Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 38


__ADS_3

Dua hari itu adalah waktu yang sangat singkat. Tak terasa, acara resepsi pernikahan Rifky dan Naira akan segera dilangsungkan.


Semua tamu undangan sudah hadir dalam pesta yang cukup meriah itu.


Segera pembawa acara menyambut kedatangan kedua mempelai. Siapa lagi kalau bukan Rifky dan Naira?


Mereka berdua menuruni anak tangga dengan gaya anggun dan bergandengan tangan. Hari ini Naira terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin, membuat semua mata yang memandangnya akan terhipnotis. Begitu pula dengan Rifky. Aura ketampanan pria itu bertambah dan sangat mempesona, dengan langkah gagahnya setiap menjejakkan kaki di anak tangga.


Benar-benar pasangan serasi!


Kedua pasangan itu tersenyum ramah pada semua tamu yang hadir. Para tamu undangan berteriak histeris menyaksikan pasangan yang telah duduk di pelaminan itu, tak terkecuali teman-teman Naira. Mereka cukup kaget sekaligus senang melihat Naira bersanding di pelaminan.


Berbeda dengan Fandi. Pemuda itu tak henti-hentinya menatap Naira. Tak disangka, gadis yang selama ini dia kagumi dalam diam ternyata telah dimiliki orang lain. Sosok laki-laki pendiam itu ternyata dapat juga merasakan yang namanya cinta. Lebih tepatnya, kenapa perasaannya harus tertuju pada Naira?


Tersenyum getir. Lalu duduk di kursi khusus tamu undangan. Perih ... jika harus menyaksikan orang yang dicintainya tengah bersanding dengan laki-laki lain. Namun, ia mencoba kuat.


"Lo kenapa, Bro?" Rizal menepuk pelan Fandi.


"Nggak papa," jawabnya singkat dan tersenyum tipis.


Rizal seperti merasakan sesuatu dengan temannya itu, ada yang aneh dari pandangan matanya.


"Lo ...?" Rizal menatap Fandi penuh tebak. Pria itu hanya mengangguk menanggapinya, dan kembali tersenyum getir.


"Huftt!" Rizal menghela nafas panjangnya. Tak habis pikir, ternyata begitu banyak hati yang menginginkan Naira, termasuk dirinya sendiri, tapi itu dulu ... sekarang perasaan itu telah dibuang jauh-jauh dan singgah pada seseorang. Ya, seseorang!


"Ikhlaskan ...." Rizal kembali menepuk punggung Fandi dan tersenyum tulus. Fandi tersenyum atas sikap sahabatnya itu.


'Kamu laki-laki beruntung!' Rizal membatin sambil menatap lurus ke arah Rifky.


Tibalah saatnya mengucapkan selamat kepada sang pengantin. Semuanya berbaris rapi menantikan giliran.


"Selamat, ya!"


"Sakinah, mawadah, warahma."


"Selamat berbahagia."


"Pasangan sampai syurga ...."


"Selamat, ya, Nak. Ibu turut senang," ucap Bu Siti---mantan wali kelas Naira.


Begitulah ucapan-ucapan dari para tamu undangan. Tak lupa para sahabat Naira sedikit menggodanya.


"Ciee udah, ekhem ...." Kinta menggoda Naira dengan nada genit. Berbisik-bisik agar tak terdengar oleh Rifky.


"Apaan, sih, lo?" Naira memanyunkn bibirnya dan tersenyum malu.


"Woy cepetan! Yang di belakang masih panjang!" Kiki memperingati.


"Tau, tuh!" Sindy juga ikut sewot. Tak lengkap jika tidak berdebat dulu.


"Bawel, ah!"


Naira cipika-cipiki kepada tiga sahabatnya. Tentunya dia mendapat kado dari para sahabatnya itu.

__ADS_1


"Selamat pengantin baru! Baru dilihat, hahaha." Tama menjabat tangan Rifky seraya tersenyum menggoda. Karena dia sudah tau tentang ini.


"Situ juga pengantin baru!" ketus Rifky sembari memainkan ekor matanya. Sedangkan Kiara dan Naira, mereka hanya diam. Jangan ditanya ekspresi mereka seperti apa. Sebal pastinya! Benar-benar suami menyebalkan!


"Selamat, Kak! Naira!" Fandi mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rifky, tapi tidak dengan Naira. Gadis itu hanya mengatupkan telapak tangannya di depan dada, mengingat Fandi adalah seorang laki-laki yang bukan mahram.


Huh!


'Memang tak mungkin untuk bisa menyentuhnya,' batin pria itu. Kemudian berlalu.


Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Para undangan kembali duduk di kursinya masing-masing sembari menikmati hidangan.


Ayu? Jangan ditanya di mana dia. Sudah pasti hadir dalam pesta ini. Rasanya memang berat mengucapkan selamat kepada orang yang dicintainya. Namun, hal itu harus dia terima.


