
Kabar kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu telah sampai ke telinga Erna dan Rahman---suaminya. Keduanya sesegera mungkin menuju rumah sakit di mana Ayu sedang dirawat.
Erna dan Rahman menghampiri Bi Yati yang masih menunggu di depan ruangan Ayu. Saat ini Ayu kembali ditangani dokter karena mengalami kondisi kritis.
Sementara Iyan, entah di mana keberadaannya sekarang. Pria itu mungkin berusaha menemukan jejek, sebab ia menginginkan orang yang menabrak istrinya segera ditemukan.
"Kenapa Ayu bisa begini?" tanya Erna panik.
"Tidak tau siapa pelakunya, Nyonya," jawab Bi Yati menunduk sedih.
"Astaghfirullah .... Lalu Riyan ke mana? Kenapa dia tidak menunggu istrinya?" tanya Erna lagi. Wanita itu menepuk pelan keningnya saat Bi Yati menggeleng pelan.
Rahman yang menyaksikannya hanya mampu menghela nafas sembari menarik istrinya itu untuk ditenangkan. Tinggal berdoalah jalan satu-satunya.
Kemudian mereka bergegas menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan Ayu. Tampak sekali ekspresi lelah di wajah wanita berjas putih itu.
"Bagaimana menantu saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Erna sambil menangis.
"Keadaannya semakin kritis, Bu. Detak jantungnya tidak normal lagi," jawab dokter dengan nada sendu.
"Tolong selamatkan dia, Dokter ... saya tidak ingin kehilangannya," pinta Erna. Rahman mengelus punggung istrinya yang mulai lemah. Lalu menatap dokter seolah memberi isyarat.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Bu. Tapi hanya takdir dan doalah yang menjadi penentunya," ucap dokter tersenyum. Kemudian meninggalkan mereka setelah mengelus pelan bahu Erna.
Ketiga orang itu memasuki ruangan Ayu atas izin dari dokter. Terlihat sosok wanita dengan wajah pucat pasi terbaring lemah di brankar. Perban demi perban yang terbalut di tubuh Ayu semakin membuat Erna terisak. Siapa yang menabrak Ayu tanpa bertanggung jawab?!
***
"Assalamualaikum ...." Rifky memasuki rumahnya sembari berucap salam.
"Waalaikumussalam ... Mas Rifky!" Naira berlari menuruni anak tangga dan melentangkan kedua tangannya. Tak lupa sebuah senyum mengembang ia tampilkan untuk menyambut kepulangan Rifky.
"Jangan lari-lari, Sayang. Nanti jatoh, gimana?" Rifky menyambut tubuh mungil Naira.
"Eum ... cepek banget, ya? Mukanya keliatan kusut." Naira mengelus wajah Rifky sembari memanyunkan bibir. Kedua tangannya segera bergelayut manja di balik leher suaminya itu.
"Enggak capek, Sayang. Tapi kepikiran sama Mbak Ayu," jawab Rifky pelan.
__ADS_1
"Kok Mbak Ayu?! Mas punya masalah apaan sama Mbak Ayu?!" Naira langsung berkacak pinggang di depan Rifky sambil menatapnya tajam.
"Bukan apa-apa, Sayang. Kamu jangan salah terka dulu, lah. Dengerin dulu ...," bujuk Rifky pelan. Dia sudah tahu kalau kelembutan adalah cara terampuh untuk menghadapi tingkah Naira.
"Terus apa?!" Naira masih bertanya ketus. Namun, sedikit lebih pelan.
Rifky menghembuskan nafas dan berjalan menaiki anak tangga. "Mbak Ayu kecelakaan. Keadaannya sekarang cukup parah, dan Mas yakin kalau Kak Iyan bakal panik."
"Innalillahi wainnailaihi rojiun ...." Naira yang tadi mengikuti Rifky, sentak menutup mulutnya.
"Kecelakaan kenapa, Mas?" tanya Naira pelan.
"Ditabrak. Dan nggak tau siapa pelakunya," jawab Rifky. Lelaki itu meletakkan tasnya di sofa kamar dan menghadap Naira.
"Sekarang gimana, Mas?" Naira bertanya sembari membuka kancing demi kancing kemeja Rifky. Kadang-kadang mendongak untuk melihat ekspresi Rifky yang sangat khawatir. Sebenarnya ada rasa kesal terlintas di hati Naira saat Rifky seperti itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan.
"Kenapa? Mikir macam-macam lagi? Takut kalau Mas ngapa-ngapain sama Mbak Ayu? Hm?" tanya Rifky beruntun. Dari ekspresi yang ditampilkan, Rifky sudah bisa menebak pikiran istri kecilnya itu.
"Enggak, kok. Siapa ...?" elak Naira.
