Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 48


__ADS_3

Pagi ini Naira berkutat dengan alat dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Berkat bimbingan dari Bi Ira, Naira sudah terbiasa dan terlihat lincah dalam memasak. Bahkan masakannya menjadi makanan favorit bagi Rifky.


Namun, dia juga tidak boleh terlalu berlelah-lelah mengingat kondisinya sekarang yang sedang hamil muda.


"Mas Rifky! Udah belum?!" panggil Naira sembari menjejakan kakinya di anak tangga. Meskipun dia memang hendak menuju kamar, tapi dia lebih suka teriak-teriak.


Ceklek!


"Udah belum?" tanya Naira menghampiri Rifky.


"Sedikit lagi ... kamu itu jangan teriak-teriak kenapa?" jawab Rifky menatap Naira.


Naira hanya nyengir kuda menanggapi perkataan suaminya. Tanpa menunggu suruhan, Naira segera memasangkan dasi Rifky dan merapikan kemeja yang sengaja Rifky kusutkan. Padahal tadi sudah terlihat rapi, ingin membuatnya kesal saja! Dasar!


"Mas, aku boleh ketemu sama Kiki, nggak? Soalnya hari ini dia berangkat ke Singapura," ucap Naira meminta izin.


"Kapan?" tanya Rifky.


"Dia berangkatnya siang. Tapi belum tau jam berapa." Rifky terdiam mendengar jawaban Naira. Mereka terus berjalan untuk menuju dapur.


"Boleh, ya, Mas ...?" rengek Naira dengan bibir mengerucut.


Rifky menghentikan langkahnya dan menatap Naira yang bergelayut di tangan kirinya. Mata istrinya itu terlihat berkaca-kaca sambil menatapnya penuh harap.


"Mas belum nentuin boleh apa enggaknya. Kenapa kamu nangis?" Rifky terkekeh dan mengelus kepala Naira.


"Abis lama banget jawabnya," balas Naira berkilah. Naira menghempaskan tangan Rifky dan memalingkan wajahnya sebal.


"Ayo sarapan!"


"Ih ... boleh apa enggak ...?" Naira menghentak-hentakan kakinya sambil menangis. Rifky terpaksa menghentikan langkahnya kembali dan berbalik menatap Naira.


"Kalau enggak?" canda Rifky. Namun, wajahnya terlihat serius.


"Ya udah, aku ngambek!" sungut Naira menatap sebal Rifky.


"Kamu gimana, sih? Minta izin tapi maksa buat diizinin." Rifky memasukkan kedua tangannya di saku celana. Laki-laki itu mendapati wajah istrinya yang tengah kesal, dan dia suka itu. Sudah lama juga dia tidak menjahili Naira.


"Udah, Mas! Kalau nggak boleh nggak papa. Tapi kamu juga nggak boleh ketemu sama teman kamu. Liat aja!"


"Hey, hey, hey!" Rifky segera menahan tangan Naira ketika istrinya itu berbalik hendak meninggalkannya. "Hahaha, gitu aja ngambek, Sayang?"


Cup!


Rifky memeluk Naira dan mengecup singkat kening istrinya itu. Sementara Naira masih setia mengerucutkan bibirnya.


"Boleh, kok, Sayang. Mas becanda aja tadi," kekeh Rifky sambil melepas pelukannya.


"Hm, beneran, ya?" Naira mendongak menatap wajah Rifky. Kedua tangannya sengaja ia lingkarkan di leher suaminya itu disertai senyuman manis.


Rifky mengangguk sebagai jawaban.


"Makasih ...."


Cup!


Naira mendaratkan kecupan mesra di bibir Rifky yang berhasil membuat sang empu kegirangan. Ini yang dia nanti-nantikan sejak tadi. Dengan menjahili Naira, dia begitu yakin akan mendapat hadiah dari istrinya. Senang sekali.


"Den! Mau sarapan apa enggak?!" teriak Bi Ira dari arah dapur. Sudah sekian lama wanita itu menunggu makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, tapi yang mau sarapan belum juga datang.


"Iya, Bi!" timpal Naira. Lalu mengajak Rifky berjalan setelah satu kecupan mendarat ulang di pipi suaminya itu.


****


Tepat ketika matahari sedang terik-teriknya memancarkan cahaya, Kiki mendapat jemputan mobil untuk segera berangkat ke Singapura. Semua sahabatnya yang sejak tadi sudah berkumpul, melepas haru kepergiannya yang mungkin akan berlangsung lama.


Gadis dengan balutan hijab syar'i itu melambaikan tangannya ketika hendak masuk ke dalam mobil. Iringan air mata juga ikut andil dalam perpisahan mereka itu. Semuanya menangis haru.


Sekali lagi. Sebelum mobil yang ia tumpangi melaju, Kiki kembali melambaikan tangannya dan tersenyum. Ketiga sahabatnya yang tertinggal saling berpelukan melepas kepergiannya diiringi tangisan yang begitu menyesakkan.


Naira, Kinta dan Sindy saling pandang. Kemudian tersenyum yang berarti do'a bagi kepergian salah satu dari mereka.

