Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 74


__ADS_3

Rani sudah selesai dalam masa perawatannya, kini wanita itu diperbolehkan keluar oleh pihak rumah sakit.


Rani melangkah pelan meninggalkan tempat yang sering dikunjungi untuk berobat itu, dia akan pulang ke rumahnya tanpa beban, sebab masalah dengan pihak kepolisian sudah selesai. Rani dinyatakan bebas dari hukuman.


Wanita itu berjalan hanya bermodalkan uang tiga ratus ribu, itu pun pemberian dari Iyan tadi pagi. Ternyata orang yang hendak dia hancurkan sangatlah baik padanya.


Rani memberhentikan sebuah taxi yang melintas, meminta untuk diantarkan ke rumahnya. Sampai di kediaman, dia sudah disambut oleh beberapa orang yang dia kenali---para karyawan kantornya.


"Selamat siang, Bu Rani?" sapa salah satunya mewakili.


"Siang," balas Rani tersenyum. Wanita itu melangkah ke arah pintu utama yang dibukakan karyawannya.


Begitu masuk, matanya menyapu sekeliling. Tidak ada yang berubah di sana, persis seperti dulu. Rani menepuk sofanya yang agak berdebu, sebab tidak ada yang meninggali rumahnya beberapa hari ini.


"Silahkan diminum dulu, Bu!" Seorang karyawati dekatnya menyerahkan sebotol air.


"Terima kasih. Kenapa kalian bisa tau kalau aku pulang?" tanya Rani sebelum meneguk minumannya.


"Pak Riyan yang memberi tau, dan ini handphone milik Ibu," jawab wanita bernama Vera itu.


Rani menerima, mengamati ponselnya yang tidak dia sentuh beberapa hari ini. Bibirnya menyunggingkan senyum getir, untuk kali ini dia benar-benar bersyukur, setelah banyak melakukan kesalahan, masih ada pintu maaf yang terbuka untuknya. Bahkan dari orang yang hampir ia buat merasakan kehilangan.


'Maafkan aku, Riyan ...." Wanita itu tertunduk sebentar, kemudian berjalan menuju kamar untuk beristirahat.


Semua karyawannya mulai membantu membersihkan rumah yang agak berdebu itu, tak lupa juga memasak untuk makan siang mereka. Semua sudah diizinkan oleh Rani, sedangkan dia sendiri sudah berselancar ke alam mimpinya, mengistirahatkan badan dan pikiran yang cukup melelahkan.


Sekitar pukul 1 siang, Rani terbangun. Perutnya yang keroncongan berhasil mengusik tidur wanita itu, memaksanya untuk melangkah ke dapur setelah membersihkan diri.


"Bu Rani? Sudah bangun?" sambut Vera tersenyum.


"Iya, aku lapar," jawab Rani singkat. Vera dan yang lain mengikutinya ke dapur, lalu menyiapkan makanan untuk Rani.


"Aku bisa sendiri. Kenapa kalian seperti ini?" tanya Rani heran.


"Ah, tidak apa, Bu. Ibu, 'kan baru pulih dari sakit."


Rani membuang nafas. "Kalian ikut makan! Ayo!"


Mereka mengangguk kecil, baru kali ini Rani menyuguhkan senyum termanis pada mereka. Padahal dulu wanita itu terkesan cukup dingin.


Sekumpulan kecil orang-orang itu menyantap makan siang mereka, sesekali bercanda mengisi keheningan yang terjadi.


"Oh, iya, Bu Rani. Ada kabar baik buat Ibu, bahwa Bapak Herman kembali menerima kita sebagai rekan kerjanya. Pak Herman sudah menanamkan saham kembali di perusahaan Ibu," kata salah satu karyawannya.


"Apa? Kamu serius?" tanya Rani memastikan. Bahkan mengurungkan suapannya demi mendapat penjelasan lebih.


"Iya, Bu."


Sendok di tangan Rani terlepas perlahan. Wanita itu meneguk kasar air putih dan tak berkedip cukup lama. Dia mengira kalau perusahaannya bangkrut karena ia tersandung kasus pembunuhan berencana, ternyata Herman banyak membantunya, bahkan setelah dia menyakiti hati Naira---putri Herman.