"Mas itu udah tau kamu gimana, Sayang. Satu aja ... belajarlah berprasangka baik kepada orang lain, ya. Biar hati kita bersih," ujar Rifky tersenyum. Sejenak dia mengelus pucuk kepala Naira dan menatapnya teduh.
"Udah, sekarang siap-siap, ya. Kita ke rumah sakit!" ucap Rifky setelah mencium singkat kening Naira.
"Kita nggak ngaji?"
"Enggak. Kita liat Mbak Ayu dulu." Rifky tersenyum saat Naira mengangguk polos. Kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat.
Pria itu menghela nafasnya sambil memperhatikan langit-langit kamar mandi. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
***
"Selamat siang, Bu Rani!" Seorang polisi memberi hormat saat pintu yang diketuknya terbuka.
"Siang. Ada ap---" Rani seketika melotot saat tatapannya jatuh pada lelaki bertubuh tegap yang balik menatapnya juga. Di sampingnya juga ada dua orang polisi dan satu orang yang tidak ia kenal.
'Sial! Mengapa laki-laki itu ada di sini?' batin Rani kesal.
__ADS_1
"Anda akan segera kami tahan karena mencoba melakukan pembunuhan berencana. Mari ... ikut bersama kami!" Dua orang polisi memborgol kedua tangan Rani di belakangnya.
"Pak! Ada apa ini? Saya tidak tahu apa masalahnya!"
"Berhentilah berkilah, Rani. Kau akan menjelaskan di kantor nantinya!" ucap Iyan dingin. Matanya menatap Rani dengan tatapan marah, tapi dia masih menyadari kalau ego bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Lebih baik dia dengarkan dulu alasan wanita itu.
"Ekh! Lepaskan!" Rani terus memberontak. Namun, tenaga satu orang polisi saja tidak bisa ia tandingi, ditambah kedua tangannya yang tak mampu untuk bergerak lebih leluasa.
Wanita itu dimasukan ke mobil secara paksa dan dibawa ke kantor polisi untuk diadili.
"Silahkan dijelaskan semuanya, Bu Rani!" ujar salah satu polisi yang tengah duduk berhadapan dengan Rani.
"Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Ini namanya tuduhan tanpa bukti!" sergah Rani.
"Kurang cukup apa lagi bukti yang aku punya ini? Apa masih mau mengelak?" Iyan memperlihatkan plat mobil milik Rani yang dipotret dari kejauhan.
Rani menatapnya dengan marah. Sepertinya orang-orang yang berkerumun di tempat kejadian itu berhasil menangkap jejaknya. Wanita itu beralih menatap netra hitam Iyan, di mana tergambar berbagai rasa di sana.
Kalau menatapnya, Rani menjadi tak tega. Namun, jika mengingat perlakuan Iyan waktu itu, dendamnya kembali membuncah.
"Ya. Memang aku pelakunya!" Rani mengangguk kuat. Setelah itu tersenyum tanpa maksud.
"Kenapa kau melakukannya? Apa salah istriku, Rani?!" tanya Iyan menekan. Sebisa mungkin lelaki itu menahan bulir bening di matanya yang mulai terasa panas.
"Ayu tidak salah, Riyan! Tapi kamu! Kamulah yang membuatku begini! Kamu telah menghancurkan rencanaku untuk mendapatkan Rifky!" Rani meraung sembari memberontak, air matanya jatuh kala polisi berhasil mendiamkannya.
"Hatimu diselimuti dendam, Rani. Harusnya kamu bersikap lebih bijak. Rifky itu sudah beristri! Apa belum cukup untuk memperjelas kalau kamu mencintai orang yang salah?!"
"Kenapa selalu salah? Kenapa salah jika aku menginginkan Rifky? Kenapa?!"
"Perasaanmu memang tidak salah. Tapi caramu yang salah. Sekarang nikmatilah hukuman yang setimpal untukmu! Kau akan dijatuhkan hukuman penjara!"
"Tidak! Aku tidak mau dipenjara!" Iyan tersenyum remeh menatap Rani yang terus memberontak. Ingin sekali dia membalas perbuatan wanita itu, tapi dia tahu kalau dendam bukanlah cara manusia yang beriman. Dendam hanya akan merusak hati, dan dia tak ingin iblis berhasil menguasai dirinya.
Lelaki itu tertunduk ketika mengingat kembali keadaan istrinya di rumah sakit. Kemudian berpamitan pada polisi setelah menyelesaikan urusannya, meninggalkan Rani yang mungkin akan menyesali buah dari perbuatannya sendiri.
"Ayu ...." Suara itu terdengar lirih.
__ADS_1
Sembari menyetir, Iyan tak henti-hentinya beristighfar untuk ketabahan hatinya dan kesembuhan sang istri. Riyan berharap, jika Allah masih memberinya kesempatan untuk menjaga dan melindungi istrinya itu.