Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 82


__ADS_3

Empat jam lebih Naira berada di rumah sakit. Namun, belum ada tanda-tanda bayinya akan lahir. Sedari tadi Naira terus meraung kesakitan, hingga hijabnya terpaksa dibuka karena wajahnya bermandi keringat.


Dokter dan para suster setia menunggu dan menghibur Naira. Begitu pula Marlin dan Rasya. Kedua wanita itu sama-sama menenangkan dan menguatkan anak mereka.


"Mama ... sakit ...." Naira menatap mamanya, mengadu dan merintih sembari memegangi tangan mamanya dengan erat.


"Sabar, ya, Sayang. Kamu pasti kuat," ucap Marlin tersenyum.


"Ma--maafin, Naira, Ma. Naira minta ma--maaf."


Marlin mengangguk dan tersenyum. Air matanya yang menetes ia hapus secara kasar. Sekarang, di depan mata, anaknya tengah berperang mempertaruhkan nyawa.


Ceklek!


"Rifky?!"


"Bagaimana, Ma?" tanya Rifky yang baru datang. Seuntai tasbih hitam terlihat menggelung jarinya. Laki-laki itu baru saja selesai melaksanakan salat dzuhur.


Rasya menggeleng, membuat hembusan nafas Rifky begitu terdengar. Rifky mendekat ke arah Naira, menunduk, dan mengecup kening istrinya itu. "Yang kuat, ya, Sayang?"


"Mas ... maafin aku ...." Lirih, suara itu terdengar. Naira menatap lekat mata Rifky yang tersenyum padanya. Detik berikutnya, dia kembali mengaduh hingga para perawat di sana siap siaga.


Rifky menggenggam tangan Naira sambil berusaha menguatkan. Butir-butir tasbih di tangan kanannya tetap berjalan mengiringi denyut hatinya yang berdoa.


Satu teriakan panjang terdengar parau dari Naira, tak lama suara tangis bayi ikut memecah raungannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... anak kita udah lahir, Sayang," ucap Rifky menangis. Naira terdiam, memejamkan mata sayunya dan bergumam mengucap syukur. Nafasnya sedikit memburu, mengendurkan genggaman tangan, kemudian membisu.


"Naira? Sayang?" Tangis Rifky semakin pecah diiringi debaran di dadanya. Bulir keringat di pelipis laki-laki itu tampak turun bersusulan.


"Dokter?"


"Dia hanya pingsan, Bu. Kami akan menanganinya sekarang." Dokter yang mengerti tatapan Marlin menjelaskan.


Rifky ikut membantu dokter untuk mengurusi istrinya, sementara bayinya sudah dibersihkan oleh para suster lain.


Setelah cukup tenang, Rasya dan Marlin keluar ruangan menemui suami mereka. Dengan helaan nafas lega, Marlin memeluk suaminya sambil terisak.


"Pa ...?"


"Bagaimana, Ma? Naira dan cucu kita selamat, 'kan?" tanya Herman menatap istrinya. Marlin mengangguk, mengusap kasar air mata untuk menghilangkan rasa sesak.


"Cucu kita laki-laki, Pa. Ganteng ... banget." Rasya memberi tahu. Tersenyum pada Ustaz Hanan dengan air mata yang tertahan.


"Alhamdulillah ...."


"Naira bagaimana?" tanya Ustaz Hanan.


"Naira pingsan. Ayo kita masuk!" Marlin mengajak mereka masuk.


Di dalam ruangan tampak Naira terbaring lelah dengan Rifky di sampingnya. Herman mendekati brankar putrinya itu, mengelus pelan kepalanya yang sudah terlapis hijab dan mengecup lembut keningnya.

__ADS_1


"Permisi ... ini anaknya, Bu. Udah ganteng." Seorang suster mengantarkan bayi mungil sembari memasang senyum.


"Alhamdulillah. Sini, Sayang." Rasya menyambut cucunya itu, kemudian diserahkan pada Rifky untuk diazani.


Rifky segera melafazkan azan dengan lembut dan merdu, hingga ruangan itu penuh oleh keharuan saat mereka menatap bayi mungil dalam gendongan Rifky.


Kecupan kasih sayang Rifky berikan di kening anaknya, lalu menatap Naira yang terbaring dalam keadaan masih menutup mata. Semua larut dalam rasa bahagia, tersenyum senang pada bayi mungil itu saat Rifky meletakannya di samping Naira.


"Cepat sadar, Sayang," bisik Rifky mesra.


Rifky menggenggamkan telunjuk Naira pada tangan bayi mereka, melukiskan senyum manis di raut wajah semuanya kala bayi itu benar-benar menggenggam jari ibunya.


"Sayang?"


Tangan Naira bergerak pelan, dan dengan perlahan mata sayunya terbuka indah. Naira menatap sekeliling di mana semua orang tersenyum padanya, kemudian beralih pada Rifky saat mendapat kecupan lembut dari suaminya itu.


"Mas Rifky? Ma? Pa?" Naira tersenyum tipis menyapa orang tuanya. Herman dan Ustaz Hanan mengangguk, sedangkan kedua mamanya sudah memeluknya.


"Ini anak kalian, Sayang? Cucu Mama," ucap Marlin haru. Sekali lagi dia mencium pipi Naira karena rasa bahagia.


"Mas ...?"


"Iya, Sayang." Rifky tersenyum dan mengarahkan bayi mereka pada Naira. Dengan posisi bersandar, Naira menyambut bayinya sambil menangis.


"Alhamdulillah .... Sayang? Anak Mama." Naira menciumi anaknya yang ikut menangis. Kemudian menatap wajah Rifky seolah berterima kasih padanya.

__ADS_1


Rifky membalas senyuman Naira, menghapus air matanya, lalu memeluk anak dan istrinya itu dengan mesra.


__ADS_2