Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 02


__ADS_3

Saat Naira tiba di ruang tamu, Mama dan papanya memperhatikan Naira dari kepala sampai kaki, menatap takjub putrinya seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Memang, mereka belum pernah melihat Naira memakai baju muslimah.


"Wah. Ini beneran anak Mama?" tanya Marlin mendekati putrinya dan memutar-mutar badan Naira.


"Apaan, sih, Ma?" ucap Naira dengan nada malas.


"Kamu cantik banget, Sayang," puji Marlin pada Naira.


"Pa! Liat, nih, Naira cantik banget 'kan?" Merlin melirik ke arah suaminya.


"Iya, Ra. Ini baru anak Papa," ucap Herman tersenyum.


"Cantik, cantik apaan baju gombrang begini," ketus Naira.


"Kamu itu belum terbiasa aja, Sayang. Nanti kalau kamu udah biasa pasti kamu nyaman pakenya, ya 'kan, Pa?" ucap Marlin menyakinkan.


"Iya, Mama kamu bener," jawab Herman.


"Udah, ah. Naira pergi dulu." Naira menyudahi pembicaraan mereka, bukannya apa cuman dia malas ngomong sekarang.


Naira menyalami punggung tangan Papa dan mamanya dan berlalu pergi.


"Salamnya mana, Sayang?" tanya Herman pada putrinya dan sedikit terkekeh.


Naira membalikkan badannya kembali, ck!


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mama dan Papa," ucap Naira dengan senyuman termanisnya, sayang itu hanya terpaksa.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serentak.


Naira menuju garasi dan melajukan mobilnya ke luar gerbang.


***


"Punya orang tua nyebelin banget, sih, pake maksa segala buat pake baju kek ginian!" umpat Naira ketika dia sudah menjalankan mobilnya.


"Dasar nggak gaul!" kesal Naira.


Ahh, anak ini memang tak tahu balas budi, masa orang tua sendiri dicaci-maki.


Meskipun tidak secara lngsung, tapi tatap saja terkesan kurang ajar.


Naira sekarang menuju boutique terdekat, rencananya ingin membeli baju baru. Dia tidak ingin terus-terusan memakai baju seperti ini, mana betah dia.


Sementara Herman dan Marlin segera mengunjungi rumah Ustadz Hanan.


Selain tetangga, Ustadz Hanan juga teman Herman sejak SMA dulu. mereka berdua sangat akrab dan akur. Begitu juga dengan Marlin, dia sudah lama mengenal Ustadz Hanan dan istrinya---Rasya Komaria.


Ting tong!


"Assalamualaikum." Herman memencet bel rumah dan mengucapkan salam.


Mereka sekarang sudah sampai di rumah Ustadz Hanan yang tak terlalu jauh dengan rumah mereka itu.


"Wa'alaikumussalam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Ceklek!


"Om Herman, ayo masuk, Om," ajak seseorang yang tak lain adalah anak dari Ustadz Hanan.


"Ohh, iya. Papa kamu ada, Ky?" tanya Herman pada Rifky.

__ADS_1


"Ada, Om," jawab Rifky dan mempersilakan keduanya masuk.


Rifky Alfarezi, pemuda tampan yang memiliki hidung mancung, bibir pink alami, rambut hitam pekat, dengan tinggi badan sekitar 178 cm.


Umur Rifky sekarang menginjak 23 tahun. Dia juga seorang Ustadz muda yang mengikuti jejak ayahnya. Memiliki sifat ramah, sopan santun dan sangat baik terhadap semua orang yang dikenalnya.


Dia juga memiliki sifat belas kasih terhadap siapapun.


"Siapa, Ky?" tanya Rasya---mama Rifky.


"Om Herman, Ma," jawab Rifky.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah Rifky. Tak lupa setelah bersalaman dan mengucapkan salam kepada keluarga Ustadz Hanan.


"Bagaimana? Apa Naira mau belajar mengajinya?" tanya Ustadz Hanan.


"Ya ... mau, lah. Mau nggak mau harus mau, Han!" jawab Herman dengan nada agak bergurau.


"Haha, iya-iya. Lalu tentang perjodohan antara Rifky dan Naira, apa kamu sudah bicarakan juga?"


"Kalau masalah itu belum, Han. Mungkin nanti malam," timpal Herman.


"Kenapa? Bukankah ini sudah lama kita rencanakan?" tanya Hanan pada sahabatnya itu.


"Iya, Pak. Tapi kami belum menyampaikan semuanya pada Naira, takutnya nanti dia marah karena banyak paksaan dari kami. Mungkin kami akan menyampaikannya secara bertahap," ujar Marlin menerangkan.


Ustadz Hanan dan Rasya hanya mengangguk pelan mendengar penuturan Marlin.


"Tapi, Pa. Bagaimana kalau Naira menolak perjodohan ini, Pa? Kan nggak enak sama Naira-nya." Rifky yang tadi diam ikut bicara,


Jujur saja, ia juga keberatan menerima usulan dari orang tuanya, tapi sebagai anak dia harus berbakti dan menuruti kehendak orang tuanya.


