Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 50


__ADS_3

Malam ini Naira membantu mamanya menyiapkan makan malam untuk mereka. Sedangkan Rifky dan Herman belum pulang dari masjid sejak waktu maghrib tadi. Biasanya Rifky berangkat sebelum magrib dan akan pulang setelah sholat isya.


Tak lama deruman mobil Rifky terdengar dari arah depan. Naira langsung tersenyum dan berlari menuju pintu utama. Marlin dan kedua pembantunya saja tertawa menyaksikan tingkah Naira. Dulu, Naira tidak mau dijodohkan dengan Rifky, tapi sekarang? Malah ingin nempel terus.


Ceklek!


"Assalamu'alaikum," ucap Herman memberi salam.


"Waalaikumussalam," sahut Naira. Kemudian meraih punggung tangan papanya.


Matanya menangkap sosok Rifky yang berjalan di belakang papanya. Segera Naira berhambur memeluk suaminya itu sambil tertawa girang. Rifky sendiri merasa malu saat Naira memeluknya di depan Herman, untung saja mertuanya itu cepat-cepat pergi walau sempat menggeleng sebentar.


Rifky menempatkan kecupannya di kening Naira. Lalu mengikuti Naira yang membimbingnya ke kamar mereka.


"Cepat ganti baju, Mas! Mama udah nungguin," titah Naira sambil memberikan baju tidur Rifky.


"Nggak dipakein?" Rifky mengangkat kedua alisnya dengan senyum yang menggoda.


Naira lebih mendekat. "Cium dulu!" ucapnya sembari memajukan bibir.


Segera mungkin Rifky menyambar bibir mungil istrinya. Dia sedikit terkekeh. Syarat macam apa itu? Tentunya dengan senang hati dia akan melakukannya.


Setelah mendapat kecupan dari Rifky, Naira memasangkan baju suaminya itu dan mengajak Rifky turun untuk makan malam. Kerap dia tersenyum sendiri sambil melihat Rifky yang berjalan di sampingnya. Rifky tidak heran, memang akhir-akhir ini dia mendapati Naira sering seperti itu. Mungkin bawaan bayi yang ada di perutnya.


Keluarga itu melaksanakan makan malam bersama. Naira rindu suasana ini, rindu saat mamanya dulu sering memarahinya karena tidak mau makan. Ternyata ocehan mamanya yang dulu menjadi kenangan indahnya sekarang. Bahkan dia ingin kejadian itu terulang kembali.


Selesai makan malam, Naira mengikuti mamanya menuju kamar. Mereka berdua berbincang-bincang di kamar Marlin dan dengan gembiranya Naira menceritakan kesehariannya dengan Rifky.

__ADS_1


Marlin tersenyum senang padanya. Akhirnya perjodohan yang mereka haturkan dulu telah membuahkan cinta di antara Naira dan Rifky. Tidak salah mereka memilihkan pendamping hidup untuk Naira.


Naira, gadis yang dulunya bahkan tidak tahu cara memakai hijab sekalipun, kini perlahan-lahan sudah mulai faham akan ilmu agama. Bagaimana mamanya tidak senang?


"Ngomong-ngomong, kamu udah ngisi belum, Sayang? Mama pengen cepat-cepat nimang cucu," tanya Marlin tersenyum.


Naira menghela nafasnya. Kemudian menunduk dan beralih memegang perutnya yang masih tampak rata.


"Udah, Ma. Dua minggu lebih," jawabnya lembut. Ingin sekali air matanya menetes. Namun, segera ditahan saat mendapati raut kegirangan di wajah mamanya.


"Beneran, Ra? Kamu serius, 'kan?" Marlin menangkup pipi anaknya sambil tersenyum sumringah.


Naira mengangguk. Kemudian memeluk mamanya dan menangis. Marlin yang mengerti akan perasaan Naira, membalas erat pelukan putrinya itu. Dia tahu, Naira membutuhkan dukungan darinya. Harusnya Naira sekarang masih bebas bersama dengan teman-temannya, tapi justru sebaliknya. Bahkan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu di usianya yang baru menginjak 19 tahun itu.


