
"Mas berangkat dulu, ya, Sayang. Kamu jangan lupa sholat, ya," ucap Rifky sebelum berangkat ke kantornya.
"Iya, Mas. Hati-hati," balas Naira dan mencium punggung tangan suaminya. Rifky mengecup singkat kening Naira sebelum pergi. Setelah itu, dia memasuki mobilnya dan mulai membelah jalan kota yang lumayan padat.
Naira masuk ke dalam rumahnya untuk membantu Bi Ira bersih-bersih. Terlihat wanita paruh baya itu tengah mencuci piring bekas mereka sarapan tadi.
Naira menyunggingkan senyumnya dan meraih sapu untuk menyapu lantai dapur yang nampak kotor.
"Eh-eh! Nggak usah capek-capek, Neng. Biar Bibi aja, sini!" Bi Ira menarik sapu dari genggaman tangan Naira, tapi Naira menjauhkannya dan mulai menyapu lagi.
"Nggak papa, Bi. Naira lagi pengen aja banyak gerak," ucap Naira tersenyum. Bi Ira mengangguk dan membiarkan Naira menyapu lantai. Toh hanya dapur, tidak seluruhnya.
Selesai menyapu lantai, Naira pergi ke belakang untuk melihat taman bunganya. Dengan tekun, Naira menyiram setiap tanaman bunga yang ada di taman itu. Bunga-bunga itu tampak mulai berkembang dan sangat subur, karena selain bibitnya bagus, Naira juga selalu merawatnya.
Rasa bosan kembali menghampiri Naira. Sepi ... itu yang dia rasakan sekarang. Biasanya dia akan berkumpul bersama sahabat-sahabatnya saat masa sekolah dulu, dan itu hanyalah kenangan lama yang hanya mampu Naira jumpai dalam angan.
Naira mendudukan bobot tubuhnya di bangku yang tersedia di taman itu, dia menoleh ke sampingnya dan langsung teringat pada Rifky. Beberapa hari ini Rifky selalu menemaninya duduk di sini, tapi kali ini tidak, karena Rifky harus bekerja juga untuk dirinya.
Mata Naira mulai membendung embun, entah dia rindu pada teman-temannya atau merindukan suaminya, hanya Naira yang tahu. Yang jelas dia sedang rindu!
"Neng!" Saat Naira sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba Bi Ira datang memanggilnya dari arah pintu belakang.
Naira segera menghapus air matanya dan berbalik. "Ada apa, Bi!" sahut Naira, lalu menghampiri Bi Ira.
"Neng, Bibi mau ke pasar sebentar, ya. Nggak papa, 'kan, Neng Naira diting---"
"Naira ikut!" potong Naira cepat. Bi Ira tak melanjutkan ucapannya dan menatap Naira yang sedang berhadapan dengannya. Kasihan juga kalau ditinggal sendiirian.
"Ya udah kalau gitu, Neng siap-siap aja dulu," kata Bi Ira menimpali.
Naira mengangguk dan tersenyum, kemudian memasuki kamarnya untuk berganti pakaian.
****
Sementara itu, Rifky sedang fokus bekerja dan mengutak atik laptopnya. Banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan. Berkas-berkas penting juga sudah menumpuk untuk ditanda tanganinya, ditambah lagi jam 10 nanti dia ada meeting dengan kliennya. Rasanya hari ini akan sangat melelahkan bagi Rifky.
Rifky mengistirahatkan tangannya sejenak dan menyenderkan kepalanya di belakang kursi. Lalu, bayangan-bayangan tentang dirinya dan Naira mulai bermunculan. Sekilas senyum kecil terbit di tepi bibir Rifky. Allah memang baik, telah menghadirkan sosok istimewa dalam hidupnya. Rifky patut bersyukur untuk itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rifky. "Masuk!" titahnya.
"Permisi, Pak. Apa berkas-berkasnya sudah ditanda tangani? Karena sebentar lagi klien kita akan datang," ujar wanita itu yang tak lain adalah Ayu. Saat ini Ayu ditetapkan sebagai asisten manajer oleh Herman.
"Sebentar lagi, Ayu," balas Rifky, kemudian melanjutkan tugasnya menanda tangani beberapa berkas yang belum ia selesaikan.
"Baik, Pak." Ayu menunggu Rifky menyelesaikan urusannya. Kali ini tak ada perasaan apa pun dalam hati Ayu untuk Rifky. Sepenuhnya dia sudah mengikhlaskan Rifky dan Naira, karena memang itu kenyataannya.
Apalagi Naira adalah anak dari pemilik perusahaan ini, tentunya Ayu tak mungkin mengecewakan orang yang telah berjasa dan memberinya pekerjaan.
Beberapa menit berlangsung, Rifky sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka segera menuju ruang meeting untuk menunggu klien di sana.
Tak lama seorang wanita muda memasuki ruangan meeting dan langsung dipersilahkan duduk. Ya, itu adalah orang yang mereka tunggu-tunggu.
Sekretaris Rifky mulai mempersentasikan semuanya dan didengarkan dengan baik. Tentunya sebagus mungkin agar tujuannya tercapai.
__ADS_1
Setelah terjadi kesepakatan di antara duabelah pihak, klien yang bernama Rani tersebut menyetujui kerja sama mereka. Namun, ada sesuatu yang ganjal di sana. Rani sejak tadi tak henti-hentinya melirik Rifky dan sesekali tersenyum manis. Sedangkan Ayu yang menyadarinya hanya dapat berdehem saja.
"Terima kasih atas penjelasannya, Pak. Ini sangat baik dan sudah sesuai dengan yang saya harapkan," kata Rani mengakhiri meeting mereka.
