
Selimut yang membingkai ranjang mereka disibak pelan oleh Rifky kala pagi telah menyapa. Lelaki itu melapazkan doa bangun tidur sesaat, menatap tubuh mungil Naira yang masih terbalut selimut dan tersenyum.
Rifky menopang kepalanya tepat di depan wajah Naira, diamatinya setiap inci wajah istrinya itu sembari menyibak beberapa helai anak rambut yang menjadi penghalang. Wajah Naira sama saja seperti dulu, malah bertambah cantik baginya.
Bibir Rifky mengecup cukup lama kening Naira, berpindah di kedua pipi, lantas menyapu lembut bibirnya. Naira menggeliat pelan, menolak tubuh Rifky dalam keadaan tidak sadar, hingga Rifky terkekeh dibuatnya.
"Sayang? Ayo bangun!" bisik Rifky mesra. Naira masih terlelap dengan dengkuran halus, tidak mendengar apa pun dari Rifky.
"Sayang? Bangun!" Rifky menepuk pelan pipi Naira, kemudian mencubit dan menariknya saat Naira tak kunjung membuka mata.
"Aw! Ih! Mas Rifky!" Naira memekik serek, memukul sebal suaminya itu saat kesadarannya mulai terkumpul.
"Dibangunin susah banget. Ya udah, aku cubit!" ucap Rifky tanpa dosa, hampir terkekeh menyaksikan keadaan Naira yang berantakan. Rambut acak-acakan, bibir mengerucut, dengan tangan yang menggosok mata beberapa kali. Persis seperti gadis kecil yang dibangunkan ibunya untuk bersiap ke sekolah.
"Ayo cepat turun! Nanti malah tidur lagi." Rifky beranjak, mengangkat tubuh istrinya yang sengaja diberatkan.
"Kenapa, sih? Perasaan masih malam ...?" Naira merengek saat kakinya menyentuh lantai dingin.
"Masih malam gimana? Liat itu jam! Udah jam tiga! Cepat!" Naira menghentak-hentakkan kakinya saat Rifky berlalu ke kamar mandi, terpaksa dia mengikuti langkah suaminya itu dengan gontai. Malam yang dingin membuatnya enggan beranjak dari tidur, walau ini waktu biasanya mereka bangun.
Naira membasuh seluruh wajahnya, menikmati air segar walau dinginnya sedikit menusuk. Rifky yang sudah selesai langsung menyiapkan alat salat, menunggu istrinya beberapa menit.
Mereka melaksanakan salat sunnah dua rakaat, melangitkan berbait doa kepada Sang Pencipta. Rifky mengusap wajahnya setelah selesai, menoleh Naira di belakangnya yang ikut meng-aamiinkan.
"Eh, kenapa dilepas?" Rifky mencegah Naira saat melihatnya hendak melepas mukenah.
"Kenapa?" tanya Naira lugu.
__ADS_1
"Baca Al-quran dulu sebentar, ya? Nanti baru tidur lagi," ucap Rifky tersenyum. Lelaki itu beranjak dan meraih Al-quran di dalam lemari.
"Mas? Nanti subuh aja, ya? Masih dingin ...." Naira memelas. Menggigit bibir bawahnya sambil menatap penuh harap pada Rifky.
"Sebentar, beberapa ayat doang, kok. Kalau kamu nggak ada yang salah bacanya, Mas suruh tidur lagi," kata Rifky menyimpulkan.
"Kalau salah?"
"Nggak boleh tidur!"
"Ih, Mas ...?" Naira hendak menangis. Kenapa suaminya ini terlalu menuntut, sih?
"Hahaha, Mas becanda, kok, Sayang. Sini!" Rifky menyuruh Naira mendekatnya, mencium kening istrinya itu dan mulai menuntunnya untuk membaca Al-quran.
Sesuai perkataan Rifky tadi, Naira hanya perlu membaca beberapa ayat. Setelah itu dia dibolehkan untuk tidur sejenak sebelum menjelang subuh. Rifky menatap Naira yang sudah terbalutkan selimut, kasihan juga istrinya itu kalau kedinginan. Yang pasti, Rifky tidak bisa menolak jika tingkah manja Naira sudah bertindak.
***
Naira kembali ke dalam, menatap sekeliling rumahnya yang tampak bersih dan rapi. Bi Ira bangun pagi-pagi sekali ternyata, sampai dia tak sempat membantu lagi.
"Neng! Bibi mau ke pasar beli sayur. Mau ikut, nggak?" Bi Ira menghampiri Naira, wanita paruh baya itu sudah rapi dengan satu keranjang yang ditenteng.
"Ikutlah, Bi! Naira juga mau beli buah ...," jawab Naira antusias.
"Ya udah, ayo! Neng nggak perlu ganti baju, 'kan?" kekeh Bi Ira. Naira ikut tertawa dan mengikuti Bi Ira ke luar. Mereka mengunci pintu rumah, kemudian mencari angkot untuk mengantar ke pasar.
Tidak lama angkot yang dinaiki terhenti di pinggiran pasar, Bi Ira membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Naira berkeliling. Bukan Naira namanya kalau tidak senang diajak sana-sini, matanya bahkan berbinar menatap setiap kegiatan di area jual-beli itu.
__ADS_1
"Kita ke mana dulu, Bi?" tanya Naira.
"Ke tukang sayur dulu." Naira mengangguk, mempersilahkan Bi Ira berjalan duluan untuk diikuti. Mereka melewati setumpukan kubis segar dan teman-temannya, hingga akhirnya terhenti di tumpukan tomat cherry.
Bi Ira membeli beberapa jenis sayur sesuai kebutuhan mereka untuk satu minggu penuh. Belanja ke tukang ikan, dan mengajak Naira berkeliling lagi membeli buah yang dia pinta.
Naira tampak senang, sebelum akhirnya netranya tertuju pada nenek tua penjual jeruk. Naira terpaku, menatap sedih wanita renta yang menawarkan jeruk-jeruk hijaunya.
'Gimana kalau Mama udah setua itu, ya?' pikirnya dalam hati. Tak terasa bulir embun jatuh di pelupuk matanya.
"Neng?"
"Iya? Kenapa, Bi?" Naira menghapus kasar air matanya, bergegas menghampiri Bi Ira yang sudah beberapa langkah di depan.
"Neng kenapa?" tanya Bi Ira heran.
"Nggak papa. Naira mau beli jeruk, Bi. Kayaknya segar-segar." Bi Ira mengikuti telunjuk Naira, mengarah pada nenek tua itu.
"Ya udah. Ini uangnya. Bibi beli ubi di sini, ya?" Naira mengangguk. Menerima uang lima puluh ribu dari Bi Ira.
Naira berjalan cepat ke arah penjual, berjongkok di hadapan wanita renta itu yang menyambutnya dengan senyum. "Mau jeruk, Neng?"
"Iya, Nek. Satu plastik ini berapa?" tanya Naira ramah.
"Sepuluh ribu, Neng," jawab nenek itu.
"Saya beli dua plastik, ya, Nek." Wanita tua itu mengangguk, melukiskan senyum syukur di wajahnya yang mengkerut.
__ADS_1
"Makasih, Nek. Ini uangnya, ya. Kembalinya buat Nenek aja." Naira langsung pergi setelah menerima dua kantong jeruk segar. Tersenyum pada nenek tua yang hendak memberikan sisa uangnya.
Hari ini, dia melihat sendiri. Betapa banyak orang yang kekurangan hingga harus berusaha mencari nafkah. Namun, mereka tidak mengeluh. Mereka bahkan dapat mengukir senyum, karena hati merekalah yang bersyukur ....