Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 49


__ADS_3

Naira dan Rifky berangkat ke masjid dan membawa beberapa pakaian ganti karena mereka akan langsung ke rumah orang tua mereka nanti.


Setelah merapikan pakaiannya, Rifky beralih menatap Naira yang masih memakai hijab. Laki-laki itu mendekati istrinya dan membalikan tubuh Naira untuk menghadapnya. Kemudian tersenyum sembari merapikan hijab Naira.


"Jangan sedih lagi, ya, Sayang? Cantiknya ilang, loh," ucap Rifky menghibur. Naira mengangguk dan tersenyum saat Rifky menangkup kedua pipinya dengan lembut. Sentuhan suaminya ini benar-benar memberinya ketenangan. Ah, kenapa juga dia harus menangis? Bukankah seharusnya dia senang karena sebentar lagi akan memiliki buah hati dari laki-laki seperti Rifky. Naira jadi teringat pesan mamanya, bahwa seorang wanita yang baik itu adalah dia yang berbakti kepada suaminya dan mampu mendidik anak-anaknya kelak. Naira rindu mamanya, mamanya-lah yang selalu bisa membuatnya kuat.


"Kok nangis, lagi, sih ...?" Rifky menghapus pelan air mata Naira dan menatap istrinya itu dengan lembut.


"Aku rindu Mama, Mas," lirih Naira sambil mengusap air matanya.


"Nanti, 'kan kita ke sana. Sekarang kita berangkat ngaji dulu, ya? Yuk!" Rifky tersenyum dan membimbing tangan Naira untuk berpamitan pada Bi Ira.


Bi Ira juga sudah siap dengan pakaian rapinya. Rifky menyuruhnya untuk berangkat lebih dulu ke rumah Herman karena tak ingin meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian.


Tak tega juga meninggalkan Bi Ira sendiri. Apalagi di malam hari.


Wanita itu sudah seperti orang tua mereka, yang memberikan perhatian penuhnya pada Naira dan Rifky.


Tak lama mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah untuk menuju surau.


"Mas! Nanti beliin aku ice cream, ya? Boleh, 'kan ...?" pinta Naira disertai ekspresi cemberutnya.


Rifky tersenyum sekilas menatapnya. "Boleh, Sayang. Tapi jangan banyak-banyak, ya?" jawab Rifky. Naira mengangguk dan membalas senyuman Rifky. Kemudian lebih mendekatan tubuhnya pada Rifky dan mengecup singkat pipi kiri suaminya itu.


Rifky terkekeh sebentar menatap istrinya. Naira yang mendengar kekehan Rifky langsung mengulangi aksinya mencium pipi Rifky. Entahlah! Dia selalu ingin dekat dengan suami gantengnya itu.


Tak lama, mobil mereka sampai ke tempat yang dituju. Naira dan Rifky segera turun dari mobil dan memasuki surau setelah mengambil air wudhu kembali.


Semua anak-anak menyambut kedatangan mereka, bahkan ada yang memeluk Naira.


Naira yang dulunya tidak suka pada mereka, sekarang sangat menyayangi mereka dengan kelembutannya. Bagaimana tidak suka jika mereka dulu menertawakan Naira saat Naira pertama kali memasuki surau ini? Hah! Naira jadi malu sendiri jika teringat masa itu.


Mereka melaksanakan pengajian seperti biasanya. Naira belajar bersama dengan murid-muridnya, mulai dari membaca Al-qur'an sampai hapalan surah-surah pendeknya.


Di penghujung kegiatannya, Naira membuka-buka kembali lembaran Al-qur'annya. Tak sengaja dia membaca salah satu surah yang membuat air matanya menetes.


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.

__ADS_1


'Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.' (Q.S. Ibrahim:7).


Naira teringat semua perbuatannya. Apakah selama ini dia sudah bersyukur? Sementara Allah sudah memberikan nikmat yang sangat banyak padanya.


Air mata Naira mengalir membasahi pipi mulusnya. Anak-anak yang lain melihatnya dengan heran. Ada apa? Mengapa Naira menangis tanpa sebab?


Rifky yang melihat Naira segera bertanya pada istrinya itu. Namun, Naira hanya menggeleng. Dia tidak ingin perhatian semuanya terpusat padanya. Biarlah ... dia sendiri yang membenahi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Al-qur'an, adalah benar. Janji Allah itu pasti. Maka dia akan selalu memperbaiki dirinya dan selalu bersyukur akan nikmat-Nya.


Naira yakin. Yang terbaik bagi dia belum tentu baik bagi Allah. Namun, yang terburuk untuk dia sudah pasti baik bagi Allah.


Dengan keyakinan itu, mampu membuat sudut bibirnya terangkat. Hatinya menjadi lebih tenang sekarang.


