Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 76


__ADS_3

Tanpa harus ada getaran alarm, Rifky sudah terbangun karena sudah terbiasa. Jarum jam sudah berpindah ke angka tiga, lewat beberapa menit. Rifky memindahkan kepala Naira secara perlahan, dan tersenyum saat istrinya itu mengeliat.


Suara samar dari perut Naira tertangkap di telinga Rifky. Lelaki itu mengubah posisinya, memegang perut Naira hati-hati.


"Kamu lapar, Sayang," gumam Rifky, menatap wajah teduh Naira yang tertidur. Dia mengecup perut Naira cukup lama, berpindah ke pipi dan tak lama seluruh wajah istrinya itu.


"Masss, kenapa, sih?" lenguh Naira tertahan. Kerutan di kening Naira terlihat jelas saat dia meregangkan kedua tangannya.


Mata indah berwarna coklat itu terbuka sempurna, menatap Rifky yang menampilkan senyuman tepat di depan wajahnya. Naira berdehem kecil, kemudian memejamkan mata kembali.


"Udah jam berapa, Mas?" tanyanya samar.


"Jam tiga. Ayo bangun, Sayang!" Rifky menyibak rambut Naira ke atas, menampakkan kening putih yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Kecupan mesra mendarat tepat di sana, melukiskan senyum malu dari sang empu.


Suara berisik dari lantai bawah sedikit terdengar, mungkin orang tua mereka sudah beranjak bangun untuk salat.


"Ayo, Mas. Minggir!" bentak Naira bercanda. Rifky menarik hidung mancungnya sambil tertawa pelan.


"Udah kuat berdiri?" tanya Rifky memastikan.


"Iya. Tapi kalau mau gendong, aku mau," jawab Naira merengek, kemudian mengulurkan tangannya pada Rifky sebelum mendapat persetujuan dari suaminya itu.


Dengan gelengan pelan Rifky mengangkat tubuh Naira, sungguh istri manja, tapi dia suka sifat itu. Mereka menyegarkan wajah terlebih dahulu, lalu mengambil air wudhu dan bersiap salat.


Rifky dan Naira menuruni tangga karena mereka akan salat bersama. Sampai di bawah, terlihat Ustaz Hanan dan Herman sudah menunggu di ruangan. Kemudian menyusul Marlin, Rasya dan Bi Ira. Semua sudah siap untuk tahajud bersama.


"Kali ini imamku dulu yang jadi imam, Pa," pinta Naira terkekeh. Sebenarnya dia malu, tapi mulutnya keceplosan.


"Hahaha, iya-iya. Sana Rifky!" Ustaz Hanan tertawa. Begitu pun yang lain.


Mereka mengatur shaf, diam sejenak sebelum akhirnya Rifky memulai. Dua rakaat tak lama mereka selesaikan, jamaah salat malam itu saling bersalaman satu sama lain, Rifky dan kedua papanya juga sama.


"Naira mau makan, Ma. Lapar!" Cepat-cepat Naira melepas mukenahnya, membenarkan hijab, dan berlari ke dapur.


Mamanya tersenyum sekaligus menggeleng, rupanya Naira tidak dapat menghilangkan sifat kekanak-kanakkannya. Namun, tak apa. Lagi pula tak masalah jika Naira bersikap manja, asal tidak di luar batas.


"Jerukku kemarin di mana, ya? Perasaan belum habis." Naira menggaruk kepalanya sambil bergumam.


"Ini dia."


Langsung saja Naira mengupas satu buah, menaruhnya di mangkuk kecil dan melahap bersamaan dengan nasi. Rifky bilang kalau memakan buah sebelum makan itu sunnah, jadi Naira melakukannya.


"Sayang? Lagi makan apa?" tanya Rifky yang menyusul ke dapur.


"Makan nasi, lah!" jawab Naira simple.


"Ini ada kulit jeruk? Dapat dari mana?"


"Beli di pasar kemarin. Mas mau?" Naira menatap Rifky yang duduk di sampingnya.


"Mana?"


"Nih. Jangan dihabisin, ya!" Plastik berisi buah jeruk hijau Naira serahkan pada Rifky. Lelaki itu menggeleng, bagaimana pula dia akan menghabiskan jeruk sebanyak itu?

__ADS_1


Sesudah menghabiskan nasi, Naira menaruh piringnya di wastafel, kembali menghampiri Rifky dan meminta jeruk. Namun, Rifky menjauhkan plastiknya, menatap Naira dengan tatapan larangan.


"Ih, Mas! Kenapa, sih? Siniin!" pinta Naira kesal. Menyesal dia memberikannya pada Rifky kalau begini.


"Nggak usah banyak-banyak. Kamu kalau nggak dibatasi nggak akan sudah," ucap Rifky.


"Dua lagi aja!"


"Enggak!"


"Satu?" Naira memohon. Pastinya akan sulit jika Rifky sudah memutuskan.


"Enggak!"


"Ih! Sebel! Itu punyaku! Bukan punya Mas!" Naira berdiri, menghentakkan kakinya dengan kesal terhadap Rifky. Namun, suaminya itu tetap terlihat abai menikmati jeruknya.


"Sini!"


"Enggak!"


"Ih, ih, ih ...!" Naira memukul bahu Rifky sambil menangis, sampai mamanya mendengar keributan mereka di dapur.


"Nyebelin banget. Dasar jelek!" umpat Naira sembari menghapus air matanya.


"Ada apa, Rifky? Kamu jangan suka jahil!" kata Rasya mendekat.


"Itu, Ma. Jerukku diambil semua sama Mas Rifky. Nggak mau ngasih!" adu Naira.