__ADS_1


Mereka mematung. Tenggelam dalam angan masing-masing untuk memungut kembali kenangan demi kenangan yang akan dirajut membentuk sebait doa kebaikan. Hari perpisahan ini, bukanlah akhir dari persahabatan mereka. Sebab semua telah terukir indah di hati masing-masing.


"Ayo masuk, Anak-anak! Udah acara nangisnya, ya?" ajak mama Kiki diiringi candaan. Meskipun demikian, air mata wanita itu tetap hadir di sela senyumnya. Melepas kepergian seorang anak bukanlah hal yang mudah baginya. Apalagi dengan waktu yang tidak singkat dan jarak yang sangat jauh.


"Eh, enggak, Tante. Kita udah mau pulang, kok," jawab Sindy tersenyum.


Mereka bertiga mendekati Mely dan bergantian memeluk wanita itu.


"Kita pulang, ya, Tante. Om?" Mereka berpamitan dan menyalami punggung tangan Mely. Lalu menunduk hormat kepada laki-laki yang ada di sampingnya yang tak lain adalah ayah dari sahabat mereka.


"Ya udah kalau gitu. Kalian hati-hati, ya?" Mely mengelus pucuk kepala mereka bergantian. Rasa sayangnya pada sahabat-sahabat Kiki, sudah sama seperti sayangnya pada Kiki.


"Iya, Tante."


"Assalamu'alikum," ucap mereka serempak.


"Wa'alaikumussalam ...."


Kinta, Sindy dan Naira pulang ke rumah menggunakan mobil Sindy. Karena hanya Sindy yang membawa kendaraan.


"Eh, gue turun di sini aja. Tadi udah SMS Mas Rifky, katanya mau jemput di sini." Naira meminta Sindy untuk menghentikan mobilnya.


"Loh? Kenapa? Sekalian gue anterin!" Sindy menghentikan mobilnya dan menatap Naira.


"Tau, nih anak. Kalau ada apa-apa gimana?" sanggah Kinta.


"Enggak, kok. Ini bukan tempat sepi," jawab Naira, "lagian kalau lo anterin gue, kelamaan mau bolak-balik," sambungnya menjelaskan.


"Lo kayak sama siapa aja, deh!" ucap Sindy tak terima.


"Udah ... gue turun, ah!"


"Terus lo nunggu di mana?!" teriak Kinta saat Naira sudah melangkah ke luar.


"Sana! Sekaligus beli rujak." Naira menunjuk tukang rujak yang sedang dikerumuni pembeli.


"Aes, rujak! Beli juga, yuk!" Sindy menelan ludahnya dan menatap Kinta untuk mengajak sahabatnya itu.


"Hahaha, mau beli juga?" Naira tertawa melihat Kinta dan Sindy ikut turun.


"Ya, sekaligus nemenin elo," jawab Kinta. Lalu memesan rujak yang dia mau.


"Habis, Neng. Ini aja sisanya," ucap bibi penjual sambil memberikan bungkusan terakhir untuk Naira.


"Yah ... Bibi ...." Kinta dan Sindy memelas bersamaan.


"Bertiga aja. Yuk!" Akhirnya Kinta dan Sindy ikut menyantap rujak Naira. Sebab mereka juga ingin sekali makan rujak, tapi sudah keburu habis.


"Weh! Asem banget!" Sindy memicingkan sebelah matanya saat rasa asam dan ngilu menusuk giginya.


"Enggak, kok. Enak!" balas Naira santai. Dia tetap setia mengunyah buah-buahan yang telah masuk ke mulutnya.


"Gila, lo! Tahan banget. Lagi ngidam apa?" tanya Kinta heran.


"Iya. Emang anak gue mau makan buah terus!"


"Hah!?" Kinta dan Sindy berteriak bersama. Untung tempat mereka duduk agak jauh dengan yang lain.


"Maksud, lo? Anak?" tanya Sindy menyelidik.


Naira yang masih mengunyah pun mengangkat kepalanya dan menatap kedua sahabatnya yang tampak serius.


Dia tersadar dengan apa yang dia ucapkan barusan.


"Eh--enggak papa, kok. Becanda, hehe." Naira menampakkan deretan giginya dan kembali menikmati rujaknya. Dia belum sanggup mengatakan kehamilannya pada Kinta dan Sindy.


"Huh!" Kinta menatap sebal Naira sambil terus memasukkan setiap irisan buah ke mulutnya. Katanya saja asam, tapi lidahnya tetap ingin.


Naira hanya tersenyum menanggapinya. Lalu berpaling saat netranya terasa menghangat. Entah kenapa, dia merasa sedih sekarang. Hamil di usianya yang masih muda, bukanlah sesuatu yang mudah baginya.


Tit! Tit ...!

__ADS_1


Naira tersadar mendengar klakson mobil Rifky yang telah berhenti di depan mereka. Terlihat Rifky turun dari mobil dan mendekat.


Naira segera memberikan rujaknya pada Kinta karena takut ketahuan Rifky. Padahal Rifky sudah melihat kalau dia tadi sedang makan rujak.


