
Pagi telah tiba, di mana semua orang seharusnya bangun untuk melaksanakan ibadah kepada sang khalik. Namun, tidak dengan Naira, gadis itu masih bergelut dalam mimpinya dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Naira, bangun!" Marlin menggoyangkan tubuh Naira yang masih ditutupi selimut.
"Hmm ...," jawab Naira dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, ayo sholat subuh dulu!" ajak Marlin.
"Ahh, Mama, nanti," ucap Naira membuka matanya.
"Ini sudah waktunya subuh, Sayang. Ayo cepat bangun!"
Naira tak menggubris perkataan Marlin, dia masih setia menutup matanya dan membelakangi Mamanya yang memanggil.
"Naira! Kalau kamu nggak bangun Mama siram kamu!" ancam Marlin, agar Naira segera bangun.
Ck!
"iya, Ma, iya!" Naira membuka selimutnya dan turun dari ranjang.
"Cepat kamu siap-siap, Mama tunggu!" Marlin meninggalkan Naira yang masih mengucek-ngucek matanya.
Naira berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan, matanya belum sepenuhnya mau terbuka.
Huh! gadis itu memang pemalas, jangankan mau bangun sendiri, dibangunkan saja susah.
Beberapa menit kemudian, mereka semua melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Selesai sholat subuh, Marlin langsung memasak bersama Bi Ijah untuk mereka sarapan nanti, dan Naira segera bersiap-siap untuk sekolah.
Tepat jam 6 pagi, Naira keluar kamar dengan pakaian sekolahnya.
Dia memakai rok abu-abu panjang, baju panjang, dan jilbab putih yang menambah kesan cantiknya.
Sebenarnya Naira nggak mau pakai hijab saat sekolah, tapi ini perintah Mama dan papanya yang mau tak mau harus dituruti.
"Sarapan dulu, Sayang," ajak Herman yang dari tadi sudah duduk di meja makan, kursi maksudnya.
Pria itu juga sudah siap dengan pakaian kantornya. Herman bekerja di perusahaan keluarganya yang diteruskan olehnya.
"Iya, Pa." Naira duduk di kursi sebelah mamanya.
"Ayo makan, Sayang!" Marlin menyerahkan piring berisi nasi pada Naira.
Mereka sarapan bersama dalam keheningan, hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.
"Naira, jangan lupa kamu hari ini mulai ngaji, ya!" ucap Herman di sela makannya.
Naira melihat ke arah papanya. "Iya, Pa," jawabnya menurut.
"Nanti Mama yang nganterin kamu perginya, Sayang," ujar Marlin tersenyum yang dibalas anggukan kecil dari Naira.
Selesai makan, Naira berangkat sekolah dan menyalami tangan orang tuanya.
Begitu juga Herman, dia segera berangkat kekantornya.
***
Saat sampai di sekolah, Naira segera mendapatkan perhatian dari para murid di sekolah itu.
__ADS_1
Pasalnya karena hijab yang Naira pakai.
"Wah-wah, Naira udah taubat, guys!"
"Iya, nggak nyangka gue!"
"Kesambet apa, tuh, Naira!"
Berbagai macam cibiran Naira dapati dari mereka.
Namun, tidak secara langsung karena mereka tahu siapa Naira.
Namanya cewek berandalan, siapapun yang berani mengusik pasti akan terusik, tapi Naira tidaklah seberandal itu, dia hanya tidak ingin diganggu!
"Hai," sapa Naira pada tiga sahabatnya yang tengah berkumpul di dalam kelas.
Mereka semua melihat ke arah sumber suara dan mendapati sosok Naira dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Naira?!" ucap mereka serentak.
"Kenapa, sih?" Naira kebingungan melihat para sahabatnya menatap dengan tatapan aneh.
"Ini beneran lo, Ra?" tanya Sindy mendongakkan dagu Naira.
"Iya, ini gue. Kenapa, sih? ada yang salah?" tanya Naira.
"Aneh banget, Lo!" ketus Kinta menatap Naira dari kepala sampai ujung kaki.
"Badai dari mana, ya, yang nyadarin, lo?" ucap Kinta memutar bola matanya.
