Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 18


__ADS_3

Tengah malam Rifky terjaga dari tidurnya, dia melirik ke samping di mana sedang terlelap seseorang yang berstatus sebagai istrinya.


Dibelainya wajah sayu yang masih terlelap itu dan sesekali menciumnya. Rifky turut prihatin dengan keadaan Naira sekarang, apalagi dia masih seorang siswi SMA yang belum sepenuhnya mengerti tentang rumah tangga.


Rifky melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu dan segera menunaikan sholat sunnah dua raka'at.


Dia mengadukan semua masalahnya kepada Sang Khalik, berharap mendapat petunjuk dan diberi kemudahan.


Selesai dengan sholatnya, Rifky melirik ponsel milik Naira yang ada di atas nakas. Pria itu memeriksa seluruhnya, tatapannya fokus ke satu nomor yang tidak dikenal dan tak punya nama.


Ya. Nomor yang mengirimkan foto itu pada Naira. Siapa dia?


Ah, sudahlah. Masalah itu tak perlu difikirkan, yang penting adalah urusannya dengan Naira.


Sampai waktu subuh, Rifky membangunkan Naira untuk sholat subuh, rumah mereka agak jauh dari masjid, jadi Rifky memilih sholat subuh di rumah bersama Naira.


"Naira," panggil Rifky pelan, "bangun," ucapnya.


"Emm, kenapa?" tanya Naira tanpa membuka matanya.


"Bangun, udah subuh, Sayang." Rifky mengelus rambut istrinya dengan lembut.


Naira membuka matanya dan bersandar di headboard. Dia menetralkan penglihatannya dan menatap datar Rifky.


"Kamu masih marah?" tanya Rifky yang melihat wajah cemberut istrinya.


Naira tak menjawab dan memutuskan kontak mata dengan Rifky.


Rifky menghela nafasnya pelan, dia harus benar-benar sabar menghadapi sifat Naira yang masih seperti anak-anak itu.


Beberapa kali Rifky mencoba berbicara pada Naira, tapi Naira sama sekali tidak mempedulikannya.


Rifky yang merasa diacuhkan langsung membaringkan tubuh Naira dan menindihnya. Naira sempat kaget dengan tingkah Rifky, lalu berusaha melepaskan dirinya. Namun, tidak bisa!


Rifky menatap mata Naira dalam-dalam seolah mengisyaratkan permohonan maafnya, tapi Naira tak menghiraukan itu.


"Lepasin, Mas!" Naira mendorong tubuh Rifky agar melepaskannya.


"Maafin aku ...," lirih Rifky dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naira.


Naira yang mendengar suara lembut itu merasa kasihan, tapi moodnya masih buruk sekarang.


"Lepasin, Mas! Kalau nggak aku cubit!" ancam Naira sembari tangannya bersiap mencubit pinggang Rifky.


Rifky mengangkat kepalanya dan kembali menatap Naira, dia tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa antara dia dengan Naira.


"Cubit! Dan aku paksa kamu!" Rifky tersenyum devil.


Mata Naira membola sempurna diiringi degub jantung yang tak terkendali lagi kecepatannya.


Perlahan, dia melepaskan tangannya dari pinggang Rifky dan sedikit menggeser tubuhnya. Namun, nihil, tubuhnya yang kecil itu tak bisa apa-apa.


"Le--lepasin a--aku, Mas," ucap Naira terbata-bata.


Kali ini Rifky yang tidak menghiraukannya, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Naira dan m*****t bibir mungil itu.


"Emph! Mas! Kamu nggak jijik apa, hah?!" kesal Naira saat Rifky melepaskan panggutannya.


"Memangnya kenapa?" tanya balik Rifky.


"Aku kalau bangun tidur ada ilernya," ucap Naira sambil menatap Rifky kesal.


"Nggak, aku nggak jijik," ungkap Rifky yang hendak mencium Naira kembali, tapi Naira cepat-cepat menutup bibirnya.


