
Hampir memasuki waktu magrib, Rifky membimbing Naira ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Naira hanya dikompres menggunakan air hangat kuku, lalu Rifky menyuruhnya berwudhu.
Dengan langkah pelan Naira duduk bersimpuh di depan sajadahnya, menatap Rifky yang kembali ke kamar mandi. Malam ini Rifky tidak salat di masjid karena keadaan istrinya yang perlu dirawat, bahkan berdiri pun Naira perlu bantuan.
"Masih kuat, 'kan, Sayang?" tanya Rifky sebelum memulai salatnya.
"Iya, Mas," balas Naira lembut. Rifky tersenyum, kemudian bertakbir untuk melaksanakan ibadah salat tiga rakaat itu.
Mengingat kondisi Naira, Rifky memilih bacaan surah yang agak pendek agar Naira tak terlalu lama berdiri, sebab kepalanya akan terasa pusing jika demikian.
Tujuh menit kemudian, terdengar helaan nafas dari Naira, mungkin sudah sedari tadi dia menahan rasa sakit. Rifky menoleh, mengulurkan tangannya agar disambut sang istri.
"Tidur aja, Sayang. Sini!" titah Rifky menepuk pahanya.
"Mas bacain Al-quran, ya?" Naira tersenyum saat mendapat anggukan dari suaminya, mata itu terpejam sesaat, menikmati kecupan Rifky di keningnya.
Naira memejamkan mata sambil mendengar alunan merdu dari Rifky, mukenah yang membalut tubuhnya belum membuat hangat jika tidak ditambah memeluk suaminya itu.
Beberapa saat mereka di posisi tersebut, sebelum Rifky menyudahi bacaannya dan mengangkat lembut tubuh istrinya. Naira merengek, minta ditemani oleh Rifky dalam tidurnya.
"Mas ambil nasi dulu, ya? Kamu makan duluan biar cepat minum obat," kata Rifky membujuk.
"Nggak mau, Mas. Kamu di sini aja, aku belum lapar, kok," tolak Naira halus.
"Tapi kamu harus minum vitaminnya, Sayang?"
"Iya ... nanti."
Helaan nafas hampir tak terdengar dari Rifky, ingin lebih tegas pun dia tak bisa kala istrinya seperti ini. Apalagi merasa bahwa Naira hanya membutuhkannya, bahkan pelukan istrinya itu semakin rapat saja.
Mereka terdiam, lalu tatapan Rifky jatuh pada perut Naira yang masih tampak rata. Perlahan tangan Rifky menyentuhnya, memberikan elusan serta membisiki calon bayinya di sana.
"Kamu jangan nakal, ya, Sayang. Jangan bikin Mama susah," ucap Rifky tersenyum, meski tak ada yang melihat senyumnya itu.
"Kamu ngapain, Mas?" tanya Naira dengan nada malas.
Rifky tak menjawab, masih mengamati perut itu dan terus mengelusnya. "Kamu lapar nggak, Sayang? Hm? Lapar?"
"Enggak, Mas. Dia nggak lapar!" jawab Naira cepat. Pasti itu akal-akalan Rifky saja agar menyuruhnya makan.
__ADS_1
"Dia lapar, Sayang." Rifky beralih menatap Naira.
"Mana ada. Mas, tuh sok tau!" ketus Naira. Ekspresinya tak berubah walau wajah Rifky sudah berada di atas wajahnya.
"Makan, ya? Mas suapin, kok," bujuk Rifky, tak lupa membelai lembut kepala Naira untuk meluluhkan hatinya.
"Enggak mau, ah, Mas. Belum lapar ...." Naira menggeleng, memeluk leher Rifky dan menenggelamkannya, hingga Rifky-lah yang terbuai.
Suara deruman mobil yang bersusulan dari luar membuat mereka menajamkan pendengaran, sepertinya memang menuju rumah mereka. Kemudian bel rumah berbunyi, samar-samar suara Bi Ira menyambut senang.
"Siapa yang datang, Mas?" tanya Naira menatap Rifky.
"Nggak tau, tapi kayak mobil Papa," kata Rifky menebak. Naira membiarkan Rifky keluar dari kamar, berpesan agar jangan terlalu lama.
"Mama? Papa?" Rifky menyambut, ternyata orang tua mereka yang berkunjung.
"Naira mana, Nak?" tanya Rasya setelah Rifky menyalami punggung tangan mereka.
"Ada di kamar, Ma. Lagi tiduran," jawab Rifky sopan.
Rasya dan Marlin langsung menuju kamar yang disebut, sedangkan suami mereka dipersilahkan duduk oleh Rifky.
"Waalaikumussalam," balas Naira. Kemudian bersandar di headboard saat mendapati kedua mamanya.
