Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 64


__ADS_3

Berkumpul dengan kedua sahabatnya membuat Naira begitu senang dan terhibur. Apalagi mendengar kekonyolan Sindy dan Kinta tentang bayinya yang masih berada di perut itu, rasanya Naira tak ingin berhenti tertawa.


Kinta dan Sindy juga demikian. Bahkan satu gelas minuman mereka tidak habis-habis karena terlalu banyak bercanda. Tiada habisnya gurauan mereka kalau sudah bersama bwgitu. Sayang, Kiki tak ada di sana untuk melengkapi.


"Gimana kalau kita jalan-jalan aja? Bosan di rumah terus," usul Kinta akhirnya. Sindy mengiyakan, tapi Naira masih bimbang.


"Gimana, ya? Nanti nggak diizinin sama Mas Rifky," jawab Naira bingung.


Kinta dan Sindy saling pandang. Lantas menatap Naira dengan senyum.


"Minta izin sama Bi Ira aja. Pasti diizinin!" ucap Kinta antusias. Senyum di wajahnya masih tersungging manis, begitu bersemangat mengajak kedua sahabatnya untuk jalan-jalan.


"Mama bilang, kalau pergi ke mana-mana harus izin dulu sama suami. Karena kalau suami nggak izinin dan kita masih pergi? Itu nggak boleh," jelas Naira saat teringat pesan-pesan dari mamanya.


"Iya udah. Lo telepon aja Mas Rifky---"


"Jangan panggil suami gue mas! Mas itu khusus panggilan gue, kalian panggil kakak aja atau apalah!" Naira menatap Sindy yang belum selesai berbicara. Matanya menggerling sengit ke arah Sindy, membuat kedua sahabatnya itu menatap jengah.


"Yaelah ... kagak diambil kali. Dipanggil doang!" protes Sindy sambil memukul pelan tangan Naira. Gadis itu memutar malas bola matanya, kemudian bersedekap dada kala Naira menatapnya lagi.


"Pokoknya nggak boleh!" balas Naira.


"Ih ... apaan, sih rebutan Mas Rif--eh, Kak Rifky maksudnya. Sekarang mau jalan-jalan, nggak?" tanya Kinta menengahi.


"Ya udah, deh. Gue telepon dulu!" Kinta mengangguk. Sedangkan Sindy masih memanyunkan bibirnya kesal. Dia, 'kan hanya salah panggil tadi. Masa sampai segitunya? Huh, dasar!


"Assalamualaikum, Mas?" ucap Naira setelah Rifky mengangkat teleponnya.


"Waalaikumussalam. Kenapa, Sayang?" tanya Rifky di seberang sana. Sindy yang mendengar hanya memasang wajah jengah, lalu cuek kembali saat Kinta menepuk pelan pahanya.


"Em ... aku mau ke luar sama teman aku, Mas. Boleh, nggak?" tanya Naira sedikit ragu. Sedetik dia menatap Kinta dan Sindy yang memperhatikannya.


"Mau ke mana?" tanya Rifky lagi.


"Jalan-jalan. Sebentar aja, kok ...," rayu Naira tersenyum. Dalam hatinya berdoa agar Rifky mengizinkan.


"Boleh ... tapi---"


"Yes! Yes! Yes!" Kinta dan Sindy kegirangan sampai Naira tak dapat mendengar lagi perkataan dari suaminya.


"Shut! Diam dong!"


"Apa, Mas?" tanya Naira kembali menempelkan handphonenya di telinga.

__ADS_1


"Jangan lama-lama. Dan jangan sembarangan kalau beli makanan, ya?" pesan Rifky.


"Iya, Mas. Enggak akan," balas Naira. "Ya udah, aku tutup, ya?Assalamualaikum ...."


Naira mematikan handphonenya setelah Rifky menjawab salam. Lalu bertepuk tangan dengan kedua sahabatnya.


Mereka berpamitan pada Bi Ira dan keluar dengan girang. Akhirnya dapat bermain lagi setelah sekian lama tidak bersama.


***


Ayu dan Bi Yati berkeliling pasar untuk membeli bahan dapur mereka. Kedua wanita itu masing-masing sudah menenteng beberapa plastik sembari terus berjalan.


Beberapa menit belanja, Ayu mengajak Bi Yati pulang saat dirasa sudah cukup. Dikarenakan tidak membawa mobil, mereka terpaksa harus mencari angkot terlebih dahulu.


Ayu menunggu Bi Yati di dekat jalan raya. Wanita itu tak sadar kalau keselamatannya sedang terancam oleh seseorang yang mengamatinya.


"Sebentar lagi kau akan mati, Ayu! Dan suamimu yang brengs*k itu akan merasakan kehilangan sebagaimana aku kehilangan Rifky!" gumam seseorang itu yang tak lain adalah Rani. Senyum miring terpana di wajah wanita tersebut kala melihat Ayu hendak menyeberang jalan.


Pedal gas sudah siap dia injak dengan setumpuk dendam yang membuncah di hatinya. Riyan, penyebab kegagalan rencananya, dan Rani tak akan membiarkan laki-laki itu lolos begitu saja.


Jika dia tak mampu melukai Riyan, maka istrinya-lah yang menjadi sasarannya.