"Udah, Mas. Lepasin aku." Naira berbicara sedikit kurang jelas karena mulutnya tertutup.


"Kamu janji dulu," ucap Rifky.


"Janji apa?" tanya Naira membuka mulutnya. Lalu menatap jengah suaminya.


"Janji nggak marah lagi sama aku, dan jangan cuekin aku, gimana?" ucap Rifky tersenyum.


Naira membuang pandangannya. Sangat tidak mungkin jika dia harus seperti biasanya, dia, 'kan lagi marah?


Sesaat kemudian Rifky memegang tengkuknya dan tangan kanannya menyelinap ke bawah pinggang Naira.


"Mas!" Suara Naira mulai menguat.


"Kamu, 'kan diam aja, itu artinya kamu setuju," ucap Rifky sambil mengelus-ngelus belakang Naira.


"I--iya, aku maafin kamu!" Dengan terpaksa Naira harus mengatakannya.


"Ikhlas, nggak?"


"Iya ...."


Rifky tersenyum puas mendapat jawaban itu dan melepaskan Naira dari kekangannya.


"Nyebelin!" Naira memanyunkan bibirnya dengan ekor mata yang menggerling ke arah Rifky.


Sedangkan Rifky tersenyum simpul dan mengelus pucuk kepala Naira.


"Udah, mandi sana. Siap-siap sholat subuh!" titah Rifky yang langsung dituruti oleh Naira.

__ADS_1


Akhirnya dengan diiringi ketenangan, mereka melaksanakan sholat yang sudah menjadi kewajiban setiap orang hamba.


***


"Sial! Kenapa mereka bisa seakur itu?" monolog seseorang yang menyaksikan kemesraan Naira dan Rifky.


Saat ini Rifky mengantar Naira ke sekolah. Sebelum Naira masuk ke sekolahnya, Rifky sempat memeluknya dengan hangat.


"Jangan nakal, ya, Mas!" ucap Naira sambil menatap Rifky sengit.


"Udah ... sana masuk!" Rifky sedikit terkekeh melihat tingkah Naira. Jangan nakal? Emangnya dia anak kecil? Haduhhh Naira-Naira.


Rifky berangkat ke kantornya dengan perasaan senang, terlihat dia sering senyam-senyum sendiri mengingat bayangan Naira.


Sementara yang menyaksikan kedua sejoli itu merasakan kekesalan, karena rencananya gagal untuk membuat Naira membenci Rifky.


"Kurang ajar!" umpatnya dengan tangan yang menggepal kuat.


***


Pelajaran berlalu begitu saja.


Naira, Kinta, Kiki dan Sindy, kini berjalan menuju parkiran sekolah. Sekarang sudah waktunya pulang dan mereka berempat berjalan bersama untuk mengisi waktu akhir di sekolah hari ini.


"Ra, lo kenapa nggak pernah bawa mobil lagi, sih?" tanya Kiki penasaran.


"Iya?" timpal Kinta dan Sindy bersamaan.


"Nggak papa, kok," jawab Naira santai.


"Terus, lo dijemput sama siapa? Nggak mungkin Mama atau Papa lo, 'kan?" tanya Sindy.


"Sama---"


"Naira!"


Belum sempat Naira meneruskan ucapannya, Rizal tiba-tiba saja memanggilnya dan menghampiri mereka.


Terpaksa mereka berhenti sejenak menunggu Rizal.


"Ada apa?!" tanya Naira ketus. Muak sekali melihat muka menyebalkan itu, gara-gara dia dan kakaknya Rifky terluka dulu.


"Lo, nggak papa, 'kan?" Rizal balik bertanya.


"Lah, emangnya Naira kenapa? Sehat-sehat aja, 'kan?" Kiki merapatkan kedua alisnya, menatap Rizal penuh tanya.


"Tau, nih cogan," sambung Kinta.