"Sayang? Kamu nggak papa?" Marlin dan Rasya duduk di tepi ranjang, masing-masing di sebelah Naira.
"Nggak papa, Ma. Mama ke sini, kok nggak ngasih kabar?" Naira sedikit tertawa. Sentuhan lembut dari mamanya itu cukup membuatnya bahagia.
"Tadi Mama tau dari Papa. Katanya kamu pingsan di masjid tadi sore." Rasya memberi tahu.
"Naira capek aja, kok, Ma. Nggak papa." Naira tersenyum. "Mama nginap, 'kan?"
Marlin dan Rasya mengangguk.
"Udah makan, Sayang?" tanya Rasya memastikan. Kemudian mencubit pelan hidung Naira saat menantunya itu menggeleng.
Marlin sempat mengomeli putrinya itu karena belum makan, sementara Naira-nya nyengir kuda. Kedua mamanya itu sangat sayang padanya, walaupun Rasya adalah mama mertua, tapi sama seperti mamanya.
"Tadi Mama bawain kacang hijau, loh. Kamu mau dibikinin bubur?" Marlin menatap Naira, kalau saja putrinya itu lebih suka bubur daripada nasi.
__ADS_1
"Mau, Ma. Apalagi buatan Mama!" jawab Naira antusias.
"Ya udah, Mama bikinin buat kamu. Tapi makan yang banyak, ya?" ucap Marlin terkekeh.
Wanita itu berpamit ke luar, sedangkan Rasya dan Naira mulai berbincang lagi. Entah soal apa.
"Naira mana, Ma?" Herman melihat Marlin yang menuruni anak tangga.
"Di kamar, Pa. Naira minta dibuatin bubur sama Mama," jawab Marlin terkekeh.
Rifky mengatakan pada papanya kalau Naira tidak nafsu makan, mungkin karena itu kenapa Naira ingin bubur.
Ketiga lelaki berbeda usia itu melanjutkan obrolan mereka, hanya air putih yang tersaji karena mereka belum makan malam.
Marlin membantu Bi Ira berperang di dapur, wanita paruh baya itu tidak tahu kalau mereka akan kemari hingga harus memasak lebih banyak. Di samping membantu Bi Ira, Marlin melangsungkan membuat bubur kacang hijau untuk Naira.
Sedikit lama waktu tersita di sana, sampai semuanya selesai, bertepatan saat itu juga suara azan isya berkumandang. Penghuni rumah itu menghentikan kegiatan masing-masing, bersiap menunaikan ibadah di sebuah ruangan terbuka.
Rasya membantu Naira berwudhu dan memakaikan mukenahnya. Setelah itu menuntunnya turun untuk salat berjamaah. Tak lama waktu tersebut berlangsung, Ustaz Hanan sebagai imam juga memahami keadaan menantunya yang kurang sehat.
Selepas salat, Mereka bertemu lagi di meja makan. Ketika semuanya mengambil nasi, Naira hanya ingin memakan bubur. Beruntung Marlin membawakannya.
Naira berjalan sendiri menaiki tangga, cukup lama setelah makan dia harus minum obatnya sesuai anjuran dokter. Orang tua mereka yang memahami menyuruh Rifky menyusul, sedangkan mereka sendiri belum diserang rasa kantuk untuk tidur.
"Udah baikan, Sayang?" tanya Rifky, duduk di sebelah Naira yang baru meneguk obatnya.
"Mendingan, Mas. Mas nggak ngobrol dulu sama Papa?" tanya Naira lemah.
Rifky menggeleng, merengkuh tubuh Naira dan mengelap bibirnya yang basah bekas air minum. "Mas mau sama kamu aja, Sayang. Kamu tidur, ya?"
"Heum, nggak kuat, ya kalau pisah sama aku? Gimana kalau aku pergi?" Naira tak memikirkan apa yang dia ucapkan.
"Ngomong apa, sih kamu? Jangan mikir macam-macam!" Rifky menegaskan. Dia tahu kalau istrinya itu bercanda, tapi kenapa harus bertanya demikian? Tentu saja dia tak sanggup jika Naira pergi, apalagi pergi jauh.
Mendengar Naira hanya terkekeh, Rifky mengangkatnya ke ranjang, ikut merebahkan diri sembari memeluk istrinya itu.
"Kalau tengah malam kerasa lapar, bangunkan Mas, ya?" pesan Rifky sebelum tidur.
Naira mengangguk, menenggelamkan wajah di dada Rifky dan menghisap aroma tubuhnya. Seolah menjadi candu, Naira tertidur. Berbantalkan tangan kekar Rifky yang selalu siap merengkuhnya kapan saja.
__ADS_1