
Hari ini Rifky tidak berangkat kerja dan memilih menemani istrinya check up kandungan. Keduanya tersenyum bahagia saat dokter mengatakan perkembangan bayi mereka baik-baik saja. Kandungan Naira yang memasuki usia 6 minggu itu sudah cukup membuat perut ratanya sedikit besar. Mereka jadi tak sabar menantikan kehadiran buah hati mereka itu.
Naira menghembuskan nafasnya dan tersenyum. Walau rasa sedih tak bisa dipungkiri oleh Naira, tapi dia sangat bahagia karena kepedulian Rifky begitu besar terhadapnya.
"Mas! Kita jalan-jalan, ya?" ajak Naira menggandeng tangan Rifky.
"Iya, Sayang. Kamu mau ke mana?" tanya Rifky tersenyum.
"Em ... ke pantai?" Naira meminta pendapat Rifky, dan Rifky hanya mengiyakan.
Sekarang apa pun keinginan Naira akan dia turuti untuk menyenangkan hati istrinya itu. Rifky tahu, di usia Naira sekarang mungkin belumlah siap untuk semua ini, tapi dia sangat berterima kasih pada Naira karena telah berusaha menjadi sosok yang kuat sebagai istrinya.
"Mas, beliin aku keripik kentang. Aku pengen ...," rengek Naira sambil menggelayuti tangan Rifky. Naira mencium sekilas tepi bibir Rifky saat suaminya itu mengangguk. Kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang Rifky ketika tangan kekar itu memeluk tubuhnya.
Sekian menit mobil mereka melaju, akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah pantai yang luas terbentang di depan mata dengan ombak yang berkilau diterpa sinar mentari pagi. Juga banyak anak manusia yang berkerumunan dan bermain di sana, membuat Naira seketika terpana karena merasa sangat senang.
"Kita duduk di sana, Sayang!" Rifky menunjuk sebuah kursi payung di tepi pantai tersebut.
"Nggak mau! Aku maunya di sana!" tolak Naira sembari mengarahkan telunjuknya ke bawah pohon.
"Tapi di sana nggak ada kursinya," ucap Rifky.
"Duduk di akarnya! Ayo!" Tanpa persetujuan dari Rifky, Naira langsung melangkah menarik tangan suaminya itu. Mau tak mau Rifky menuruti keinginan Naira, keduanya pergi ke bawah pohon itu dan duduk di akarnya yang menjalar kokoh di atas tanah dan pasir.
Naira tertawa riang sambil berkejaran dengan ombak. Rifky yang melihat Naira merasa tak sanggup jika harus melarang istrinya itu. Kelihatannya Naira begitu bahagia.
"Mas! Ayo, dong ...!" ajak Naira melambaikan tangannya pada Rifky. Dengan berat hati Rifky berjalan ke arah istrinya.
Sebenarnya dia malas sekali bermain seperti anak kecil, tapi karena ini permintaan Naira, dia harus menurutinya. Lama bermain bersama, akhirnya Rifky juga larut dalam permainan mereka. Hingga tak sadar kalau mereka sudah menghabiskan waktu satu jam lamanya.
"Aduh! Udah, Sayang. Mas capek!" ucap Rifky sambil membungkuk menahan lututnya. Pelipis laki-laki itu tampak mengeluarkan keringat karena kelelahan berlari.
"Ah, masa udah capek, sih?" omel Naira bersedekap dada. Dia masih ingin bermain dengan Rifky, tapi melihat Rifky yang kelelahan membuatnya merasa kasihan.
"Ya udah! Tapi beliin balon!" ucap Naira dan memasang wajah manisnya.
__ADS_1
"Beli di mana?" tanya Rifky yang masih mengatur nafas.
"Itu!" Rifky mengikuti arah pandang Naira yang tertuju pada penjual balon.
"Ya udah, ayo!" ajak Rifky. Dengan senang hati Naira mengembangkan senyum saat Rifky membimbing lembut tangannya. Dimanja, dan dituruti segala yang ia minta. Siapa yang tidak senang jika seperti itu?
"Warna hijau thoska dan biru muda!" pinta Naira girang.
Tukang penjual balon itu memberi Naira dua balon yang ia minta dan mendahiahi satu balon lagi untuk Rifky. Namun, Naira merebutnya. Rifky sampai terkekeh melihat tingkah Naira yang menurutnya sangat lucu, hanya balon pun menjadi rebutan.
Naira mengangkat tangkai balonnya hingga balon itu bergoyang ditutup angin. Matanya berkilau menatap Rifky dengan senyungging senyum manis yang terbit dari bibirnya. Seolah berkata terima kasih banyak pada suaminya itu.