"Kamu tenang aja, Ky. Om yang akan bicara sama Naira," jawab Herman tersenyum simpul.


Mereka semua asik dengan obrolan, kecuali Rifky yang sudah sejak tadi pergi ke kamarnya.


Sampai matahari sudah mulai condong ke barat, Herman dan Marlin izin pamit pulang.


Sementara Naira masih asik menikmati angin sore dan berjalan-jalan tak jelas lagi arahnya.


Sebenarnya ia malas pulang ke rumah, tapi kalau tidak pulang sekarang, pasti dia akan kena marah lagi.


***


Siang telah berganti menjadi malam, kini Naira sedang asik memainkan handphonenya di kamar.


Entah apalah yang dia buka di benda pipih itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.50 WIB. Naira menuruni anak tangga untuk menuju dapur, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat lapar.


"Naira, kamu belum tidur, Sayang?" Marlin melihat kearah Naira.


"Belum, Ma," jawab Naira sembari berjalan kedapur untuk melangsungkan niatnya.


Herman dan Marlin dari tadi memang menunggu Naira turun, ada sesuatu yang harus mereka bicarakan pada Naira.


Mereka menunggu Naira kembali dari dapur, menit berikutnya, terlihat Naira berjalan hendak ke kamarnya kembali.


Saat Naira ingin melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, tiba-tiba papanya memanggil.


"Naira, kemari sebentar, Nak!" panggil Herman.

__ADS_1


Naira hanya menurut dan duduk di sofa sebelah mamanya.


"Ada apa, Pa?" tanya Naira. Dia menggaruk-garuk rambutnya dan sesekali mengusap matanya, sepertinya Naira sudah mengantuk.


"Ada sesuatu yang harus Papa sampaikan sama kamu," ucap Herman memulai pembicaraan.


Naira hanya mengangguk tanpa melihat kearah papanya.


"Kami sudah menjodohkan kamu sama anak teman Papa," ujar Herman pada Naira yang masih menunduk.


Seketika kepala Naira terangkat, matanya yang mengantuk kini telah terbuka lebar-lebar.


"Apa, Pa?!" tanya Naira kaget, "dijodohkan?" sambung Naira sembari menyipitkan mata seolah meminta penjelasan dari rasa kebingungannya.


"Iya, kenapa?"


"Papa ini kenapa, sih? Main jodoh-jodohkan Naira segala, Naira nggak mau, Pa. Naira masih mau sekolah!" timpal Naira dengan muka sebal.


"Emangnya siapa yang suruh kamu berhenti sekolah? Lagian Papa belum selesai bicara," balas Herman.


Ck!


Naira hanya berdecak menanggapi perkataan papanya. Apa-apaan papanya ini?


"Kamu akan tetap sekolah seperti biasa, lagian tinggal beberapa bulan lagi kamu lulus, Sayang," ucap mama Naira lembut.


Marlin sesekali mengusap bahu Naira yang terlihat kesal atas permintaan mereka.


"Iya, ini sudah menjadi kesepakatan Papa sama teman Papa, tak enak jika diurungkan," kata Herman meneruskan.


"Ngapain juga Papa sama teman Papa bikin kesepakatan ini, dan ngapain juga Papa sama Mama menerima?" kesal Naira pada Papa dan mamanya.


"Sudahlah, Naira. Ini permintaan Papa sama kamu, tolong kamu penuhi keinginan Papa, ya, Nak ...," ujar Herman lembut.


Naira hanya diam, mendengar penuturan papanya dia menjadi tak tega jika harus menolak.


"Lagian anak teman Papa itu ganteng, kok. Sholeh lagi." Herman tersenyum manis pada putrinya.


"Bukan masalah ganteng atau nggaknya, Pa. Tapi, kan, Naira nggak kenal sama dia."


"Masalah kenal atau nggak kenal, kan, kalian bisa kenalan nantinya, Sayang," lanjut Herman meyakinkan Naira.


Herman dan Marlin memang menginginkan Naira menikah dengan Rifky, selain sholeh Rifky juga sudah dewasa, jadi pemuda itu pasti mampu mendidik putri mereka.


"Terserah Papa sama Mama," ketus Naira. Dia sangat malas sekali berdebat sekarang, apa lagi tentang keinginan orang tuanya itu. Lagian dapat dipastikan Naira bakal kalah kalau sama papanya.


Mama sama papanya memang egois, tapi di balik ke egoisan itu ada rasa sayang yang mendalam mereka terhadap Naira.


Semua ini mereka lakukan agar Naira memperoleh pendamping yang mampu membimbingnya ke jalan yang benar. Herman dan Marlin tidak mau jika putrinya harus terjerembab ke jurang yang kelam. Ya, orang tua manapun juga pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan orang tua Naira.


"Ya sudah, kita bicarakan ini lagi lain kali saja, kamu tidur sekarang! Ini udah malam," titah Marlin pada Naira.


Naira hanya menurut dan berjalan menuju kamarnya.


Herman dan Marlin saling pandang dan melempar senyum, mereka bersyukur memiliki anak seperti Naira. Meskipun Naira anak yang bandel, tapi dia tetap berbakti pada kedua orang tuanya.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2