"Kalian lanjut saja makannya. Aku sudah selesai." Rani beranjak dari duduk. Tersenyum sebentar, kemudian berlalu.


'Ayah ... Ibu ... Rani kangen sama kalian.' Air mata wanita itu jatuh bersusulan, menatap sebuah potret yang ia simpan sejak lama.

__ADS_1


Tujuh tahun lalu, ketika umurnya menginjak lima belas tahun, Rani sempat mengambil salah satu foto yang terpajang di rumahnya sebelum dia pergi. Pada saat itu keluarga mereka dihimpit masalah besar, penghasilan di kampung hanya sedikit, belum lagi hutang ayahnya yang melilit. Hingga memaksakan Rani untuk ikut bersama teman ayahnya ke kota. Di mana sepasang suami-istri itu tidak mempunyai anak.


Rani menangis, dia melambaikan tangan saat berpisah dengan orang tuanya. Hingga tiga tahun berlalu, ketika dia telah selesai dalam masa sekolah, Rani kembali menemui orang tuanya.


Namun, tidak lama dia harus kembali ke kota, meneruskan jalan hidup dan mencari uang untuk melunasi sisa hutang ayahnya.


Kejadian naas pun tak dapat dielakkan, mobil yang ia tumpangi bertabrakan hingga menyebabkan Rani amnesia. Tidak lama, dia kembali mengumpulkan keping-keping ingatan, tapi tidak sepenuhnya.


Semasa dia kuliah, terkabar bahwa orang tuanya meninggal dunia. Hanya tangis pilu yang memenuhi gundukan tanah orang tuanya, mereka tak dapat bertemu lagi.


"Yah ... Bu, Rani janji akan kembali jenguk kalian. Ayah sama Ibu yang tenang, ya?" Rani berkata lirih, memeluk foto kecil itu sambil menangis.


***


Jam tiga sore Riyan mengajak istrinya untuk pulang, karena hari ini Ayu sudah cukup pulih dari sakitnya. Mereka ditemani Erna dan Rahman.


"Pelan-pelan, Sayang?" Iyan tersenyum, memapah tubuh istrinya untuk masuk ke mobil, kemudian menyusul.


Ayu menghirup udara. "Hemm, segar banget. Dibuka aja jendelanya, Mas!"


"Iya, Sayang," balas Iyan tersenyum.


Sepanjang perjalanan Ayu menatap cermat sekeliling, terkadang tersenyum saat tatapannya dan Iyan tak sengaja beradu.


"Mas, kapan-kapan ajak aku jalan, ya?" pinta Ayu pelan.


"Iya. Insyaa Allah," jawab Riyan mengiyakan.


Tak lama mobil mereka tiba di rumah, disusul juga oleh Om dan tantenya yang memang membawa mobil sendiri.


Riyan menuntun istrinya ke kamar mandi agar membersihkan diri, tiga hari Ayu di rumah sakit tidak menyentuh air sedikitpun untuk mandi, membuatnya merasa kurang nyaman.


"Kalau selesai panggil Mas, ya?"


"Iya, Mas. Aku bisa, kok," balas Ayu pelan.


Iyan meninggalkannya dan menunggu di sofa kamar, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Rifky. Sudah tiga hari lelaki itu tidak ikut kerja ataupun mengajar ngaji, walau Rifky dan Ustaz Hanan tidak mempermasalahkan, tetap saja Iyan menyampaikan ketidakbisaannya.


"Assalamualaikum, Ky?" Iyan menyapa.


"Waalaikumussalam, ada apa, Yan?" tanya Rifky.


"Masih ngaji, ya? Hari ini aku belum bisa ikut, ya. Istriku baru pulang," ujar Iyan tersenyum, seakan bicara langsung pada Rifky.


"Iya, Yan, nggak papa." Rifky terkekeh. Sahabatnya itu seperti berbicara pada orang lain saja.


"Ya udah, kalau gitu aku tutup, ya? Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Rifky menyimpan handphonenya dan meneruskan kegiatan, mengajari anak-anaknya bacaan Al-quran dengan lembut dan teliti.


Kegiatan itu berlangsung seperti biasa, di mana ketika masuk waktu ashar, mereka semua berpindah ke masjid untuk salat berjamaah.


Ketika semua orang berdzikir di akhir salat, Naira malah merasa mual dan memuntahkan isi perutnya yang ia tahan sejak tadi. Untung saja dia sempat ke luar.

