke luar saat Rifky menatapnya, secepat mungkin Rifky meraih pergelangan tangan istrinya dan membawanya kembali ke atas ranjang.
"Bisa jahil juga kamu!" geram Rifky dan menindih tubuh Naira yang sudah ia baringkan.
"Rasain!" ujarnya menyeringai, lalu mencium pipi tembem milik istrinya.
"Ampun, Mas, haha." Naira tertawa sembari menghindari perseturuan Rifky yang menghujaminya dengan ciuman.
Rifky memegang tangan Naira dan meletakkannya di sisi kepalanya. Sangat erat! Sampai Naira tak dapat melepaskan diri.
__ADS_1
Rifky kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Naira. Kini, pipi mulus nan putih itu telah penuh oleh tanda merah yang membentuk sebuah gambar bibir. Tak berlainan bibir Rifky.
"Ampun, Mas. Aku minta maaf," ucap Naira menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu harus bersihin bibir aku!" titah Rifky menatap Naira kesal.
"Iya-iya, aku bersihin," jawab Naira sambil tertawa. Lalu mengelap bibir suaminya menggunakan tisu.
"Makanya jangan bangun kesiangan!" ujar Naira yang terus menahan tawa. Sepertinya sangat lucu melihat Rifky kesal dengan bibir merahnya.
"Udah!" Naira membereskan bekas tisu. Saat dia hendak beranjak, tiba-tiba Rifky menarik tangannya membuat Naira terjatuh. Alhasil, Naira duduk di pangkuannya.
"Kenapa lagi, Mas? Aku, 'kan udah tanggung jawab." Naira menatap mata Rifky yang tak lepas menatapnya.
"Tadi bibirnya ketinggalan," ucap Rifky dan memeluk tubuh kecil Naira agar tidak lari.
Rifky mencium bibir Naira dan sedikit bermain di sana. Naira diam saja tanpa berontak, bahkan dia ikut membalas perlakuan suaminya itu.
"Udah, Mas! Aku mau bersihin pipi aku. Udah merah semua karena ulahmu," ucap Naira dengan bibir mengerucut.
"Yang mulai duluan, siapa?" tanya Rifky tersenyum simpul.
"Ya, aku! Abis, Mas, nggak mau bangun!" ketus Naira menatap mata Rifky.
"Udah turun, katanya mau bersih-bersih. Mas, juga mau mandi lagi." Rifky menurunkan Naira dari pangkuannya dan membiarkan Naira pergi untuk mencuci mukanya.
***
Rifky menuruni anak tangga dengan tampang segar yang tertampil di wajah tampannya. Dia sudah berpenampilan rapi dan sempurna dengan baju putih polos yang sangat pas di tubuh elitnya.
"Yuk, sarapan!" ajak Naira menggandeng tangan Rifky untuk menuju meja makan.
Di sana telah tersaji berbagai macam masakan yang lebih dari cukup untuk mereka santap.
"Bi Ira, makan juga bareng kita," ajak Naira pada Bi Ira yang baru selesai menyiapkan peralatan makan untuk majikannya.
"Nggak usah, Neng. Nanti aja Bibi makannya, nggak enak atuh," ujar Bi Ira tersenyum.
"Nggak papa, Bi. Ayo makan!" Rifky ikut menimpali perbincangan Naira dan Bi Ira.
"Iya, kalian makan aja sekarang. Bibi mau beres-beres dulu," pamit Bi Ira dan meninggalkan mereka.
"Beres-beres mulu, emang nggak capek?" imbuh Naira saat Bi Ira tak terlihat lagi.
"Udah, makan aja! Jangan bertele-tele!" Rifky memperingatkan dan mengunyah makananya.
Naira kembali tersenyum dan mengambil segelas air putih untuk Rifky. Air spesial yang telah dia siapkan sejak tadi.
"Nih, minumnya!" Naira menyerahkan gelas itu pada Rifky dan langsung diterima oleh sang empu.
__ADS_1
Rifky langsung meminumnya, dan ....
Buarrr!
Dia mengeluarkan kembali air yang sudah masuk ke mulutnya. Sedangkan Naira terkekeh pelan menyaksikan hal itu.
"Kenapa airnya asin?" tanya Rifky mengganti gelas minumnya dan meminum air yang lain untuk menghilangkan rasa tak sedap di mulutnya.
"Nggak tahu, mungkin lidah Mas, udah bermasalah!" jawab Naira santai dan kembali menikmati makannanya. Kerap dia memalingkan wajahnya sambil menahan tawa.
Rifky yang mengerti itu, langsung menatap Naira kesal.
Sedangkan yang merasa di tatap langsung nyengir kuda tak jelas.
"Rupanya kamu benar-benar ingin dihukum!" ujar Rifky menghentikan kegiatan makannya sebentar.
"Kenapa, sih? Emang aku salah?" ketus Naira menatap balik Rifky yang masih menatapnya.
"Liat aja nanti malam, aku bikin kamu nangis!" Rifky tersenyum devil dan kembali fokus ke piringnya.
Sentak Naira menghentikan aktivitas makannya dan meneguk kasar air putih. Lalu menatap Rifky yang sama sekali tak melihatnya lagi.
"Mas ... kok gitu, sih? Aku cuma iseng aja, tadi," lirih Naira yang hampir menangis.
"Bodo!" timpal Rifky acuh.
"Jangan lah, Mas ...," rengek Naira dengan mata berkaca-kaca.
Dia takut kalau Rifky benar-benar melakukannya nanti.
"Hahaha, baru juga dibilangin, belum dilakuin. Udah nangis aja," ejek Rifky melihat Naira yang sudah menguncupkan bibirnya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
"Habisin makanannya sekarang!" Rifky mengelus kepala Naira dan tersenyum sekilas pada istrinya itu.
"Tapi, jangan apa-apain aku ...." pinta Naira.
"Iya ... cepat makan!" Rifky membujuk Naira dengan senyungging senyum. Mungkin Naira menanggapi perkataannya tadi dengan serius, sampai-sampai ketakutan begitu. Naira ... Naira!
Kedua insan yang sudah menjadi suami istri itu melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda. Dalam keheningan, sesekali Rifky tersenyum kilas saat mendapati Naira yang kian menunduk. Ada rasa lucu yang muncul di fikirannya, tapi ada juga rasa kasihan.
Hahaha, biarlah! Hitung-hitung untuk membalas kejahilan Naira terhadapnya tadi!
.
.
.
TBC.
__ADS_1