"Ehh! Lo pikirannya cogan doang." Sindy menggeram ke arah Kinta. Entah kenapa sahabat mereka yang satu ini nggak ada rasa malu.


"Gue mau ngomong sama lo," ucap Rizal yang membuat mereka semua mengerutkan kening.


"Ngomong aja sekarang!" timpal Naira.


"Empat mata!" tekan Rizal.


"Kenapa pake rahasia-rahasia segala, sih, cogan?" ucap Kinta dengan gaya genitnya.


Kiki dan Sindy yang muak akan drama di depannya memilih untuk pulang duluan. Bukan dengan Naira dan Rizal, tapi Kinta!


"Kita duluan, Ya, Ra," pamit mereka berdua.


Kinta yang mendapat isyarat dari Rizal juga segera menyusul Kiki dan Sindy.


"G--gue, mau minta maaf sama lo," ucap Rizal lirih.


"Buat apa?" Naira masih tetap dengan ketidakpeduliannya.


"Buat kejadian waktu itu, gue sama sekali nggak ngerti kalau, cowok itu ... suami, lo." Rizal berkata dengan hati-hati agar tak menghilangkan mood baik Naira.


"Semua udah terjadi!" timpal Naira.


"Iya. Gue juga minta maaf atas nama Kakak gue," ungkap Rizal dengan nada lembutnya.


Naira menatap mata Rizal yang jernih itu, tak ada istilah yang menggambarkan kebohongan di sana. Dia tulus.


"Gue udah maafin," balas Naira.


"Makasih, ya," ungkap Rizal dengan senyum termanisnya.


"Iya." Naira membalas senyuman itu, kemudian berlalu pergi.


Rizal mematung. Seandainya dia yang memiliki Naira, mungkin dia adalah orang yang paling bahagia saat ini, tapi ... sudahlah, saat ini mengikhlaskan adalah jalan terbaik.


Dengan langkah pelan, dia mengendarai motornya dan bergegas untuk pulang.


Sedangkan Naira masih menunggu di tempat biasa dia menunggu. Rifky memang selalu pulang siang hari, dan sore harinya dia mengajar ngaji di surau. Itu adalah kegiatan sehari-harinya selain bekerja sebagai kepala rumah tangga.


Naira mengedarkan pandangannya ke kanan ke kiri, memastikan Rifky yang akan menjemputnya.


Tiba-tiba seseorang datang dan memeluknya dari belakang. Naira sempat senang karena dia menduga itu Rifky, suaminya. Namun, saat dia berbalik ternyata dugaannya salah, yang memeluknya bukan Rifky, melainkan Tama!


"Lepasin gue!" Naira menginjak keras kaki Tama. Namun, pelukan itu tak berubah sedikitpun, pria itu begitu kuat untuk dilawan.

__ADS_1


"Aku ingin memilikimu, Naira." Tama semakin mempererat pelukannya. Bahkan mencium aroma shampo Naira yang menyeruak di luar hijabnya.


"Lepasin gue ...!" Naira hanya bisa menangis saat Tama tak kunjung melepaskannya.


"Itu tak akan terjadi!" Tama menekan setiap kata-katanya yang membuat Naira semakin merinding. Sekarang Naira tidak bisa apa-apa, untuk sekedar melepaskan diri dari pelukan pria itu saja susah bagi Naira. Apalagi berlari menghindar.


Dia hanya bisa menangis sembari memukul dada bidang pria itu. Meskipun Naira tahu bahwa itu tiada artinya bagi Tama.


"Lepasin gue!" pekik Naira.


"Diamlah, Sayang ... nikmati saja moment mesra kita ini," ucap Tama dengan nada genitnya.


"Nggak! Lepasin aku!" Tanpa mempedulikan berontakan Naira, Tama malah membelai lembut kepada Naira. Tangis Naira semakin menjadi. Apa salah jika dia ketakutan sekarang?


"Lepasin ... aku mohon ...," pinta Naira diiringi tangisnya.


