
Suara tangis Azka menggema di gendang telinga Rifky. Lelaki itu menggendong anaknya sambil mengayun-akunkannya dengan pelan. Bayi itu terdiam sejenak, lalu kembali menangis.
"Shut-shut-shut. Sayang ... jangan nangis, dong. Sabar, ya. Tunggu Mama bentar," ucap Rifky membujuk. Namun, Azka tetap saja menangis kencang.
"Hay, Sayang! Kenapa, hm? Sini sama Mama!" Naira datang tergesa-gesa dari dapur, meraih tubuh mungil bayinya yang seketika itu langsung terdiam. Rupanya Azka memang haus dan ingin menyusu.
Naira tersenyum menatap Rifky, kemudian duduk di sisi ranjang. Keadaannya memang sudah membaik setelah tiga minggu dari melahirkan, tapi tubuh Azka cukuplah berat jika dibawa berdiri terus-menerus.
"Sayang?" Rifky mendekat, mengelus lembut kepala Naira sambil tersenyum.
"Kenapa, Mas?" tanya Naira dengan alis terangkat, tapi Rifky tidak menjawab, melainkan memeluk mereka berdua.
Tangan kekar laki-laki itu merapikan anak rambut di kening Naira, mengecupnya dengan sangat pelan sebagai ungkapan rasa sayangnya.
"Makasih, ya, Sayang? Kamu udah jadi istri dan ibu yang baik," ungkap Rifky kemudian.
"Iya, Mas," balas Naira tersenyum. Rifky kembali memeluknya, dan sedetik kemudian, Azka menangis lagi.
"Shut-shut-shut. Sayang? Mau diayun, ya?" Naira menepuk-nepuk pelan tubuh Azka, berdiri dan mengayunkannya dengan alunan-alunan merdu.
"Azka suka jahil, ya? Belum juga Mama sama Papa mesra-mesraan, udah nangis. Cembulu, ya sama Papa ...?" Rifky tertawa, membungkuk sedikit untuk menoel hidung kecil bayinya itu.
"Mau goda anaknya apa mamanya, nih?" kata Naira menyindir. Sentak Rifky tertawa renyah dan menarik hidung Naira.
Sesaat kemudian terdengar bel rumah berbunyi. Mereka yang tadinya tertawa, langsung terdiam dan saling pandang.
"Siapa, ya?" tanya Rifky mengernyit. Lalu terdengar Bi Ira memanggil mereka.
Rifky dan Naira ke luar kamar, menatap Bi Ira yang menampilkan senyum terbaik.
"Siapa, Bi?" tanya Naira.
"Tamunya Neng Naira."
Naira menautkan alis dan menatap Rifky. Kemudian memberikan Azka pada suaminya itu. Keduanya menuruni anak tangga untuk menuju pintu, pagi-pagi begini siapa yang bertamu?
"Siapa---"
"Bwha! Hahaha." Tiga orang gadis yang tadi membelakanginya segera berbalik.
"Kiki?! Kamu udah pulang?!" Naira terkejut sekaligus senang, matanya langsung berkaca-kaca saat sahabat yang dia rindukan itu melentangkan kedua tangan untuk memeluknya.
"Apa kabar, Sayang? Kangen banget, tau?" sungut Kiki cemberut.
"Sayang-sayang! Kita berdua ini dianggap apa?!" Kinta berbicara dengan nada khasnya, sembari kedua tangan menunjuk dirinya dan Sindy bergantian.
"Sayang juga," balas Naira terkekeh. Kinta sempat memutar bola mata sebelum Naira berhambur memeluknya. Begitu pun Sindy. Empat sahabat itu akhirnya kembali berkumpul sekarang.
"Ajak masuk temennya, Naira!" Rifky memanggil dari dalam.
"Ayo masuk! Mau liat Azka, 'kan?" ajak Naira antusias. Ketiga sahabatnya itu masuk beriring-iringan setelah mengucap salam.
Mereka menyapa Rifky dan duduk di sofa, memberikan oleh-oleh kecil untuk bayi mungil yang mereka kunjungi.