Berdiri mematung menyaksikan hari persandingan Rifky, kemudian air mata luluh di pipinya. Wanita itu menangis tanpa suara. Bagaimanapun caranya mengikhlaskan orang yang dia cintai, tapi itu tetaplah menyakitkan.


***


"Ra! Foto dulu bareng kita-kita!" ajak Sindy menarik tangan Naira pelan untuk berdiri. Ya, waktunya foto bersama.


"Ayo, Kak. Berdiri!" titah Kinta menyuruh Rifky berdiri. Berani juga anak ini.


Cekrek!


Cekrek!


Beberapa kali kameramen memotret mereka. Mengabadikan momen ini yang mungkin adalah momen terakhir untuk bersama.


Orang tua Naira dan Rifky juga melakukan hal yang sama, yaitu berfoto bersama sang pengantin. Wajah-wajah bahagia terpancar di atas panggung itu melihat putra-putri mereka bersanding bak ratu dan raja. Ah, betapa senangnya mereka saat ini.


"Kenapa, Sayang? Sakit?" tanya Rifky memastikan. Naira mengangguk lesu. Melihat suasananya yang mulai sepi, Rifky segera mengangkat Naira untuk masuk ke kamarnya.


"Mana yang sakit?" Rifky mendudukan Naira di tepi ranjang dan berjongkok untuk memijat kaki istrinya.


"Tidak, Mas. Tidak usah! Aku cuma mau duduk aja," ucap Naira dan menahan tangan suaminya.


"Nggak papa. Sini!" kembali lagi Rifky memijat kaki istrinya. Naira bisa apa selain pasrah?


Ceklek!


Pintu kamar terbuka dan menampakkan Marlin yang datang menyusul.


"Mama?"


Marlin mengisyaratkan pada Rifky agar memberinya waktu berdua dengan Naira. Rifky yang mengerti langsung pamit ke luar.


"Ada apa, Ma?"


Marlin duduk di dekat Naira dan tersenyum bahagia.


"Mama cuma mau kasih ini, buat kamu," ucap Marlin menyerahkan dua paperbag pada Naira.


"Satu dari Mama, dan satu lagi dari mertua kamu," sambung mama Naira. Naira mengangguk dan menerimanya. Tak lupa dengan senyum termanisnya.


"Jangan dibuka sebelum sampai di rumah kalian, ya!"

__ADS_1


"Makasih, Ma!" ucap Naira memeluk mamanya.


***


"Kita pulang dulu, ya, Ra!" pamit Kiki mewakili teman-teman Naira yang lain. Sudah lama mereka berada di rumah Naira, hari juga sudah semakin sore.


"Iya, hati-hati!" balas Naira.


"Oke!" Mereka berpelukan dan cipika-cipiki layaknya ibu-ibu rempong.


"Om, Tante! Kita pulang dulu, ya!" Mereka menyalami Marlin dan Rasya serta menunduk hormat pada Ustaz Hanan, Herman dan juga Rifky.


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati, ya," balas Marlin tersenyum.


"Yuk, pulang!" Kinta melangkah mendahului yang lain.


"Lo bareng gue!" Rizal mendekat pada Kinta.


Pria itu berdiri di hadapannya sembari mengangkat kedua alisnya.


"Hah?! Demi apa? Nggak salah denger gue?" Kinta menunjuk dirinya tak percaya.


"Udah, terima aja tawarannya. Itu, 'kan cogan, lo," saran Kiki sambil mengedipkan matanya.


"Ekhem, kayaknya bentar lagi kita punya adik ipar," celetuk Tama dan menatap Kiara tersenyum.


"Apaan, sih, Kak? Iri aja!" protes Rizal. Sedangkan semua melongo. Rizal adik Tama? Mereka baru tahu.


"Alah, siapa yang iri. Yuk, kita duluan, Sayang!" Tama menarik tangan istrinya untuk memasuki mobil dan berlalu pergi.


"Jadi gimana?" tanya Rizal yang kembali menatap Kinta.


"Ya ... ayuk!"


'Yes!'


"Ciee, mau nyusul Naira ...!" Kiki dan Sindy mengejek Kinta bersamaan.


"Apaan, sih?" Kinta mengerucutkan bibirnya tak suka.


"Kalaupun iya, kenapa?" sergah Rizal dan langsung menggenggam erat tangan Kinta menuju mobilnya. Kinta tak habis pikir, apa yang dilakukan Rizal padanya? Ah, buang rasa gugupmu jauh-jauh Kinta! Serta pertahankan jantungmu!


"Yaelah, mentang-mentang!" cibir Sindy yang ikut sewot.


Meskipun mereka dibuat melongo oleh sikap Rizal.


"Yuk! Pulang juga!"


"Yuk! Nasib jomblo emang gini, haa ...!" Mereka berjalan sembari berpegangan tangan dan mengusap-ngusap mata seolah menangis. Actingnya anak muda.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2