
Episode 05
Naira, Kiki dan Sindy tengah berkumpul bersama di taman sekolah. Mereka berbincang-bincang sesekali tertawa ria.
"Kinta mana, ya? Kok nggak nongol-nongol dari tadi?" tanya Sindy pada Naira dan Kiki.
"Nggak tahu, biasanya jam segini dah datang," jawab Naira celingukan.
"Nah, tu die!" Kiki menunjuk seorang gadis yang hendak menghampiri mereka.
"Hai, udah cantik belum, gue?" teriak Kinta dari kejauhan menampilkan senyum manisnya.
Benar, Kinta sekarang sudah memakai hijab sama dengan para sahabatnya.
"Kinta ...!" Mereka berlari berhambur memeluk Kinta.
"Aaa ... lo cantik banget," puji Naira menoel pipi Kinta.
"Dah lama nunggu inces, ya?" ucap Kinta menaikkan alisnya sembari tersenyum geli.
"Elah, lo, penampilan doank yang beda," cibir Kiki tak suka.
"Tapi kelakuan ...," ucap mereka serentak.
"Hahaha!" mereka berempat tertawa bersama sampai-sampai menarik perhatian banyak siswa lainnya.
***
Hari ini sangat menyenangkan bagi empat sahabat itu, senyum dan tawa seakan tak pernah hilang dari wajah mereka.
Sampai waktunya pulang sekolah, mereka berpisah untuk menuju rumah masing-masing.
Naira menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, tapi tiba-tiba mobilnya macet dan tak bisa dijalankan.
"Duh, kenapa, nih?" ucap Naira yang mulai panik.
"Macet! Mana tempat sepi lagi," gumam Naira resah sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Jarak ke rumah sekarang masih membutuhkan waktu sekitar 20 menit lagi jika memakai mobil, tak mungkin jika Naira harus jalan kaki.
Naira celingukan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal berharap ada yang mau membantunya, gadis itu sangat bingung sekarang, dia duduk di pinggir jalanan yang sepi itu dan meringkuk memeluk lututnya.
Tiba-tiba seseorang mendekat ke arahnya dan duduk di samping Naira.
Naira menoleh dan tersentak kaget.
"Aaa ... tolong, ada orang gila!"
Naira berlari menjauh dari tempat itu sampai tak sadar kalau ada motor yang melintas di jalan sana.
Tit! Tit! Tit!
"Aaa ...."
Bruk!
"Aduh!" ringis Naira mengelus lututnya kesakitan.
"Kamu, nggak papa?" tanya orang yang telah menabrak Naira.
"Nggak papa gimana? Sakit tau!" ucap Naira dengan mata berkaca-kaca.
Naira memperlihatkan tangannya yang berdarah akibat goresan aspal.
Orang itu merasa iba, dan mengangkat Naira untuk kepinggiran jalan.
"Heh, turunin gue!" sentak Naira memberontak dalam gendongan pria tersebut.
"Udah, nggak usah bawel!" Pria itu mendudukkan Naira di bangku yang ada.
"Mana, gue liat!" Pria itu menarik tangan Naira dan melihat bagian yang terluka.
"Di sini nggak ada jualan obat, lo ikut gue, ya! Kita beli obat di sana," ajak pria tersebut pada Naira.
"Hah!" Naira menyipitkan sebelah matanya menatap pria itu.
"Rumah lo di mana?" tanya pria itu menatap Naira.
"Masih jauh," jawab Naira sembari meniup lukanya.
"Ya udah, gue anterin lo pulang sambil kita beli obat buat lo."
Naira hanya menurut, mobilnya ia tinggal di sana. Dia akan menyuruh seseorang untuk mengambilnya nanti.
"Naira?!" monolog seseorang dari dalam mobil yang kebetulan lewat sana.
"Ngapain, dia sama pria itu?" tanya orang itu ketika melihat Naira naik ke motor cowok tadi.
Orang tersebut segera melajukan mobilnya dari tempat itu.
***
__ADS_1
"Mana, luka lo?" Pria itu menarik tangan Naira dan segera mengoleskan obat dibagian yang terluka, Naira hanya diam tak berkutik saat lukanya diobati pria tersebut.
Mereka sekarang berada di depan toko kecil yang terdapat berbagai macam jajanan.
"Oh, ya. Nama lo, siapa?" tanya Naira pada orang itu.
"Gue? Panggil aja, Tama!" jawabnya memperkenalkan diri.
"Kalo, lo?" pria itu menatap Naira dan segera Naira membuang mukanya. Sangat tak nyaman jika tatap-tatapan.