"Baru satu, kok. Belum banyak. Siniin!"


"Enggak!"


"Rifky! Sini, biar Mama yang bagi!" Rasya yang tadi mendengarkan langsung meraih plastik di tangan Rifky, mau tak mau laki-laki itu memberikannya.


"Ini buat kamu, ini buat Naira!"


Rifky melotot. "Kok nggak adil, Ma?"


"Karena ini punya Naira, jadi kalau mau minta itu sesuai yang dikasih. Bukan merebut!" Rasya menyentil pelan telinga anaknya. Sedangkan Naira memeluk plastik jeruknya sambil menjulurkan lidah pada Rifky. Rasain!


"Ayo, Sayang. Kita makan jeruknya di sana!" Rasya mengajak Naira ke ruang tamu, meninggalkan Rifky yang menatap kepergian mereka.


"Awas kamu!" Rifky mengancam pelan, tapi Naira tak peduli, bahkan menjulurkan lidahnya beberapa kali pada Rifky, membuat lelaki itu cukup kesal. Namun, dia tak dapat berbuat banyak, selain daripada menggaruk kepala dan berjalan menyusul.


***


Di mana matahari sedikit meninggi, Ayu mengajak Iyan dan Bi Yati jalan-jalan sebab Om dan Tante mereka sudah kembali. Gadis itu meminta suaminya mengajak mengitari taman setelah membelikan dia beberapa makanan ringan. Wajahnya berseri, melukiskan senyum segar kala menatap bunga-bunga.


"Mas! Boleh petikin satu, nggak?" Ayu menatap suaminya sembari menunjuk mawar putih yang dia lihat.


"Jangan dirusak, dong, Sayang," kata Iyan menolak. Namun, berjalan dan memetik setangkai bunga itu saat mendapati wajah istrinya merengut.


"Makasih ... hehe," ucap Ayu nyengir. Mereka duduk beralaskan tikar kecil yang dibawa dari rumah, memang benar-benar sengaja untuk ke sana.

__ADS_1


"Bibi mau es?" Ayu memberikan ice cream pada Bi Yati.


"Enggak, Neng. Ngilu." Bi Yati menggeleng sambil mengangkat bahunya membayangkan rasa ngilu.


"Em, ya udah. Bibi yang ini aja!" Satu bungkus cemilan bermerk Qtela singkong Bi Yati terima dari Ayu, wanita itu mengucapkan terima kasih, tidak pernah dia bayangkan akan diajak jalan seperti ini.


"Mas!" Iyan yang melamun tersadar karena Ayu memberinya coklat.


"Buat Mas?"


"Bukan? Tapi bukain!" jawab Ayu tertawa. Iyan menatapnya dengan senyum tertahan, kalau saja tak ada Bi Yati, sudah pasti Iyan mencium istri jahilnya itu.


"Mas! Kita ke sana, yuk!" Ayu mengajak.


"Ngapain ke sana?" tanya Iyan heran. Tempat yang ditunjuk istrinya itu adalah tempat bermain anak-anak.


"Naik ayunan. Ayok! Bibi mau ikut?" Ayu beralih menatap Bi Yati.


"Enggak, Neng. Bibi di sini aja, biar nggak capek pindah-pindah," jawab Bi Yati tersenyum. Bukan tak ingin ikut, tapi dia memberikan kesempatan bagi pasangan itu untuk bebas.


"Ayok, Mas!" Ayu kembali menggoyangkan lengan suaminya.


"Ya udah, ayok." Gadis itu tersenyum, berjalan bersama Iyan setelah berpamitan pada Bibi mereka.


"Aku mau naik itu. Mas dorong, ya?" ucap Ayu antusias.


Iyan hanya mengangguk pasrah. Mau bagaimanapun Ayu pasti memaksa, tidak ada pilihan untuk menolak.


Ayu tertawa-tawa saat ayunan yang dia duduki didorong oleh Iyan, terkadang memekik karena takut ketinggian.


"Jangan kuat-kuat, Mas! Nggak berani!" bantah Ayu.


Iyan menghentikan ayunannya. "Mas capek juga kalau dorong kamu terus. Gantianlah!"


"Alah, bilang aja kalau mau!" Ayu tertawa, turun dari duduknya sesudah menarik asal hidung suaminya itu. Iyan sampai menatap kesal karena ulahnya. Sakit, bukan?


"Ayo dorong!" titah Iyan. Dia sudah duduk manis di atas ayunan, sedangkan Ayu di belakangnya susah payah menggerakan benda yang dia duduki itu.


"Berat banget, sih, Mas? Nggak kedorong!" Ayu menghela nafas, berkacak pinggang menatap Iyan yang mengangkat alisnya. Dasar! Sepertinya Iyan memang sengaja memberatkan badan.


"Ayo dorong?"


"Enggak, ah. Capek!"


"Idih! Kamu nggak adil. Masa udah didorong nggak mau gantian?"


Perkataan Iyan tak berlanjut kala istrinya telah duduk di pangkuannya. Dengan perlahan, laki-laki itu mengayunkan tubuh mereka menggunakan kaki, menikmati posisi tersebut sembari berpelukan.


Tatapan Ayu teralihkan pada Bi Yati, terlihat wanita paruh baya itu sedang berdiri bersama perempuan yang sepertinya dia kenali.


"Mas! Liat itu?!" Iyan mengikuti arah pandang istrinya.


"Rani?! Mau apa dia?" gumam Iyan sambil menajamkan penglihatan. Benar! Wanita itu adalah Rani, tapi kenapa dia kemari?

__ADS_1


__ADS_2