
Pagi ini Naira diantar kembali oleh Rifky untuk pergi ke sekolahnya. Sampai di depan gerbang, Rifky mengikuti istrinya itu turun dari mobil dan sedikit merapikan hijabnya.
"Dadah, Mas ... aku sekolah dulu, ya." Naira melambaikan tangannya setelah mencium tangan Rifky.
"Hati-hati, ya, Sayang," ucap Rifky dan tersenyum ceria. Sungguh! Dia dibuat mabuk kepayang oleh tingkah lucu Naira.
"Iya, Mas!" Naira berlari memasuki gerbang sekolahnya dan langsung disambut oleh tiga sahabatnya.
"Huwaaa ... yang ditunggu-tunggu datang juga." Mereka bertiga bersorak gembira dan melompat-lompat girang.
Setelah bergantian memeluk Naira, mereka semua berjalan menuju kelas.
"Gimana, Ra?" tanya Kinta.
"Apanya yang gimana?" tanya balik Naira.
"Ceritanya, dong. Kan, katanya lo mau cerita ...," sanggah Kiki.
"Owh. Nanti pas istirahat, ya. Sekarang, 'kan bentar lagi masuk," ujar Naira kepada para sahabatnya.
"Yah ... elo." Semuanya mengeluh karena Naira tak kunjung memberi tahu. Padahal rasa penasaran kian menjalar pada tiga gadis itu.
Selama guru mengajar, pelajaran berlangsung dengan khidmat. Semua siswa dan siswi di kelas Naira mengerjakan tugas dengan baik.
Sampai waktunya istirahat, Naira dan teman-temannya pergi ke kantin untuk mengisi perut.
Sembari menikmati makanannya, Naira bercerita tentang kejadian awal bagaimana dia bisa menikah. Sedikit bisik-bisik tentunya.
Ketiga sahabatnya mengangguk-angguk tanda mengerti. Tak lupa sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Jadi, lo nggak cinta sama suami, lo?" tanya Sindy saat Naira selesai cerita.
"Ya pasti cinta, dong. Orang ganteng gitu, hahaha." Kinta menimpali pertanyaan Sindy.
"Pe'ak! Dia, 'kan dijodohin." Kiki menepuk pelan kening Kinta.
__ADS_1
"Ya, gimana, ya ...." Naira tampak berfikir sambil memutar-mutar sendoknya. Dia bingung juga harus menjawab apa.
"Udah ... bilang aja cinta." Kinta menoel tangan Naira dan tersenyum kegelian.
"Eh, udah malam pertama belum?" tanya Kiki yang membuat Naira langsung membelalakkan matanya.
"Belum, dong!" ketus Naira.
"Lah, kok, belum? Nggak seru dong," ucap Sindy menahan senyum.
"Kalian apaan, sih?" kesal Naira memanyunkan bibirnya. Menyebalkan sekali kalau sahabat-sahabatnya mendadak gila seperti ini.
"Ya elah baper ... 'kan cuman nanya." Kiki membalikkan wajah Naira untuk menghadapnya saat melihat wajah sahabatnya itu sedikit masam.
"Uhh, kok, gue pengen nikah juga, yak?" ucap Kinta greget dan iseng.
"Hahaha, gila lo!"
Mereka semua tertawa geli dan saling cubit tak jelas saat kata itu Kinta lontarkan.
***
"Mas Rifky ...!" Naira melentangkan kedua tangannya sambil berteriak memanggil Rifky.
"Nggak usah teriak-teriak!" Rifky menghampiri Naira dan memeluknya dengan hangat. Huh ... seperti sudah lama berpisah saja!
"Kita jalan-jalan dulu, ya, Mas," ajak Naira setelah melepas pelukannya.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ke mana, aja. Mas, 'kan udah janji mau beliin aku ice cream." Naira membentuk sebuah senyuman di bibirnya.
"Iya, tapi nggak usah lama-lama, ya. Kita mau berangkat ngaji," ujar Rifky membalas senyuman Naira.
"Ok, deh." Naira mengangkat jarinya membentuk hurup O dan tersenyum manis. Senang sekali kalau Rifky menuruti permintaannya.
__ADS_1
Mereka memasuki mobil dan meninggalkan tempat tersebut. Rifky segera membelikan Naira ice cream yang dia minta, kemudian langsung mengajaknya pulang.
Sampai di rumah, Naira segera turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah. Dia sudah tak sabar ingin menikmati ice creamnya.
Sedangkan Rifky yang tertinggal hanya geleng-geleng kepala dan menyusul istrinya itu masuk.
"Eumm, enak bangat," gumam Naira yang sedang memakan ice cream. Dia duduk di sofa kamarnya menikmati ice cream yang baru dia beli.
"Nggak ganti baju dulu, gitu?" tanya Rifky yang sudah berada di kamar.
"Nggak! Nanti ice creamnya keburu cair," jawab Naira.
Rifky menghela nafasnya dan menghampiri istrinya. Dia melihat tepi bibir Naira yang belepotan akibat terlalu rakus makan ice cream.
"Kenapa, Mas, liat-liat? Mau?" tanya Naira dan mengarahkan sisa ice creamnya pada Rifky.
"Nggak!" Rifky menggeleng dan tersenyum. "Bibir kamu belepotan," ucap Rifky sambil menunjuk bibir Naira.
"Di mana?" Naira hendak mengelap bibirnya, tapi Rifky cepat-cepat menahan tangannya. Kemudian ....
Rifky menyapu bibir Naira sampi bersih, membuat Naira seketika tercengang.
"Udah bersih," ucap Rifky tersenyum bahagia.
Naira memegang bibirnya dan menatap lekat Rifky. "Kenapa? Kurang?" tanya Rifky yang hendak mencium Naira kembali.
"Nggak!" ketus Naira memalingkan wajahnya. Dia kembali menikmati ice creamnya yang sempat tertunda tanpa memperdulikan Rifky lagi.
Rifky sendiri terkekeh melihat tingkah Naira.
"Habisin yang cepat, terus mandi!" titahnya, dan meninggalkan Naira untuk membersihkan diri.
.
.
__ADS_1
.
TBC.