Rifky mengangkat tubuh Naira dari bawah ketiaknya dan memutarnya dengan pelan. Kemudian tertawa saat istrinya itu berusaha untuk menciumnya.
"Turun, Mas!" pinta Naira ketika ia mendapati seseorang yang ia kenal.
Rifky menurunkan Naira. Lalu menatap heran istrinya itu saat Naira menghampiri laki-laki lain.
"Fandi ...!" panggil Naira sambil berlari. Tangannya yang masih memegang balon ia bentangkan lebar-lebar ke arah Fandi.
"Naira?! Kamu di sini juga? Sama siapa?" tanya Fandi saat Naira sudah berdiri di hadapannya.
"Oh ... gitu?" Fandi mengangguk dan tersenyum. Jujur, dia sedikit kaku saat Naira menghampirinya dengan girang seperti ini. Apalagi Naira sempat mengisi hatinya di waktu dulu, walau Naira tak tahu perasaannya.
"Kamu ke mana aja? Udah lama kita nggak ketemu, loh!" tanya Naira.
"Hahaha ... kayak pernah dekat aja, Nai? Aku lanjut kuliah di Jogja, makanya sibuk banget. Dan pulang udah tiga hari ini, rindu sama orang tua," jelas Fandi tersenyum. Sesekali ia berpaling dari pandangan Naira karena Rifky memperhatikan mereka.
"Gitu .... Aku mau foto sama kamu, Ndi! Boleh, 'kan?" pinta Naira antusias.
"Mau ngapain, Nai? Kan ada suami kamu?" elak Fandi halus. Sekilas ia menatap Rifky yang sedang menghadap ke arah pantai.
"Sekali aja, kok."
"Tap---"
__ADS_1
"Mas ...! Mas Rifky ...!"
Belum sempat Fandi menyelesaikan ucapannya, Naira lebih dulu berbalik memanggil suaminya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rifky menghampiri mereka.
"Fotoin kita, dong, Mas! Boleh, ya?" ucap Naira tersenyum. Rifky menatap Fandi sejenak, dari ekspresi laki-laki itu dia dapat menebak kalau ini kemauan istrinya, tapi ... kenapa Naira harus meminta berfoto dengan orang lain? Kenapa tidak dengannya?
"Mas?"
"Iya-iya. Ayo!" Rifky mengeluarkan HP-nya dan memencet kamera.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Sudah beberapa kali jepretan yang menghasilkan foto Naira dan Fandi. Akhirnya sampai pada jepretan terakhir karena Fandi yang menghentikan. Sungguh! Malu sekali dia pada Rifky.
"Makasih, Ndi!" ucap Naira setelah memeriksa beberapa fotonya di HP Rifky.
"Iya. Maaf, ya, Kak?" balas Fandi sambil tersenyum pada Rifky. Rifky yang mengerti membalas ramah senyuman laki-laki itu, kemudian merangkul bahu istrinya untuk mengajaknya pergi.
"Yang ini bagus!" puji Naira. Rifky menatap layar handphonenya yang diutak-atik oleh Naira, di sana terdapat foto istrinya dan pria lain yang sama-sama menampilkan senyum.
"Udah! Simpan!" Rifky mengambil alih handphonenya. Bersamaan saat itu juga, tatapan sebal ia dapati dari Naira.
Cup!
"Nggak usah ngambek, Mas! Cuma foto doang, kok. Selebihnya punya kamu," kata Naira meledek.
Rifky langsung membolakan mata saat Naira menertawakannya. Langkahnya terhenti sejenak, dan menatap Naira yang terkekeh. Dia baru sadar ketika Naira berlari ke mobil meninggalkannya, ternyata istrinya itu memang sengaja menjahilinya. Dasar istri nakal!
Rifky menggeram kesal menyusul Naira yang telah masuk ke mobil. Begitu mereka duduk berdampingan, Rifky masih mendengar kekehan kecil dari Naira. Laki-laki itu menatap istrinya, lalu menerkam tubuh Naira dan menciumnya bertubi-tubi, sampai Naira memohon minta dilepaskan.
__ADS_1
"Itu balasannya!" ketus Rifky. Masih tampak raut kekesalan di wajahnya yang tampan itu. Sementara Naira kembali tertawa renyah karena merasa lucu pada Rifky. Naira perlahan mendekat, tangannya memeluk tubuh Rifky dan menatapnya lembut.
"Becanda, kok, Mas .... Maaf, ya?" bujuk Naira tersenyum. Rifky menganguk. Namun, meminta Naira untuk mencium bibirnya sebagai bayaran dari kejahilan istrinya itu.