
"Assalamualaikum." Tama dan Kiara datang ke rumah sakit untuk menjenguk Naira.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua yang ada di ruangan Naira.
"Tama?!" Naira sedikit membuang muka saat melihat Tama datang. Dia takut, takut kalau Tama dan Rifky ribut lagi.
"Om, Tante." Tama dan Kiara menyapa Herman dan Marlin. Mereka hanya tersenyum, sementara Rifky memasang muka datarnya.
"Naira," panggil Kiara mendekat ke arah Naira. "Gimana, keadaan kamu?" tanya Kiara.
"Alhamdulillah, udah baikan, kok," jawab Naira tersenyum.
Kiara membalas senyuman Naira dan menggenggam tangan Naira.
"Maafin, aku, ya ...," lirihnya.
"Udah, Kak. Naira nggak papa." Naira menggenggam balik tangan Kiara sambil menampilkan senyum manisnya.
Marlin dan Herman tersenyum melihat mereka. Berbeda dengan Rifky dan Tama, tak ada tegur sapa sedikitpun. Walau kadang tatapan mereka sempat bertemu.
"Rifky!" Tama yang sejak tadi diam memberanikan diri untuk berbicara pada Rifky.
"Hmm," sahut Rifky tanpa menoleh.
Naira memasang muka khawatir saat melihat Rifky dan Tama sedingin es.
"Boleh, aku bicara padamu, sebentar?" ucap Tama menatap Rifky.
"Silahkan," jawab Rifky sesingkat mungkin.
"Di luar saja," balas Tama. Lalu laki-laki itu berjalan ke luar.
"Mas ...." Naira memegang tangan suaminya saat Rifky hendak berangkat menyusul Tama.
"Nggak papa, Sayang." Rifky tersenyum dan mengelus tangan Naira. Lalu menyusul Tama yang sudah berada di luar.
"Ada apa?" tanya Rifky to the point. Saat ini mereka berada di taman rumah sakit.
Tama menatap Rifky datar dan menghembuskan nafas pelan.
"Aku ... ingin minta maaf, padamu," ujar Tama dengan lembut.
Rifky terdiam, dan menatap dalam hazel milik Tama. Apakah laki-laki ini serius ingin minta maaf? Atau hanya akal-akalan saja untuk memainkan rencana busuk!
"Apa kamu yakin?" tanya Rifky menyelidik.
"Iya! Aku benar-benar ingin minta maaf. Aku sadar, telah banyak salah pada keluarga kalian. Sampai-sampai melukai istrimu. Dari itu, maafkan aku ...." Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata pria itu.
Rifky yang mendengarnya juga meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tapi haru!
"Baiklah," balas Rifky tersenyum diiringi dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Tama langsung memeluk Rifky. "Terima kasih, kamu memang laki-laki baik yang pantas menjaga Naira," ucap Tama memuji.
__ADS_1
Rifky membalas pelukan persahabatan itu sambil tersenyum simpul.
"Kau juga akan mendapatkan wanita terbaik untuk menjadi bidadarimu, Insyaa Allah." Rifky mengelus punggung Tama dan melepas pelukan mereka.
"Aamiin ... sekali lagi, maaf, telah mengusik ketentraman kalian."
Rifky mengangguk dan mengarahkan tangannya di depan Tama. Mereka menyatukan tangan mereka yang membentuk sebuah gepalan, kemudian saling rangkul kembali.
****
Di sisi lain, Ayu sudah dibolehkan keluar dari rumah sakit karena sakitnya tidak begitu serius.
"Makasih, ya, Tante," ucap Ayu sambil tersenyum kepada wanita paruh baya yang telah menolongnya.
"Iya, sama-sama," balas wanita yang menyandang nama Ernawati, itu.
"Aku pulang, ya, Tan. Dahh ...." Ayu turun dari mobil dan melambaikan tangannya.
"Dahh," balas Erna tersenyum ramah.
Ayu melangkah ke dalam rumah, dia langsung menuju kamarnya dan membaringkan diri di kasur.
