
Hari ini Naira kembali memulai aktivitas sekolahnya, sudah tiga hari gadis itu tak masuk sekolah dengan alasan izin!
Naira menuruni anak tangga dengan gaya anggunnya, sedangkan Rifky sudah turun sejak tadi dan sudah lengkap dengan pakaian kantornya.
Ya, Rifky membagi tugasnya sebagai ustadz dan sebagai manajer di perusahaan papa Naira. Jika pagi dan siang hari, laki-laki itu bekerja di kantor, sementara sore hari dia akan mengajar ngaji di surau bersama Iyan.
Hal ini sesuai dengan usulan orang tuanya dan Papa mertuanya---Herman. Tentunya setelah melakukan pertimbangan yang matang.
Naira melihat-lihat sekeliling, 'bersih' satu kata itu yang pantas diucapkan.
"Udah selesai?" tanya Rifky yang sedari tadi menunggu Naira.
"Udah!" sahut Naira.
"Yuk, sarapan dulu!" ajak Rifky membimbing tangan istrinya menuju meja makan.
Naira mengernyitkan keningnya heran, saat melihat makanan yang sudah tersaji dan tertata rapi di meja makan.
"Ini ... kamu yang masak, Mas?" tanya Naira menunjuk ke arah meja makan.
"Iya, ayo cepat makan!" titah Rifky dan mengambil sarapan untuknya dan Naira.
Naira hanya menurut dan memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, dia menatap Rifky sejenak dan tersenyum singkat. Tak disangaka, ternyata suaminya ini pintar masak juga.
"Enak, nggak?" tanya Rifky.
"Enak!" jawab Naira singkat.
Rifky tersenyum dan mengusap kepala Naira yang dilapisi hijab. "Makan yang banyak, biar cepat gede!" ucap Rifky sambil terkekeh pelan.
"Hmm," deham Naira sambil mengunyah nasi di mulutnya.
Lima menit sudah mereka menyelesaikan sarapannya, Rifky mengantarkan Naira pergi ke sekolah sembari dirinya berangkat ke kantor.
"Nanti kalau Mas belum pulang, kamu naik taxi aja, ya!" ujar Rifky menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
"Iya," jawab Naira menyalami punggung tangan Rifky.
Saat Naira hendak turun dan membuka pintu mobil, Rifky segera menahan tangannya, membuat gerakan Naira refleks terhenti.
"Ada apa?" Naira mengangkat sebelah alisnya.
"Ini!" Rifky mengarahkan pipinya pada Naira. Tentunya Naira mengerti maksud suaminya itu.
Cup!
Selesai melakukannya, Naira cepat-cepat ke luar menuju gerbang sekolahnya, sementara Rifky tersenyum puas dan segera melajukan mobilnya dari sana.
"Naira ...!" teriak ketiga sahabatnya memanggil Naira.
__ADS_1
"Pagi-pagi, Woy. Main teriak aja," ucap Naira menghampiri mereka.
"Ya elah, lo." Kinta memasang jurus manyunnya.
"Lo selama ini ke mana aja, sih, Ra?" tanya Kiki.
"Ke Bandung, ikut Papa Mama gue," jawab Naira berbohong. Dia harus merahasiakan semua ini dari semua orang, termasuk para sahabatnya sendiri.
"Tumben," usil Sindy.
"Emang kenapa, sih? Kangen, ya sama gue," goda Naira tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.
"Idih, geer ...," jawab mereka serempak.
"Haha, udah ngaku aja, sepi, 'kan nggak ada gue?" Naira memainkan telunjuknya ke arah sahabat-sahabatnya.
"Iya-iya, lo, kan cerewet!" ujar Sindy tak mau banyak omong.
"Lo kali yang cerewet!" ucap mereka mengejek Sindy dan tertawa bersama.
Tibalah saatnya memasuki pelajaran pertama. Mereka belajar layaknya hari-hari biasa, sebagaimana interaksi para murid dan guru pembimbing mereka.