"Mas!" Naira menghampiri Rifky dan mencium lembut punggung tangan suaminya.


"Udah lama, ya nunggunya?" Rifky tersenyum sambil mengelus kepala Naira. Sedangkan Kinta dan Sindy hanya saling pandang dan tersenyum geli menyaksikan sahabatnya itu.


"Pamitan dulu!" Rifky menunjuk kedua sahabat Naira untuk menyuruh Naira pamit. Yang pasti Naira akan melakukan hal itu meskipun tidak disuruh.


"Sin! Kinta! Gue pulang, ya?" pamit Naira.


"Iya. Hati-hati, Ra?" balas keduanya tersenyum. Naira mengangguk dan segera masuk ke mobil yang dibukakan oleh Rifky. Tak lama kemudian, mobil mereka melaju meninggalkan tempat tersebut.


"Ini apa, Mas?" Naira mengangkat kantong plastik berwarna putih yang ada di dashboard.


"Itu susu, buat kamu," jawab Rifky menoleh Naira sebentar. Naira hanya mengangguk dan meletakkan kembali plastiknya.


Dia kembali termenung. Pikirannya mulai menembus ke mana-mana.


"Pulang dari ngaji, kita langsung ke rumah Mama, ya. Mama belum dikasih tahu tentang kehamilan kamu, 'kan?" ucap Rifky yang terus fokus pada jalanan.


Menyadari tak ada jawaban dari Naira, Rifky melihat ke arah istrinya yang ternyata sedang menangis. Matanya terus tertuju pada jalanan tanpa berkedip sekalipun.


"Naira ...," panggil Rifky dan memelankan laju mobilnya.


Naira menoleh sembari menghapus kasar air matanya. "Iya, Mas?" jawabnya ragu. Bagaimana ini? Rifky mengetahui kalau dia sedang menangis.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada masalah?" tanya Rifky lembut.


Naira yang mendengar suara lembut itu tidak mampu menahan air matanya. Dia membuang pandangannya dan kembali terisak. Bahkan semakin terdengar.


Rifky segera meminggirkan dan menghentikan mobilnya. Kemudian merengkuh tubuh istrinya itu dengan lembut.


"Kamu kenapa?" tanya Rifky pelan.


Naira mendongak menatapnya. Lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rifky sembari meremas jas yang dikenakan suaminya itu.


"Maaf, Mas ... maafin ... a--aku ...." Naira tersedu sedan menumpahkan semua perasaannya dalam pelukan Rifky. Air matanya terus membanjiri baju Rifky dengan cengkraman yang semakin kuat pada jas laki-laki itu. Tubuhnya yang masih direngkuh oleh Rifky terasa berguncang dan gemetar.


Rifky sendiri semakin mengeratkan pelukannya meskipun masih dibuat bingung. Ada apa dengan istrinya?


"Sayang ... kamu kenapa?" Rifky melonggarkan pelukannya dan menghapus lembut air mata Naira. Tangannya menangkup pelan kedua pipi Naira yang telah basah itu.


"Sebenarnya ... sebenarnya ... aku nggak siap dengan semua ini, Mas. A--aku, aku ...." Naira tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya tercekat menahan kesesakan.


"Shut, shut, shut! Sayang ... udah." Rifky mengelus punggung Naira untuk menenangkannya. Kemudian mengecup kedua kelopak mata yang telah sembab itu.


"Kamu dengerin Mas, ya? Kamu nggak boleh merasa rapuh. Ini takdir kita, kita harus menjalani dengan ikhlas ... ini bukanlah suatu ujian, Sayang. Tapi takdir baik untuk kita. Harusnya kita banyak bersyukur .... Kamu jangan sedih lagi, ya? Mas janji akan selalu jagain kamu. Selagi hayat masih dikandung badan, Mas nggak akan pernah ninggalin kamu. Mas akan selalu bahagiakan kamu, karena kebahagianmu telah menjadi tanggung jawab Mas." Rifky kembali merengkuh Naira yang terdiam mendengar penuturannya. Mata laki-laki itu ikut basah mengiringi suasana siang ini.


Suara bising dari kendaraan yang berlalu lalang tidaklah terdengar lagi. Semuanya seakan tercekat dalam alunan kata cintanya.


Cup!


"Maaf, Mas ...." Naira spontan mencium pipi Rifky sembari menghapus air mata suaminya itu. Dia menyesal telah mengatakan semuanya.


"Nggak papa, Sayang. Kita jalan, ya?" Rifky menghidupkan kembali mesin mobil dan membelah jalanan tanpa melepaskan rengkuhannya. Sesekali dia mengecup mesra kepala Naira yang bersandar di dada bidang miliknya.


Dengan ini, Rifky berjanji untuk selalu membahagiakan Naira dengan segenap jiwa raganya. Ini janjinya, janji kepada Sang Khalik yang telah mempersatukan cinta mereka.


.


.


.


TBC.


Haduh ... agak sedih, ya? 😅


Minta komennya, dong. Semangatin aku 😊

__ADS_1


__ADS_2