Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 79


__ADS_3

Enam bulan berlalu begitu saja, kini Naira menghadapi masa-masa sulit karena kandungannya sudah membesar. Tinggal menunggu hari saja untuk dia melahirkan.


Berbagai semangat dilontarkan dari orang-orang terdekat Naira agar dia tidak merasa sendirian. Di umurnya yang baru memasuki 19 tahun itu tentunya masih terlalu rapuh untuk menjadi seorang ibu.


Namun, Naira tidak pernah menunjukkan rasa sedih karena Rifky selalu ada untuknya. Terkadang memang dia mengeluh, menangis, mengaduh karena payah, tapi Rifky menyemangatinya setiap saat hingga rasa itu tergantikan dengan rasa bahagia.


Seperti saat ini, Rifky harus pulang agak malam, tugas kantornya lumayan banyak karena kesehariannya selama ini sering ia habiskan bersama Naira.


"Mas, pulangnya kapan?" tanya Naira merengek. Mereka memang tengah mengobrol lewat video call.


"Nanti, ya, Sayang? Mas beres-beres dulu. Bentar lagi, kok," balas Rifky tersenyum. Terkadang pandangannya teralihkan ke meja kerja.


"Ya udah. Nanti beliin bakso di depan kantor itu, ya?" pinta Naira.


"Iya, Sayang. Ini Mas mau pulang."


"Yang pedas!"


"Nggak boleh pedas-pedas!" ucap Rifky serius.


"Ah, ya udah. Yang biasa aja!" simpul Naira mengalah. Namun, bibirnya mengerucut sebal. Akhir-akhir ini makanannya hampir tidak menyentuh cabai, padahal dia ingin sekali mencicipi rasa pedas.


"Iya. Udah, ya? Mas mau berangkat," pamit Rifky lembut.


"Heum."


"Assalamualaikum ...."


"Waalaikumussalam." Naira cemberut. Membiarkan handphonenya teronggok bisu di atas meja. Dia masih menggerutu dalam hati, kenapa semua orang melarangnya makan pedas? Bahkan Bi Ira pun tampak tegas padanya jika berhubungan dengan hal itu.

__ADS_1


"Hah! Capek banget duduk terus." Naira mengaduh memegangi pinggangnya, berdiri perlahan menuju ranjang untuk menyandarkan diri.


Sekian lama Naira termenung sambil mengelus perutnya, hingga suara mobil Rifky membuat sudut bibirnya terangkat.


"Assalamualaikum." Rifky membuka pintu kamar, menatap istrinya dengan senyum termanis.


"Waalaikumussalam. Mana baksonya?" balas Naira menagih.


"Lagi disiapin sama Bi Ira. Udah pengen banget, ya?" Rifky terkekeh kecil. Mendekati Naira dan mengelus perut istrinya itu.


"Mas pasti capek. Sana bersih-bersih dulu, terus istirahat," titah Naira lembut. Tangan halusnya mengelus pelan wajah tegas Rifky.


"Iya, Sayang. Papa mandi dulu, ya? Nanti kita bobo bareng." Rifky menciumi perut Naira, berbicara pada anaknya di dalam sana. Kemudian mengecup kening Naira sebelum pergi ke kamar mandi.


"Neng? Ini baksonya?!" panggil Bi Ira dari luar.


"Iya, Bi. Masuk aja," sahut Naira. Lalu tersenyum saat melihat Bi Ira membawa nampan ke arahnya.


"Iya, Bi. Makasih, ya?"


"Heum. Bibi keluar, ya?" pamit Bi Ira tersenyum. Naira membalas dengan anggukan, matanya mengikuti punggung Bi Ira yang kemudian menghilang di balik pintu.


Naira menunggu Rifky sambil melantunkan ayat suci untuk bayinya itu. Memejamkan mata, dan terkadang terkekeh merasakan tendangan dalam perutnya.


"Dedeknya jahil ... tiap kali Mama tidur pasti diganggu." Naira bicara pada bayinya, membuat Rifky yang melihat menyunggingkan senyum.


"Mungkin dedeknya udah pengen bakso," sambung Rifky mendekat.


"Udah selesai, Mas? Kamu, kok makin ganteng, sih?" Naira terkekeh, menatap rambut suaminya yang masih meneteskan sedikit air.

__ADS_1


"Iyalah. Orang dari dulu," balas Rifky bercanda. Kemudian memenuhi wajah Naira dengan kecupan hangat.


"Mau dimakan sekarang baksonya?" Naira mengangguk, membuka mulutnya saat Rifky mulai menyuapi.


"Sayang, tadi Mas dapat kabar gembira tentang Kak Tama," ucap Rifky di sela menyuapi istrinya.


"Kabar apa?" tanya Naira.


"Bayinya udah lahir. Katanya laki-laki, ganteng ... banget," jawab Rifky tersenyum.


"Alhamdulillah .... Berarti Kak Tama sibuk sekarang?" kekeh Naira, lalu menerima suapan Rifky untuk yang keberapa kalinya.


"Nggak ada kata sibuk kalau mengurus anak sama istri. Adanya bahagia ... sama kayak Mas, udah nggak sabar buat liat dedek kita." Rifky berkata lembut, menempelkan telinganya di perut Naira sambil mengelus pelan.


"Makasih, ya, Mas. Kamu selalu ada buat aku ...." Naira berucap getar, kemudian mengeluarkan bening embun dari matanya yang berkaca-kaca.


"Mas yang harusnya bilang makasih. Sebab pengorbanan kamu yang paling besar buat Mas sama buat anak kita." Rifky memeluk Naira, mengecupi pipi chubbynya yang sudah basah oleh air mata haru.


"Tanpa Mas Rifky juga, aku nggak kuat ...." Tangis Naira makin menjadi, merasakan sesak di dadanya kala menyaksikan senyum tulus dari Rifky.


"Nggak usah nangis, Sayang. Lanjut lagi makannya, ya?" bujuk Rifky lembut. Naira mengangguk, mengusap pelan air mata dan kembali membuka mulut.


Rifky menyuapi Naira sambil terus menghiburnya, lalu membersihkan bibir istrinya itu setelah suapan terakhir. Laki-laki itu mengantarkan mangkuk kotor ke dapur, dan secepat mungkin kembali.


Rifky meletakan botol minum yang telah dia isi di atas nakas. Kemudian mengatur posisi tidur Naira sebelum dia ikut berbaring.


"Besok kita liat bayinya Kak Tama, ya? Sekarang kamu tidur yang nyenyak." Rifky tersenyum, sekali lagi mencium bibir Naira dan mengelus pelan perutnya.


Perlahan-lahan Naira memejamkan mata, berselancar ke alam mimpi sembari menikmati sentuhan Rifky yang masih dapat ia rasa.

__ADS_1


Deru nafas halusnya membuat Rifky tersenyum kecil. Setiap malam Rifky selalu seperti ini, menidurkan istrinya dengan caranya. Bahkan jika tengah malam Naira terbangun, dia ikut terjaga. Benar-benar memperhatikan istrinya itu tanpa keluhan apa pun.


__ADS_2