***
Pelajaran hari ini berlangsung cepat, dan tak terasa bell pulang telah berbunyi.
Semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Naira memutuskan untuk berjalan sembari menunggu taxi, kakinya menendang-nendang sembari bersenandung ria.
Tit! Tit!
Naira menoleh ke belakang dan mendapati sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di hadapannya.
"Hay," sapa orang yang baru saja keluar dari mobil itu.
Dia tersenyum manis pada Naira.
"Tama! Ngapain kamu?" tanya Naira jutek. Kenapa pula harus bertemu laki-laki itu lagi!
"Ya elah, jutek amat! Kamu kenapa sendirian? Jalan kaki lagi?" tanya Tama mendekati Naira.
"Emang kenapa?" jawab Naira datar.
"Mendingan ikut aku aja, yuk. Aku anterin kamu pulang," tawar pria itu.
"Nggak usah!" tolak Naira mentah-mentah. Bertemu saja dia enggan, apalagi harus diantarkan pulang.
"Dari pada kamu jalan sendiri, ntar kayak waktu itu lagi." Tama mengingatkan Naira pada kejadian minggu lalu. Di mana Naira bertemu orang gila dan berlari ketakutan hingga ia bertemu dengan Tama. Kalau dia bisa memutar waktu, Naira juga tak ingin kejadian itu menimpa dirinya.
__ADS_1
"Aku naik taxi aja, nanti!" elak Naira melihat-lihat jalanan kalau-kalau ada taxi yang lewat.
"Naira ...." Tama meraih tangan Naira dan segera ditepis oleh sang empu.
"Apaan, sih?!" ketus Naira dan berlalu pergi meninggalkan Tama.
"Lo liat aja, nanti. Gue bakal dapatin lo," gumam pria itu dan tersenyum miring.
***
Naira sampai di rumahnya dan mendapati pintu rumah tak dikunci. "Ada siapa di dalam?" monolog Naira. Perasaan tadi pagi pintu rumahnya terkunci. Apa Rifky sudah pulang? Ah, tak mungkin. Kalaupun Rifky pulang, pasti dia akan menjemput dirinya.
Naira merasa takut untuk masuk ke dalam rumah, bagaimana jika di dalam ada perampok atau apalah.
Saat dia berbalik untuk pergi, tiba-tiba pintu terbuka lebar dan menampakkan seorang wanita paruh baya.
"Non, sudah pulang?" tanya wanita itu tersenyum ramah.
Naira mengerutkan keningnya. "Bibi, siapa?" tanya Naira bingung.
"Saya, Bi Ira, Non. Saya disuruh Den Rifky untuk kemari," jawabnya sopan.
"Ohh." Naira hanya ber-oh saja. Lalu kembali diam.
"Ayo masuk, Non!" ajak Bi Ira mempersilahkan Naira masuk.
Naira mengangguk dan segera melangkahkan kakinya ke dalam.
"Namanya siapa, Non?" tanya Bi Ira pada Naira.
"Panggil aja Naira, Bi. Nggak usah panggil Non, saya nggak biasa," jawab Naira nyengir.
"Bibi nggak enak atuh, Non," ucap Bi Ira tersipu. Bagaimanapun dia harus bersikap sopan pada majikannya.
"Nggak papa, saya nggak biasa dipanggil gituan, lagian Bibi lebih tua dari saya," tutur Naira sopan.
"Ya udah, Bibi panggil Neng aja, gimana?" usul Bi Ira, dia merasa tak enak jika memanggil Naira dengan sebutan nama.
"Ya udah, nggak papa," jawab Naira tersenyum.
"Makanannya udah siap, Neng. Makan dulu!" Bi Ira menunjuk ke arah dapur. Wanita itu baru saja selesai memasak untuk majikannya.
"Iya, Bi. Naira ganti baju dulu." Bi Ira hanya mengangguk.
Naira segera menuju kamar untuk mengganti seragam sekolahnya.
.
.
__ADS_1
.
TBC.