"Naira!" balas Naira dingin.
'Cantik, sih. Tapi kok ketus amat?' Tama masih memperhatikan Naira, menatap gadis itu tanpa berkedip.
Naira segera melihat ke arah Tama dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa, lo?" sentak Naira yang membuat lamunan Tama buyar.
"Ehh, nggak papa. Ya udah, yuk! Gue anterin lo pulang!" ajak Tama pada Naira.
Naira memberi tahu alamat rumahnya dan naik ke atas motor Tama. Segera Tama menjalankan motornya dengan sangat pelan agar ia bisa berlama-lama dengan Naira.
"Lelet banget, sih!" ketus Naira yang mulai kesal.
"Ntar kalau ngebut, lo jatoh lagi," ucapnya lembut.
Dikira Naira bakalan terhipnotis gitu sama kata-katanya? Nggak, Naira itu tipe cewek yang keras, lagian belum ada satupun cowok yang berhasil menarik hatinya.
"Nggak bakalan!" timpal Naira asal.
Brum!
"Aaah!" Tama melajukan motornya tiba-tiba membuat Naira terhuyung ke depan dan memegang pundaknya.
"Hati-hati, bego!" umpat Naira kesal. Sementara Tama hanya terkekeh pelan.
"Katanya mau ngebut?" elak Tama tak merasa bersalah.
"Ngebut ya ngebut, tapi nggak usah ngegas!" ucap Naira dengan ekspresi kesal.
"Gimana ceritanya." Tama berucap pelan. Namun, bisa didengar oleh Naira.
Naira memilih diam, karena dia tak suka perdebatan.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Naira.
Naira turun dari motor dan segera masuk ke rumahnya tanpa menoleh Tama sedikitpun.
"Gak ngucapin makasih, gitu?" sindir Tama, membuat langkah Naira terhenti.
"Makasih!" ucapnya singkat dan masuk ke dalam.
"Galak banget tu cewek, tapi ... cantik juga." Tama terkekeh dan segera pergi dari sana.
"Naira! Dari mana, kamu?" tanya Herman yang sudah duduk di sofa tengah menunggu kepulangan anaknya.
"Papa? Papa udah pulang?" tanya balik Naira.
"Kenapa kamu jam segini baru pulang? Kamu tahu ini jam berapa? Ini waktunya kamu pergi ngaji!" Herman menatap Naira dengan tatapan tajam.
"Maaf, Pa," ucap Naira menunduk dan memainkan ujung jilbabnya.
"Apa hubungan kamu dengan pria itu?" tanya Herman menatap Naira penuh selidik.
Naira mendongak, dan menatap papanya heran.
"Pria mana, Pa?" balas Naira tak tahu.
"Jangan pura-pura kamu! Tadi Papa liat kamu sama dia di jalan!" sentak Herman, yang membuat Naira takut.
Ya, Herman lah yang melihat Naira bersama Tama tadi. Kebetulan dia hari ini pulang cepat dan melewati jalan itu.
"Di--dia itu ...." Naira tak tahu harus bilang apa lagi, rasa takutnya membuat dia sangat gugup.
Lagian Naira memang tak tahu cara menjelaskannya bagaimana. Papanya pasti tidak akan percaya, karena selama ini Naira tak pernah bersama pria manapun.
Orang tua Naira melarang Naira pacaran, makanya dia tak memiliki satupun cowok.
"Naira! Ini baju siapa?" tanya Marlin yang baru datang dari atas membawa beberapa baju dan celana.
'Hah! Itukan baju yang aku beli waktu itu. Gawat!' Naira menepuk jidatnya, harus menjawab apa dia sekarang?
"Jawab, Naira!" bentak Marlin pada Naira.
"A--anu, Ma ...," ucap Naira bimbang.
"Anu, apa?!"
"Kamu masih berani membantah, Naira! Kali ini Papa tidak akan tinggal diam!"
"Bi Ijah!" Herman memanggil pembantu rumahnya.
__ADS_1
"Iya, ada apa, Tuan?"
"Bakar baju itu!" perintah Herman pada Bi Ijah dan segera diangguki olehnya.
"Kamu akan segera menikah sama anak teman Papa!" ucap Herman tegas.
"Loh, Pa, kok buru-buru?" tanya Naira kaget.
"Karena kamu yang maksa Papa buat buru-buru menikahkan kamu!" Herman menatap Naira yang berdiri mematung dan mengajak Marlin pergi ke luar.
