
Sesuai perkataannya semalam, hari ini Rifky mengajak Naira pergi berkunjung ke rumah Tama. Mereka membeli perlengkapan bayi terlebih dahulu, sebab yang akan dikunjungi adalah bayi yang baru lahir.
Naira juga memilihkan dua buah peci kecil, mereka sudah tahu jika anak dari pasangan itu berjenis kelamin laki-laki. Dia sangat senang memilih pakaian bayi karena sangat lucu menurutnya. Rifky yang melihat ikut terkekeh, menggemaskan sekali istrinya itu saat tertawa.
"Udah selesai, 'kan? Ayo kita bayar!" ajak Rifky kemudian. Lelaki itu membimbing tangan istrinya dan berjalan hati-hati.
Keduanya menaiki mobil setelah selesai dengan urusan toko. Rifky mengemudi cukup lambat, sebab Naira tidak memakai sabuk pengaman. Naira terus berceloteh mengenai bayi yang akan mereka jenguk, katanya ingin memeluk, mencium dan menggendongnya.
Rifky mengiyakan saja agar tidak memanjangi urusan. Hingga tak lama kendaraan mereka berhenti di depan rumah Tama.
"Ayo, Sayang." Rifky mengulurkan tangan, menyambut tubuh Naira perlahan-lahan untuk turun dari mobil.
"Assalamualaikum ...." Naira dan Rifky memberi salam sebelum masuk.
"Waalaikumussalam ...." Sahutan itu terdengar pelan. Rifky dan Naira memasang senyum sambil berjalan mendekat.
"Rifky? Syukurlah kamu dan Naira bisa datang," ujar Tama menghampiri, berpelukan dengan Rifky sesaat dan mengajaknya duduk.
"Kak Kiara? Gimana keadaannya?" tanya Naira tersenyum. Dia duduk di samping Kiara yang sedang menggendong bayinya.
"Alhamdulillah, baik-baik aja, Ra. Kamu hati-hati, tuh." Kiara memegangi tangan Naira, langsung dibantu oleh Rifky saat istrinya itu hendak duduk. Keadaannya memang duduk di lantai beralas karpet tebal, wajar jika Naira kesusahan mengatur tubuhnya.
"Nggak papa, kok. Ini buat adeknya." Naira tersenyum, memberikan paperbag berisi pakaian untuk bayi itu.
"Wah ... makasih, Tante," balas Kiara menerima.
__ADS_1
"Iya, dedeknya ganteng banget, ya? Siapa namanya?" Naira menoel pipi mulus bayi yang baru lahir itu.
"Aksa, Tante ...," jawab Kiara terkekeh, menatap bayinya yang melihat ke arah mereka.
"Boleh gendong, nggak? Pengen gendong ...." Naira menatap Kiara dan Tama bergantian, sementara Rifky yang sejak tadi di sampingnya hanya terkekeh. Mengapa istrinya ini begitu lucu sekarang?
"Ya boleh, dong. Nih!"
"Biar Mas aja yang gendong, Sayang." Rifky menatap Tama. Tama yang mengerti pun mengambil alih bayinya dan diserahkan pada Rifky.
"Sama Om dulu, ya, Sayang?" ucap Tama tersenyum. Rifky menyambut tubuh mungil Aksa dan memperlihatkannya pada Naira.
"Tuh, lucu, 'kan? Hidungnya mancung, mirip papanya," kekeh Rifky. Sedangkan Naira sudah menciumi wajah bayi mungil itu.
"Harum banget, suka baunya," kata Naira sembari menghirup aroma tubuh Aksa.
"Kok diikat semua, ya, Mas? Emang nggak susah gerak?" Naira bertanya polos.
"Ya enggak, Sayang. Emang bayi harus kayak gini supaya nggak kedinginan. Juga nanti kakinya nggak kaku kalau jalan," jelas Rifky pelan. Sedangkan Tama dan Kiara menahan senyum menyaksikan mereka berdua.
"Naira nggak punya adek, ya? Makanya nggak pernah liat bayi," ujar Tama, masih menahan kekehannya.
Naira tak menghiraukan mereka yang menertawakannya, dia tetap fokus pada bayi dalam gendongan Rifky. Mengajaknya tertawa seolah-olah sudah mengerti, padahal melihat pun mungkin bayi itu belum jelas.
Lama mereka bertamu di rumah itu, Kiara mengajari Naira cara merawat bayi yang benar, menenangkannya saat menangis, dan banyak hal-hal lain yang ditanya Naira.
__ADS_1
"Kamu bentar lagi lahirannya, 'kan?" tanya Kiara lembut. Tentunya saat Rifky dan Tama sudah mengobrol di lain tempat.
"Iya, udah genap sembilan bulan, kok. Tinggal nunggu hari aja," balas Naira tersipu.
"Kalau anaknya cewek, kita jodohin aja, ya?" usul Kiara terkekeh. Naira ikut tertawa mendengar penuturan Kiara. Ada-ada saja.
Mereka terus mengobrol santai sambil memainkan Aksa, terutama Naira. Dia bahkan tak puas-puas menciumi pipi mulus bayi itu. Terkadang menjadi panik saat Aksa menangis tiba-tiba. Namun, Kiara malah tertawa.
"Kita pulang dulu, Sayang? Insyaa Allah kapan-kapan ke sini lagi," ajak Rifky menghampiri Naira.
"Udah mau pulang?" tanya Kiara. Rifky mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, Om sama Tante pulang dulu, ya, Aksa? Kamu cepat-cepat gedenya," ujar Naira tertawa, kemudian mendaratkan bibirnya di pipi Aksa beberapa kali.
Rifky membantu Naira berdiri, berpamitan ulang pada Kiara dan Tama saat hendak ke luar.
"Hati-hati, Ky!" ucap Tama berdiri di teras rumahnya. Lelaki itu membalas Rifky yang tersenyum, kemudian masuk kembali setelah mobil Rifky melaju.
"Gimana? Senang, nggak liat dedeknya?" tanya Rifky sambil menyetir.
"Senanglah! Imut banget dianya ...." Naira menangkup pipinya sendiri, tersenyum saat membayangkan betapa lucunya bayi tadi.
Rifky sangat senang melihat raut wajah Naira, istrinya itu benar-benar bahagia melihat bayi Kiara dan Tama, apalagi bayi mereka nanti. Rasanya kebahagiaan begitu banyak menghampiri mereka.
Cukup lama melintasi jalanan yang padat, akhirnya mobil mereka kembali terhenti di halaman rumah. Rifky turun duluan dan membukakan pintu mobil untuk Naira. Lelaki itu meraih kedua tangan istrinya, berjalan mundur perlahan menuju teras rumah. Sementara Naira mengikuti jejak kaki suaminya itu.
__ADS_1
Naira tertawa renyah saat kakinya dengan sengaja menginjak kaki Rifky, lalu mencium singkat bibir Rifky lebih dari tiga kali. Keduanya terus berjalan seperti itu hingga sampai di depan pintu. Rifky yang merasa gemas pun menangkup erat pipi Naira sambil menciuminya.
Mereka masih tertawa ketika menaiki anak tangga, bahkan sampai di kamar pun Naira tetap ingin bermanja-manja pada Rifky. Duduk di pangkuannya, mencubit hidung, dan berakhir gombalan lucu yang membuat mereka tertawa kembali.