"Ya Allah, imut banget, Ra. Buat aku aja, ya?" Kiki terkekeh, mencium beberapa kali pipi Azka yang sekarang ada dalam gendongannya.
"Kita juga mau cium, dong. Jangan diborong!" Sindy dan Kinta ikut merapat, sementara Rifky hanya menggeleng dan mengulum senyum. Sepertinya mereka melupakan keberadaannya di sana.
__ADS_1
"Azka sama siapa sekarang?" Naira bertanya pada anaknya.
"Sama tantenya yang paling cantik!" ujar Kinta mewakili. Sontak membuat semuanya tertawa sekaligus malu. Bagaimana bisa Kinta bicara begitu di depan Rifky?
"Eh?!" Gadis itu langsung menutup mulut saat menoleh pada Rifky, yang lain masih menertawakannya. Untunglah suara tangis Azka membuyarkan kejadian itu.
"Kalian ngobrol aja, ya? Mas ke atas dulu," pamit Rifky kemudian, merasa tak enak hati jika dia ada di antara sahabat-sahabat Naira. Apalagi mereka baru saja bersua, tentunya ingin sedikit kebebasan dalam mengobrol.
"Iya, Mas," jawab Naira tersenyum. Mereka kembali berceloteh saat punggung Rifky hilang di kelokan tangga.
"Gimana kuliah kamu di sana, Ki?" tanya Naira pada Kiki.
"Nggak gimana-gimana. Alhamdulillah lancar, kok," jawab Kiki.
"Kamu pulangnya kapan? Kok nggak ngasih tau aku?" Naira merengut, biasanya mereka akan memberi tahu jika ada sesuatu.
"Hahaha, sengaja, Ra. Biar kamu terkejut gitu. Oh, ya. Aku pulang karena kamu, loh. Mau liat keluarga kecil kalian," ucap Kiki dengan mata menggerling.
"Oum ... so sweet ...." Naira memeluknya, hingga tubuh keduanya bergerak kiri-kanan sambil terkekeh bersama. Berbeda dengan Sindy dan Kinta, kedua gadis itu saling pandang dan menatap jengah.
"Kenapa kalian?" tanya Kiki jahil.
"Nggak papa, kok. Terusin aja," jawab Sindy berlagak sopan. Naira dan Kiki kembali terkekeh melihat mereka.
"Dia tidur, Ra? Gimana?" Kinta menatap Naira, lalu beralih pada Azka yang dia gendong.
"Ya ditidurin. Masa dibangunin?"
"Gue tau, Markonah. Cuma gimana caranya? Ntar kalau bangun?" Kinta menatap Sindy sengit.
"Ah, kalian ini. Sini aku tidurin!" Naira mengibaskan tangannya di udara, perlahan mengambil alih Azka dari Kinta.
Melihat Naira yang mengecup kening Azka, Kinta dan Sindy juga ikut-ikutan, kemudian disusul oleh Kiki, membuat keempatnya tertawa bersama.
Mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati makanan ringan. Tak jarang ketiga sahabatnya menanyakan tentang kehidupan berumah tangga pada Naira.
Bahkan Naira menjawab sangat bijak, dalam membangun rumah tangga itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Kita perlu melalui berbagai rintangan yang siap menghantam.
Menikah bukanlah melepaskan diri dari masalah, melainkan banyak masalah-masalah yang menunggu. Namun, hal itu dapat diselesaikan dengan baik, jika melalui hati dan pikiran yang jernih. Naira sudah merasakannya, kurang lebih satu tahun bersama Rifky, dia banyak mendapat didikan dari suaminya itu.
Keempatnya larut dalam obrolan pagi itu, terkekeh, tertawa, merengut dan bermacam-macam hal persahabatan yang mereka lakukan. Kiki, Kinta dan Sindy juga mendapat banyak pelajaran dari cerita Naira.
"Kita balik dulu, ya? Udah jam sebelas lebih, nih." Kiki melirik jam tangannya, cukup lama pertemuan mereka hari ini.