Pria itu menjalankan mobilnya menuju rumah Ustadz Hanan. Herman tidak ingin jika Naira gagal menikah dengan Rifky hanya gara-gara pria lain.
"Apa Papa yakin dengan keputusan Papa?" tanya Marlin pada suaminya.
"Ini suatu keharusan, Ma. Papa nggak mau kalau perjodohan itu gagal," jawab Herman mantap. Matanya masih tertuju ke depan karena posisinya sekarang sedang menyetir.
Marlin mengangguk tanda setuju, dia juga tak ingin Naira berhubungan dengan laki-laki lain. Sangat disayangkan jika perjodohan ini harus dibatalkan.
Di sisi lain, sekarang Naira mondar-mandir tak jelas dalam kamarnya, bagaimana ini? Papanya akan segera menyuruhnya menikah. Apa yang harus dia lakukan?
Memohon? Itu tidak mungkin! Herman tak akan menarik kembali ucapannya.
Setelah lama berfikir, Naira kelelahan dan akhirnya tertidur pulas.
***
"Neng, bangun!" panggil Bi Ijah membangunkan Naira yang masih tertidur.
"Eugh ...." Lenguhan itu keluar dari bibir Naira yang perlahan membuka matanya.
"Bi Ijah?" Naira menyingkap selimut dan mengucek-ngucek matanya.
"Bangun, Neng. Ini udah malam, Neng tertidur dari tadi sore."
"Ada apa, Bi?" tanya Naira mendudukkan dirinya.
"Neng udah di tungguin sama Tuan dan Nyonya di bawah, katanya Neng Naira siap-siap," ujar Bi Ijah pada Naira.
"Memangnya kenapa, Bi?" tanya Naira tak mengerti.
"Ada Pak Ustadz sama keluarganya datang, Neng," jawab Bi Ijah memberi tahu.
"Apa?! Pak Ustadz?" sentak Naira kaget.
"Iya, ayo cepat Neng siap-siap, udah di tungguin," ucap Bi Ijah dan keluar dari kamar Naira.
"Ada apa, sih. Apa karena aku nggak masuk ngaji hari ini?" monolog Naira.
Ia segera melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepuluh menit kemudian, Naira menuruni anak tangga untuk menemui mereka semua.
Di ruang tamu, terlihat mama dan papa Naira yang sedang berbincang dengan keluarga Ustadz Hanan, tak tahulah apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa, Pa?" tanya Naira ketika sudah berada di sana.
"Duduk, Sayang!" titah Marlin pada Naira.
Naira segera duduk di dekat mamanya.
Setelah suasananya merasa tenang, Herman memulai pembicaraannya.
"Begini, Naira. Maksud kedatangan Ustadz Hanan kesini ingin melamar kamu untuk anaknya, Rifky," ujar Herman memberitahukan kepada Naira.
"Apa, Pa? Jadi maksudnya, anak teman Papa itu Ustadz?" tanya Naira menunjuk Rifky yang duduk berhadapan dengannya.
"Iya, Naira, kita semua berniat menjodohkan kalian berdua, dan kami harap jawaban dari kamu tidak mengecewakan kami semua," sambung Ustadz Hanan menjelaskan.
Sementara yang lain mengangguk, kecuali Rifky, pria itu tertunduk ketika Naira menatapnya.
"Maaf, Pak Ustadz. Tapi ... apa ini tidak terlalu cepat?" ucap Naira pelan.
"Lebih cepat, lebih baik, Nak," balas Rasya tersenyum pada Naira.
"Iya, Sayang." Marlin memegang tangan Naira seolah berharap pada putrinya itu.
"Tapi, bagaimana dengan sekolah Naira, Ma?" tanya Naira lembut, rasanya dia ingin menangis, tapi bening embun itu harus mampu dia tahan agar tidak tumpah sekarang.
"Kamu akan tetap melanjutkan sekolah kamu, Naira," jawab Herman tersenyum pada Naira.
Naira mengangguk lesu. Ah, mengapa netranya terasa menghangat? Ingin sekali Naira menangis saat ini juga. Namun, segera ia menampilkan senyum manisnya.
"Bagaimana, Naira?" tanya Ustadz Hanan.
"Naira, nurut sama Papa dan Mama saja," jawab Naira tersenyum tipis.
Tak bisa diurungkan, karena memang Mama dan papanya menginginkan Naira menikah, maka sebagai anak Naira harus menuruti keinginan orang tuanya. Bagaimanapun juga pilihan orang tuanya pasti yang terbaik.
.
.
__ADS_1
.
TBC.