
"Kak, Kakak benaran pacaran sama Naira?" tanya Rezal. Saat ini mereka duduk di balkon kamar Tama.
"Kepengen gue, sih," jawab Tama tanpa melihat lawan bicaranya. Pria itu sibuk mengobati sedikit bekas memar di wajahnya akibat pukulan dari Rifky.
"Hah?! Gila, ya! Maksain anak orang namanya," ucap Rizal kaget. Rizal tak habis fikir dengan tingkah kakaknya ini. Ada apa?
"Kenapa, emang?" ketus Tama menatap kesal adiknya.
"Nggak papa. Dia emang cantik, sih, wajar kalau kakak suka." Rizal tampak berfikir dan mengetuk-ngetuk dagunya.
"Lo suka juga sama Naira?" tanya Tama menyelidik.
"Awalnya, sih," jawab Rizal cengengesan.
"Awas, ya lo! Jan sampe lo embat si Naira. Mentang-mentang satu sekolah," ancam Tama.
"Enggak, Kak. Gue tahu diri kali." Rizal memutar bola matanya, jengah atas sikap kakaknya yang satu ini.
Ah! Kenapa bisa dia dan kakaknya menyukai orang yang sama? Apakah Rizal harus mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan kakaknya?
Jujur, dia juga sangat menginginkan Naira!
"Terus ... yang tadi itu siapa?"
Tama menatap adiknya kesal, banyak tanya, nih anak.
"Suaminya," jawab Tama singkat.
"Whattt?! Su--suami?" Rizal menatap Tama serius, "jadi, Naira udah punya suami?" sambungnya.
"Iya, kenapa?" ketus Tama sambil mengutak atik gawainya.
"Gimana ceritanya?" Pria itu terheran kala mendengar Naira ternyata sudah menikah.
Bagaimana mungkin? Dia, 'kan masih sekolah, apa nggak dikeluarkan dari sekolah?
"Gue mau Naira-nya, bukan ceritanya!" tukas Tama dan meninggalkan adiknya yang bawel itu.
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Rizal. Apa benar yang dikatakan Tama? Kalau benar, kenapa Tama masih mengejar Naira? Bukankah Naira telah menjadi milik orang lain?
Tama menuruni anak tangga menuju ruang tamu, untuk menemui orang tuanya yang baru pulang dari luar kota beberapa minggu ini.
"Tama! Besok kamu temanin Papa ke perusahaan XX. Kita akan bekerja sama dengan perusahaan itu," ujar Aldy saat Tama telah duduk di sofa.
"Iya, Pa," jawabnya singkat.
"Muka kamu kenapa, Tama?" tanya mamanya.
"Nggak papa, Ma," jawab Tama nyengir.
"Oh, ya. Kamu udah punya pacar belum?" tanya Arumi---mamanya.
"Emm, belum, Ma." Tama menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Pasti dia akan mendapat omelan dari mamanya.
"Gimana, sih, kamu? Katanya mau cariin Mama mantu," ucap Arumi mengeluh.
"Iya ... lagi nyari, Ma." Tama menatap mamanya kesal. Wanita itu selalu saja membicarakan tentang jodoh. Mana Tama tahu jodohnya siapa? Toh sekarang dia sedang memperjuangkan Naira.
"Kalau kamu nggak dapat pacar dalam satu minggu ini. Mama sama Papa akan melangsungkan pertunangan kamu dengan anak teman Mama!" ancam Arumi.
"Nggak, Ma. Tama nggak mau dijodoh-jodohin!" jawab Tama cepat.
"Ya udah. Kalau gitu cari pacar," ucap Arumi enteng.
"Mama!" Tama tampak kesal dengan mamanya. Sementara sang Mama menanggapinya acuh tak acuh.
"Dia itu sedang memperjuangkan seseorang yang sama sekali tak mengharapkannya, Ma, Pa." Rizal yang tiba-tiba datang langsung bicara.
"Apaan, sih lo?!" Tama menatap tajam adiknya.
"Maksudnya?" Aldy dan Arumi bertanya serempak.
"Tanya, tuh, sama orangnya," jawab Rizal menunjuk Tama memakai bibirnya.
"Tama?" Arumi menatap Tama penuh tanya.
