
Rifky berjalan ke arah pintu dan membukanya. Matanya menangkap tiga sosok gadis seumuran dengan istrinya. "Kenapa?" tanya Rifky yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Eh, Kak? E--anu, itu, kita mau ... jenguk Naira." Kinta berbicara dengan kikuk membuat Rifky mengangkat sebelah alisnya.
Iya, yang datang teman-teman Naira ternyata. Lebih tepatnya Kinta yang melihat aksi Rifky dan Naira.
"Ya udah, masuk!" Rifky menyuruh mereka semua masuk untuk menemui Naira.
"Makasih, Kak," ucap Kiki dengan nada pelan.
Kemudian mereka masuk beriring-iringan dan saling dorong, juga dengan gelak tawa yang tersembunyi membuat Rifky sedikit terkekeh. Dasar bocah!
Rifky pergi ke luar sebentar dan membiarkan mereka menemani Naira. Lagipula tak enak jika dia tetap di sana. Biarkan teman-teman Naira yang menemani Naira sekarang.
"Naira ...." Mereka bergantian memeluk Naira yang sedang tidur.
"Kirain lo belum sadar, udah kangen banget kita," ucap Sindy dan diangguki oleh Kinta dan Kiki.
"Oh, ya. Gue bawa ice cream, nih. Mau nggak?" tanya Kinta sambil mengeluarkan ice cream dan beberapa jajanan lain dari kantong plastik.
"Mau banget." Naira mengambil ice cream itu dengan wajah sumringah dan mulai membukanya.
Saat Naira hendak memakannya tiba-tiba Rifky datang dan menatap mereka semua.
Perlahan, Naira memberikan ice cream itu pada Kinta dengan menoel-noel tangan sahabatnya itu, tapi Kinta tak mengerti, malah diam saja karena mereka takut pada Rifky.
Sampai Rifky berdiri di dekat mereka, semuanya menunduk, tak berani melihat Rifky. Naira hanya menggigit bibir bawahnya dan sesekali matanya melirik suaminya itu.
"Mana, ice creamnya?" Rifky mengulurkan tangannya kepada Naira agar Naira memberikan ice cream itu.
Naira memberikannya.
"Aku bilang jangan makan ice cream dulu! Kenapa nggak nurut?" tanya Rifky datar, tapi berhasil membuat Naira merinding.
"Ma--maaf, Mas," ucap Naira menunduk.
Sedangkan Kinta, Kiki dan Sindy hanya menjadi pendengar yang baik.
Rifky menghela nafasnya, dan duduk di samping brankar Naira.
"Bukan nggak boleh, Sayang ... tapi kamu belum sembuh. Mas nggak mau kamu sakit lagi," tutur Rifky sambil memegang tangan Naira.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Rifky tersenyum dan menatap mereka satu persatu. Kemudian duduk di kursi yang agak jauh untuk mengawasi gerak-gerik mereka.
"Ra, itu siapa, sih?" bisik Sindy sambil curi-curi pandang pada Rifky.
"Dia ...?" Para sahabat Naira mendekatkan wajah mereka masing-masing untuk mendengarkan Naira bicara agar tak terdengar oleh Rifky.
"He'em, siapa?" tanya Kinta mengangguk.
"Suamiku."
"Whatt!" Mereka bertiga berteriak karena kaget, dan langsung menutup mulut kembali.
"Shut!" Naira menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Ada apa?" Rifky yang tadi fokus dengan gawainya langsung melihat ke arah mereka.
"Eh, nggak papa, kok, Mas. Hehe." Naira nyengir kuda, diikuti oleh taman-temannya.
Ck!
Rifky mengeleng-gelengkan kepalanya. Mereka berempat memang seperti bocah.
"Udah ... nggak usah bawel, deh. Ceritanya panjang, lain waktu gue ceritain," jawab Naira yang membuat mereka melemas.
"Ya udah, deh. Kalau gitu kita mau pulang, nggak berani lama-lama di sini." Sindy mengajak Kiki dan Kinta untuk pulang.
"Cepat sembuh, ya, Ra. Nggak sabar denger cerita, lo." Sebelum pulang, Kinta sempat mengucapkan itu.
Rifky melihat mereka yang beranjak dari tempat duduk.
"Pulang, Kak," pamit Sindy sambil nyengir.
"Iya," balas Rifky mengangguk.
Setelah mereka ke luar, Rifky mendekati Naira dan menatap istrinya yang juga menatapnya. "Apa yang diceritain?"
"Kepo!" ketus Naira sambil mengulum senyum.
"Aww ...!" Rifky menarik hidung Naira yang membuat Naira meringis. "Kenapa, sih?" ucap Naira kesal sambil memegangi hidungnya.
__ADS_1
Rifky hanya terkekeh menyaksikan itu. Hidung merah, dengan raut muka cemberut, lucu sekali.
"Tadi, Mas udah telfon, Mama. Katanya mereka bakal ke sini," kata Rifky sembari tersenyum.
"Bagus kalau gitu," jawab Naira jutek.
"Apanya yang bagus?"
"Ya, kalau Mama ke sini, aku nggak bakal sama Mas terus."
"Memangnya kenapa kalau sama aku terus?" tanya Rifky yang heran atas ucapan Naira tadi.
"Nggak ada," jawab Naira singkat.
Naira memainkan ekor matanya dan sesekali melihat Rifky, lalu tersenyum sendiri kala mendapati ekspresi dari suaminya.
Rifky semakin heran dibuatnya. "Kenapa?" tanyanya sekali lagi.
"Nggak ada apa-apa." Naira masih tetap menahan tawa.
Muach!
Muach!
Muach!
Rifky yang kesal pun langsung memegang kepala Naira dan menciumnya bertubu-tubi, lalu membuka pintu karena mendengar ketokan.
"Maaasssss ...!"
"Ada apa, Sayang? Kok, teriak-teriak ...?" Marlin yang baru datang bersama Herman langsung menghampiri putrinya itu.
"Mas Rifky, tuh, Ma!" Naira memanyunkan bibirnya kesal dan menunjuk suaminya.
"Hahaha, biasa, Ma." Herman tertawa sambil tersenyum geli pada istrinya.
Sedangkan Marlin hanya menggeleng. Wajar! Sifat Naira pasti nurut papanya. Aduh ...!
.
.
__ADS_1
.
TBC.