__ADS_1


"Huek! Hah, Ya Allah ... Mas Rifky." Naira memanggil lirih suaminya. Matanya berair dengan tangan yang gemetar, sebab semua makanan yang dia makan keluar kembali.


Naira merasa kalau pusing menyerang hebat, memegangi kepalanya sambil berusaha menahan agar tidak terjatuh.


"Akh! Mas Rifky ...." Jeritan kecil itu nyaris tak terdengar, Naira hanya bisa menangis menahan sakit di kepalanya.


"Akh!"


Bruk!


Tubuhnya terhempas, dan bertepatan saat itu juga Rifky datang menahannya.


"Naira? Sayang? Hey!" Rifky menepuk pipi Naira, mata coklatnya masih terbuka sayu.


"Mas ... sakit ...," lirih Naira tertahan.


"Apanya yang sakit, Sayang? Kepala?" tanya Rifky khawatir. Naira mengangguk lemah, lalu menutup mata saat Rifky membawanya keluar dari kamar mandi tersebut.


"Ada apa, Rifky? Naira kenapa?" Ustaz Hanan ikut khawatir.


"Nggak tau pasti, Pa. Rifky bawa Naira ke rumah sakit dulu, ya?" pamit Rifky. Ustaz Hanan mengangguk walau sedikit bingung, ingin bertanya lagi pun tak sempat mengingat keadaan menantunya itu.


"Sayang? Tahan sebentar, ya?" Rifky mengecup kening Naira setelah memasang seatbelt istrinya itu. Dengan cepat Rifky mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat.


Naira diperiksa bertahap, kemudian dokter menyatakan kalau dia tengah sakit. Rifky terkejut, lebih tepatnya khawatir sekali.


"Dia sakit apa, Dok?" tanya Rifky cemas.


"Sakit biasa, Pak. Suhu tubuhnya juga meningkat. Saya sarankan untuk beberapa hari ini istrinya istirahat dulu, jangan lupa minum vitaminnya." Dokter memberikan bingkisan kecil berisi obat untuk Naira.


Rifky mengangguk. "Apa perlu dirawat di sini lebih lama?"


"Di rumah saja, Mas. Aku nggak mau di sini!" timpal Naira cepat. Terlihat tangan mulusnya menghapus pelan air mata.


"Iya, tidak apa-apa jika ingin di rumah. Sama saja, Pak. Lagi pula sakitnya tidak terlalu serius," ujar dokter tersenyum. Dokter wanita itu memegang tangan Naira yang terasa hangat, seolah menguatkan karena ia tahu Naira sedang hamil.


"Ya udah, sekarang kita pulang, ya?" Naira menganguk, dan setelah berpamitan pada dokter mereka segera ke mobil.


"Pokoknya aku nggak mau minum obat kalau pahit! Buang aja!" Naira menatap Rifky sengit. Sedari dulu dia tak suka obat-obatan.


"Ini vitamin buat kamu, Sayang. Nggak pahit, kok." Dengan lembut Rifky menjawab. Naira tak menggubris, tetap meringis pelan sambil memegang tengkuknya.


"Tidurin aja kalau pusing. Jangan dipaksa." Rifky menyarankan, sedikit mempercepat laju mobilnya agar segera tiba.


Begitu sampai, cepat-cepat Rifky mengangkat tubuh istrinya, Rifky tidak mengizinkan Naira berjalan karena harus menapaki anak tangga.


Bi Ira yang melihat sedikit bingung, sebab tak biasa Naira seperti itu. Apalagi wajahnya tampak murung.


"Kenapa, Den?" tanya wanita itu.


"Naira sakit, Bi. Tolong buatin minuman jahe, ya?" pinta Rifky seadanya.


Bi Ira mengangguk kecil. Dia sempat mengira kalau Naira marah pada Rifky, ternyata sakit. Dengan cepat wanita itu pergi ke dapur, meracik minuman hangat untuk Naira.

__ADS_1


Sementara Rifky baru saja tiba di kamar, lelaki itu membaringkan istrinya di ranjang dan menatapnya dalam.


"Cepat sembuh, ya, Sayang," ucapnya tulus. Lalu mengecup kepala Naira dengan lembut.


__ADS_2