"Neng! Ayo!" panggil Bi Yati pada Ayu. Ayu mengangguk dan meraih beberapa kantong plastik untuk dia bawa. Wanita itu memastikan kiri-kanan jalan terlebih dahulu saat hendak menyeberang.


"Awas, Neng ...!"


Bruk!


"Akh!"


"Neng Ayu!" Bi Yati berlari menghampiri Ayu yang telah terkapar, gadis itu masih sempat meringis dan memanggil suaminya sebelum akhirnya lemas dan menutup mata.


"Neng! Neng, bangun, Neng!" Bi Yati menangis sembari memangku wajah yang penuh darah itu. Walau banyak orang yang berkumpul di sana, tapi tak satupun yang mengetahui sang pelaku. Mereka lebih memilih menyelamatkan Ayu terlebih dahulu daripada mengejar orang yang menabraknya.


Ayu secepatnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara Bi Yati dilanda kebingungan dan kegundahan. Tangan wanita itu bergetar saat hendak menelepon Iyan. Apa yang harus ia jelaskan pada laki-laki itu?


Tut ... tut ....


Bi Yati setia menunggu jawaban dari Iyan. Dia tahu kalau ini waktunya Iyan bekerja, tapi istrinya akan lebih penting, bukan?


"Assalamualaikum, Bi. Ada apa?" tanya Iyan menyahut.


"Wa--waalaikumussalam. Neng Ayu. Neng Ayu ditabrak mobil," adu Bi Yati waswas.

__ADS_1


"Apa? Maksud Bibi apa?" tanya Iyan terdengar bingung.


"Neng Ayu ditabrak, Den! Sekarang ada di rumah sakit," jelas Bi Yati. Wanita itu mendengar kalau laki-laki yang diteleponnya terkejut. Lantas meminta alamat rumah sakitnya.


Sementara itu, Rani tersenyum kemenangan atas rencananya. Wanita itu sudah berada di rumahnya dan duduk santai di sofa sembari menyilangkan kaki.


"Aku harap kamu mati secepatnya, Ayu! Dan suamimu itu juga akan mati perlahan-lahan karena memikirkan kamu! Hahaha ...." Tawa iblis menggema di ruangan rumah tersebut. Rani begitu senang atas perbuatannya. Kalaupun dia harus mengakhiri hidupnya sendiri karena tertangkap, dia tak peduli. Dendam telah memenuhi hatinya, hingga tidak lagi takut akan setumpuk dosa.


***


"Ayu di mana, Bi?!" tanya Iyan yang baru sampai di rumah sakit tempat istrinya ditangani. Dengan nafas tak beraturan, lelaki itu menghampiri Bi Yati yang menunggu di depan ruang ICU.


"Neng Ayu lagi di dalam. Luka di kepalanya sangat parah, Den. Maafkan Bibi ...," ucap Bi Yati tertunduk. Bagaimanapun dialah yang seharusnya menjaga Ayu saat Iyan tak ada.


"Astagfirullah ... siapa yang menabraknya, Bi?" tanya Iyan sembari mengusap kasar wajahnya.


"Nggak tau, Den."


Ceklek!


"Suster!? Istri sa---"


"Maaf, Pak. Keluarga pasien belum dipersilahkan masuk. Silahkan tunggu saja di luar sampai kami selesai!" ujar suster yang baru keluar dari ruangan Ayu. Iyan menghela nafas berat saat pintu ICU kembali ditutup.


"Siapa? Kenapa istriku harus mengalami ini?!" Iyan bergumam marah. Sedari tadi lelaki itu tidak duduk dan terus mondar-mandir tak jelas. Wajah dan kemejanya tampak basah oleh keringat yang bercucuran.


Ceklek!


"Dokter! Bagaimana istri saya?!" Iyan langsung menghampiri dokter yang baru keluar.


"Hemps ... cukup parah, Pak. Istri Anda mengalami sesak nafas karena hantaman kuat di dadanya. Untunglah masih bisa diselamatkan," ujar dokter itu menjelaskan.


"Ya Allah ...." Iyan mengusap rambutnya dan tertunduk sebentar. Tak terasa air mata luluh di wajah tegasnya.


"Boleh saya melihatnya, Dok?" tanya Iyan pelan.


"Silahkan, Pak. Mohon untuk tidak mengganggu pasien terlebih dahulu," ucap dokter.


Iyan mengangguk dan memasuki ruangan Ayu. Terlihat istrinya sedang terbaring dengan masker oksigen dan beberapa perban di kepala, kaki, dan tangannya yang lecet.


"Sayang ... maafin Mas ...." Untuk kali ini laki-laki itu menangis pilu. Suaranya tercekat saat mendapati istrinya yang penuh luka.


"Mas janji akan menemukan orang yang nabrak kamu, Sayang. Tapi kamu cepat sadar, ya .... Jangan tinggalin Mas ...." Iyan berucap lirih. Dia hanya mampu menatap Ayu tanpa menyentuhnya, sebab tangannya pun tak bisa disentuh karena masih banyak mengelurkan darah. Perban yang membalut sekitar luka istrinya itu sudah hampir sepenuhnya merah. Separah inikah luka istrinya?

__ADS_1


Iyan terduduk lemah sambil terisak pelan, matanya terlihat memerah karena emosi yang tengah tertahan.


__ADS_2