"Heum. Kalian hati-hati, ya?" Naira mengangguk. Bergantian memeluk ketiga sahabatnya.
"Sorry, ya, Ra. Kita nggak bantu beres-beres!" Kinta terkekeh, menatap bekas makanan mereka yang bergeletakan di atas meja.
"Iya, nggak papa." Naira tertawa kecil.
"Pulang, ya, Ra!" Di saat Kinta dan Kiki sudah mengarah pada pintu, Sindy sempat-sempatnya mengecup pipi Azka.
"Hati-hati, ya! Sering-sering main ke sini," ucap Naira terkekeh. Kedua tangannya melambai saat ketiga sahabatnya itu menghilang di balik pintu, lantas tersenyum dan menggeleng. Naira rasa pipi anaknya sudah habis oleh ketiga gadis yang berstatus sebagai sahabatnya itu.
***
Selepas makan siang, Rifky dan Naira mengajak Azka duduk di teras rumah, menikmati angin segar yang menerpa wajah mereka hingga cukup menyejukkan.
__ADS_1
Tak lama sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan pagar rumah. Rifky yang tadi menghibur Azka segera bangkit, menghampiri seseorang yang mengarah padanya.
"Ada apa, Pak?" tanya Rifky sopan.
"Mas Rifky, ya?"
"Iya, saya sendiri."
"Ini, Mas. Surat undang pernikahan. Tanda tangan di sini sebagai bukti penerima, ya?" Lelaki berjaket biru itu menyerahkan kertas undangan pada Rifky, kemudian menyuruhnya tanda tangan di sebuah buku.
"Udah."
"Makasih, ya, Mas?"
"Sama-sama, Pak," jawab Rifky tersenyum. Rifky menatap pengantar surat itu, kemudian berjalan ke arah Naira.
"Apa, Mas?" tanya Naira sedikit mencondongkan kepalanya.
"Undangan. Siapa yang mau nikah, ya?" Rifky membuka kertas merah itu. Sedangkan Naira setia menunggunya.
"Verry? Nia Ramadani?" gumam Rifky membaca nama yang tertera.
"Mbak Rani?"
"Alhamdulillah, ternyata mereka yang mau nikah. Tapi, kok Verry selama ini nggak pernah cerita, ya?" ucap Rifky senang.
"Mungkin aja cinta dalam diam, hahaha." Naira tertawa renyah, apalagi saat Rifky menarik hidung mancungnya dengan tatapan menggoda. Suaminya ini jahil sekali!
"Akhirnya Mbak Rani mendapatkan yang terbaik untuknya. Verry itu baik banget orangnya." Rifky menghela nafas.
"Iya, Mas. Kayak kamu, kamu baik banget," balas Naira tulus, kedua matanya tampak menyipit, menampilkan senyum manis pada Rifky.
"Bisa aja kamu! Makin cinta, deh," goda Rifky terkekeh, lalu memeluk Naira dan Azka.
Naira ikut tertawa mengiringi candaan Rifky, mereka berdua memeluk dan mencium Azka bergantian. Raut wajah bahagia makin terpancar di antara keduanya, bersama-sama mengucapkan rasa syukur atas kehadiran buah hati mereka itu.
.
.
.
#Tamat ....
Alhamdulillah, udah ending ni cerita. Maaf kalau gaje, ya? 😅 Semoga kita dapat memetik banyak pelajaran dari cerita satu ini.
Silahkan sampaikan perasaan kalian di kolom komentar, apa aja yang kalian dapatkan? Senang apa enggak Author kasih cerita ini?
Bila ada kata-kata yang kurang berkenan dalam setiap partnya, saya selaku Author mohon maaf 🙃
Sampaikan kata hati kalian sebelum berpisah sama keluarga kecil ini 😊
Salam sayang dari Rifky dan Naira, dari Azka dan Author juga, hehe:)❤️
Bantu follow ig Author buat tau info cerita lainnya 😅
aleha928
__ADS_1
Terima kasih❤