"Ahh, hari yang melelahkan jiwa," gumamnya. Kemudian terlelap karena tak ingin mengingat apa pun.
****
"Naira udah boleh pulang, 'kan, Dok?" tanya Naira pada dokter yang baru selesai memeriksa keadaannya.
"Boleh, tapi kamu jangan terlalu banyak beraktivitas dulu. Karena itu dapat membuat kepalamu sakit," ujar dokter dan tersenyum pada Naira.
Naira keluar dari ruangannya dengan dipapah oleh Rifky, sebab Naira masih agak susah untuk berjalan sendiri.
"Hah! Akhirnya bisa narik nafas segar juga." Naira membentangkan kedua tangannya sambil menikmati angin segar yang menerpa dirinya.
Semuanya tersenyum melihat Naira.
"Ya, udah. Mama sama Papa, pulang, ya, Sayang," pamit Marlin sambil mengusap kepala anaknya.
"Iya, Ma," jawab Naira.
"Kamu jaga Naira, ya, Nak." Herman berpesan pada Rifky.
"Pasti, Pa!" jawab Rifky semangat.
Marlin dan Herman bergantian memeluk dan mencium putri mereka, setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.
"Yuk, kita pulang!" ajak Rifky saat Herman sudah melajukan mobilnya.
"Ya, iyalah pulang. Masa mau masuk lagi," beo Naira sedikit menertawakan suaminya.
"Kamu! Untung sayang, kalau nggak aku makan!" Rifky tertawa dan memeluk istrinya.
Tama dan Kiara menyaksikan kebahagiaan mereka dari kejauhan. Kiara melamun melihat mereka, dia sangat bersyukur karena Naira sudah sembuh. Sedangkan Tama memperhatikan Kiara yang melamun, dia melihat Kiara tersenyum simpul menatap ke arah Rifky dan Naira.
__ADS_1
Cup!
Kiara kaget saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya.
"Tama!"
"Hahaha, nggak usah liat mereka terus, 'kan ada gue." Tama tertawa saat Kiara menatapnya tajam.
"Siapa juga yang ngeliat mereka!" kesal Kiara sambil mengelap bibirnya.
"Nggak usah dibersihin, masih nempel, kok ... bekasnya, hahaha." Pria itu kembali lagi mengeluarkan gelak tawanya.
"Aaa ... balikin first kiss gue ...!" Kiara berteriak dan mengejar Tama yang sudah berlari.
"Kejar gue, blek." Tama menjulurkan lidahnya yang membuat Kiara naik pitam.
"Sini, lo!" Dia berlari sekuat tenaga mengejar Tama yang terus menghindarinya.
Bruk!
"Aww," ringis Kiara. Kakinya tersandung batu dan tergelincir.
"Kiara!" Tama yang melihatnya langsung menghampiri Kiara. "Lo nggak papa?"
"Nggak papa gimana, orang sakit gini!" ketus Kiara sambil melihat kakinya yang lecet.
Tama mengangkat tubuh Kiara dan mereka masuk ke mobil untuk mengambil obat.
"Sini, gue obatin." Tama menarik kaki Kiara, lalu mengobati kaki gadis itu dengan telaten dan hati-hati.
"Makanya ... nggak usah lari," ucapnya.
"Lo yang salah!" sergah Kiara menyalahkan Tama.
"Iya, nggak papa gue salah. Asalkan perasaan gue nggak salah sama lo," ucap Tama menatap Kiara intens.
Pipi Kiara memerah. Tama tersenyum melihat Kiara yang tersipu malu.
Dia mengulangi mengecup pipi Kiara singkat.
"Hah! Apaan cium-cium. Haram!" bentak Kiara sembari memegangi pipinya.
"Pengen cepat dihalalin?" Tama menaik turunkan alisnya dan tersenyum menggoda. Hal itu sukses membuat Kiara semakin malu.
"Bego!" Kiara hanya bisa menyembunyikan rasa gugupnya dengan cara memukul pria itu.
Sementara yang dipukul hanya tersenyum lucu saja menanggapinya.
.
.
.
__ADS_1
TBC.