
Pagi ini, selepas dari sarapan Naira membantu Bi Ira beres-beres rumah meski yang dapat dia kerjakan hanya hal-hal ringan. Sementara Rifky kembali ke lantai atas dan berdiam di ruang kerja, duduk di depan laptop sembari jari-jari tangannya menari lincah di atas keyboard.
Rifky memang memutuskan untuk mengecek tugas kantornya melalui email, mungkin laki-laki itu akan cuti selama beberapa hari mengingat kondisi istrinya yang perlu dijaga.
Satu jam lebih Rifky berada di ruangannya, sampai Naira yang menunggu di ruang tamu menjadi gelisah dan akhirnya menghampiri.
"Mas? Boleh masuk?" Naira menyingitkan tubuhnya di balik pintu yang sedikit terbuka.
"Sayang? Sini!" panggil Rifky tersenyum. Rifky memutar kursinya hingga berhadapan dengan Naira, meninggalkan sebentar pekerjaan dan menarik Naira untuk duduk di pangkuannya.
"Susah, ya?" Rifky mengatur posisi duduk Naira, tersenyum kecil sambil mengamati tiap inci wajah istrinya itu.
"Masih banyak, ya, Mas, kerjaan kamu?" Naira bertanya setengah merengek, menampilkan ekspresi manja pada Rifky.
"Enggak, Sayang. Bentar lagi selesai, kok," balas Rifky lembut. Tentunya ia tahu apa yang harus dilakukan jika Naira bersikap seperti itu.
Naira mencium sekilas pipi Rifky, lantas bergerak turun dari pangkuan suaminya itu. "Selesaikan dulu kerjanya, Mas. Aku duduk di sana aja."
Rifky mengangguk kecil, menatap Naira yang duduk perlahan di atas sofa dengan senyuman. Wajah istrinya itu terlihat lelah, juga hembusan nafasnya begitu terlihat. Rifky mengalihkan tatapannya ke perut besar Naira, hanya mampu berharap semoga istri dan bayinya itu sehat-sehat saja.
"Mas?"
"Hm? Kenapa?" Rifky tersadar, menatap mata indah Naira yang melihatnya sambil mengulum senyum.
Rifky terkekeh sebentar, dia sudah tahu jika Naira tengah menggodanya karena terlalu serius memperhatikan. Lelaki itu kembali ke layar laptop, fokus pada pekerjaannya, tapi tidak melupakan Naira yang ada di sisinya.
Puluhan menit Rifky terdiam, kemudian terdengar helaan nafas lega diiringi layar laptop yang tertutup.
"Udah, Mas?" tanya Naira mengangkat alis.
"Udah. Ayo keluar!" ajak Rifky tersenyum. Naira memukul pelan karena Rifky menarik hidungnya.
Tangan mereka bertaut lembut saat menjejakkan kaki di anak tangga, hingga Rifky menyadari kalau kuku-kuku istrinya itu sudah mulai memanjang.
__ADS_1
"Udah panjang lagi kukunya. Potong dulu, ya?" Rifky mengamati dan menyentuh jari-jari Naira. Mengambil jepit kuku di laci meja dan mengajak Naira ke teras rumah. Di sana lebih menyenangkan jika ingin memandang leluasa.
"Jangan terlalu pendek, ya, Mas. Nggak enak liatnya," ucap Naira mengerucutkan bibir.
"Iya ... Mas tau, kok," balas Rifky yang masih fokus pada kuku Naira. Terkadang lelaki itu meniup tangan istrinya untuk menghindari rasa sakit.
Naira bernyanyi kecil sambil mengamati wajah Rifky. Tangan kanannya menyentuh helai-helai rambut pekat milik suaminya itu dan meniup-niup pelan.
"Udah. Kakinya coba liat!" Naira menggeser tubuhnya lebih jauh, lalu mengangkat kedua kaki ke atas pangkuan Rifky.
Tawaan kecil keluar dari bibir Naira saat Rifky menyentuh pelan kakinya. Bahkan suaminya itu menatapnya karena kesal.
"Kakinya didiemin, Sayang. Gimana mau motong kukunya?" ucap Rifky lembut.
"Geli!" jawab Naira singkat.
"Geli? Mau digelitikin?"
Sesaat Rifky ikut tertawa, kemudian mendiamkan kaki Naira lagi agar dapat membersihkan kuku panjangnya. Dengan hati-hati tangan Rifky mengelap kaki Naira, hingga jari-jari kecil istrinya itu tampak bersih dan rapi.
Keduanya juga mencuci tangan bersama sambil berpelukan, layaknya anak kecil yang senang bermain dengan air. Naira terkekeh, mencipratkan sisa air di tangannya pada Rifky.
"Udah, kamu kenapa suka jahil, sih? Basah."
"Hahaha ... sini, Mas!"
Bukannya berhenti, Naira malah menangkup wajah Rifky dengan tangannya, membuat pipi lelaki itu penuh oleh air.
"Udah, ah. Nggak enak!" Rifky mengelap pipinya sambil menatap sebal Naira yang terkekeh.
"Kamu lebih ganteng sama rambut berantakan, Mas." Naira masih terkekeh. Berjinjit sedikit dan mendaratkan kecupan di kedua pipi Rifky.
"Modus kamu, ya?" goda Rifky menggerling.
__ADS_1
"Apaan, sih. Haha--akh! Ma--mas?" Naira sentak memegangi perutnya.
"Sayang? Kenapa?" tanya Rifky panik, langsung menangkap tubuh Naira yang perlahan terduduk.
"Sa--sakit banget, Mas ...." Naira berteriak parau, menambah raut kepanikan di wajah tampan Rifky.
"Naira?!"
"Ada apa--astaghfirullah! Neng Naira?!" Bi Ira langsung berlari ke arah mereka.
"Bibi! Apa Naira---"
"Cepat bawa ke rumah sakit! Mungkin sudah waktunya!" perintah Bi Ira setengah panik.
"Iya, Bi. Bibi ikut, ya?"
"Ma--mass ... perih ...." Naira menangis dalam gendongan Rifky, merintih pelan dan terus memegangi perutnya.
"Sabar, ya, Sayang? Kita ke rumah sakit sekarang!"
Rifky meletakkan Naira di dalam mobil yang dibuka oleh Bi Ira. Meski keadaannya genting, tapi mereka masih harus berhati-hati terhadap Naira.
"Ini kuncinya, Den. Ayo!" Bi Ira ikut masuk setelah menutup pintu. Wanita itu duduk di belakang mendampingi Naira yang terus merintih.
"Sakit ... Bi ...," adu Naira lirih.
"Sabar, ya, Neng? Bentar lagi kita sampai." Bi Ira menenangkan, mengelus pelan kepala Naira yang penuh keringat. Wanita paruh baya itu juga terlihat panik atas kejadian yang berlangsung tiba-tiba ini. Padahal tadi Naira masih tertawa bersamanya.
"Ayo, Bi!" Rifky turun tergesa-gesa, membuka pintu mobil dan menyambut tubuh istrinya.
Mereka dibantu para suster setelah tiba di dalam, mendorong brankar dengan cepat di mana Naira meraung-raung di atasnya.
Rifky menyeka keringat, menghela nafas sejenak sebelum menghubungi orang tua mereka agar datang ke rumah sakit. Hari ini, Naira mungkin akan melahirkan bayinya.
__ADS_1