
Naira berjalan menelusuri koridor sekolah untuk menuju kelasnya. Pagi ini dia terlihat begitu bersemangat karena mengingat kejadian di rumah bersama Rifky tadi.
Senyungging senyum tak pernah memudar dari bibir indahnya, Naira bersikap lembut kepada setiap orang yang dia temui dan tak lupa tersenyum ramah.
Semenjak dia tinggal bersama Rifky, sikap Naira berubah drastis. Mulai dari cara berpakaian, cara bicara dan tegur sapa kepada sesama.
Memang, sekeras apa pun hati seseorang, cara mendidik yang terbaik adalah dengan kelemah-lembutan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Anak-anak!" sapa seorang guru yang baru masuk ke kelas Naira. Lebih tepatnya Bu Siti---wali kelas mereka.
"Waalaikumusam warahmatullahi wabarakatuh, Bu," jawab mereka serempak.
Setelah sekian lama berada di kelas dan berbincang-bincang dengan muridnya. Bu Siti menyampaikan pengumuman tertentu pada siswa-siswinya.
"Anak-anak, minggu depan kalian akan mengadakan ujian kelulusan. Jadi, Ibu harap kalian belajar yang tekun, agar mendapatkan nilai terbaik," ujar Bu Siti memberi tahu murid-muridnya.
Semuanya mendengarkan penuturan wali kelas dengan seksama. Bu Siti adalah tipe orang yang bijak dan lemah lembut, membuat semua murid nyaman dibuatnya dan menuruti apa yang dia perintahkan.
Tak terasa, sekian lama menduduki kelas XII, akhirnya mereka akan melaksanakan ujian kelulusan juga. Berarti tinggal sebentar saja waktu mereka untuk bersama. Pasti semuanya akan saling merindukan saat berpisah nanti.
****
Rifky tengah mengutak-atik laptopnya dan berbagai kesibukan kantor menghampiri dirinya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" titah Rifky mempersilahkan seseorang itu masuk.
"Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan berkas-berkas ini untuk Bapak tanda tanganni," ujar Ayu sambil menatap Rifky.
__ADS_1
"Iya, taruh di sana!" timpal Rifky yang masih fokus ke layar laptopnya.
'Huh! Tak ada niatan untuk melihatku?' gumam Ayu dalam hati, lalu menaruh berkas-berkas itu di samping Rifky.
'Sudah beristri, tapi tetap terlihat pujangga. Ah, betapa aku tidak tergila-gila padamu, Sayang. Tapi aku tak ingin merenggut kebahagiaan istrimu,' ucap Ayu membatin, lalu pergi meninggalkan Rifky.
Ayu memang menginginkan Rifky untuknya, tapi dia adalah wanita yang punya hati nurani. Dia tak ingin menghancurkan rumah tangga yang telah dibangun oleh Rifky. Biarlah ... dia mengalah untuk semuanya meskipun harus menggoreskan luka.
****
Saat ini Naira sedang duduk di tempat biasa dia menunggu. Sudah 15 menit, tapi Rifky tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Mas Rifky mana, sih?" gumam Naira celingukan.
"Bwahh ...!" Rifky datang tiba-tiba dan mengagetkannya.
"Haha, udah lama nunggu, ya?" tanya Rifky sambil tertawa.
"Dari tadi!" timpal Naira menatap tajam suaminya itu.
"Loh loh loh, kok mukanya gitu, sih?" Kening Rifky sedikit mengerut melihat ekspresi Naira.
"Makanya nggak usah ngagetin. Kalau orang jantungan gimana?" ucap Naira dan memanyunkan bibirnya lima centi.
"Iya, maaf ...." Rifky menyambar bibir Naira sekilas, lalu mengelus pucuk kepala istrinya itu.
"Yuk, pulang!" ajak Rifky membimbing tangan Naira menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Mas, minggu depan aku mulai ujian, loh," tutur Naira memberitahukan pada Rifky dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Ujian? Berarti kamu harus fokus belajar, dong?" tanya Rifky sambil menyetir.
"Iyalah, biar dapat nilai bagus," jawab Naira polos sembari memainkan ujung jilbabnya.
"Iya, itu maksudnya. Biar cepat lulus sekolah." Rifky tersenyum lebar.
"Pengen banget aku cepat lulus?" Naira menatap Rifky yang fokus menyetir.
"Iya, dong. Biar ...." Rifky menggatung ucapannya dan kembali tersenyum, hal itu sukses membuat Naira kebingungan.
"Biar apa?" tanya Naira mengangkat alisnya.
"Nggak papa, nanti kamu tahu," jawab Rifky, lalu melihat sekilas istrinya.
"Oh." Naira ber-oh saja dan kembali menatap ke depan.
'Dasar bocah polos!' batin Rifky menjerit.
Apakah iya, jika dia meminta haknya pada Naira nanti? Apa Naira tidak akan menolak? Atau menangis? Huh! Memang susah kalau menikahi anak SMA, pasti fikirkannya masih belajar, bermain dan bermain!
Rifky menghembuskan nafasnya pelan, sekilas senyum terbit kembali saat ia menatap Naira yang duduk di sampingnya.
.
.
.
TBC.
__ADS_1