"Sayang ... kamu dengerin Mama, ya, Nak? Jalanilah semua ini dengan hati yang ikhlas, karena setiap kebaikan itu berbuah pahala ... Mama tahu kamu kuat, hanya saja pikiranmu belum terbuka. Mama yakin, suatu saat tangismu akan hilang karena kehadiran buah hati kecilmu nanti," ujar Marlin tersenyum. Dengan lembut tangannya menghapus air mata anaknya yang tak mau berhenti mengalir itu.


"Iya, Ma. Naira tau ... Naira nggak nyesal, cuma Naira pengen nangis terus ... Naira kenapa, Ma ...?" Naira mengadukan keluh kesahnya pada mamanya.


Tangis Naira mulai menyusut mendengar penuturan mamanya. Dia merasa lebih kuat. Apalagi setelah mendapat elusan lembut dari mamanya.


Tok! Tok! Tok!


Pelukan keduanya terlepas saat mendengar ketukan pintu. Muncullah papa Naira yang berjalan sembari meregangkan otot-ototnya. Mungkin Herman sudah ingin istirahat.


"Papa udah mau tidur?" tanya Naira dan berdiri dari duduknya.


"Iya, Ra. Papa capek ini," jawab Herman dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur. "Kamu samperin Rifky sana! Dia udah nungguin kamu, mungkin."

__ADS_1


"Mungkin! Papa emang sok tau!" ketus Marlin menggerling ke arah Herman.


"Daripada Mama ngoceh, mending pijitin Papa, Ma." Herman tertawa pelan dan tidur tengkurap agar istrinya itu memijat belakangnya. Sementara Naira sudah pamit ke kamar menemui Rifky.


"Mas Rifky?"


"Iya, Sayang." Rifky yang tadinya membaca buku langsung mengangkat kepalanya dan menampilkan senyuman pada Naira.


"Lagi ngapain?" tanya Naira. Tanpa persetujuan dari suaminya itu, Naira segera duduk di pangkuan Rifky. Mencium singkat pipinya dan menggigit kesal hidung Rifky.


"Aww! Ngapain digigit, sih?" Rifky memegangi hidungnya. Memang tidak kuat Naira menggigitnya, tapi cukup sakit.


Naira tertawa menyaksikan hidung Rifky yang memerah karena ulahnya. Anggap saja ini adalah pembalasan saat Rifky menggigit hidungnya dulu. Rasain.


"Tidur! Udah waktunya tidur!" Rifky mengangkat tubuh Naira yang masih duduk di pangkuannya dan membaringkannya di kasur. Laki-laki itu menarik selimut dan ikut terbaring di sebelah istrinya.


"Sayang ... kamu nanti mau anak laki-laki apa perempuan?" tanya Rifky sambil mengelus perut Naira.


"Maunya perempuan, biar cantik kayak aku," ucap Naira PD.


"Berarti kalau laki-laki ganteng kayak Mas?"


"Nggak! Kalau anaknya laki-laki lebih ganteng dari Mas. Mas nggak ganteng, kok," balas Naira dan berusaha menahan tawanya.


"Kok gitu, sih?" Rifky menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan menatap Naira.


"Iyalah! Mas itu jelek, nggak ganteng!" Naira memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangan di dada.

__ADS_1


"Yakin nggak ganteng? Meskipun begini?" Rifky menggoda istrinya dengan mendekatkan wajah mereka. Kemudian tertawa renyah saat Naira memeluknya sambil merengek. Dia tahu jika Naira selalu ingin dekat padanya.


Melihat Naira yang mulai memejamkan mata, Rifky menjadikan tangan kanannya sebagai bantalan untuk Naira, lalu memeluk istrinya itu setelah meninggalkan kecupan mesra di keningnya.


__ADS_2