"Nggak, Ma." Tama menggeleng. "Ngawur aja, lo," ucap Tama melihat kesal pada Rizal.
Rizal hanya cuek dan tak peduli. Bukannya tak peduli, sih. Sebenarnya dia sangat peduli pada kakaknya, karena itu dia tak ingin kakaknya terjebak rasa yang salah pada Naira.
Rizal juga pergi ke kamarnya sendiri. Sementara Aldy dan Arumi saling tatap dan menghembuskan nafas kasar. Ada apa sebenarnya?
****
"Lukanya masih sakit, Mas?" tanya Naira mendudukkan diri di samping Rifky.
"Nggak, cuma lecet, kok," jawab Rifky tersenyum.
Naira memperhatikan bibir Rifky yang memerah, tangannya terulur untuk menyentuh bibir suaminya itu.
Tatapan keduanya bertemu, Rifky mendekatkan wajahnya pada Naira hingga mereka merasakan deru nafas satu sama lain.
Cup!
Tindakan itu refleks terjadi, tanpa diduga dan tanpa disuruh. Rifky m*****t bibir Naira pelan, keduanya memejamkan mata menikmati suasana malam ini.
Bi Ira datang tiba-tiba mengantarkan minuman mereka, dia sempat memalingkan wajahnya sambil berdehem.
Naira spontan menjauhkan dirinya, dan menatap Bi Ira dengan perasaan malu.
"Bibi belum tidur?" tanya Naira, sedangkan Rifky fokus pada layar ponselnya.
"Belum, ini minumannya, Neng." Bi Ira meletakkan dua minuman di atas meja.
Memang itu sudah menjadi kebiasaan Bi Ira untuk menyajikan minuman di kala majikannya itu sedang bersantai, tapi kali ini dia tidak memerhatikan keadaan. Ya elah, Bi Ira ... ganggu aja.
__ADS_1
"Bibi, permisi, Neng," pamit Bi Ira sembari tersenyum.
"Iya."
Setah kepergian Bi Ira, Naira menghela nafasnya sejenak, lalu mengambil minuman yang diberikan oleh Bi Ira tadi.
"Mas Rifky, minum dulu." Naira menyerahkan secangkir minuman untuk Rifky.
Tak ada jawaban, Rifky malah memandang Naira tak berkedip.
"Mas," panggil Naira sekali lagi.
Tanpa meminum minuman yang disajikan Bi Ira, segera Rifky menggendong tubuh mungil Naira menuju kamar mereka.
"Mas, mau ngapain?" tanya Naira panik saat Rifky menidurkannya dan mengunci pintu kamar.
Belum sempat Naira berdiri, Rifky sudah berada di atasnya.
"Mas, jangan macam-macam dulu." Naira berusaha melepaskan dirinya, dia mencoba mendorong tubuh Rifky agar segera menyingkir, tapi tangan mungil itu ditahan oleh Rifky.
"Mas, berhenti!" Suara Naira tertahan karena Rifky mencium bibirnya. Lanjut ke leher jenjang Naira dan menggigit pelan di sana.
Saat Rifky hendak membuka kancing baju Naira, tiba-tiba Naira menangis.
"Mas, jangan sekarang ...," rengek Naira dengan mata yang sudah basah.
Naira mengeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak.
Sedangkan Rifky hanya tertawa geli melihat wajah istrinya yang ketakutan, dia menghapus air mata Naira dan mencium lembut kening gadis itu.
"Aku tidak akan melakukannya," ujar Rifky tersenyum.
"Beneran?" tanya Naira serius.
"Iya, Sayang. Ayo tidur." Rifky membaringkan tubuhnya di samping Naira dan masih setia memeluk istrinya itu.
Naira menghapus sisa-sisa air matanya, dan menatap Rifky sebal.
"Kenapa ...?" tanya Rifky sambil terkekeh.
"Nyebelin banget, sih," ketus Naira.
Rifky tersenyum saat Naira marah padanya, ternyata istrinya ini begitu lucu dan menggemaskan.
"Udah, tidur sekarang, ya!" titah Rifky dan mendekap Naira sayang. Naira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rifky dan segera menutup matanya.
.
.
.
TBC.
__ADS_1