"Ternyata kau adalah laki-laki yang sama sekali tidak punya harga diri!" Mendengar suara itu Tama melepas pelukannya dan berbalik menatap Rifky.


"Mengharap cinta seseorang yang sama sekali tidak mencintai kamu! Apalagi dengan cara memaksa!" Rifky berkata penuh penekanan. Kemudian menarik istrinya untuk mendekatnya.


"Hah, kamu kira Naira mencintaimu? Ingat! Ikatan kalian hanya di atas perjodohan!" Tama ikut menyeringai dengan ucapannya.


"Aku mencintainya!" Naira memeluk tangan kekar milik suaminya.


Rifky tersenyum mengejek ke arah Tama saat perkataan itu keluar dari mulut Naira.


"Naira! Apa kamu tidak sadar dengan perbuatannya kemarin? Dia telah menghianatimu!" Tama menunjukkan wajah kepeduliannya kepada Naira.


"Oh! Jadi kamu yang mengirim foto tak jelas itu?" tanya Rifky sambil menggepalkan tangannya.


"Iya, kenapa? Apanya yang tak jelas? Sudah jelas-jelas kamu itu selingkuh. Tampang doang alim, tapi kelakuan tak jauh beda dari lak---"


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan melayang di rahang keras milik Tama.


"Brengsek!" Tama memegangi rahangnya yang terasa ngilu.


Perkelahian itu terulang kembali. Dua orang laki-laki memperebutkan satu wanita.


Rifky! Meskipun seorang ustaz, apa salah jika dia mempertahankan haknya? Tentu tidak bukan?


Mereka berdua terus saling serang tak peduli tempat dan keadaan. Bahkan jeritan Naira sudah tak dihiraukan lagi karena gencarnya mereka berkelahi.


Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang melintas di sana, Tama memanfaatkan kesempatan itu untuk melumpuhkan lawannya.


Dia mendorong tubuh Rifky hingga terhuyung ke tengah jalan.


"Mas Rifky ...!" Naira berlari untuk menyelamatkan suaminya. Dia segera mendorong Rifky ke pinggiran jalan, tapi justru dialah yang menjadi korban.


"Aaaa ...!" Pengendara tersebut menginjak rem kuat-kuat.


Bruk!


Namun, na'as. Kepala mobil itu berhasil mengenai Naira hingga gadis itu terpental jauh.


"Naira!" Rifky dan Tama sama-sama terkejut dan menghampiri Naira.


Rifky memangku tubuh kecil yang sudah bersimbah darah itu, matanya telah tertutup dengan sekujur tubuh yang teramat lemas.


"Hah!?" Orang yang menabraknya keluar dari mobil untuk memastikan kejadian di depannya.


"Kiara?!"


Ya, orang yang menabrak Naira adalah Kiara.


Tama menghampiri Kiara yang berdiri dengan gemetar.


"A--apa dia me--meninggal?" Kiara berbicara dengan nada cemas, wajah gadis itu ikut memucat dengan goncangan kuat yang menerpa tubuhnya.


Grep!


Tama memeluk Kiara dengan erat. Dia tak tega melihat Kiara yang ketakutan.


"Udah, nggak usah takut! Gue ada di sini," ucap Tama menenangkan Kiara yang gemetar.


"Di--dia?" Gadis itu tak dapat berucap lagi kala menyaksikan tubuh Naira yang dibopong Rifky, sudah berlumuran darah segar.


"Bertahan, Sayang!" Linangan air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Rifky. Tak tahan melihat orang yang dia cintai dalam ketidakberdayaan.


"Semoga dia baik-baik saja." Tama melepaskan pelukannya dan mengajak Kiara ke rumah sakit untuk menyusul Rifky yang membawa Naira.


Sampai di rumah sakit, Naira langsung ditangani oleh tim medis yang bertugas di sana.


Dengan perasaan campur aduk, Rifky hanya bisa berdo'a semoga gadisnya baik-baik saja.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2