
Malam harinya, di kediaman Herman, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan tentang acara resepsi pernikahan Rifky dan Naira.
Mereka semua memang menginap di sana atas permintaan Herman dan Marlin. Tujuannya untuk membahas hal penting ini.
Herman menginginkan semua orang tahu kalau putrinya sudah menikah dengan Rifky agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Apalagi Naira adalah putri tunggal dari pasangan itu, pastinya mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Acaranya akan dilangsungkan dua hari lagi, tentunya sudah mendapat persetujuan dari keduabelah pihak.
Ternyata ini sudah direncanakan jauh sebelum Naira lulus sekolah, dia saja yang tidak tahu.
Undangan juga sudah disebar ke mana-mana, mulai dari teman bisnis papanya bahkan para guru dan juga teman-teman Naira. Karena Naira juga menginginkan teman-teman sekolahnya tahu akan hal ini, dan mengundang mereka semua di acara nanti. Anggap saja bentuk perpisahan terakhir.
Naira terlihat bahagia karena semua orang menyayanginya bahkan melakukan yang terbaik atas dirinya. Namun, tak bisa dipungkiri! Di satu sisi, dia merasa sedih karena harus menjadi istri bahkan mungkin seorang ibu di usianya yang terbilang sangat muda. Bahkan dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya seperti teman-temannya yang lain, mengingat pesan mamanya 'Bahwa cita-cita tertinggi seorang wanita adalah menjadi istri shalihah yang mampu mendidik anak-anaknya kelak, menjadi anak yang shaleh-shalihah juga'.
Padahal dia juga ingin menikmati masa mudanya layaknya remaja lainnya, tapi dia tidak boleh egois, demi kebahagiaan Papa dan mamanya, maka Naira ikhlas melakukan apa pun. Dia yakin ini adalah yang terbaik.
Naira bergeming, perlahan ... air matanya luluh begitu saja. Orang tua serta mertuanya heran melihat Naira yang tiba-tiba menangis, tak terkecuali Rifky. Ada apa dengan istrinya? Apa dia tidak bahagia?
"Naira ...." Marlin menepuk pundak Naira pelan. Menyadarkan Naira dari lamunannya.
__ADS_1
"Hm ... ada apa, Ma?" Naira mengusap kasar air matanya dan tersenyum pada mamanya. Dia baru sadar, mengapa dia menangis? Apalagi di hadapan mertuanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marlin lembut. Wanita itu merasa kasihan pada putrinya. Sebagai seorang ibu, dia dapat merasakan apa yang dirasakan anaknya.
"Naira nggak papa, Ma. Naira senang," jawab Naira berusaha mengukir senyum. Dia juga tersenyum kepada Papa dan mertuanya, terlebih dengan Rifky---suaminya. Agar mereka yakin bahwa Naira baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya perasaannya sedang campur aduk.
"Kamu setuju, 'kan, Nak?" tanya Herman. Pria paruh baya itu menatap lekat mata putrinya, tersirat harapan besar dalam mata hazel itu. Ya, Naira mengerti itu!
"Untuk Papa dan Mama, apa, sih, yang Naira nggak setuju?" Naira tersenyum manis.
"Tapi kami tidak ingin mengorbankan perasaan kamu, Nak. Kamu tidak menyesali semua ini, 'kan?" tanya Herman sambil terisak.
"Papa ... kok, Papa nangis, sih?" Naira beralih duduk di dekat papanya dan mengelus punggung papanya sayang.
"Naira lebih sayang sama Papa dan Mama." Naira memeluk erat papanya dengan air mata yang perlahan jatuh kembali. Semua yang menyaksikan juga tak dapat menahan isak. Bahkan Ustaz Hanan pun, ikut menangis.
"Terima kasih, Sayang." Herman melonggarkan pelukannya dan mengucup kepala Naira. Naira mengangguk.
Tak ingin berlarut-larut akan hal itu, Naira meminta izin untuk ke kamar duluan dan melampiaskan segala kesedihannya di sana.
Rifky juga menyusul Naira masuk ke kamarnya, dia melihat Naira duduk termenung di sisi ranjang sambil meringkuk memeluk lututnya. Ada rasa sedih yang terlintas di hati Rifky saat melihat istrinya seperti itu. Apa orang tua mereka terlalu egois?
__ADS_1
"Naira ...." Rifky menghampiri istrinya yang belum menyadari kehadirannya.
"Eh, Mas Rifky?" Naira terlonjak kaget mendengar suara Rifky. Sejak kapan dia ada di sana?
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rifky dan mendudukan dirinya di samping Naira.
"Nggak papa, Mas. Aku baik-baik aja, kok," balas Naira tersenyum.
"Semakin kamu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, aku semakin yakin bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja!" Rifky menatap Naira sendu.
"Alah, sok tahu!" ketus Naira berusaha berpaling. Dia tak ingin Rifky mengetahui perasaannya. Nantinya akan melukai perasaan Rifky. Tidak! itu tidak boleh terjadi!
"Mas, 'kan suami kamu. Cerita ... kenapa?" Rifky memeluk tubuh Naira dan mencium pipinya sekilas.
"Aku nggak papa. Udah, ah. Aku mau tidur." Naira menarik selimut dan merebahkan dirinya di kasur. Lalu terlelap meninggalkan Rifky yang masih menanti jawaban.
Rifky menghela nafas beratnya. Kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Naira. Naira yang belum sepenuhnya tidur, kaget, saat Rifky memeluknya dan menenggelamkan wajah di dadanya.
.
.
__ADS_1
.
TBC.