Selesai mengaji, mereka berkumpul di masjid untuk melaksanakan ibadah shalat ashar. Masjid itu sudah penuh oleh jama'ah-jama'ah lainnya yang hendak menunaikan sholat, dan kali ini Iyan yang menjadi imamnya.


Ketika waktunya pulang, Iyan memanggil Rifky dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Rifky yang tadinya ingin masuk ke mobil menutup kembali pintunya.


"Ada apa, Yan?" tanya Rifky dengan alis terangkat.


"Nggak papa. Ini! Undangan pernikahan aku!" Iyan menyerahkan sepucuk undangan pada Rifky.


"Ayu Anggraini?" gumam Rifky dengan mata yang memicing. Merasa tak asing dengan nama itu.


"Iya. Kita satu nasib. Dijodohkan!" jawab Iyan. Namun, dengan senyum termanisnya.


"Wah-wah! Bentar lagi pengantin baru, nih. Ini? Tiga hari lagi, 'kan?" goda Rifky sembari menunjuk tanggal yang tertera di undangan itu.


"Bawel, ah. Kamu seneng banget godain orang." Iyan menggerling sebal ke arah Rifky. Sementara Rifky sudah menertawakan sahabatnya itu.


"Rifky ... sudahlah! Ajak istrimu itu pulang!" Ustaz Hanan yang lelah menunggu Iyan, membuka suaranya. Pasalnya dia pulang bersama anak tetangganya itu.


"Iya, Pa. Hahaha." Sekali lagi Rifky tertawa dan menepuk pundak Iyan. Lalu masuk ke dalam mobil dimana Naira sudah menunggu.


"Maaf lama, ya, Om?" ucap Iyan pada Ustaz Hanan.


"Iya, nggak papa, Yan. Kamu kalau sudah sama Rifky begitu. Anak jahil itu pasti menggoda kamu, 'kan?" jawab Ustaz Hanan disertai kekehan.

__ADS_1


"Gitu, deh, Om. Itu, 'kan Rifky ...." Iyan mengendarai mobilnya untuk pulang.


"Kalian sama. Padahal bukan lagi anak kecil!" cibir Ustaz Hanan.


"Hehe, becanda, kok, Om," jawab Iyan tertawa. Ustaz Hanan ikut terkekeh menanggapinya.


***


Sesudah membelikan Naira ice cream, Rifky membawa istrinya itu ke rumah Herman. Tujuan mereka sekarang memang ke rumah Papa dan akan menginap di sana.


Begitu sampai di rumahnya, Naira langsung berlari masuk meninggalkan Rifky. Rasanya tak sabar ingin cepat bertemu dengan mamanya---Marlin.


"Assalamu'alaikum ...," salam Naira, "Mama ... Naira datang ...."


"Wa'alaikumussalam. Sayang?" Marlin segera menyambut kedatangan putrinya dengan pelukan hangat. Begitu juga Naira, dia menciumi pipi mamanya berkali-kali karena ia sudah sangat rindu. Marlin yang merasa geli hanya terkekeh atas tingkah Naira. Padahal dulu Naira tak pernah mencium mamanya seperti ini.


"Loh? Rifky mana?" tanya Herman yang baru datang dari lantai atas. Kemudian tersenyum saat mendengar Rifky mengucap salam.


"Papa gimana, sih? Bukannya nanyain Naira malah nanyain Mas Rifky. Yang anak Papa, tuh Naira. Bukan Mas Rifky!" cerocos Naira dengan wajah cemberutnya.


Semua hanya mampu tertawa mendengar ocehan Naira. Memangnya kenapa kalau Herman menanyakan Rifky? Toh Naira sudah dilihatnya.


"Iya, Sayang. Kamu emang anak Papa," ucap Herman dan mengelus kepala Naira ketika Naira memeluknya. Lama Naira menikmati pelukan kasih sayang itu, matanya kembali basah mengingat tingkahnya dulu yang sering membantah orang tua. Dia menyesal, sangat menyesal.


"Loh? Kok nangis, Sayang? Kamu kenapa?" tanya Herman seraya menghapus air mata Naira.


"Naira rindu Papa sama Mama. Maafin Naira, ya?" ungkap Naira sambil terisak. Dalam hati dia benar-benar minta maaf, maaf untuk kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat pada kedua orang tuanya.


Marlin dan Herman hanya tersenyum menanggapi ucapan Naira. Lalu mengecup kening Naira bergantian.


Keluarga itu berkumpul kembali. Namun, dengan suasana yang berbeda.


Naira sekarang bukan lagi milik mereka, tapi sepenuhnya sudah menjadi milik Rifky. Yang mana laki-laki itu adalah pilihan dari mereka sendiri.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2