"Sama-sama, Bu Rani," balas Rifky tersenyum. Jadi manajer harus ramah tentunya.
"Ah, tidak usah memanggil saya ibu, Pak. Saya masih lajang," ujarnya.
"Oh, maaf, Mbak Rani," ucap Rifky seraya menundukkan kepalanya sedikit.
"Tidak apa-apa. Em ... sebelum saya kembali, bolehkah saya meminta nomor Bapak?"
"Untuk apa?" Dengan cepat Ayu menimpali. Jujur, dia sudah sangat muak melihat klien mereka yang satu ini.
"Tidak ada, hanya untuk berteman saja," jawab Rani tersenyum.
"Maaf, Bu Rani, kalau saya lancang, tapi Pak Rifky saat ini sudah beristri," ucap Ayu sesopan mungkin agar tak menyinggung perasaan Rani.
"Oh, begitu." Rani tampak menutupi keterkejutannya. "Ya sudah, mohon maaf kalau saya kurang sopan."
'Sangat tidak sopan!' batin Ayu. Sedangkan Rifky menanggapinya dengan senyum. Bersyukur ada Ayu di sampingnya.
'Terima kasih, Ayu.'
****
Naira dan Bi Ira sedang asik berbelanja di pasar. Naira menemani Bi Ira membeli berbagai keperluan dapur mereka.
"Kangkung aja, Bi," usul Naira. Lalu mengambil dua ikat kangkung hijau yang masih segar dan membelinya.
Sudah banyak sayuran yang mereka beli, kini saatnya untuk membeli daging dan yang lainnya.
Asik melihat kiri kanan, Naira tak sengaja bertemu Kinta---sahabatnya---yang sedang di pasar itu juga. Terlihat dia bersama dengan Rizal.
"Kinta, kamu ke pasar juga?" tanya Naira dan memeluk sahabatnya itu. Tak lupa dia melirik Rizal yang ada di sebelah Kinta.
"Iya," jawab Kinta tersenyum.
"Kok, kalian bisa berdua?" Naira memicingkan sebelah matanya dan tampak bingung. "Pacaran?" tebak Naira, dan Kinta mengangguk sambil nyengir kuda.
"Eleh-eleh, kapan ...?" tanya Naira tersenyum menggoda.
"Beberapa hari yang lalu," sahut Rizal membalas senyuman Naira.
"Oh gitu, jangan lama-lama, loh, pacarannya. Nggak baik," kata Naira. Mereka sedikit mengobrol di sana.
"Lo nyuruh kita putus?" tanya Kinta.
"Enggak, bukan gitu. Kata Mas Rifky pacaran itu nggak boleh.
Allah Subhanahuwata'ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً
Artinya:
__ADS_1
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra: 32)." Naira memperingatkan Kinta dan juga Rizal.
"Kita, 'kan nggak berzina," sewot Rizal.
"Pacaran itu adalah pintu perzinahan. Apa namanya kalau bukan zina? Pegang-pegang tangan itu zina tangan. Tatap-tatapan itu zina mata. Gombal-gombalan itu zina telinga. Menghayalkan kemesraan saat pacaran itu juga termasuk zina hati," lanjut Naira menerangkan. Pastinya sedikit pelan agar mereka tidak tersinggung.
"Gitu, ya? Berarti kita harus nikah, dong?" Rizal menoel tangan Kinta dan menaik-turunkan alisnya.
"Apaan, sih, lo? Ngeselin, deh," ucap Kinta dan mengerucutkan bibirnya.
Naira hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu. Menggemaskan!
"Neng, ayo!" Bi Ira memanggil Naira yang masih asik mengobrol.
"Iya, Bi!"
"Gue duluan, ya. Papay." Naira melambaikan tangannya dan mengedipkan sebelah matanya.
Kinta dan Rizal menatap Naira yang perlahan menjauh. "Enak, ya jadi Naira. Dapet suami ustaz, dan sekarang dia udah pinter," lirih Kinta memuji sahabatnya.
"Nanti kita belajar juga, Sayang. Yuk!" Rizal mengajak Kinta untuk melanjutkan jalan mereka.
Bi Ira dan Naira pergi menuju penjual daging. Tujuannya untuk membeli daging ayam.
Huek! Huek!
Naira hampir muntah karena bau amis yang berasal dari hewan itu.
"Kenapa, Neng?" tanya Bi Ira khawatir.
"Bau, Bi," jawab Naira sambil menutup hidungnya.
Huek!
"Ya udah, kita nggak usah ke sini. Pindah tempat lain aja." Bi Ira mengajak Naira pergi dari sana. Beberapa penjual ayam yang mereka datangi, tapi Naira tetap ingin muntah akan baunya.
Akhirnya Naira tak ikut membeli daging ayam. Dia memutuskan untuk menunggu Bi Ira saja dari kejauhan.
***
Sesampainya di rumah. Naira membantu Bi Ira meletakkan belanjaan mereka. Ketika menyusun sayur-sayuran, Naira tak sengaja memegang daging ayam yang dibeli tadi.
Huek! Huek!
"Bau!" Naira berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Benar-benar mual!
"Neng, kamu kenapa?" Bi Ira membantu Naira memijit tengkuknya.
"Ayamnya bau, Bi. Kepalaku jadi sakit," adu Naira sambil meringis memegangi kepalanya.
"Ya udah. Neng Naira istirahat aja dulu, ya. Biar Bibi yang bereskan semuanya." Naira mengangguk dan menuju kamarnya dengan diantar oleh Bi Ira. Lalu, Naira menidurkan dirinya di ranjang untuk beristirahat sejenak.
.
.
__ADS_1
.
TBC.