"Gue, sih senang liat Naira pakai hijab. Makin cantik!" bela Kiki mengacungkan dua jempolnya pada Naira
"Lo sama Kiki emang sebelas dua belas!"
Kinta melipat kedua tangannya di dada, anak itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Lo, kali yang nggak punya teman, kita bertiga udah pada pake hijab, nih. Lo kapan nyusul?!" ucap Sindy pada Kinta disertai ejekan ringan.
"Tul, tu," timpal Naira menunjuk Kinta.
Kiki dan Sindy memang dari dulu sudah berhijab, mereka berdua adalah sahabat Naira yang terbilang alim dari pada Naira dan Kinta.
"Paling besok juga udah nyusul, mana mau dia beda sama kita," cibir Kiki sambil melirik Kinta dengan ekor matanya.
"Sok tahu, lo!" ketus Kinta pada Kiki.
"Tapi kayaknya benar juga, lo. Gue emang harus pake hijab besok." Kinta mengetuk dagunya. Dia juga nggak mau beda dari yang lain.
"Elo, sih, pake hijab nggak bilang-bilang sama gue," ucap Kinta menyalahkan Naira.
"Ya, mana gue tahu " Naira mengangkat bahunya dan duduk di sebelah Kiki.
"Udah-udah!" Sindy melerai pembicaraan mereka, "sebentar lagi bell bunyi, ayo siap-siap, kita mau upacara, nih!" ajak Sindy pada sahabatnya.
Naira, Kinta dan Kiki menatap Sindy dengan tatapan malas.
Selain sok bijak, Sindy itu terbawel diantara mereka semua, dasar cerewet!
__ADS_1
Lima menit kemudian, bell telah berbunyi.
Seluruh siswa dan siswi berbaris di lapangan, upacara berlangsung dengan khidmat meskipun ada sedikit siswa yang mendapat hukuman karena atribut tidak lengakap.
***
"Pelajaran apa, kita sekarang?" tanya Naira pada kiki-teman sebangkunya.
"Agama!" ketus Kiki, "masa nggak ingat?" sambungnya.
"Mampus, gue. Itu pak lalas pasti masuk!" umpat Naira.
Sentak semua orang tertawa melihat tingkah Naira, mukanya kelihatan panik.
Ya, gimana nggak panik, pasti nanti dia dapat hukuman karena nggak bisa baca tulisan arab. Ah sial!
"Lo jangan sembarangan klo ngomong," peringat Sindy menoel bahu Naira.
"Masa dibilang pak lalas, sih?"
"Biarin, emang lalas, 'kan? " Naira mencibirkan bibirnya.
"Bodo, lah!" timpal Sindy tak mau ambil pusing.
Sementara Kiki dan Kinta menggelengkan kepalannya melihat tingkah dua orang didepannya ini.
"Assalamualaikum," ucap seorang guru yang baru saja memasuki kelas Naira.
"Wa'alaikumussalam, Pak," jawab mereka serempak.
"Pagi, anak-anak. Maaf bapak telat sedikit, ya," ujar Pak Supri---guru Agama kelas XII.
"Iya, pak," jawab mereka semua.
"Nggak masuk lebih baik," cicit Naira memangku dagunya sembari merotasikan matanya.
"Kenapa, Naira?" tanya Pak Supri.
Sentak Naira dibuat kaget,
"Nggak papa, Pak," jawab Naira cengengesan.
Selama pelajaran berlangsung, pikiran Naira sama sekali tak tenang, dia sangat takut kalau-kalau Pak Supri menyuruhnya membaca arab lagi. Jangan sampai kejadian minggu lalu terualang kembali!
Bisa Mati dia.
Sebenarnya udah biasa, sih, Naira nggak bisa ngaji. Semua orang juga udah pada tahu, tapi entah kenapa kali ini dia merasa takut jika tak pandai membaca Al-qur'an.
Mungkinkah hidayah menghampirinya? Ahh, entahlah, lupakan saja.
Namun, untungnya hari ini materinya hanya mencatat dan menjawb soal.
Jadi, aman, deh, Naira.
.
.
__ADS_1
.
TBC.